BKI FUDA IAIN SMH BANTEN

NILAI-NILAI KONSELING PESANTREN

Tinggalkan komentar

INDIGENOUS PENDIDIKAN DALAM LATAR PESANTREN

 Abstrak

            Pesantren merupakan lembaga indigenous Indonesia. Ia mampu bertahan oleh arus perkembangan dan perubahan jaman. Tujuan utama dan pertama berdirinya pesantren adalah untuk membangun kualitas sumber daya manusia (human resources) melalui pendidikan dan perbaikan moral (akhlakul karimah) dalam bingkai Islam Nusantara. Pesantern merupakan kawah candradimuka dalam mencetak generasi-generasi emas dan tangguh, baik dalam skala lokal, nasional, maupun internasional.

            Indigenous pendidikan pesantren, diantaranya: kemandirian, keikhlasan, kesederhanaan, istiqamah, kebersamaan. Karakteristik tersebut ditanamkan sejak dini di pesantren, sehingga produk dari tempaan selama di pesantren akan berpengaruh kuat bagi para santri, kelak ketika mereka berbaur kembali dengan kehidupan di masyarakat.

Perkembangan dan keberlangsungan pesantren salah satunya dipengaruhi oleh figur kiai. Semakin tinggi keilmuan kiai dalam bidang tertentu, semakin banyak santri yang berminat belajar kepada kiai tersebut.para santri pun berasal dari berbagai daerah di Indonesia bahkan adapula santri yang berasal dari luar negeri.

Kata kunci: indegenous, pesantren, pendidikan, kiai.

Eksistensi Pesantren

Indonesia merupakan rangkaian bentangan wilayah nusantara dengan beraneka ragam suku, bahasa, agama, adat istiadat yang dibingkai dengan kokoh dalam ikatan bhineka tunggal ika. Kebhinekaan itulah yang memperkokoh persatuan dan kesatuang bangsa. Keberagaman (diversity) tersebut menambah ranum dan harum indahnya Islam Nusantara. Azyumardi Azra menjelaskan Islam Nusantara adalah Islam dengan wajah yang tersenyum, berbunga-bunga, toleran, penuh warna dan akomodatif. Dunia internasional mengakui bahwa kemajemukan Indonesia menjadi model dalam menjaga keutuhan dan keharmonisan suatu bangsa.

Islam Nusantara telah terbukti mendamaikan dan mengharmonisasikan berbagai elemen bangsa. Proses Islamisasi yang berlangsung dengan tenang tanpa harus menumpahkan darah merupakan bagian stratedi dakwah Walisongo dan para Kiai dalam upaya membumikan ajaran Islam rahmatan lil ‘alamin di Indonesia.

Walisongo dan Kiai dalam menjalankan misi profetik, senantiasa mengedepankan akhlakul karimah dan memperhatikan dengan seksama kondisi sosial budaya masyarakat setempat, dengan kepiawaian dan strategi dakwah yang jitu tersebut masyarakat dengan kesadaran sendiri memeluk agama Islam. Walisongo dan Kiai selain berperan sebagai pendakwah, mereka juga berperan sebagai guru, tokoh masyarakat maupun sebagai konselor. Konselor adalah seseorang yang membantu memecahkan konseli. Konseli artinya orang yang sedang meminta solusi. Konseling adalah proses jalannya menyelesaikan masalah. Sunaryo Kartadinata (2011); Achmad Juntika Nurihsan (2007); Andi Mapiare (1984); Prayitno dan Erman Amti (2004).

Lembaga yang berperan dan berpengaruh besar terhadap perkembangan Islam Nusantara adalah pondok pesantren. Tidak dipungkiri bahwa pondok pesantern merupakan kawah candradimuka dalam mencetak generasi-generasi emas dan tangguh, baik dalam skala lokal, nasional, maupun internasional. Dari segi historis pesantren tidak hanya identik dengan makna keislaman, tetapi juga mengandung makna keaslian Indonesia (indigenous). Sebab, lembaga yang serupa pesantren ini sebenarnya sudah ada sejak pada masa kekuasaan Hindu-Buddha. Sehingga Islam tinggal meneruskan dan mengislamkan lembaga pendidikan yang sudah ada, dalam Nurcholish Madjid (1997), Zamakhsyari Dhofier (2011), Martin Van Bruinessen (1997), Badrus Sholeh, ed (2007), Samsul Nizar. Et al (2013).

Azyumardi Azra dalam Samsul Nizar, et al (2103), menjelaskan sebagai lembaga pendidikan indigenous, pesantren memiliki akar sosiohistoris yang cukup kuat, sehingga membuatnya mampu menduduki posisi yang relatif sentral dalam dunia keilmuan masyarakatnya, dan sekaligus bertahan di tengah berbagai gelombang perubahan. Kalau dapat diterima spekulasi bahwa pesantren telah ada sebelum masa Islam, maka sangat boleh jadi dia merupakan satu-satunya lembaga pendidikan dan keilmuan di luar istana.

Ada dua versi pendapat mengenai asal usul dan latar belakang pesantren di Indonesia. Pertama, pendapat yang menyebutkan bahwa pesantren berakar pada tradisi, yaitu tradisi tarekat.pesantren menpunyai kaitan yang erat dengan tempat pendidikan yang khas bagi kaum sufi. Kedua, pesantren yang kita kenal sekarang ini pada mulanya merupakan pengambilalihan dari sistem pesantren yang diadakan oleh orang-orang Hindu di Nusantara.

Menurut M. Arifin dalam Samsul Nizar, et al (2013), tujuan didirikannya pondok pesantren, pada dasarnya terbagi dua hal, yaitu: (a) Tujuan khusus, yaitu mempersiapkan para santri untuk menjadi orang alim dalam ilmu agama yang diajarkan oleh kiai yang bersangkutan serta mengamalkannya dalam masyarakat. (b) Tujuan umum, yaitu membimbing anak didik untuk menjadi manusia yang berkepribadian Islam yang sanggup dengan ilmu agamanya menjadi mubaligh Islam dalam masyarakat sekitar melalui ilmu dan amalnya.

Tidak dipungkiri bahwa karisma dan tingkat keilmuan kiai sangat berpengaruh terhadap perkembangan pesantren dalam Nurcholish Madjid (1997), Zamakhsyari Dhofier (2011), Hasbi Indra (2003), Badrus Sholeh, ed (2007), Samsul Nizar. Et al (2013). Semakin tinggi keilmuan kiai dalam bidang tertentu, semakin banyak santri yang ingin belajar kepada kiai tersebut. Para santri pun berasal dari berbagai daerah, antar kota, antar propinsi, antar pulau bahkan antar negara. Dalam kehidupan sehari-hari kiai memiliki banyak peran: sebagai pejuang kemerdekaan, sebagai pendidik dan pengajar, sebagai pemimpin pesantren, sebagai politisi, sebagai pengusaha, dan sebagainya.

Situasi Pendidikan Islam

Pendidikan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari hidup dan kehidupan manusia. John Dewey menyatakan, bahwa pendidikan sebagai salah satu kebutuhan, fungsi sosial, sebagai bimbingan, sarana pertumbuhan yang mempersiapkan dan membukakan serta membentuk disiplin hidup (Zakiah Darajat, 1983: 1) dikutip oleh Jalaludin (2003). Hal tersebut mengisyaratkan bahwa pendidikan sangat diperlukan bagi seluruh lapisan masyarakat, baik komunitas masyarakat sederhana sampai pada komunitas masyarakat maju.

Menurut UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Menurut  Ki Hajar Dewantara Pendidikan adalah segala daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran serta jasmani anak, agar dapat memajukan kesempurnaan hidup yaitu hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan masyarakatnya.

Menurut Rosseau pendidikan adalah memberikan pembekalan yang tidak ada pada masa anak- anak, tapi dibutuhkan pada masa dewasa.

Menurut AhmadSudrajat (2010), Berdasarkan definisi di atas, terdapat (tiga) pokok pikiran  utama yang terkandung di dalamnya, yaitu: (1) usaha sadar dan terencana; (2) mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik aktif mengembangkan potensi dirinya; dan (3) memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Sunaryo Kartadinata (2011) mengemukakan pendidikan adalah upaya membawa manusia dari kondisi apa adanya (what it is) kepada kondisi bagaimana seharusnya (what should be). Berbicara tentang pendidikan tidak akan pernah lepas dari dan bahkan akan selalu terpaut dengan pembicaraan tentang manusia yang sedang berada dalam proses berkembang dengan segala dimensi keunikannya. Keunikan manusia dibawa sejak lahir sebagai potensi yang diberikan Allah SWT, agar manusia dapat memanfaatkan potensi tersebut untuk kemaslahatan umat maupun untuk kesuksesan individu dalam menjalani hidup dan kehidupan baik di dunia maupun di akhirat nanti.

Pendidikan Islam berarti sistem pendidikan yang memberikan kemampuan seseorang untuk memimpin kehidupannya sesuai dengan cita-cita dan nilai-nilai Islam yang telah menjiwai dan mewarnai corak kepribadiannya, dengan kata lain pendidikan Islam adalah suatu sistem kependidikannya yang mencakup seluruh aspek kehidupan yang dibutuhkan oleh hamba Allah sebagaimana Islam telah menjadi pedoman bagi seluruh aspek kehidupan manusia baik duniawi maupun ukhrawi. (http://tripariyatun.blogspot.co.id/2015/01/hakikat-tujuan-dan-fungsi-pendidikan_21.html).

Begitu pentingnya pendidikan, Al-Qur’an menegaskan bahwa orang yang berilmu (berpendidikan) akan diangkat derajatnya oleh Allah SWT.

$pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#þqãZtB#uä #sŒÎ) Ÿ@ŠÏ% öNä3s9 (#qßs¡¡xÿs? †Îû ħÎ=»yfyJø9$# (#qßs|¡øù$$sù Ëx|¡øÿtƒ ª!$# öNä3s9 ( #sŒÎ)ur Ÿ@ŠÏ% (#râ“à±S$# (#râ“à±S$$sù Æìsùötƒ ª!$# tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä öNä3ZÏB tûïÏ%©!$#ur (#qè?ré& zOù=Ïèø9$# ;M»y_u‘yŠ 4 ª!$#ur $yJÎ/ tbqè=yJ÷ès? ׎Î7yz ÇÊÊÈ

“Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Qs. Al Mujadalah, 58: 11).

Dalam surat dan ayat yang lain juga ditegaskan penting imu dan pendidikan

ù&tø%$# ÉOó™$$Î/ y7În/u‘ “Ï%©!$# t,n=y{ ÇÊÈ   t,n=y{ z`»|¡SM}$# ô`ÏB @,n=tã ÇËÈ   ù&tø%$# y7š/u‘ur ãPtø.F{$# ÇÌÈ   “Ï%©!$# zO¯=tæ ÉOn=s)ø9$$Î/ ÇÍÈ   zO¯=tæ z`»|¡SM}$# $tB óOs9 ÷Ls>÷ètƒ ÇÎÈ

  1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,
  2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
  3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,
  4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam,
  5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (Qs. Al ‘Alaq, 96 : 1-5)

 

Hasbi Indra (2003), gerak sejarah pendidikan Islam di Nusantara telah berlangsung sejak lama. Ia menyatu dengan tersebarnya Islam ke berbagai belahan bumi yang luas-dimana agama Islam muncul, disana seakan tumbuh model pendidikan Islam. Sampailah agama Islam di Nusantara melalui para dai yang terkadang membawa sistem pendidikan yang pernah dialami dinegaranya.

Azyumardi Azra (200), menjelaskan modernisasi paling awal dari sistem pendidikan di Indonesia, harus diakui tidak bersumber dari kalangan kaum Muslimin sendiri. Sistem pendidikan modern pertama kali, yang pada gilirannya mempengaruhi sistem pendidikan Islam, justru diperkenalkan oleh pemerintah kolonial Belanda. Ini bermula dengan perluasan kesempatan bagi pribumi dalam paroan kedua abad 19 untuk mendapatkan pendidikan. Program ini dilakukan pemerintah kolonial Belanda dengan mendirikan volkschoolen, sekolah rakyat, atau sekolah desa (nagari) dengan masa belajar selama 3 tahun, dibeberapa tempat di Indonesia sejak dasawarsa 1870-an. Dalam perkembangannya sekolah nagari tidak berkembang dengan baik (di Jawa) sesuai dengan ekspektasi pemerintah kolonial Belanda.

Karakteristik Pendidikan Pesantren

  1. Kemandirian

Pesantren merupakan lembaga pendidikan agama Islam tradisional yang telah lama tumbuh dan berkembang jauh sebelum pendidikan formal berdiri. Sebagaimana dikutip oleh Ahmad Syafi’ie Noor (2009: 15), Hasbullah menyebut bahwa lembaga pendidikan pesantren sebagai “Bapak Pendidikan Islam Indonesia. Hasil penelitian Agus Sukirno (2015), di Pesantren Al Muhlisin Kota Serang menunjukkan bahwa semangat kemandirian para santri cukup tinggi. Para santri berasal dari daerah cukup beragama (Cirebon, Lampung, Jakarta, serang, Tangerang, Cilegon). Pesantren ini fokus mengajarkan kitab kalsik (kitab kuning), kurikulum yang digunakan tidak memiliki standar baku, disesuaikan dengan keahlian kiai dalam mengajarkan kitab. Bagi santri yang berminat sekolah di pendidikan formal, dari pihak pesantren memberikan kebebasan. Kemandirian para santri di tunjukkan dalam hal: Kemandirian memenuhi kebutuhan diri sendiri, para santri sudah merasa disatukan dengan perasaan senasib, sepenanggungan, dan seperjuangan, mereka selesai belajar kitab, masak di dapur. alat yang digunakan untuk masih menggunakan kayu, dengan peralatan dapur seadanya. Mereka patungan/iuran untuk membeli sayur-mayur dan lauk pauk. Setelah masak selesai, mereka makan bersama dalam satu nampan, nampak wajah ceria dari parasantri. Kemandirian mengulang kembali pelajaran, disela-sela waktu istirahat para santri mengulang kembali pelajaran dari kiai. Mereka menghafal pelajaran dengan duduk di teras kamar, ada juga yang dengan tiduran, adapula yang konsentrasi menyendiri.

  1. Keikhlasan

Nurcholish (1997), Zamakhsyari Dhofier (2011), Ayatullah Humaeni (2012), Sayfa Aulia Achidsti (2015), menjelaskan tentang kikhlasan santri di pesantren. Mahmud al-Mishri (2009), menjelaskan lebih rinci tentang makna keikhlasan. Ikhlas berasal dari kata ikhlᾶsh yang merupakan bentuk mashdar dari akhlasa-yukhlishu. Jadi, ia terangkai dari huruf dasar kha-la-sha yang menunjukkan makna penyucian. Lebih lanjut dijelaskan tentang ciri-ciri keikhlasan, yaitu: relatif lebih menyalahkan dirinya sendiri dan melemparkan kekurangan kepada dirinya, sama sekali tidak terkecoh dengan pujian manusia, selalu berupaya untuk menyembunyiakn amal kebajikan, khawatir akan kepopuleran, tetap melakukan hal yang terbaik, baik ketika memimpin maupun dipimpin, jauh dari para pembesar negara, tamak atas amal yang manfaatnya dapat dirasakan oleh orang lain, menyukai pemberian Allah  kepada mukmin yang lain, tidak terpengaruh atas pemberian orang  lain ataupun sebaliknya, sabar atas perjalan yang panjang. Al-quran menjelaskan tentang ikhlas.

!$¯RÎ) !$uZø9t“Rr& šø‹s9Î) |=»tFÅ6ø9$# Èd,ysø9$$Î/ ωç7ôã$$sù ©!$# $TÁÎ=øƒèC çm©9 šúïÏe$!$# ÇËÈ   Ÿwr& ¬! ß`ƒÏe$!$# ßÈÏ9$sƒø:$# 4 šúïÏ%©!$#ur (#rä‹sƒªB$# ÆÏB ÿ¾ÏmÏRrߊ uä!$uŠÏ9÷rr& $tB öNèd߉ç6÷ètR žwÎ) !$tRqç/Ìhs)ã‹Ï9 ’n<Î) «!$# #’s”ø9㗠¨bÎ) ©!$# ãNä3øts† óOßgoY÷t/ ’Îû $tB öNèd Ïm‹Ïù šcqàÿÎ=tGøƒs† 3 ¨bÎ) ©!$# Ÿw “ωôgtƒ ô`tB uqèd Ò>ɋ»x. ֑$¤ÿŸ2 ÇÌÈ

“sesunguhnya Kami menurunkan kepadamu kitab (Al Quran) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan Kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.” (qs. Az Zumar, 39 : 2-3).

 

                Aspek keikhlasan sangat diperhatikan dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari oleh para santri. Husni merupakan santri senior di pesantren Al Muhlisin, ia mondok sudah 8 tahun. Ia termotivasi untuk memperdalam ilmu agama. Ia istiqomah belajar di pesantren tersebut. Ia bercita-cita selesai belajar dari pesantren, akan mendirikan pondok pesantren. Selain belajar, dia juga dipercaya oleh kyai untuk mengajar para santri yunior. Ia menjalankan tugas tersebut dengan penuh keikhlasan. Para santri berkhidmat pada kyai dan pesantren agar mendapat keberkahan dan kemanfaatan ilmu yang dipelajarinya. Falsafah hidup ini dipahami oleh semua santri

  1. Kesederhanaan

Kesederhanaan santri tampak dalam hal berpakaian, pola makan, bangunan saung tempat tinggal santri. Para santri menikmati semua kondisi tersebut. Saat peneliti melakukan wawancara dengan para santri, perbincangan dilakukan di teras saung. Wawancara berlangsung akarab dan rileks. Ketika peneliti menanyakan tentang kondisi dan kebiasaan di pesantren, mereka menjawab, belajar itu harus prihatin, menahan nafsu atau keinginan duniawi, sehingga mereka tidak terpengaruh dengan kondisi di lingkungan sekitarnya.

  1. Istiqamah

Ibnu Qayyim menjelaskan, “Istiqamah adalah kiasan dari mematuhi perintah-perintah Allah Swt., baik dalam bentuk perbuatan mengerjakan sesuatu maupun meninggalkannya.”

¨bÎ) tûïÏ%©!$# (#qä9$s% $oYš/z’ ª!$# §NèO (#qßJ»s)tFó™$# Ÿxsù ì$öqyz óOÎgøŠn=tæ Ÿwur öNèd šcqçRt“øts† ÇÊÌÈ   y7Í´¯»s9’ré& Ü=»ptõ¾r& Ïp¨Ypgø:$# tûïÏ$Î#»yz $pkŽÏù Lä!#t“y_ $yJÎ/ (#qçR%x. tbqè=yJ÷ètƒ ÇÊÍÈ

 Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan Kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqamah,  Maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka Itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai Balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.” (Qs. Al Ahqaf, 46: 13-14).

 

Cara beristiqamah dalam ketaatan kepada Allah, yaitu: berpegang teguh kepada Allah, bersegera untuk taat kepada Allah Swt, menjadikan Ql quran sebagai pedoman hidup, ikhlas dan bersungguh-sungguh dalam menaati Allah, mencari ilmu dan berdakwah, berteman dengan orang yang saleh, berdoa.

Adapun manfaat istiqamah adalah hidup tenang, mendapatkan penjagaan dari Allah, mendapat kabar yang baik, melintasi jembatan di akhirat dengan mulus, masuk ke dalam surga dan selamat dari neraka.

Para santri yang bercita-cita mendirikan pesantren, mereka menunjukkan keseriusan dan kesungguhan dalam menimba ilmu dari kyai. Zaenudin dan Jajang Nurrohman santri asal Kuningan, Husni santri asal Kasemen Serang, Sahroni santri asal Gunungsari Serang, Entus santri asal Bogor, mereka adalah sebagian santri yang tetap istiqomah dan termotivasi untuk mendirikan pesantren di daerah asalnya.

  1. Kebersamaan

Perasaan senasib, sepenanggungan dan seperjuangan membuat mereka hidup bersama di lingkungan pesantren. Faktor asal daerah yang cukup beragama (lintas kota, lintas propinsi), jauh dari orang tua, jauh dari teman sekampung menjadikan mereka tetap harus eksis dalam menggapai cita-cita. Nilai-nilai kebersamaan juga mereka tunjukkan dengan saling bergotong royong dalam menjaga kebersihan di lingkungan pesantren (seperti, menyapu, membersihkan saluran air, kamar mandi, membersihkan ruang belajar).

Kiai Santri Pendidik: Hampiran Pedagodis

Berikut ini akan dipaparkan tiga tokoh yang berperan besar terhadap perkembangan pendidikan di Indonesia.             Ketiga tokoh tersebut mempunyai niat dan tujuan yang sama, yaitu mengembangkan pendidikan di Indonesia, mencerdaskan masyarakat, membentuk akhlak mulia, melalui disiplin ilmu masing-masing.

K.H. M. Hasyim Asy’ari

Achmad Muhibbin Zuhri (2010), menjelaskan Kyai Hasyim dilahirkan dari pasangan Kyai Asy’ari dan Halimah pada hari Selasa Kliwon tanggal 14 Februari 1871 M. Tempat kelahiran beliau berada sekitar 2 kilometer ke arah utara dari kota Jombang, tepatnya di pesantren Gedang.

Karya intelektual beliau yaitu: Adab al- ‘Alim wa al-Muta’allim fi ma yahtaj Ilayh al-Muta’allim fi ahwal Ta’allum ma Yatawaqqaf ‘alayh al-Mu’allim fi Maqamat al-Ta’lim (etika pengajar dan pelajar tentang hal-hal yang diperlukan oleh pelajar dalam kegiatan belajar serta hal-hal yang berhubungan dengan pengajar dalam kegiatan pembelajaran) karya ini merupakan dari tiga kitab yang menguraikan tentang pendidikan Islam, yaitu Adab al-Mu’allim (etika pengajar) hasil karya Syaikh Muhammad bin Sahnun (w. 871 H/1466 M); Ta’lim al-Muta’allim fi Tariq at-Ta’allum (pengajaran untuk pelajar: tentang cara-cara belajar) yang dikarang Syakh Burhan al_din al-Zarnuji (w. 591 H/1194 M); dan kitab Tadhkirat al-Shaml wa al-Mutakallim fi adab al-‘Alim  wa al-Muta’allim (pengingat: memuat pembicaraan mengenai etika pengajar dan pelajar) karya Syakh ibn Jama’ah.

Kitab Al-Tibyan fi al-Nahy ‘an Muqata at al-Arham wa al-aqarub wa al-Ikhwan (penjelasan mengenai larangan memutuskan hubungan kekeluargaan, kekerabatan, dan persahabatan). Dalam buku ini, Kyai Hasyim mengurai tata cara menjalin silaturrahim, bahaya atau larangan memutuskannya dan arti membangun interaksi sosial.

Kitab Muqaddimat al-Qanun al-asasi li Jam’iyat Nahdat al-‘Ulama (Pembukaan Anggaran Dasar Organisasi Nahdlatul Ulama) dengan tebal sepuluh halaman. Yang menarik, risalah tersebut memuat ayat-ayat Al-Qur’an dan beberapa hadits yang menjadi basis legitimasi organisasi  NU. Tidak hanya itu, risalah tersebut juga memuat pendapat-pendapat legal (fatwa) Kyai Hasyim mengenai berbagai persoalan keagamaan.

Untuk memperkuat risalahnya di atas, Kyai Hasyim juga mempublikasikan Arba’in Hadithan Tat’allaq bi Mabadi Jam’iyat Nahdat al-‘Ulama (empat puluh hadith) yang terkait dengan berdirinya  organisasi NU. Risalah ini merupakan kodifikasi 40 hadith Nabi yang menjadi legitimasi dan dasar-dasar pembentukan organisasi NU.

Kitab Mawa’iz (Beberapa Nasehat). Kitab ini merupakan kumpulan semua fatwa atau peringatan Kyai Hasyim terhadap makin merajalelanya kekufuran. Selain itu, Kyai Hasyim juga mengajak dan menekankan perlunya merujuk kembali kepada Al-Qur’an  dan al Hadits, dan tradisi salaf al-salih. Kumpulan fatwa ini pernah dipublikasikan dalam Konggres NU XI Tahun 1935 di Kota Bandung.

Kitab Al-Nur al-Mubin fi Mahabbat Sayyid al-Mursalin (Cahaya yang Jelas Menerangkan Cinta Kepada Pemimpin Para Rasul). Dalam buku ini, Kyai Hasyim menitik beratkan uraian mengenai dasar kewajiban muslim untuk beriman, menaati, meneladani, dan mencintai Nabi MuhammadSaw, yang menarik selain memuat biografi singkat Nabi Saw mulai lahir hingga wafat, dan menjelaskan mu’jizat shalawat nabi, Kyai Hasyim juga memberikan pembelaan terhadap praktek-praktek  ziarah, tawassul, serta shafa’at. Buku ini diselesaikan pada tanggal 25 Sya’ban 1346 H/1927 M, terdiri dari 29 pokok bahasan.

Kitab Al-Tanbihat al-Wajibat Liman Yasna al-Mawlid bi al-Munkarat (Peringatan untuk Orang-Orang yang Melaksanakan Peringatan Maulid Nabi dengan Cara-Cara Kemunkaran). Kandungan buku menitik beratkan padaperingatan-peringatan wajib bagi penyelenggara kegiatan maulid yang dicampuri dengan kemunkaran. Kitab ini lebih merupakan kritik terhadap fenomena memperingati maulid Nabi yang berlaku saat ini.

Kitab Dhaw al-Misbah fi Bayan Ahkam al-Nikah (Cahaya Lampu yang Benderang Menerangkan Hukum-Hukum Nikah). Kitab ini mengulas tentang prosedur pernikahan secara syar’i, yang meliputi hukum-hukum, syarat, rukun, dan hak-hak dalam perkawinan.

Kitab Ad-Durrat al-Muntashiroh fi Masa’il Tis’a ‘Asharah (Mutiara yang Memancar dalam Penjelasan terhadap 19 Masalah). Dalam kitab ini, Kyai Hasyim menguraikan mutiara yang memancar dalam menerangkan 19 masalah. Termasuk kajian tentang wali dan thariqah dalam bentuk tanya-jawab mengenai 19 masalah.

Kitab Al-Risalah fi al-‘Aqaid (Risalah tentang Keimanan) yang ditulis dengan menggunakan bahasa Jawa Pegon. Kitab ini berisi kajian Tauhid dan pernah dicetak oleh Maktabah an-Nabhaniyah al-Kubra Surabaya bekerjasam dengan percetakan Musthafa al-Babi al-Halabi Mesir tahun 1935 H/1937 M.

Kitab Al-Risalah fi at-Tasawuf (Risalah tentang Tasawuf). Risalah yang berbahasa Jawa ini mengulas ma’rifat, shari’at, tarekat, dan hakikat. Sebelum diedit oleh Hadziq, risalah ini dicetak bersama kitab al-Risalah fi al-‘Aqaid (Risalah tentang Keimanan).

Kitab Risalah fi Ta’kid al-Akhdh bi ahad al-Madhahib al-A’immah al-arba’ah (Risalah tentang Argumentasi Kepengikutan terhadap Empat Mazhab). Risalah ini lebih menitik beratkan pada uraian mengenai arti penting bermazhab dalam fiqh. Selain itu, Kyai Hasyim juga menekankan betapa pentingnya berpegang pada salah satu di antara empat mazhab (Hanafi, Maliki, Safi’i dan Hambali).

K.H. Abdullah Syafi’ie

            Hasbi Indra (2003) menjelaskan tentang biografi dan kiprah Abdullah Syafe’ie. Ia lahir di Balimatraman Jakarta pada tanggal 10 Agustus 1910. Ayahnya bernama H. Syafe’i bin Sairan yang memiliki profesi sebagai seorang pedagang besar (grosir buah-buahan). Sementara itu, ibunya bernama Nona bin Sya’ari yang juga berjiwa pedagang, ia memiliki kemampuan membuat kecap untuk diperdagangkan (home industri).

Guru-guru Abdullah Syafe’ie yang dapat dicatat pada tahun 30-an adalah: Muallim al-Musonnif dimana ia belajar ilmu nahwa, ustadz Abdul Madjid dan KH. Ahmad Marzuki tempat ia belajar ilmu fiqh, Habib Alwi al-Haddad yang tinggal di Bogor tempat ia belajar ilmu tasawuf, tafsir, dan pidato. Pada tahun 50-an, ia belajar ilmu hadits kepada Habib Salim bin Jindan di Jatinegara.

Abdullah Syafe’ie, setelah cukup lama menuntut ilmu pengetahuan agama, tibalah waktunya dia mengamalkan ilmu-ilmu yang dimiliki. Di usia yang sangat muda, pada tahun 1928, ketika masih berusia 18 tahunan, ia telah mendirikan madrasah, yang tempatnya berlokasi di tanah wakaf yang diberikan Syafe’ie, sang ayah di kampung Balimatraman. Pada usia kurang lebih 21 tahun ia telah memiliki sertifikat sebagai pertanda ia telah layak untuk menjadi seorang pendidik. Ia bersama istrinya mengajarkan ilmu-ilmu agama, seperti ilmu tauhid, ilmu fiqh, ilmu akhlaq dan ilmu-ilmu lainnya.

Kemudian sejak tahun 1954, ia mengembangkan isntitusi pendidikannya dalam bentuk pesantren. Institusi pendidikan dalam bentuk pesantren ini kemudian mengambil bentuk beragam pesantren, ada pesantren putra-putri, ada pesantren tradisional, dan ada pesantren khusus yatim. Selain mendirikan pesantren ia mendirikan pula Sekolah Menengah Umum (SMU) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), Pendidikan Taman Kanak-Kanak, Majelis Ta’lim, Poliklinik, hingga Universitas Islam Al-Syafi’iyah (UIA) di Jatiwaringin.

Hasil karya K.H. Abdullah Syafe’ie, adalah sebagai berikut:

  1. Karya yang berjudul: al-Muassasat Al-Syafi’iyah al-Ta’limiyah. Karya ini menjelaskan tentang latar belakang dia mendirikan pendidikanmadrasahnya, serta menggambarkan pula tentang materi pendidikan/pelajaran.
  2. Karya yang berjudul: Bir al-Walidaini. Karya ini membicarakan bagaimana kondisi seorang ibu yang sedang mengandung dan setelah melahirkan; dan bagaimana pemberian nama kepada si anak; proses memelihara anak dan mengisi jiwanya serta ke arah mana anak dan mengisi jiwanya serta ke arah mana anak dididik. Perlunya sejak dini menanamkan jiwa agama dan pengamalan agama, menceritakan perlunya seorang anak berbakti kepada orang tua serta keberuntungan yang diperoleh seseorang apabila berbakti atau berakhlak kepada kedua orang tua.
  3. Karya yang berjudul: Berkenalan dengan Perguruan Al-Syafi’iyah. Karya ini menggambarkan tentang latar belakang serta tujuan, kurikulum dan lainnya yang berkaitan dengan pendirian pesantren putra-putri, pesantren khususnya yatim dan pesantren tradisional.
  4. Karya yang berjudul: Penduduk Dunia Hanya Ada Tiga Golongan. Dalam karya ini Abdullah Syafe’ie menyoroti manusia dalam tiga kelompok, yaitu pertama kelompok mukmin, kedua kelompok kafir, dan ketiga kelompok munafiq. Manusia kelompok pertama adalah manusia yang meyakini allah serta mengikuti perintahnya serta menjauhi larangannya. Manusia kelompok kedua adalah manusia yang tidak percaya kepada Allah serta senantiasa melanggar aturan-Nya. Manusia kelompok ketiga adalah manusia yang berada di tengah keraguan, sehingga apa yang terucapkan sangat berbeda dengan apa yang ada di dalam hatinya. Dua bentuk manusia tersebut yaitu manusia yang kafir dan munafiq senantiasa mereka dalam kerugian terutama di akhirat.
  5. Karya yang berjudul: Mu’jizat Saiyidunặ Muhammad. Karya ini berbicara tentang mu’jizat Nabi Muhammad, juga mu’jizat nabi-nabi lainnya seperti nabi Adam, Ibrahim, Musa, Isa dan lainnya. Misalnya Muhammad adalah cahaya, alam semesta ini ada karena ada cahaya Nabi Muhammad. Mu’jizat nabi-nabi lainnya juga dipunyai oleh Nabi Muhammad.
  6. Karya yang berjudul: Al-Dinu wal-Masjid. Karya ini membahas tentang hubungan yang erat antara agama dan tempat ibadah (masjid). Pentingnya membangun masjid bagi umat Islam. Orang yang ikut membangun masjid serta memakmurkannya akan mendapatkan keutamaan dan pahala yang besar.
  7. Karya yang berjudul: Madârif al-Fiqhi. Karya ini membahas tentang pengertian agama, pengertian Islam, pengertian iman dan rukun-rukunnya; juga berbicara tentang najis dalam konteks shalat, juga masalah pelaksanaan shalat, tentang qunut dan lainnya.
  8. Karya yang berjudul: Al-Ta’lîm al-Dîn. Karya ini membicarakan ajaran tentang siapa pencipta manusia, apa agamanya, siapa imamnya, kiblatnya dan siapa saudaranya, siapa yang menciptakan alam yang luas ini, juga membahas tentang rukun Islam dan rukun iman.
  9. Karya yang berjudul: Hidâyah al-Awwam. Karya ini membahas tentang sifat-sifat Allah yang wajib dan yang mustahil. Kemudian ia membahas pula masalah iman kepada para malaikat, kitab-kitab Allah, juga iman kepada nabi-nabi Allah dengan sifat-sifatnya seperti fathanah dan lainnya.
  10. Karya yang diberi judul: Al-Mahfîiizhat (sebanyak III jilid).karya ini berisi sejumlah materi materi hadis utama yang singkat, seperti hadis tentang keutamaan iman, tentang keutamaan.

Prof. Dr. Sunaryo Kartadinata, M. Pd.

            Sunaryo Kartadinata merupakan sosok yang mendedikasikan sepenuhnya di dunia pendidikan, khusus bimbingan dan konseling. kepakarannya dalam bidang bimbingan dan konseling sudah diakui secara nasional maupun internasioanl. Dalam paparan kuliahnya selalu mengkaitkan dengan ilmu-ilmu agama, sehingga nuansa religiusitasnya kental terasa. Beberapa jabatan akademik yang pernah diembannya adalah: Rektor UPI dua periode (2005 – 2010 dan 2010 – 2015, Pembantu Rektor Bidang Administrasi Umum dan Keuangan UPI (1996 – 2005), Profesor/Guru Besar Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia (1996 – saat ini), Ketua Prodi Bimbingan dan Konseling Sekolah Pasca Sarjana IKIP Bandung (1995-1996), Pembantu Dekan I Fakultas Ilmu Pendidikan IKIP Bandung, Sekretaris Jurusan PPBIKIP Bandung.

Adapun buku yang sudah diterbitkan adalah: Pendidikan Kedamaian, CV Rosda Karya Bandung (2015), Politik Jati Diri: Telaah Filososfis dan Praksis Ilmu Pendidikan Sebagai Upaya Penguatan Jati Diri Bangsa (2014), Penyehatan Kultur Pendidikan (2012), Menguak Tabir Bimbingan dan Konseling Sebagai Upaya Pedagogis (2011), Isu-Isu Pendidikan: Antara Harapan dan Kenyataan (2010), Teori Bimbingan dan Konseling, dalam buku “Rujukan Filsafat, Teori, dan Praksis Ilmu Pendidikan” UPI (2007), Profesi Konselor di Dalam Sistem Pendidikan Nasional: Telaah Akademik Yuridis, dalam buku “Rujukan Filsafat, Teori dan Praksis Ilmu Pendidikan” UPI (2007), Landasan-Landasan Pendidikan Sekolah Dasar. Depdikbud, Ditjen Dikti, P3GSD (1996), Masalah Psikologis Anak Luar Biasa, Depdikbud, Ditjen Dikti (Penilai dan Kontributor) (1995), Teknik Pengukuran dan Hasil Belajar (1992), Metode Riset Sosial: Suatu Pengantar (1988). Pada tahun 2014-2015 Menerima 6 Sertifikat Hak atas Kekayaan Intelektual (HKI) sekaligus dari Dirjen Hak Kekayaan Intelektual, Kementerian Hukum dan HAM RI. Kelima sertifikat yang diterima Prof. Sunaryo Kartadinata itu menandai pencatatan kekayaan intelektualnya yang didaftarkan yaitu: (1) Menguak Tabir Bimbingan dan Konseling Sebagai Upaya Pedagogis, (2) Inventori Tugas Perkembangan Jenjang Perguruan Tinggi, (3) Inventori Tugas Perkembangan Jenjang Sekolah Menengah Atas, (4) Inventori Tugas Perkembangan Jenjang Sekolah Menengah Pertama (5) Inventori Tugas Perkembangan Jenjang Sekolah Dasar. (6) Politik Jati Diri: Telaah Filosofi dan Praksis Pendidikan bagi Penguatan Jati Diri bangsa. (Wawancara dengan Bapak Sudaryat, mahasiswa pascasarjana S3 Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Pendidikan Indonesia dan dari berbagai sumber).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

Achmad Muhibbin Zuhri. Pemikiran KH. M. Hasyim Asy’ari Tentang Ahl Al-Sunnah Wa Al-Jama’ah. Surabaya: Khalista. 2010.

Azyumardi Azra. Pendidikan Islam Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru. Jakarta: Logos Wacana Ilmu. 2000.

Badrus Sholeh, ed. Budaya Damai Komunitas Pesantren. Jakarta: LP3ES.

Hasbi Indra. Pesantren dan Transformasi Sosial. Jakarta: Penamadani. 2003.

Jalaludin. Teologi Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada. 2003.

  1. Luthfi Thomafi. Mbah Ma’shum Lasem. Yogyakarta: LkiS Group. 2012.

Mahmud al-Mishri. Ensiklopedia Akhlak Muhammad SAW. Jakarta: Pena Pundi Aksara. 2009.

Martin van Bruinessen. NU Tradisi Relasi-Relasi Kuasa Pencarian Wacana Baru. Yogyakarta: LkiS.

Muhammad Rifai. KH. M. Kholil Bangkalan. Jogjakarta: Garasi. 2009.

Nurcholish Madjid. Bilik-Bilik Pesantren Sebuah Potret Perjalanan. Jakarta: Paramadina. 1997.

Saiful Akhyar Lubir. Konseling Islami di Pondok Pesantren (Studi tentang Peranan Kiai). Disertasi Doktor Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta. 2003.

Sayfa Auliya Achidsti. Kiai dan Pembangunan Institusi Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Sukamto. Kepemimpinan Kiai Dalam Pesantren. Jakarta: LP3ES. 1999.

Sunaryo Kartadinata. Menguak Tabir Bimbingan dan Konseling Sebagai Upaya Pedagogis. Bandung: UPI PRESS. 2011.

Hasil penelitian:

Agus Sukirno (2015). Model Konseling Spiritual Kyai Dalam Menyelesaikan Masalh Umat (Studi Kasus di Pondok Pesantren Kota Serang). Pusat Penelitian dan Penerbitan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LP2M) IAIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten.

Internet

(http://tripariyatun.blogspot.co.id/2015/01/hakikat-tujuan-dan-fungsi-pendidikan_21.html).

https://akhmadsudrajat.wordpress.com/2010/12/04/definisi-pendidikan-definisi-pendidikan-menurut-uu-no-20-tahun-2003-tentang-sisdiknas/

 

Jurnal

Florence Hiu-HaChong dan Hung-Yi Liu dengan judul Indigenous Counseling in the Chinese Cultural Context: Experience Transformed Model, dalam Asian Journal of Counseling, 2002, Vol. 9 Nos. 1 & 2, 49-68.

Wawancara dengan Sudaryat mahasiswa pascasarjana S3 Universitas Pendidikan Indonesia angkatan 2015.

Penulis: bkiiainbanten

Ini adalah blog tidak resmi dari Jurusan Bimbingan dan Konseling Islam Fakultas Ushuluddin Dakwah Dan Adab IAIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s