BKI FUDA IAIN SMH BANTEN

Diskusi IKABKI: Mujaemi, “Kyai Juga Menerapkan Teknik Konseling”

Tinggalkan komentar

Oleh: Belliana

 

02

Ikatan Alumni Bimbingan dan Konseling Islam (IKABKI) kembali memberikan pencerahan dan keceriaan bagi seluruh mahasiswa BKI. Kali ini lewat diskusi #7 yang diselenggarakan pada Selasa, 22 November 2016 di Aula Lantai 3 FUDA. Narasumber diskusi Muhammad Mujaemi, S.Sos., kakak alumni yang baru saja—iya pada pagi tadi–mengikuti Sidang Yudisium FUDA, membawakan tema “Penerapan Teknik Konseling dalam Pengobatan Hikmah” yang berdasar pada skripsi yang dia tulis dengan judul Peran Kyai Dalam Menentramkan Hati Pasien Yang Menderita Sakit Fisik”. (Lihat foto-foto kegiatan di sini)

Diskusi ini dibagi menjadi 2 sesi. Sesi pertama pemaparan materi, sesi kedua tanya Jawab. Pemaparan materi dilakukan selama 20 menit yang membahas tentang isi dari skripsi dan pengalaman yang dialami narasumber saat pembuatan skripsi. Sedangkan sesi tanya jawab waktunya lebih panjang agar audience lebih banyak bertanya.

Mujaemi mengatakan kyai melakukan pengobatan dengan menggunakan air dan doa sebagai medianya. Pasien yang datang untuk diobati oleh kyai yaitu sakit fisik yang berupa patah tulang, kakinya pincang, kehilangan kaki, atau kakinya putus. Dalam melakukan pengobatan kyai tidak banyak berbicara kepada pasiennya. Yang ditanyakan kyai pada pasien juga tidak sedetail seperti seorang konselor. Kyai hanya memberikan air yang sudah diberi doa untuk diminum dan diusapkan di tempat yang sakit.  Jadi, “Konselor dan kyai sangat berbeda,”  kata Mujaemi.

Teknik konseling yang dilakukan dalam pengobatan yaitu atttending, empati dan open question. Teknik attending berperan dalam proses pengobatan ini untuk mengatakan saya merasakan apa yang kamu rasakan. Apabila teknik empati ini untuk memberikan motivasi, semangat, dan selalu berjuang. Yakin bahwa allah memberikan penyakit pasti ada obatnya. Sedangkan open question untukmenjalin kedekatan, sehinnga pasien terbuka terhadap sakit yang diderita kepada orang lain.

Selain menjelaskan tentang materi narasumber menjelaskan tentang pengalaman dalam pembuatan skripsi. Mujaemi berkata bahwa skripsi itu dikerjakan membuat pusing tapi kalau tidak dikerjakan membuat gelisah. Perjuangan membuat skripsi itu luar biasa harus sabar dan kuat. Dia berkata, “Dengan doa yang saya panjatkan saya mendapat pembimbing yang luar biasa baik yaitu Ahmad Fadhil dan Agus Sukirno. Dan ketika ujian skripsi pun saya mendapat penguji yang baik yaitu Hunainah dan Agus Ali.”

Pada sesi tanya jawab banyak sekali yang bertanya baik tentang  teknis penulisan skripsi, isi skripsi, motivasi, maupun kendala dalam melakukan penelitian. Muajaemi mengatakan bahwa teknis penulisan skripsi harus diperhatikan sangat serius karena kesalahan pengetikan satu atau dua kata mungkin tidak menjadi masalah, namun ketika kesalahan pengetikannya banyak akan menjadi fatal. Seperti contohnya pemisahan kata “di” yang diikuti kata kerja dengan “di” untuk keterangan tempat. Selain itu, harus memperhatikan pemilihan penulisan skripsi  apakah kuantitatif atau kualitatif harus disesuaikan dengan masalah dalam penelitiannya.

Untuk isi skripsinya Mujaemi mengatakan alasan pemilihan judul ini karena banyak tetangga yang sering punya masalah datangnya selalu kyai. Seperti minta jodoh, karir yang baik serta sakit fisik sekalipun datangnya ke kyai tidak ke dokter. Semakin penasran dan ketika mengajukan judul diacc. Kyai menggunakan air dan doa sebagai metodenya karena penjelasan air untuk pengobatan sudah ada dalam al-qur’an. Seperti kisahnya nabi Ayub yang mengalami sakit dan sembuh dengan air. Kisah lain dari air yaitu ada seorang peneliti yang meneliti tentang air yang dibaca dengan kata dan bacan yang baik air itu menjadi sangat indah. Dalam pengobatan kyai hanya mengangani penyakit fisik saja yang paling banyak kalau penyakit psikis lebih jarang.

Kendala yang sering dihadapi dalam proses pembuatan skripsi adalah perbedaan pendapat antara peneliti satu dan dua, menyelesaikannya dengan berdiskusi yang baik kepada pembimbing dan meminta solusi yang baik. Skripsinya sudah ada yang membahas tetapi beda judul namun sama-sama tentang kyai. Solusinya minta saran terhadap pembimbing apa yang harus dilakukan.

Penulis: bkiiainbanten

Ini adalah blog tidak resmi dari Jurusan Bimbingan dan Konseling Islam Fakultas Ushuluddin Dakwah Dan Adab IAIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s