BKI FUDA IAIN SMH BANTEN

Usul Fiqh Pertemuan 08: Sumber Hukum

Tinggalkan komentar

USUL FIQH PERTEMUAN 08: SUMBER HUKUM

Ahmad Fadhil

 

Teks sebagai Poros Budaya Umat Islam

Umat Islam telah menjadikan teks sebagai poros budaya, yakni sebagai kriteria penilaian, pijakan, dan rujukan. Dengan berporos pada teks, umat Islam telah melahirkan banyak ilmu, seperti Ilmu Fiqh, Usul Fiqh, Nahwu, Sarf, Balaghah, dan Kaligrafi.[1] Selain itu, keberadaan teks mencuatkan masalah validasi (tawthiq). Apakah teks yang ada ini adalah teks yang diucapkan oleh Rasulullah saw? Untuk menjawab pertanyaan ini, umat Islam telah menciptakan sekitar 20 ilmu, di antaranya Ilmu Rijal, Ilmu Sanad, Ilmu Jarh wa al-Ta‘dil, Ilmu Mustalah Hadith.[2]

Tidak ada kitab suci di dunia yang memiliki banyak sanad bersambung seperti al-Quran, yang semua perawinya—ulama ahli Qiraah—mengatakan, “Aku mendengar ucapan ini huruf demi huruf dalam tulisan dengan bentuk seperti yang ada di depan kita dari guruku yang lahir pada hari ini dan wafat pada tahun ini namanya adalah ini dan kebiasaannya adalah ini, ini, ini.” Lalu, guru itu juga mengatakan bahwa dia mendengar ucapan itu dari guru yang lain dengan penggambaran yang sama.

Di dalam sanad itu tidak ada orang yang tidak kita kenal. Sejarah hidup mereka semua termaktub dalam file Ilmu Qiraah. Bahkan, transmisi itu bukan berasal dari satu orang yang mungkin berdusta dan mungkin salah, bahkan bukan dari seribu orang, melainkan dari ribuan orang. Ibnu al-Juzuri menulis buku al-Nashr fi al-Qira’at al-‘Ashr yang menyebutkan seribu sanad al-Quran. Seribu orang yang menyampaikan bacaan al-Quran kepada Ibnu al-Juzuri, dan masing-masing orang dari seribu orang itu menerima dari 1000 orang guru lagi. Dan seterusnya. Ini baru satu buku. Dan, masalah perhatian terhadap validasi ini di dalam tradisi keilmuan Islam lebih hebat daripada yang paparan ini.[3]

Ibnu Hazm di dalam Kitab al-Fisal fi al-Milal wa al-Ahwa’ wa al-Nihal mengatakan bahwa Taurat hanya memiliki satu sanad saja. Orang terakhir di dalam sanad ini berjarak 1000 tahun atau lebih dengan Nabi Musa. Teks asli Injil tidak ada. Yang ada adalah terjemahnya dalam Bahasa Yunani. Siapa penerjemahnya ke dalam Bahasa Yunani? Kita tidak tahu. Bagaimana sanad hingga ke terjemahan tersebut? Kita tidak tahu juga.[4]

Masalah validasi sanad dalam tradisi Islam mencapai kondisi di mana al-Bukhari pergi untuk mencari suatu hadith, lalu dia pergi kepada seseorang untuk menjelaskan riwayatnya. Al-Bukhari menemui orang itu ketika orang itu sedang memegang rumput untuk menarik perhatian binatangnya. Ketika binatang itu menghampiri, orang itu menangkapnya, lalu melemparkan rumput tersebut. Al-Bukhari meninggalkan orang itu tanpa berkata sepatah pun, selain, “Engkau telah berdusta kepada binatang itu.” Al-Bukhari lalu tidak mempercayai orang itu untuk meriwayatkan hadith. Al-Bukhari teringat pada sebuah riwayat bahwa Nabi saw melihat seorang wanita ingin memegang anaknya. Wanita itu menyodorkan korma. Ketika sudah memegang anaknya, wanita itu tidak memberikan korma itu kepada anaknya. Nabi saw pun bersabda, “Jika engkau lakukan itu, maka engkau telah berdusta”.[5]

 

Al-Quran dan Ulum al-Quran

Apakah ‘Ulum al-Quran itu?

Muhammad Baqir al-Sadr (al-Madrasah al-Qur’aniyyah, Qum: Markaz al-Abhath wa al-Dirasat al-Takhassusiyyah li al-Shahid al-Sadr, cet. III, 1426 H., h. 211-213) mengatakan:

‘Ulum al-Quran (ilmu-ilmu al-Quran) adalah semua pengetahuan dan kajian yang berkaitan dengan al-Quran. Ilmu-ilmu berbeda satu dengan lainnya dikarenakan perbedaan aspek al-Quran yang dikajinya.

Baqir al-Sadr menjelaskan bahwa al-Quran dapat ditinjau dari berbagai sudut pandang dan masing-masing sudut pandang ini menjadi objek bagi kajian yang khusus.

Salah satu sudut pandang yang terpenting adalah al-Quran sebagai ucapan yang menunjukkan makna. Dengan karakter ini al-Quran menjadi objek bagi Ilmu Tafsir.

Ilmu Tafsir mencakup kajian terhadap al-Quran sebagai ucapan yang memiliki makna, lalu makna-maknanya dijelaskan, keterangan tentang pengertian-pengertian dan tujuan-tujuannya disampaikan secara detail.

Karena itu, Ilmu Tafsir adalah satu di antara ‘Ulum al-Quran yang paling penting dan menjadi asas bagi yang selainnya.

Al-Quran juga dapat ditinjau sebagai salah satu sumber penetapan hukum. Dengan sudut pandang ini, al-Quran menjadi objek bagi Ilmu Ayat-Ayat Hukum, yaitu sebuah ilmu yang khusus mengkaji ayat-ayat hukum di dalam al-Quran dan meneliti jenis hukum yang mungkin ditarik setelah dikomparasikan dengan semua dalil shar’i lainnya, yaitu Sunnah, Ijma, dan Akal.

Al-Quran dapat juga dipelajari sebagai indikator kenabian Nabi Muhammad saw. Dengan demikian, al-Quran menjadi objek Ilmu I‘jaz al-Quran, yaitu ilmu yang menerangkan bahwa al-Quran adalah wahyu ilahi yang dibuktikan dengan atribut dan karakteristik yang membedakannya dari ucapan manusia.

Lalu, al-Quran dapat dipelajari sebagai teks berbahasa Arab yang mengikuti aturan Bahasa Arab sehingga menjadi objek Ilmu I‘rab al-Quran dan Ilmu Balaghah al-Quran. Kedua ilmu ini menerangkan keselarasan teks al-Quran dengan kaidah-kaidah bahasa Arab dalam hal nahwu dan balaghah.

Al-Quran dapat dikaji dalam aspek keterkaitannya dengan peristiwa-peristiwa tertentu pada masa Nabi saw sehingga menjadi objek Ilmu Asbab al-Nuzul.

Al-Quran dapat dipelajari dengan memperhatikan lafalnya yang tertulis sehingga menjadi objek Ilmu Rasm al-Quran, ilmu yang mengkaji tulisan dan cara penulisan al-Quran.

Al-Quran dapat juga dipelajari sebagai ucapan yang dibaca sehingga menjadi objek Ilmu Qiraah, ilmu yang mengkaji penetapan huruf dan harakat kata-kata al-Quran dan cara membacanya.

Serta ilmu-ilmu lain yang berkaitan dengan al-Quran.

Baqir al-Sadr menegaskan, “Semua ilmu itu sama-sama mengambil al-Quran sebagai objek kajian dan berbeda hanya dalam aspek dari al-Quran yang diperhatikannya.”

Apakah penganut mazhab Shi‘ah meyakini al-Quran telah berubah?

Tidak. ‘Abd al-Hadi al-Fadli mengatakan, “Al-Kitab al-mutadawal bayna aydina huwa al-qur’an al-karim kama nuzila bi ma‘anih wa alfazih wa uslubih lam yazid ‘alayhi shay’ wa lam yanqus minhu shay’ li thubuti dhalika bi al-naql wa al-tawatur.[6]

 

Sunnah

Sunnah dalam pengertian Shi‘ah adalah perkataan, perbuatan, dan ketetapan orang yang maksum. Orang yang maksum adalah orang yang kemaksumannya ditetapkan oleh bukti yang nyata (al-burhan). Mereka adalah Nabi saw dan 12 imam dari keturunannya yang kemaksumannya ditetapkan oleh bukti yang nyata.[7]

Al-Fadli mengatakan nilai berargumentasi dengan sunnah yang berasal dari para imam dari kalangan Ahlul Bayt tergantung kepada tetapnya keimaman dan kemaksuman mereka, serta berfungsinya mereka seperti fungsi Nabi saw setelah dia wafat dalam tugas menyampaikan hukum-hukum al-waqi‘iyyah. Ketetapan ini dibuktikan secara jelas di dalam buku-buku Ilmu Kalam.[8]

Al-Fadli mengatakan bahwa jenis kajian terhadap al-Quran maupun hadith untuk menemukan hukum-hukum syariat Islam di dalamnya adalah sama. Sebab, baik al-Quran maupun hadits sama-sama teks verbal dan hanya berbeda dari segi sumbernya saja. Sumber al-Quran adalah Allah, sedangkan sumber hadith adalah para imam maksum. Kajian terhadap teks verbal terbagi menjadi dua jenis, yaitu kajian terhadap sanad (jalur hadith secara keseluruhan, bukannya satu per satu para perawi hadith secara terperinci. Yang mengkaji satu per satu perawi hadith adalah Ilmu Rijal Hadith[9] yang bertujuan mengetahui keabsahan atau kesalahan penisbahan teks kepada pengucapnya, dan kajian terhadap matan yang bertujuan mengetahui kandungan atau isi teks.[10]

Sunnah adalah implementasi praktis Islam oleh Nabi Muhammad saw.[11]

Keyakinan bahwa al-Quran berasal dari Allah adalah salah satu keyakinan mendasar dalam agama. Tidak ada seorang muslim pun yang meragukannya. Karena itu, kajian terhadap sanad al-Quran sudah selesai. Tapi, kebenaran penisbahan hadith kepada para imam bukan kepastian dikarenakan berbagai peristiwa dan situasi yang melingkupi dan menyertainya. Kebohongan, mengada-ada, mengganti, dan mengubah hadith baik dengan motif keagamaan, politik, sosial, maupun alamiah sangat mungkin terjadi dengan tujuan menguatkan mazhab tertentu, membenarkan kebijakan politis penguasa tertentu, mengambil keuntungan duniawi, atau karena lupa, samar-samar, salah paham, dan yang seperti itu. Karena itu, kajian terhadap sanad Sunnah, atau kajian tentang jalur-jalur Sunnah, sangat penting.[12]

Dari segi jalur periwayatan atau penisbahan hadith kepada orang yang maksum, hadith terbagi dua. Satu, hadith yang pasti berasal dari maksum atau hadith yang jalur periwayatannya menunjukkan kepastian kemunculannya dari maksum. Dua, hadith yang tidak pasti berasal dari maksum atau hadith yang jalur periwayatannya tidak menunjukkan kepastian kemunculannya dari maksum. Hadith jenis kedua ini disebut juga dengan istilah khabar al-wahid.[13]

Kapan Ilmu Usul Fiqh melakukan kajian terhadap sanad hadith dan kapan kajian ini menjadi tugas Ilmu Hadith dan Ilmu Rijal?

Al-Fadli mengatakan bahwa kajian terhadap sanad pertama-tama dilakukan oleh Ilmu Rijal. Ilmu ini mengenalkan perawi yang terpercaya (mawthuq) dan yang tidak terpercaya (ghayr mawthuq). Setelah itu, Ilmu Hadith. Ilmu ini mengenalkan riwayat yang dapat dijadikan pegangan (mu‘tabar) dan yang tidak dapat dijadikan pegangan (ghayr mu‘tabar) berdasarkan keterangan tentang penilaian terhadap para pembawa sanadnya yang diberikan oleh para ahli Ilmu Rijal. Setelah itu, barulah Ilmu Usul Fiqh mengenalkan nilai berargumentasi dengan riwayat tersebut.[14]

Di manakan posisi hadith sahih dalam pandangan mazhab Shi‘ah?

Dari segi kepastian kemunculan dari orang yang maksum, hadith terbagi dua, yaitu hadith yang pasti berasal dari maksum dan hadith yang tidak pasti berasal dari maksum. Hadith yang pasti berasal dari maksum ada dua macam, yaitu khabar mutawatir dan khabar yang tidak mutawatir tapi disertai sesuatu yang mengindikasikan kepastian kemunculannya dari maksum.[15]

Hadith yang tidak pasti kemunculannya dari maksum atau khabar wahid terbagi menjadi dua macam. Satu, musnad, yaitu khabar yang sanadnya memuat semua nama perawinya mulai dari orang yang merawikan dari maksum sampai orang yang merawikan kepada kita. Dua, mursal, yaitu khabar yang sanadnya tidak memuat semua nama perawinya.[16]

Khabar musnad terbagi dua macam. Satu, mu‘tabar, yaitu semua khabar musnad yang dapat dipercaya kemunculannya dari maksum. Dua, ghayr mu‘tabar, yaitu semua khabar musnad yang tidak dapat dipercaya kemunculannya dari maksum.

Khabar mu‘tabar terbagi empat macam.

Satu, sahih, yaitu hadith yang semua perawinya adalah penganut mazhab Shi‘ah Ithna ‘Ashariyyah yang adil. Dua, muwaththaq, yaitu hadith yang semua perawinya adalah orang-orang Islam (bukan penganut mazhab Shi‘ah Ithna ‘Ashariyyah, AF) yang dapat dipercaya atau hadith yang sebagian perawinya adalah orang-orang Islam yang dapat dipercaya dan sebagian lagi adalah penganut mazhab Shi‘ah Ithna ‘Ashariyyah.

Tiga, hasan, yaitu hadith yang semua perawinya adalah orang-orang yang terpuji di kalangan para ahli Ilmu Rijal; atau orang-orang yang adil, terpercaya, dan terpuji; atau orang-orang yang terpercaya dan terpuji; atau orang-orang yang adil dan terpuji.

Empat, da‘if, yaitu hadith yang sebagian perawinya periwayatannya tidak dipercaya tapi kandungan riwayatnya diterima oleh para fuqaha.[17]

Setelah Rasul wafat, ada pelarangan penulisan hadith. Jika tidak ada, tentu banyak hadith mutawatir sampai kepada kita.[18]

Kaum Muslimin sepakat tentang kedudukan Sunnah sebagai sumber kedua penetapan hukum Islam. Tapi, apakah jalur dan cara sampainya Sunnah itu dari Rasul saw kepada kita terjamin sehingga kita dapat yakin bahwa yang kita terima adalah Sunnah Rasulullah saw atau telah terjadi “kerusakan” yang menuntut pengkajian dan pemeriksaan terhadapnya? Terjadinya penyusupan, pemalsuan, penyimpangan, perusakan baik dengan sengaja atau tidak adalah fakta yang tidak dapat diragukan. Tentang tema inilah telah terjadi pembahasan sengit di kalangan umat Islam.

Sebagian orang berpandangan kajian tentang masalah ini lebih baik ditutup dengan motif membenarkan apa pun yang terjadi dalam realitas sejarah umat Islam, untuk menghindarkan tuduhan terhadap sahabat, para ahli hadith, dan para penulis kitab hadith, serta karena mereka mengetahui sensitifitas jawaban terhadap pertanyaan kontroversial yang mungkin diajukan dalam membahas masalah ini, seperti pertanyaan tentang keabsahan hadith-hadith yang telah tertulis di berbagai kitab hadith. Mereka mengira bahwa bahwa mengkaji hal ini akan berakibat hilangnya jalan yang mengantarkan kita kepada Sunnah, lalu menanggalkan Sunnah sebagai sumber hukum Islam.[19]

Khabar wahid adalah hadith yang disampaikan oleh satu orang atau beberapa orang yang tidak mencapai batas mutawatir sehingga tidak memastikan kepastian dan keyakinan terhadap hadith tersebut. Menurut Mutahhari, para ahli Usul Fiqh berpandangan bahwa khabar wahid dapat dijadikan sandaran dengan syarat perawi-perawinya adil dan jujur. Dalilnya adalah QS al-Hujurat: 6. Mafhum ayat ini menunjukkan nilai argumentatif khabar wahid.[20]

Ilmu Dirayat adalah ilmu yang mengkaji matan, sanad, dan jalan-jalan hadith, baik yang sahih, sakit (saqim), atau cacat (‘alil), dan hal-hal yang diperlukan untuk mengetahui hadith yang diterima dan ditolak; atau ilmu yang mengkaji sanad dan matan hadith, serta cara menerima dan adab menyampaikannya; atau ilmu yang mengkaji kondisi-kondisi yang terjadi  pada hadith dari segi sanad atau matan.[21]

 

Penulisan atau Kodifikasi Sunnah

Ketika Islam datang buta huruf memang dominan di kalangan Arab. Artinya, kemampuan baca tulis tidak tersebar luas di kalangan Arab berbeda halnya dengan di kalangan Persia dan Romawi. Tapi, bukti-bukti sejarah menunjukkan jumlah orang Arab yang mampu baca tulis tidak sesedikit yang disebutkan oleh al-Baladhiri di dalam Futuh al-Buldan. Selanjutnya Islam membawa perubahan besar. Diriwayatkan bahwa jumlah orang yang belajar al-Quran kepada Abu al-Darda’ saja sekitar 1.600 orang. Setiap 10 orang diajar oleh satu orang dan Abu al-Darda’ membimbing mereka semua. Jadi, menurut Ma‘ruf al-Hasani, keterlambatan penulisan Sunnah bukan karena sedikitnya orang yang mampu membaca dan menulis seperti dikatakan sejumlah penulis baik Arab maupun orientalis.[22]

 


[1] Ibnu Muqlah adalah ahli kaligrafi penemu sistem segi enam dan lingkaran yang dapat memuat gambar semua aksara. Abu Hayyan di dalam Risalah al-Fadl mengatakan bahwa Allah telah mewahyukan segi enam aksara kepada Ibnu Muqlah sebagaimana Dia mewahyukan kepada lebah sistem segi enam rumahnya. Di dunia ini, kata Abu Hayyan, tidak ada aksara yang tunduk pada satu sistem seperti aksara Arab dan kaum muslimin menemukan sistem itu karena mereka telah mengabdi kepada teks dan menjadikannya poros budaya mereka. ‘Ali Jum‘ah Muhammad, al-Madkhal, Kairo: IIIT, cet. I, 1417 H./1996 M., h. 10.

[2] ‘Ali Jum‘ah Muhammad, al-Madkhal, Kairo: IIIT, cet. I, 1417 H./1996 M., h. 10.

[3] ‘Ali Jum‘ah Muhammad, al-Madkhal, Kairo: IIIT, cet. I, 1417 H./1996 M., h. 10.

[4] ‘Ali Jum‘ah Muhammad, al-Madkhal, Kairo: IIIT, cet. I, 1417 H./1996 M., h. 12.

[5] ‘Ali Jum‘ah Muhammad, al-Madkhal, Kairo: IIIT, cet. I, 1417 H./1996 M., h. 12.

[6] Mabadi’ Usul al-Fiqh,h. 22.

[7] ‘Abd al-Hadi al-Fadli, Mabadi’ Usul al-Fiqh, h. 23.

[8] ‘Abd al-Hadi al-Fadli, Mabadi’ Usul al-Fiqh, h. 24.

[9] Ja‘far Subhani, Usul al-Hadith, h. 15.

[10] ‘Abd al-Hadi al-Fadli, Mabadi’ Usul al-Fiqh, h. 25.

[11] Muhammad ‘Ajjaj al-Khatib, al-Sunnah Qabla al-Tadwin, Kairo: Maktabah Wahbah, cet. II, 1408 H./1988 M., h. 1.

[12] ‘Abd al-Hadi al-Fadli, Mabadi’ Usul al-Fiqh, h. 26.

[13] ‘Abd al-Hadi al-Fadli, Mabadi’ Usul al-Fiqh, h. 27-28.

[14] ‘Abd al-Hadi al-Fadli, Mabadi’ Usul al-Fiqh, h. 29.

[15] ‘Abd al-Hadi al-Fadli, Mabadi’ Usul al-Fiqh, h. 27.

[16] ‘Abd al-Hadi al-Fadli, Mabadi’ Usul al-Fiqh, h. 29.

[17] ‘Abd al-Hadi al-Fadli, Mabadi’ Usul al-Fiqh, h. 30-31.

[18] Mustafa Qasir al-‘Amili, Kitab ‘Ali ‘Alayhi al-Salam wa al-Tadwin al-Mubakkir li al-Sunnah al-Nabawiyyah al-Sharifah wa yalihi Bahth Mujaz ‘an al-Jafr wa Mushaf Fatimah ‘Alayha al-Salam, Beirut: Dar al-Thiqlayn, cet. I, 1415 H./1995 M., Pengantar Penerbit.

[19] Mustafa Qasir al-‘Amili, Kitab ‘Ali, h. 6-7.

[20] Murtada Mutahhari, al-Usul, h. 40

[21] Ja‘far al-Subhani, Usul al-Hadith, h. 14

[22] Dirasat fi al-Hadith wa al-Muhaddithin, Hashim Ma‘ruf al-Hasani, Beirut: Dar al-Ta‘aruf li al-Matbu‘at, h. 17-19.

Penulis: bkiiainbanten

Ini adalah blog tidak resmi dari Jurusan Bimbingan dan Konseling Islam Fakultas Ushuluddin Dakwah Dan Adab IAIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s