BKI FUDA IAIN SMH BANTEN

Posisi Dan Peran Prodi BPI/BKI Dalam Mengembangkan Kompetensi Mahasiswa Sebagai Pembimbing Rohani Di Rumah Sakit (Makalah Workshop PKBKI Bimbingan Rohani dan Terapi Qurani 2012)

2 Komentar

Pada hari Jumat-Sabtu, 23-24 Nopember 2012, Pusat Kajian Bimbingan dan Konseling Islam (PKBKI) Jur. BKI Fak. Ushuluddin dan Dakwah IAIN “SMH” Banten mengadakan Workshop Terapi Qurani dan Bimbingan Rohani di Rumah Sakit. Berikut ini salah satu makalah yang dipresentasikan dalam kegiatan tersebut.

POSISI DAN PERAN PRODI BPI/BKI

DALAM MENGEMBANGKAN KOMPETENSI MAHASISWA

SEBAGAI PEMBIMBING ROHANI ISLAM DI RUMAH SAKIT[1]

Aep Kusnawan

Ketua Prodi BPI UIN Bandung

aep_abufathya@yahoo.co.id

Hp. 081321235040

DSCN1225

  1. A.    Pengantar

Gagasan adanya Bimbingan Rohani Islam di BPI UIN Bandung awalnya terilhami oleh perhatian saudara kita dari agama lain yang intens memberikan bimbingan kerohanian terhadap mereka yang tengah ditimpa musibah sakit. Di rumah sakit milik mereka, yang jumlahnya tidak sedikit, selalu tersedia pembimbing ruhani yang siap memandu setiap pasien (dengan tidak memperhatikan agama yang dianut pasien) untuk dibimbing dan dituntun sesuai dengan keyakinan mereka.

Barangkali, ini merupakan “kekhilafan” lahan dakwah yang saat itu belum tergarap. Padahal setiap muslim berkewajiban untuk melakukan banyak hal yang berkaitan dengan orang sakit.[2] Sebagaimana salah satu fungsi al-Quran adalah sebagai syifa (penyembuh dari ragam penyakit).

Sementara pada saat yang sama mayoritas penduduk Jawa Barat, termasuk juga Banten adalah pemeluk Islam. Hanya sedikit saja prosentase umat non muslim. Sementara banyak rumah sakit, yang berdiri megah, yang sudah dapat dipastikan kebanyakan pasiennya adalah kalangan muslim pula, namun pemilik pengelola dan cara pengelolaannya oleh Non Muslim

Sementara Rumah Sakit-Rumah Sakit Islam, umumnya masih kalah, baik dari aspek kuantitas maupun kualita. Ada pula Rumah Sakit Umum Daerah, yang pengelolaannya dikelola pemerintah, pelayanan Bimbingan Islam dalam bentuk Perawatan Rohani Islam (Warois) umumnya belum dilakukan secara profesional. Padahal kewajiban beragama bagi yang sakit tetap berlaku dengan ketentuan-ketentuan khusus, seperti kewajiban bersuci, sholat, berdoa, sabar, tawakal, dzikir, dan pelapalan kalimah tauhid saat sakaratul maut.

Berangkat dari masalah empirik dakwah yang memprihatinkan itulah Gubernur Provinsi Jawa Barat (tahun 2002), HR. Nuriana [3] memberikan arahan dan petunjuk kepada H. Syukriadi Sambas selaku Dekan Fakultas Dakwah, di Ruang Kerja Gubernur Provinsi Jawa Barat tanggal 23 Maret 2002.

Pokok utama arahan itu adalah dipandang perlu dan mendesak untuk menyiapkan tenaga-tenaga profesional yang dapat bertugas sebagai pembimbing atau perawat rohani Islam (mursyid). Mereka diharapkan bisa menjadi pembimbing shalat, pemberi nasihat, pendamping doa, penuntun talkin bagi orang yang sedang naza (sakaratul maut).

Untuk keperluan itu maka diprogramkanlah kegiatan Pelatihan Perawatan Rohani Islam (Warois) atas kerjasama Pemda Jawa Barat dengan Fakultas Dakwah, yang pelaksana teknisnya dikelola oleh tim dari Prodi BPI.[4] Pelatihan dimaksud diberikan kepada calon tenaga Perawat Rohani Islam untuk mengisi kebutuhan tenaga Profesional Warois di Rumah Sakit Umum Daerah tiap kabupaten kota di Jawa Barat.

Keberadaan Warois di rumah sakit dimaksudkan sebagai pelaksana proses pemeliharaan, pengurusan dan penjagaan aktivitas ruhaniah yang fitri, yaitu berkeyakinan tauhidullah, taat beribadah, sabar, tawakal, tumaninah, berikhtiar untuk sembuh dan bersyukur atas berbagai karunia dengan menjalankan berbagai bentuk kewajiban agama dalam berbagai situasi dan kondisi.

Sedangkan Pelatihan Warois sendiri diadakan sebagai pendidikan keterampilan untuk melatih kemahiran merawat rohani Islam sebagai bagian dari macam kegiatan bimbingan Islam, dan bimbingan Islam sebagai macam dari bentuk kegiatan konteks dakwah Islam nafsiyah, fardiyah dan fiah yang diwajibkan kepada setiap individu Muslim menurut kemampuan, fungsi dan perannya masing-masing. Dengan penyiapan tenaga terlatih bidang Warois itu juga termasuk bagian dari kewajiban pelaksanaan dakwah Islam.

Pelatihan diadakan di Jl. Turangga No. 25 Bandung, selama 20 hari, sebanyak 9 (Sembilan) angkatan. Tiap angkatan peserta terdiri dari 40 orang utusan lulus seleksi dari tiap kabupaten kota. Diutamakan lulusan Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan Islam. Sehingga jumlah alumni pelatihan Warois sekitar 360 orang. Para alumni pelatihan disebar ke RSUD di berbagai Kabupaten Kota. Atas Surat Keputusan dari Gubernur Jawa Barat.

Seiring dengan perjalanan waktu, kepemimpinan Gubernur beralih. Kebijakan Pelatihan Warois pun mengalami kemandegan. Untuk “menyelamatkannya”, materi pelatihan Warois  ditransformasi menjadi salah satu mata Kuliah di Prodi BPI UIN Bandung.

  1. B.    Lulusan BPI/BKI, Bekerja di Rumah Sakit?

Seiring dengan pelatihan Warois yang tidak berlanjut, sejumlah materi dan program warois masuk menjadi bagian dari Mata Kuliah yang dikembangkan di Prodi BPI. Sehingga lulusan BPI mulai saat itu memiliki wawasan dan keterampilan di bidang Perawatan Rohani Islam di Rumah Sakit.

Oleh karena itu, awalnya banyak orang tidak tahu dan bertanya, lulusan BPI/BKI bisa masuk bekerja di rumah sakit? Karena sebelumnya orang yang bisa bekerja di Rumah Sakit adalah mereka yang telah kuliah dengan biaya yang relatif mahal. Antara lain lulusan kedokteran atau lulusan keperawatan, atau paling tidak apoteker dan administrasi. Di luar itu, tidak ada yang diperkenankan terlibat di rumah sakit, apalagi berhubungan dengan pengurusan pasien.

Hanya saja, dokter dan perawat, lebih sibuk dan terpokus pada aspek kesehatan jasmani. Mereka seakan lupa, bahwasanya manusia bukan hanya sebagai makhluk fisik saja, melainkan terdiri dari dua dimensi besar yaitu jasmani dan rohani. Dimana dari perpaduan keduanya melahirkan potensi yang lain seperti rasa dan akal.[5]

Mereka juga banyak mempelajari jika rohani sehat bisa sangat membantu pada percepatan kesembuhan jasmani. Namun jika rohani sakit, maka kesembuhan jasmani menjadi lambat atau bahkan bisa terganggu.

Selama bertahun-tahun, umat “terabaikan” dalam pelayanan rumah sakit yang timpang. Hanya dominan pengobatan dan perawatan aspek fisik. Hal demikian bisa dimaklumi, antara lain karena orang rumah sakit belum punya cukup orang yang secara akademik, memilihi kecakapan mengobati dan merawat aspek penting lainnya dari manusia, yang dikenal dengan rohani (spiritual).

Dengan lahirnya program pelatihan Warois, yang kemudian dilanjutkan menjadi terintegrasi  sebagai bagian mata kuliah di Prodi BPI/BKI. Mahasiswa BPI dihantarakan untuk mengenal aspek teori dan praktik perawatan rohani Islam yang praktiknya di Rumah Sakit.

Melalui Mata kuliah ini dijelaskan tentang dasar-dasar ilmu perawatan rohani Islam sebagai sub-sistem dari bimbingan dan penyuluhan Islam. Pembahasannya meliputi sejarah perkembangan, tujuan dan fungsi, ruang lingkup serta konsep-konsep dasar perawatan rohani Islam. Tujuan mata kuliah itu adalah memberikan pemahaman kepada mahasiswa tentang dasar-dasar teoritik dan prinsip-prinsip perawatan rohani Islam.

Topik Intinya terdiri dari pengertian dan ruang lingkup dasar-dasar perawatan rohani Islam, sejarah perawatan rohani dalam Islam, Dasar dan tujuan perawatan rohani Islam; fungsi perawatan rohani Islam; perawatan rohani Islam bagi orang sehat (fungsi kuratif dan developmental), perawatan rohani Islam bagi orang sakit: Religiusitas sehat sakit dalam Islam; Mengenal Asuhan Keperawatan Spiritual Muslim; Pokok-pokok kajian bagi perawatan orang sakit terutama di Rumah Sakit: (1)  ibadah pokok, (2) ibadah tambahan (3) bimbingan dan penasehatan, (4) konseling bagi orang sakit, (5) pasien berkebutuhan khusus di rumah sakit.

Mata kuliah itu juga ditunjang oleh mata kuliah lain, seperti Mata Kuliah: Fiqh, Tasawuf, Epistemologi Doa, Dasar-dasar BPI, Pengantar Psikologi, Psikologi Dakwah, Psikoterapi Islam, Teknik Konseling, Konseling Individu, Konseling Kelompok, Komunikasi Konseling, Psikologi Konseling, Manajemen BPI, Media BPI, Teori Konseling dan Teori BPI.

Dengan sajian mata kuliah yang praktiknya dilakukan di kelas dan kunjungan ke Rumah Sakit ditunjang dengan pendalaman melalui Praktik Profesi Mahasiswa (PPM) di rumah sakit, maka mahasiswa dan lulusan BPI memiliki wawasan dan kecakapan dalam perawatan Rohani Islam.

Pengenalan mahasiswa BPI dengan Rumah Sakit membawa “nuansa baru”, bagi mahasiswa BPI, Rumah Sakit sebagai bagian dari wahana yang diakrabi untuk mengaplikasikan nilai-nilai dakwah di dalamnya sesuai bidang ke-BPI-an. Sementara di rumah sakit sendiri, ketimpangan pengobatan dan perawatan antara aspek jasmani dan rohani (spiritual) di rumah sakit menjadi secara bertahap terjawab.

Pelayanan di rumah sakit menjadi lebih meningkat. Dokter, perawat, apoteker memiliki keahlian dalam pengobatan  jasmani. Lulusan BPI/BKI memiliki keahlian dalam pengobatan dan perawatan rohani. Sehingga Lulusan BPI/BKI di Rumah Sakit, memiliki peran yang sama penting sebagai profesi yang dibutuhkan keberadaannya.

  1. C.   Prospek Bimroh (Warois)

Trend dewasa ini, manusia meningkat kesadaran memelihara kesehatannya. Tidak kecuali, kecenderungan penyembuhan penyakit melalui pendekatan spiritualitas. Hal demikian Nampak, misalnya jika melirik ke took-toko buku, maka buku-buku tentang hal itu, masuk dalam jajaran buku laris.[6]

Ini menunjukan adanya fenomena baru berupa pergeseran paradigma dalam proses penyembuhan penyakit. Atau lebih tepatnya ada fenomena integrasi antara dua paradigma yang sebelumnya berjalan sendiri-sendiri, yaitu paradigm spiritualitas (istisyfa bi al-dua) sebagai bagian dari macam psiko reliji Islam yang selama ini menjadi milik ahli hikmah atau tabib dan paradigma medis (sunatullah fi alkhalqi) milik para dokter modern dan rumah sakit. Kini keduanya mulai terintegrasi.

Dengan perkembangan positif demikian, maka prospek Bimbingan Rohani (Warois) semakin memperlihatkan prospek yang cerah. Selain keberadaannya di Rumah sakit semakin diakui dan mendapat tempat, juga layanan yang diberikan oleh para Warois, umumnya mendapat respons positif dari para pasien dan keluarganya. Sehingga, keberadaan Warois, menjadi salah satu penambah daya tarik pelayanan di Rumah Sakit yang bersangkutan.

Apalagi, dengan itu jumlah penduduk terus bertambah, orang yang lahir dan ada yang mati, ada yang sembuh ada yang sakit. Sebagian dari mereka berada di rumah sakit dan membutuhkan pelayanan yang memenuhi kebutuhan fitrahnya. Dimana jumlah rumah sakit pun terus bertambah, baik Rumah Sakit Negeri maupun swasta, maka lahan lulusan BPI/BKI yang meminati profesi Bambina Islam melalui Perawat Rohani Islam (Warois) menjadi terbuka.

  1. D.   Realita Bimroh (Warois)

Untuk Menyimak realitas Bimbingan Rohani Islam di Rumah sakit, penulis mengetengahkan salah satu contoh informasi yang disampaikan pada salah satu berita di Kabar Priangan.com.

Warois RSUD Kota Tasikmalaya, (Kabar Priangan. Com) 5 Juli 2011

Kegiatan bimbingan rohani tak selamanya harus dilakukan di masjid atau madrasah. Di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tasikmalaya pun, Perawat Rohani Islam (Warois) terus konsisten melakukan upaya bimbingan rohani kepada setiap pasen.

“Bimbingan rohani Islam bagi pasen yang dirawat di RSUD Tasikmalaya sudah berjalan sejak tahun 2002. Ini penting agar pasen merasa ada ketenangan, sabar dan timbul keyakinan bahwa hakikat penyembuhan segala penyakit semuanya dari Allah SWT,” ujar Koordinator Warois RSUD Tasikmalaya, I Kodriana, SAg,.MSi, Senin (4/7).

Diterangkan I Kodriana, bimbingan rohani Islam kepada pasen RSUD Tasikmalaya dilakukan tiap hari mulai jam 08.00 sampai jam 11.00 WIB,.
Saat dzuhur, diisi dengan kuliah dzuhur bagi pasen atau keluarganya. Lalu, sore harinya dimulai jam 15.00 sampai jam 21.00 WIB. dilanjut sampai shubuh sesuai shift masing-masing anggota Warois. “Kami mencoba membimbing pasen, mulai dari baca doa, ceramah singkat ke pasen sampai upaya talkin bagi pasen yang terlihat sedang sakaratul maut” timpal Daud Fauzi, S.Ag menambahkan. Daud menambahkan, keberadaan Warois sekarang sudah terasa dampaknya di RSUD Tasik. Sejak Warois dibentuk RSUD, antusias keislaman di lingkungan RSUD mulai terasa keberadaannya.Jani***

Informasi di atas kiranya memberikan gambaran sekilas mengenai keberadaan salah satu Bimbingan Rohani Islam di Rumah sakit yang ada di lapangan.

Sejumlah rumah sakit di Jabar pada khususnya telah ada Divisi khusus dengan nama beragam. Ada yang menamai Div. Warois, Div Bimroh dan Div Instalasi Pemulasaraan Jenazah. Terdiri dari Kepala divisi dan anggota rata-rata 4-6 orang tenaga warois.

Jumlah tenaga yang demikian, rata-rata masih belum sebanding dengan banyaknya jumlah ruangan, banyaknya jumlah pasien dan karyawan. Sehingga tenaga warois, rata-rata bekerja cukup sibuk. Ini juga pertanda untuk kondisi ideal lebih banyak dibutuhkan tenaga Warois. Didukung oleh sejumlah penelitian yang menunjukan bahwa respons pasien, keluarga pasien dan para medis terhadap layanan warois umumnya positif.

  1. E.    Kompetensi Bimroh (Warois)

Sesuai dengan tuntunan dan kebutuhan dakwah di Rumah sakit melalui Bimbingan Islam lewat Perawatan Rohani Islam, terdapat beberapa kompetensi yang perlu dimiliki oleh calon perawat rohani Islam tersebut.[7]

  1. Memahami Tugas Pokok Bimbingan Islam di Rumah Sakit

Mengingat kondisi rumah sakit, maka tugas pokok Bimbingan Islam di sana ialah sebagai perawat ruhani Islam yang bertugas memberikan bimbingan agar semua komponen insaniah yang ada di rumah sakit tetap berada dalam fitrahnya, berkeyakinan tauhidullah, sabar dan tawakkal dalam menghadapi musibah, serta tetap mampu bersyukur atas kenikmatan jasmani dan ruhani yang diterimanya dengan tetap menjalankan kewajiban keagamaan Islam sesuai situasi dan kondisi, serta kemampuan yang dimilikinya.

Kedudukan Bimbingan Islam di rumah sakit  secara fungsional berada dan bertanggung jawab kepada pimpinan rumah sakit. Sedangkan secara struktural administratif bertanggung jawab kepada pemerintah daerah setempat.

2.  Memahami Fungsi Bimbingan Islam di Rumah Sakit

Untuk melaksanakan tugas pokok sebagaimana dimaksud di atas, Pembimbing Rohani Islam mempunyai fungsi:

  1. Pemeliharaan, pengurusan dan penjagaan aktivitas ruhaniah pasien rawat inap;
  2. Pemeliharaan, pengurusan dan penjagaan aktivitas ruhaniah pasien pasca rawat inap;
  3. Pemeliharaan, pengurusan dan penjagaan aktivitas ruhaniah keluarga dan orang-orang terdekat pasien.
  1. Memahami Wewenang, Kewajiban, Hak dan Tanggung Jawab Bimbingan Rohani Islam di rumah sakit

a.     Wewenang Bimbingan Islam  sebagai perawat rohani  Islam adalah:

1)        Memberikan tindakan ruhaniah kepada para pasien rawat inap, keluarga, dan pengunjung berkenaan dengan kesembuhan pasien;

2)        Mengambil langkah-langkah yang dipandang perlu secara spiritual dalam proses pelayanan dan pengurusan pasien rawat inap;

3)        Mengkonsultasikan keberadaan pasien kepada dokter dan atau perawat medis jika didapatkan kondisi tertentu yang menimpa diri pasien untuk selanjutnya diberikan tindakan sesuai dengan fungsi bimbingan ruhani Islam.

b.     Kewajiban Bimbingan Islam sebagai Perawat Rohani Islam  adalah:

1)        Memberikan pelayanan bimbingan ibadah, do’a, akhlak bagi para pasien selama ada di rumah sakit;

2)        Memberikan bimbingan talkin kepada pasien yang menurut medis sedang berada pada detik-detik akhir kehidupan;

3)        Memberikan pelayanan pengurusan jenazah bagi para pasien yang meninggal dunia di rumah sakit.

c.      Hak Pembimbing Rohani Islam  adalah:

1)        Setiap tenaga Bimbingan Islam di rumah sakit berhak memperoleh fasilitas kelengkapan kerja sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

2)        Setiap tenaga Bimbingan Islam di rumah sakit berhak mempeoleh insentif (tunjangan) sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

  1. Bimbingan Islam sebagai Perawat Rohani  ikut bertanggung jawab atas:

1)        Pencapaian tujuan perawatan di rumah sakit sesuai dengan tugas dan fungsi yang diembannya sebagai tenaga pembimbing spiritual bagi pasien rawat inap;

2)        Terwujudnya hubungan kerja yang baik, serasi, terkoordinasi dan terpadu dengan seluruh komponen rumah sakit.

  1. Memahami Ketenagaan Bimbingan Islam di Rumah Sakit

Tenaga Pembimbing Rohani Islam di rumah sakit adalah:

  1. Personil yang telah memiliki pendidikan atau sertifikat pelatihan yang sesuai dengan profesinya.
  2. Personil yang memiliki kualifikasi keahlian di bidang pemeliharaan, pengurusan dan penjagaan aktivitas ruhani Islam di rumah sakit.
  1. Memahami Sasaran Bimbingan Islam di Rumah Sakit
  2. Pasien rawat inap
  3. Pasien pasca rawat inap
  4. Keluarga pasien di rumah sakit
  5. Personil rumah sakit (dokter, perawat, tegana adminsitrasi, dan Cleaning Service)
  6. Mampu Memberi Pelayanan Bimbingan Rohani Islam di Rumah Sakit
Sasaran Bimbingan Rohani Islam di rumah sakit  di rumah sakit adalah:

a.     Mampu Memberikan Pelayanan Bimbingan Ibadah

Pelayanan bimbingan ibadah yang diberikan kepada para pasien meliputi:

1)  Bimbingan thaharoh: istinja, mandi, wudhu, dan tayamum;

2)  Bimbingan shalat maktubah: shalat lima waktu dan shalat jum’at bagi laki-laki;

3)  Bimbingan shalat sunnah: shalat sunnah rawatib, tahajud, witir, dluha, hajat, dan istikharakh, dan lain-lain;

4)  Bimbingan shaum, baik shaum wajib maupun shaum sunat, termasuk penerangan tentang adanya shaum yang diharamkan.

b.    Mampu Memberikan Pelayanan Bimbingan Do’a

1)  Memberikan pelayanan bimbingan do’a bagi para pasien agar tetap terjaga kesadaran keimanannya;

2)  Memberikan pelayanan bimbingan do’a bagi para penunggu, keluarga, dan pengunjung pasien.

  1. c.     Mampu Memberikan Pelayanan Bimbingan Akhlak

1)  Memberikan bimbingan akhlak baik menyangkut sikap maupun tindakan yang seharusnya dilakukan oleh orang yang sedang ditimpa musibah sakit;

2)  Memberikan bimbingan spiritual kepada para pasien untuk tetap sabar dan tawakkal dengan terus berikhtiar sesuai dengan kemampuan;

d.    Mampu Memberikan Pelayanan Bimbingan Talqin

1)  Memberikan bimbingan kepada pasien yang secara medis telah dinyatakan “koma” dan sedang sakaratul maut (menjelang kematian);

2)  Bimbingan dilakukan untuk memberikan dorongan spiritual kepada pasien agar ia meninggal secara Islam;

3)  Bimbingan talqin dilakukan dengan menuntun dan membimbing pasien mengucapkan Laa Ilaaha Illallah.

e.     Mampu Memberikan Pelayanan Pengurusan Jenazah

Pelayanan pengurusan jenazah dilakukan dengan tetap memperhatikan keinginan keluarga yang meninggal dan atas petunjuk rumah sakit. Pelayanan pengurusan jenazah meliputi aspek-aspek:

1)     Memberikan pelayanan untuk memandikan janazah;

2)     Memberikan pelayanan untuk mengkafani jenazah;

3)     Memberikan pelayanan untuk menshalatkan jenazah;

4)     Memberikan pelayanan untuk menguburkan jenazah.

7.     Memahami  Ruang Lingkup Tugas Bimbingan Rohani Islam di Rumah Sakit

Pembimbing Islam di rumah sakit merupakan tenaga yang memiliki kualifikasi keahlian di bidang pemeliharaan, pengurusan dan penjagaan aktivitas ruhaniah insaniah di Rumah Sakit. Tujuannya agar semua komponen insaniah yang ada di Rumah Sakit tetap berada dalam fitrahnya; berkeyakinan tauhidullah, sabar dan tawakal dalam menghadapi musibah, serta bersyukur atas kenikmatan jasmani dan ruhani yang diterimanya dengan tetap menjalankan kewajiban keagamaan Islam sesuai situasi dan kondisi serta kemampuan yang dimilikinya.

Unsur-unsur insaniah yang menjadi sasaran pemeliharaan, pengurusan dan penjagaan Bimbingan Islam di rumah sakit meliputi:

  1. Pemeliharaan, pengurusan dan penjagaan aktivitas ruhaniah Pasien Rawat Inap;
  2. Pemeliharaan, pengurusan dan penjagaan aktivitas ruhaniah Pasien Pascarawat Inap;
  3. Pemeliharaan, pengurusan dan penjagaan aktivitas ruhaniah Personil Rumah Sakit; dan

d.     Pemeliharaan, pengurusan dan penjagaan aktivitas ruhaniah Keluarga Pasien.

 

  1. Dapat Mentaati Kode Etik Bimbingan Islam di Rumah Sakit

a.  Amar:

Setiap individu Bimbingan Islam di rumah sakit berkewajiban melakukan:

1)     Senantiasa meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT.;

2)     Peka terhadap musibah yang menimpa sesama;

3)     Memberikan pelayanan perawatan ruhani Islam dengan sungguh-sungguh dan ikhlas tanpa membedakan status (kedudukan) obyek perawatan;

4)     Ramah, sopan dan santun dalam memberikan pelayanan perawatan ruhani Islam;

5)     Menjaga nama baik dan merahasiakan aib obyek perawatan;

6)     Mengenakan pakaian yang mencerminkan uruf kepribadian muslim;

7)     Menjaga nama baik dan citra Bimbingan Rohani Islam;

8)     Menjaga nama baik dan citra rumah sakit;

9)     Taat dan patuh terhadap peraturan yang berlaku di rumah sakit;

10)Senantiasa meningkatkan pengetahuan dan keterampilan yang berkaitan dengan profesi Bimbingan Rohani Islam.

b.     Nahy:

Setiap individu Bimbingan Rohani Islam dilarang meninggalkan dan/atau melanggar isi sepuluh keharusan yang menjadi isi Amar.

c.     Sanksi:

Bagi individu Bimbingan Rohani Islam yang meninggalkan Amar dan/atau melanggar Nahy dikenakan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku.

  1. F.    Kenyataan Bimroh Lulusan BPI/BKI

Pembimbing Rohani Islam yang tersebar di berbagai Rumah Sakit  yaitu RS Umum Pusat, RS Provinsi dan RS Daerah di tiap kabupaten Kota se-Jawa Barat. Pada umumnya, mereka  memiliki keterkaitan sejarah dengan Prodi BPI UIN Bandung. Paling tidak, di antara mereka merupakan alumni dari pelatihan Warois yang diselenggarakan antara tahun 2002 atas kerjasama Jurusan BPI Fakultas Dakwah dengan Pemda Provinsi Jawa Barat, yang pesertanya merupakan utusan lulus sleksi dari tiap kabupaten/kota di Jawa Barat dari berbagai latar belakang pendidikan.

Adapun dari sejumlah Perawat Rohani Islam yang berkiprah di Rumah Sakit, ada pula yang merupakan alumni  langsung Prodi BPI, di antaranya: Setia Darma, S.Ag, Bambang, S,Ag, Neni Rohaeni, S.Ag, Ida Widaningsih, S,Ag (RSUD Kota Bandung); Ateng, S.Ag (RSUD Cianjur); Kiki Hakiki, S.Ag (RSUD Sumedang); Kustono, S.Ag (RSUD Purwakarta); Surahman Tobe (RS. Al-Mira, Cikampek); Tentri Septiani, S.Kom.I (RS Cikarang, Bekasi); Gina Kartika, S.Kom.I (RSUD Tasikmalaya); Sriyanti, S.Kom.I (RS Muhammadiyah, Lampung) dll.

Mereka yang bekerja di Rumah sakit pemerintah umumnya telah diangkat sebagai PNS dengan awal pengangkatan Pangkat/Gol: III/a. Sementara Lulusan BPI yang bekerja di Rumah Sakit Swasta, menurut informasi dari mereka, pada umumnya mendapatkan posis yang layak dan strategis. Keseimbangan posisi sebagai sosok yang memiliki keahlian khusus dan dihargai, yang keberadaannya saling dukung dalam mempercepat penyembuhan pasien dari aspek ruhani, menciptakan suasana religius di rumah sakit, serta memberikan layanan lebih baik kepada para pasien, keluarga pasien serta menghantarkan mereka yang meninggal sesuai dengan tuntunan ajaran Islam.

  1. G.  Pengalaman BPI UIN Bandung

Dalam menebarkan aspek positif pengembangan gagasan profesi Warois ini, setelah di Jawa Barat dapat dikembangkan, sejak tahun 2005-an Prodi BPI telah diminta mengembangkan gagasan itu di luar Jawa Barat. Antara lain pengembangan tersebut di Sumatera Barat, tepatnya di Padang.

Sementara  di Jawa Barat, untuk mengikat jalinan silaturahmi di antara Pembimbing Rohani Islam dengan almamaternya. Prodi BPI, mengadaakan kegiatan silaturami di antara para Warois se Jawa Barat, yang dikemas dalam acara Pendidikan dan Pelatihan Perawat Rohani Islam (Warois). Pada acara tersebut, hadir tidak kurang dari utusan warois dari 9 Kabupaten Kota se Jawa Barat, diantaranya: Warois RSUP Hasan Shadikin, Warois RSUD Kota Bandung, Warois RSUD Purwakarta, Warois RSUD Tasikmalaya. Warois  RSUD Garut, Warois RSUD Sumedang, Warois RSUD Ciamis, Warois RSUD Kota Banjar, Mahasiswa BPI Peminat Warois.

Di dalam kampus sendiri, selain pengenalan profesi ke-Warois-an melalui teknis perkuliahan di kelas, mahasiswa BPI UIN bandung yang memiliki minat[8] pada pengembangan profesi Warois (Pembimbing Rohani Islam) mereka diberi kebebasan untuk memilih lokasi Praktik Profesi Mahasiswa (PPM) di Rumah Sakit. Diantaranya rumah Sakit yang pernah  dijadikan sebagai lokasi PPM: RSUD Kota Bandung, RS Al-Islam Bandung, RS Al-Ihsan Soreang Bandung, RS dr. Slamet Garut, RSUD Ciababat Cimahi, RSUD Kota Tasikmalaya, RSUD, Purwakarta.

Untuk lebih menguatkan hubungan kemitraan antara Prodi dengan Rumah sakit, Prodi BPI menjalin MOU, antara lain dengan RSUD Kota Bandung dan RSUP Al-Ihsan Soreang Bandung.

Sementara di luar perkuliahan, bagi mahasiswa yang berminat mendalami Warois di Rumah Sakit ini, mereka tergabung dalam Kelompok Studi Profesi (KSP) Perawat Rohani Islam (Warois), [9] yang dikembangkan oleh wadah dibawah Prodi BPI, yaitu LP2BPI.[10]  Mereka bergabung secara kreatif anatara mahasiswa, dosen muda, alumni untuk mempelajari lebih dini dan lompatan pendalaman kajian melalui pengenalan, kunjungan ke Rumah Sakit, diskusi, penelitian, kerjasama, peraktik, dan sebagainya.

Sementara pada kegiatan Reuni Akbar tahun 2011, BPI UIN Bandung juga tengah menggagas untuk lahirnya Asosiasi Profesi BPI (ASPRO-BPI), yang di dalamnya hendak mewadahi kelompok profesi ke-BPI-an di kalangan almuni dan para praktisi dan akademisi, yaitu: Konsorsium Pembimbing Agama Islam, Konsorsium Pembimbing Karir, Konsorsium Pembimbing Keluarga, Konsorsium Pembimbing Rohani Islam (Warois), Konsorsium Pembimbing Mental (BIMTAL), Konsorsium Terapis Islam; Konsorsium Penyuluh Agama Islam, Konsorsium Penyuluh Keluarga Berencana, Konsorsium Penyuluh Anti Narkoba, dan Konsorsium Penyuluh Sosial.

Dari sekian konsorsium tersebut ada konsorsium Pembimbing Rohani Islam (Warois), sebagai ajang untuk saling berbagi di antara para Warois yang memiliki pengalaman kerja, permasalahan, harapan sejenis untuk mengupayakan saling membantu dan saling mendukung pada tercapainya harapan bersama.

  1. H.   Penutup

Demikian sekelumit yang dapat penulis sampaikan mengenai Bimbingan Islam melalui Perawat Rohani Islam yang merupakan salah satu profesi yang bukan hanya merupakan tuntutan dari kewajiban dakwah di bidang tersebut, juga menjadi kebutuhan yang dinantikan keberadaannya oleh sejumlah rumah Sakit Dan sejumlah pihak yang berada di dalamnya. Bagaimanapun Bimbingan Islam di rumah sakit memiliki posisi penting dan strategis untuk mengemban dakwah Islam, disamping ia juga sangat bermakna bagi rumah sakit dalam rangka meningkatkan pelayanan holistik dan integratif, jasmani dan rohani, terhadap para pasiennya.

Sementara bagi para pasien sendiri, merupakan kesempatan menerima bimbingan dan pertolongan, bukan cuma pengobatan dan perawatan secara fisik, tetapi juga secara a ruhaniah.  Dengan begitu, para pasien berkesempatan untuk menyadari dirinya, hakikat apa yang sedang menimpanya, serta memperkuat akidah, ibadah, dzikurullah-nya, serta jika pun sampai pada takdir tutup usia, dapat berakhir dengan khusnul khotimah.

Dengan kata lain profesi Bimbingan Rohani Islam di rumah sakit, merupakan salah satu profesi ke-BPI/BKI-an yang memiliki prospek yang baik. Apalagi jika ditunjang oleh pengoptimalan posisi dan peran Prodi BKI dalam menyiapkan kompetensi dan relasi untuk memudahkan mahasiswa menguasai dan mempraktikan Mata Kuliah, melakukan PPM, serta merintis proses magang. Kemudian setelah mereka lulus terbantu untuk lebih mudah mendapatkan tempat untuk membaktikan diri, mengaplikasikan ilmu dan kempuanya, berdedeikasi untuk negeri, melayani umat dan masayarakat di Rumah Sakit, dalam kerangka ketaatan dan penghambaan pada Pencipta.

Dengan tidak menapikan berbagai kekurangan dalam tulisan ini, semoga kehadirannya, dapat memberikan sedikit sumbangan gambaran dan motivasi, terutama untuk kawan kawan calon alumni BPI/BKI, juga para pengelola Prodi BPI/BKI, terutama dalam menekuni pendalaman dan pengembangan Profesi yang prospectus, Bimbingan Rohani Islam (Warois).

Bahan Bacaan Pendalaman

Abu al-Fida Muhammad Arif, Alij Nafsaka bi al-Qur’an.

Abu Ahmadi, Dosa-dosa dalam Islam, Rineka Cipta, Jakarta, 1989

Achiryani S. Hamid, Aspek Spiritual dalam Keperawatan, Widya Medika, Jakarta, 1999.

Aep Kusnawan, Doa-doa Sukses, Dar Mizan, Bandung, 2007.

——————, 11 Ibadah Dahsyat, Quanta, Jakarta, 2011.

Ahmad Izzan, Bila Aku Sakit, Al-Shafa, Bandung, 2005.

Allamah Husayn Mazhariri, Rahasia Doa, Cahaya Bogor, 2002.

Amirullah Sarbini dan Novi Hidayati, Rahasia Superdahsyat dalam Sabar dan Shalat, Qultum Media, Jakarta, 2012

Ayat Dimyati dan Hendar Riyadi, Fiqh Rumah Sakit, Kalam Mujahidin, Bandung, 2008.

Dadang A. Fajar, Epistemologi Doa, Nuansa, Bandung, 2009.

Dadang Hawari, Dimensi Religi dalam praktik Psikiatre dan Psikologi, UI, Jakarta, 2001

D. Bastaman, Logo Terapi: Psikologi untuk Menemukan Makna Hidup dan Meraih Hidup Bermakna, Rajawali, Jakarta, 2007.

Farid Manna, Anda Ingin Mati Seperti Apa? Tuntunan Meraih Akhir Hidup yang Indah dan Bahagia, Al-Mawardi, Jakarta, 2008.

Fazlurrahman, Etika Pengobatan Islam, Mizan, Bandung, 1999.

Hakim Moinudiddin Chisti, The Book of Sufi Healing, Vermont, New York, 1991

Hendra Setiawan, Cara Nabi Menghadapi Kesulitan Hidup, Jabal, Bandung, 2009.

Ibrahim Muhammad Hasan al-Jama, Al-Istisyfa bi al-Qur’an.Jakarta, 2000

Ibrahim Muhammad Hasan, Al-Istisyfa bi al-Dua. Daarul Fadilaha, TT

Isep Z. Arifin, Bimbingan dan Penyuluhan Islam: Pengembangan Dakwah melalui Psikoterapi Islam, Rajawali, 2009.

Islah Gusmian, Doa Menghadapi Kematian: Cara Meraih Khusnul Khotimah, Mizania, Bandung, 2006

Iyus Yosep, Keperawatan Jiwa, Refika Aditama, Bandung, 2007.

Jeane Segal, Melejitkan Kepekaan Emosional, Kaifa, Bandung, 2000.

M. Amin Syukur, Zikir Menyembuhkan Kankerku, Hikmah, Bandung, 2007

Muhammad Mansur, Fiqh Orang Sakit, Pustaka AlKautsar, Jakarta, 2003.

Mustafa, Asyur, Bersahabat dengan Malaikat, Qudsi Media, Semarang, 2007

Russel C. Swanburg, Kepemimpinan dan manajemen keperawatan, EGK. TT

Syukriadi Sambas dan Isep, Fiqh Marid, KP Hadid, Bandung, 2000

Toto Tasmara, Kecerdasan Ruhaniah, GIP, Jakarta, 2001

Yayasan Ibnu Sina, Bimbingan Ruhani Bagi Pasien, Albayan, Bandung, 2005.

Zainal Abidin dan Imam Faturrohman, Bimbingan Spiritual 5+ Menyembuhkan Penyakit dan Menenangkan Jiwa, Hikmah, Bandung, 2009.

 

 

 


[1]  Disampaikan pada Acara Workshop Bimbingan Rohani Islam di Rumah Sakit, Pada Tanggal 23-24 November 2012 di Prodi BKI IAIN Banten.

[2]  Lebih lanjut Lihat, Ahmad Izzan, Bila Aku Sakit, Al-Shafa, Bandung, 2005; Ayat Dimyati dan Hendar Riyadi, Fiqh Rumah Sakit, Kalam Mujahidin, Bandung, 2008; Muhammad Mansur, Fiqh Orang Sakit, Pustaka AlKautsar, Jakarta, 2003; Syukriadi Sambas dan Isep, Fiqh Marid, KP Hadid, Bandung, 2000; Yayasan Ibnu Sina, Bimbingan Ruhani Bagi Pasien, Albayan, Bandung, 2005.

 

 

 

[3]  HR. Nuriana, sempat prihatin ketika beliau sakit dirawat di rumah sakit non muslim, ia dibimbing oleh bimbingan rohani agama non muslim. Pengalamannya itu mendorongnya untuk membuat langkah, agar minimalnya di Rumah Sakit Umum Daerah, milik pemerintah daerah, saudara muslim yang sakit, mendapat bimbingan sesuai dengan agama yang dianutnya (agama Islam).

[4]   Saai itu Prodi BPI diketuai oleh Ahmad Sarbini dan sekretarisnya N. Imas Rosyanti.

[5] Menurut Zakiyah Darajat, banyak yang memiliki penyakit dan penderita gangguan mental disebabkan karena telah melanggar ajaran agama, atau merasa gelisah karena keyakinannya goncang.

[6]  Di antara buku yang laris itu seperti:  Achiryani S. Hamid, Aspek Spiritual dalam Keperawatan, Widya Medika, Jakarta, 1999; Aep Kusnawan, Doa-doa Sukses, Dar Mizan, Bandung, 2007; Ahmad Izzan, Bila Aku Sakit, Al-Shafa, Bandung, 2005; Ayat Dimyati dan Hendar Riyadi, Fiqh Rumah Sakit, Kalam Mujahidin, Bandung, 2008; Dadang Hawari, Dimensi Religi dalam praktik Psikiatre dan Psikologi, UI, Jakarta, 2001; Farid Manna, Anda Ingin Mati Seperti Apa? Tuntunan Meraih Akhir Hidup yang Indah dan Bahagia, Al-Mawardi, Jakarta, 2008; Fazlurrahman, Etika Pengobatan Islam, Mizan, Bandung, 1999; Hendra Setiawan, Cara Nabi Menghadapi Kesulitan Hidup, Jabal, Bandung, 2009; Ibrahim Muhammad Hasan al-Jama, Al-Istisyfa bi al-Qur’an.Jakarta, 2000; Islah Gusmian, Doa Menghadapi Kematian: Cara Meraih Khusnul Khotimah, Mizania, Bandung, 2006; M. Amin Syukur, Zikir Menyembuhkan Kankerku, Hikmah, Bandung, 2007; Muhammad Mansur, Fiqh Orang Sakit, Pustaka AlKautsar, Jakarta, 2003; Mustafa, Asyur, Bersahabat dengan Malaikat, Qudsi Media, Semarang, 2007; Toto Tasmara, Kecerdasan Ruhaniah, GIP, Jakarta, 2001; Zainal Abidin dan Imam Faturrohman, Bimbingan Spiritual 5+ Menyembuhkan Penyakit dan Menenangkan Jiwa, Hikmah, Bandung, 2009.

 

[7]  Lihat,  Syukriadi Sambas dan Isep, Fiqh Marid, KP Hadid, Bandung, 2000; Tim Teknis Fakultas Dakwah, Laporan Pelaksanaan Perawatan Rohani Islam di Rumah Sakit, Bandung, 2002;  Yayasan Ibnu Sina, Bimbingan Ruhani Bagi Pasien, Albayan, Bandung, 2005.

[8]  Peminatan profesi ke-BPI-an di Prodi BPI Uin Bandung amat beragam, selain Bimbingan Rohani Islam di Rumah sakit, ada sejumlah peminatan lain, seperti: (1)  Bimbingan konseling Agama Islamdi Kemenag, pesantren, lembaga pemasyarakatan, ormas Islam, radio, surat kabar, televisi, KBIH, dan sebagainya; (2) Bimbingan konseling pendidikan Islam di madrasah, pesatren, sekolah, perguruan tinggi, lembaga bimbingan belajar; (3) Bimbingan konseling keluarga Islam (pra nikah dan keluarga sakinah) di KUA, BP4, lembaga bimbingan konseling pra nikah dan keluarga sakinah, pengadilan agama, pesantren, kehidupan keluarga dan sebagainya; (4) Bimbingan konseling karir Islam di madrasah, pesantren, sekolah, perguruan tinggi, lembaga bimbingan konseling karir islami, perusahaan pemerintah, perusahaan swasta, dll; (5) Bimbingan konseling mental islami sebagai  BIMTAL di TNI, Polri, rumah sakit jiwa, lapas dan lembaga pelatihan pengembangan mental. (6) Psikoterapi Islam di lembaga-lembaga terapi Islam; (7) Penyuluhan agama Islam, sebagai penyuluh Agama di Kemenag, yang menggarap sejumlah lembaga KUA, majelis taklim, Lapas, lembaga-lembaga pemerintah maupun swasta dan sejumlah kelompok masyarakat; (8) Penyuluhan kKeluarga Berencana sebagai penyuluhan Keluarga Berencana di BKKBN; (9) Penyuluhan penanggulangan anti narkoba di BNN, BNP, LSM peduli anti narkoba dan sebagainya; (10) Penyuluhan sosial sebagai penyuluh sosial di dinas sosial, LSM peduli sosial, panti sosial dan sebagainya.

[9]  Kelompok Studi Profesi (KSP) dikembangkan pengelolaannya oleh wadah di bawah Prodi yang bernama LP2BPI (Lembaga Pelayanan dan Pelatihan BPI), mengembangkan sejumlah KSP, yaitu: KSP BK Agama, KSP BK Pendidikan, KSP BK Remaja, KSP BK Karir, KSP BK Mental, KSP Warois, KSP Terapi, KSP Penyuluhan Agama, KSP Penyuluhan KB, KSP Penyuluhan Anti Narkoba, KSP Penyuluhan Sosial.

[10] BPI UIN Bandung, menumbuhkembangkan berbagai lembaga yang dibina oleh Prodi sebagai wahana kreativitas mahasiswa di luar perkuliahan, antara lain: BEM-J BPI (Sebagai penggali potensi internal mahasiswa BPI dan Penyelenggara kegiatan pelengkap Kurikulum); LP2BPI (sebagai pelayan dan penyedia kesiapan Profesi ke-BPI-an calon lulusan BPI dan penghubung potensi internal kampus dengan luar kampus), PIKMA (sebagai lembaga anak dari pengembangan kegiatan LP2BPI yang lahir dari hasil kerjasama dengan BKKBN, dalam memperalam peminatan profesi Penyuluhan KB); BINGKAI (sebagai wahana bagi pegiat training dan motivator, pengembang mental positif menjadi lebih optimal), dan IKA BPI (sebagai wadah bergabung dan pengembang potensi alumni BPI untuk dapat memberikan kontribusi positif, dari alumni ke alumni, dari alumni ke almamater, dari almni ke institusi kerja, dari alumni kepada umat dan masyarakat).

Penulis: bkiiainbanten

Ini adalah blog tidak resmi dari Jurusan Bimbingan dan Konseling Islam Fakultas Ushuluddin Dakwah Dan Adab IAIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten.

2 thoughts on “Posisi Dan Peran Prodi BPI/BKI Dalam Mengembangkan Kompetensi Mahasiswa Sebagai Pembimbing Rohani Di Rumah Sakit (Makalah Workshop PKBKI Bimbingan Rohani dan Terapi Qurani 2012)

  1. Terima kasih atas apresiasi yang diberikan, semoga bermanfaat…

  2. Ping-balik: Rumah Sakit

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s