BKI FUDA IAIN SMH BANTEN

Usul Fiqh 05: Pengertian dan Klasifikasi Hukum Islam

1 Komentar

USUL FIQH PERTEMUAN 07: HUKUM ISLAM

Ahmad Fadhil

Definisi Hukum

Hukum adalah ketetapan Allah yang berkaitan dengan perbuatan-perbuatan manusia baik sebagai tuntutan, pilihan, atau wad‘.

Penjelasan definisi:

Ketetapan Allah adalah ketetapan Allah yang langsung seperti wahyu dengan al-Quran atau Sunnah, atau yang berlandaskan pada ketetapan-Nya yang langsung seperti ijma dan qiyas.

Yang berkaitan dengan perbuatan-perbuatan manusia: manusia yang dimaksud dalam definisi ini akan dijelaskan pengertiannya dalam pembahasan al-mahkum ‘alayh (subjek hukum).

Tuntutan atau permintaan mencakup tuntutan untuk mengerjakan sesuatu, tuntutan untuk meninggalkan atau tidak mengerjakan sesuatu. Kedua tuntutan itu ada yang pasti/kuat (lazim) dan ada yang tidak pasti/tidak kuat (ghayr lazim).

Pilihan artinya sama antara dikerjakan atau tidak dikerjakan.

Wad‘ artinya sesuatu yang dijadikan Allah sebagai penyebab bagi sesuatu, seperti terbitnya matahari sebagai sebab wajibnya salat; atau sebagai syarat bagi sesuatu, seperti wudu sebagai syarat sahnya salat; atau sebagai pencegah dari sesuatu, seperti pembunuhan sebagai pencegah dari hak mendapat warisan; atau hukum Allah tentang sah, tidak sah, batal, berat, atau ringannya sesuatu.

Jenis Hukum

Hukum taklifi

Definisi: yang menuntut dilakukan atau ditinggalkannya suatu perbuatan, atau diberi pilihan antara melakukan dan meninggalkan suatu perbuatan. Disebut taklifi (penugasan/pembebanan) karena ada tugas/beban yang ditunaikan dengan mengerjakannya. Apa yang boleh dipilih antara dikerjakan dengan ditinggalkan sebenarnya bukan tugas/beban (taklif), tapi disebut taklif karena sebutannya mengikuti apa yang harus dilakukan/ditinggalkan.

Jenis-jenisnya

Dari definisi hukum taklifi, nampak ada lima jenis hukum yang tercakup di dalamnya:

  1. Wajib.
  2. Mandub.
  3. Haram.
  4. Makruh.
  5. Mubah
  1. Wajib

Definisi: sesuatu yang dituntut oleh Allah untuk dikerjakan dengan tuntutan yang pasti, yang jika dikerjakan maka berimplikasi pujian dan pahala, dan jika ditinggalkan padahal mampu maka berimplikasi celaan dan siksa.

Rumusan-rumusannya:

Ada banyak rumusan di dalam teks al-Kitab dan Sunnah yang menunjukkan wajib, terutama:

  1. Rumusan perintah dengan lafaz insha’, sighah al-amr bi lafz al-insha’.

Dengan  fi‘l amr, seperti firman Allah (al-An‘am: 72), وأقيمواالصلاة

Dengan fi‘l mudari‘ yang diimbuhi lam amr, seperti firman Allah (al-Nisa’: 9), فليتقواالله وليقولوا قولا سديدا

Dengan ism fi‘l amr, seperti firman Allah (al-Ma’idah: 105), يا ايها الذين أمنوا عليكم أنفسكم لا يضركم من ضل إذا اهتديتم.

Dengan masdar pengganti fi‘l amr, seperti firman Allah (Muhammad: 4), فإذا لقيتم الذين كفروا فضرب الرقاب.

  1. Rumusan amara dan derivasinya, seperti firman Allah (al-Nahl: 90), إن الله يأمر بالعدل والإحسان وإيتاء ذي القربى, dan firman-Nya (al-Nisa: 58), إن الله يأمركم أن تؤدواالأمانات إلى أهلها, sabda Nabi saw (HR. Tirmidhi), وانا آمركم بخمس الله أمرني بهن : السمع والطاعة والجهاد والهجرة والجماعة.
  2. Dengan rumusan kataba atau kutiba, seperti firman Allah (al-Baqarah: 216), كتب عليكم القتال وهو كره لكم, dan sabda Nabi (HR. Muslim), إن الله كتب الإحسان على كل شيء فإذا قتلتم فأحسنوا القتلة وإذا ذبحتم فأحسنواالذبح وليحد أحدكم شفرته فليرح ذبيحته.
  3. Rumusan farada dan derivasinya, seperti firman Allah (al-Nur: 1), سورة أنزلناها وفرضناها, dan sabda Nabi saw (Muttafaq ‘alayh), أن رسول الله صلى الله عليه وسلم لما بعث معاذا إلى اليمن قال : إنك تقدم على قوم أهل كتاب فليكن أول ما تدعو إليه عبادة الله عز وجل فإذا عرفوا الله فأخبرهم أن الله فرض عليهم خمس صلوات في يومهم وليلتهم فإذا فعلوا فأخبرهم أن الله قد فرض عليهم زكاة تؤخذ من أغنيائهم فترد على فقرائهم فإن أطاعوا بها فخذ منهم وتوق كرائم أموالهم.
  4. Rumusan, “Baginya atasmu perbuatan ini,” seperti firman Allah (Al Imran: 97), ولله على الناس حج البيت من استطاع إليه سبيلا .
  5. Rumusan predikat yang menempatkan perbuatan yang diperintahkan sebagai perbuatan sempurna yang sudah terjadi sebagai penegasan terhadap perintah atasnya, seperti firman Allah (al-Baqarah: 234), والذين يتوفون منكم ويذرون أزواجا يتربصن بأنفسهن اربعة أشهر وعشرا.
  6. Rumusan yang menyebutkan celaan atas tidak dilakukannya suatu perintah, seperti firman Allah (al-Baqarah: 279), فإن لم تفعلوا فأذنوا بحرب من الله ورسوله.
  7. Penyebutan tidak dilakukannya suatu perbuatan sebagai pelanggaran, seperti firman Allah (al-Hujurat: 11), ومن لم يتب فأولئك هم  الظالمون, dan sabda Nabi saw (Muttafaq ‘alayh), شر الطعام طعام الوليمة يدعى لها الأغنياء ويترك الفقراء ومن ترك الدعوة فقد عصى الله ورسوله.
  8. Sesuatu yang jika tidak dilakukan maka suatu perintah dianggap belum dilaksanakan, seperti sabda Nabi saw (Muttafaq ‘Alayh), لا صلاة لمن لم يقرأ بقاتحة الكتاب.

Masalah

  1. Perbuatan Nabi saw.

Jika ada perbuatan Nabi saw yang menjadi penjelasan (tafsir) bagi kewajiban yang bersifat global (mujmal), seperti sabdanya (HR. Al-Bukhari), صلوا كما رأيتموني أصلي, dan sabdanya (HR. Muslim), لتأخذوا مناسككم, apakah perbuatan Nabi saw dalam salat dan haji itu menjadi wajib?

Jawabannya tidak. Mayoritas ulama berpendapat bahwa penjelasan dengan perbuatan itu terjadi atas perbuatan yang wajib seperti ruku dan sujud dalam salat, juga atas perbuatan yang mandub seperti mengangkat tangan dan merapatkan kaki; maka, sekadar adanya perbuatan Nabi saw tidak mengubah yang mandub menjadi wajib.

Jika pertanyaan tersebut dijawab ya, maka perbuatan-perbuatan mandub bagi Nabi saw akan berubah menjadi wajib bagi umatnya berdasarkan perbuatan beliau. Hal ini tidak mungkin. Sebab, sudah jelas bahwa taklif atas Nabi saw lebih tegas daripada atas umatnya. Jadi, tidak dapat dikatakan bahwa perbuatan Nabi saw yang menjadi penjelasan bagi perbuatan yang wajib, maka semua bagian dari perbuatan beliau menjadi kewajiban atas umatnya. Kewajiban perbuatan itu atas umat disimpulkan bukan dari perbuatan tersebut. Dan, hukum syariat yang berkaitan dengan mengikuti perbuatan Nabi saw tertentu tidak berubah, yakni wajib atas perbuatan yang wajib, dan mandub atas perbuatan yang mandub.

  1. Fardu sama dengan wajib.

Menurut Jumhur Ulama, fardu sama dengan wajib. Jadi, jika mereka mengatakan, “Puasa Ramadan itu wajib,” ini sama dengan mengatakan, “Puasa Ramadan itu fardu.”

Tapi, para ulama Hanafiyyah berbeda pendapat. Mereka membedakan fardu dengan wajib. Perbedaannya bukan dari definisi terdahulu, tapi dari segi dalil yang menunjukkannya. Menurut mereka, perbuatan yang ditetapkan dengan dalil yang dipastikan asalnya dari Allah dan Rasul, yaitu al-Quran dan hadith mutawatir, adalah fardu; sedangkan yang ditetapkan dengan dalil yang tidak dipastikan asalnya dari Allah dan Rasul, seperti hadith ahad yang sahih, adalah wajib. Jadi, dengan pertimbangan ini kepastian wajib lebih rendah daripada fardu.

Pendapat jumhur lebih sahih dan lebih kuat karena kuatnya pendapat yang menyatakan kewajiban beramal dengan berlandaskan hadith ahad yang sahih sebagaimana akan dibahas pada bahasan “Sunnah sebagai Dalil Hukum.”

  1. Kaidah, “Ma la yatimmu al-wajib illa bihi fahuwa wajib—Jika terlaksananya suatu kewajiban harus disertai dengan adanya sesuatu, maka sesuatu itu juga wajib.”

Pengantar terlaksananya suatu kewajiban, atau hal-hal yang kepadanya tergantung pelaksanaan suatu kewajiban, ada tiga macam:

Pertama, berada di luar kuasa manusia. Misalnya, tergelincirnya matahari adalah pengantar untuk mengerjakan salat Zuhur. Salat zuhur tidak dapat dilaksanakan tanpanya, tapi ia berada di luar kuasa manusia. Jadi, ia tidak termasuk di dalam kaidah tersebut.

Kedua, berada dalam kuasa manusia, tapi tidak diperintahkan untuk diraih. Contoh, mencapai nisab untuk wajibnya zakat dan mencapai kemampuan untuk wajibnya haji. Kedua hal ini termasuk dalam kuasa manusia, tapi hal ini tidak diwajibkan atas manusia. Jadi, hal ini juga tidak termasuk dalam kaidah tersebut.

Ketiga, berada dalam kuasa manusia dan diperintahkan untuk diraih. Misalnya, bersuci untuk salat dan bersegera untuk salat Jumat. Keduanya wajib dilakukan dan yang dimaksud oleh kaidah.

  1. Makna kata wajib dalam teks al-Kitab dan Sunnah tidak sama dengan makna wajib dalam istilah Usul Fiqh.

Kata wajib yang ada di dalam teks-teks al-Kitab dan Sunnah tidak bermakna wajib dalam istilah Usul Fiqh. Karena itu, salah mendalilkan wajibnya mandi sebelum Salat Jumat dengan sabda Nabi saw (Muttafaq ‘Alayh), غسل يوم الجمعة واجب على كل محتلم. Dalil-dalil yang ada menjelaskan bahwa hukum mandi Jumat bukan fardu, melainkan sunnah mu’akkad.

Jenis-Jenis Wajib

Wajib memiliki beberapa jenis berdasarkan beberapa pertimbangan.

  1. Berdasarkan waktu pelaksanaannya.
    1. Wajib mutlaq atau muwassa‘ (leluasa), yaitu perbuatan wajib yang pelaksanaannya dituntut syariat tanpa pembatasan dengan waktu tertentu. Misalnya, qada puasa Ramadan. Allah berfirman (al-Baqarah: 184), فعدة من أيام أخر. Qada puasa Ramadan leluasa dilakukan setelah Ramadan, tidak mesti disegerakan dan tidak berdosa jika diakhirkan, meskipun bersegera lebih baik karena itu akan membebaskan tanggungan dan dikhawatirkan ada penghalang untuk mengqada.
    2. Wajib muqayyad atau mudayyaq (sempit), yaitu perbuatan wajib yang pelaksanaannya dituntut syariat dengan pembatasan waktu tertentu. Misalnya, puasa pada bulan Ramadan. Allah berfirman (al-Baqarah: 185), فمن شهد منكم الشهر فليصمه. Tanggungan atas kewajiban ini tidak tertunaikan kecuali dengan melaksanakannya pada waktu yang telah ditentukan.
  2. Berdasarkan ukurannya.
    1. Wajib muqaddar atau muhaddad (terukur), yaitu perbuatan wajib yang diberi ukuran tertentu oleh Allah. Misalnya, nisab-nisab zakat.
    2. Wajib ghayr muhaddad (tidak terukur), yaitu perbuatan wajib yang tidak diberi ukuran tertentu oleh Allah. Misalnya, nafkah suami bagi istri dan tolong menolong dalam kebaikan. Ukuran perbuatan ini ditetapkan oleh kondisi dan kemampuan masing-masing orang, kebiasaan, atau keputusan hakim.
  3. Berdasarkan kepastian perbuatannya.
    1. Wajib mu‘ayyan (ditentukan), yaitu perbuatan tertentu yang harus dilakukan oleh manusia tanpa ada pilihan lain. Misalnya, puasa Ramadan. Manusia tidak memiliki pilihan antara mengerjakan atau tidak. Dia pasti harus berpuasa tanpa ada alternatif jika dia mampu melaksanakannya.
    2. Wajib ghayr mu‘ayyan (tidak ditentukan), yaitu perbuatan yang harus dilakukan manusia, tapi dengan pilihan antara beberapa jenis perbuatan, dan kewajiban itu gugur dengan mengerjakan salah satunya. Misalnya, menebus janji adalah wajib, tapi dapat dilakukan dengan salah satu dari tiga hal, yaitu memberi makan 10 orang miskin, memberi mereka pakaian, atau membebaskan satu orang budak.
  4. Berdasarkan orang yang harus mengerjakan.
    1. Wajib ‘ayni (fardu ain), yaitu perbuatan wajib yang harus dikerjakan oleh semua manusia dan pelaksanaan sebagian orang tidak menggugurkan tuntutan atas orang lain. Misalnya, salat, haji, silaturahim.
    2. Wajib kifa’i (fardu kifayah), yaitu perbuatan wajib yang dituntut Allah kepada sekelompok manusia dan jika sebagian dari mereka telah melakukannya, maka tanggungan sebagian yang lain telah gugur. Misalnya, jihad, amar makruf nahi munkar, dan memenuhi faktor-faktor krusial untuk menjaga lima tujuan utama syariat (melindungi agama, jiwa, harta, kehormatan, dan akal), seperti adanya orang yang mendalami bidang-bidang ilmu tertentu. Jika semua orang sepakat tidak mau mengerjakan kewajiban ini, mereka semua berdosa dan tanggungan mereka tidak terbebaskan sampai ada orang yang mewujudkan kadar yang mencukupi bagi orang lain.
  1. Mandub

Definisinya: sesuatu yang dituntut oleh Allah untuk dikerjakan dengan tuntutan yang tidak kuat, yang jika dikerjakan maka berimplikasi pujian dan pahala, tapi jika ditinggalkan maka tidak berimplikasi celaan dan siksa.

Rumusannya

  1. Semua rumusan perintah yang disertai bukti bahwa perintah itu tidak ditekankan. Semua rumusan perintah pada dasarnya menunjukkan wajib. Tapi, jika ada bukti yang menunjukkan bahwa perintah itu hanya anjuran, maka indikasi wajib tersebut dialihkan kepada anjuran. Misalnya, firman Allah (al-Baqarah: 282), يا أيها الذين آمنوا إذا تداينتم بدين إلى أجل مسمى فاكتبوه. Kata فاكتبوه adalah perintah yang indikasi dasarnya adalah wajib. Tapi, hukum dalam ayat ini berkaitan dengan hak manusia. Jika mereka merasa tidak perlu menulis hutang piutan di antara mereka karena saling percaya dan bersedia menanggung bila terjadi kerugian, maka tidak mengapa. Karena itu, dalam ayat berikutnya (al-Baqarah: 283) diterangkan, فإن أمن بعضكم بعضا فليؤد الذي اؤتمن أمانته. Jadi, perintah untuk menulis hutang piutang adalah anjuran dan bimbingan demi kebaikan mereka.
  2. Semua rumusan predikatif yang mengandung motivasi tapi tidak dapat di-takwil kepada perintah, seperti rumusan, “Orang yang mengerjakan ini, maka baginya pahala ini,” atau, “Orang yang melakukan salat ini, maka baginya pahala ini.”
  3. Semua perbuatan Nabi saw yang ditujukan sebagai penetapan syariat sebagaimana akan dijelaskan dalam “Sunnah sebagai Dalil Penetapan Syariat” seperti salat Rawatib dan puasa sunnah.

Sebutannya

  1. Sunnah.
  2. Nafilah.
  3. Mustahab.
  4. Tatawwu‘.
  5. Fadilah.

Ada ulama yang menyebut mandub jika faidahnya ukhrawi dan irshad jika faidahnya dunyawi.

Tingkatannya

  1. Sunnah mu’akkadah, yaitu perbuatan yang selalu dikerjakan Nabi saw dan terkadang diiringi dengan anjuran secara verbal. Misalnya, salat sunnah 2 rakaat sebelum Subuh. Rasulullah saw bersabda (HR. Muslim), ركعتا الفجر خير من الدنيا وما فيها.
  2. Sunnah ghayr mu’akkadah, yaitu perbuatan yang tidak selalu dikerjakan oleh Rasulullah saw. Misalnya, puasa sunnah, salat sunnah 4 rakaat sebelum Asar, dan umrah Ramadan.
  3. Fadilah dan adab, atau sunnah zawa’id (tambahan) dan sunnah ‘adah (kebiasaan), yaitu perbuatan-perbuatan Nabi saw di luar masalah ibadah, seperti tata cara makan, minum, berpakaian, berjalan, berkendaraan, dll. Mengikuti hal ini adalah fadilah, yaitu upaya menyerupai Nabi saw. Perbuatan ini terpuji selama tidak bertentangan dengan kepentingan yang lebih kuat. Perbuatan ini terjadi sesuai dengan kondisi kemanusiaan Nabi saw atau mengiringi kebiasaan yang tidak bertentangan dengan agama. Sunnah dalam hal ini adalah orang mengikuti kondisi pribadinya atau mengikuti kebiasaan masyarakatnya selama tidak bertentangan dengan syariat. Tapi, dalam sunnah ‘adah ini ada juga yang tidak termasuk dalam kondisi kemanusiaan Nabi saw atau kebiasaan masyarakatnya. Misalnya, yang beliau terangkan dalam sabdanya, لا آكل متكئا, atau sabdanya (HR. Ahmad), آكل كما يأكل العبد وأجلس كما يجلس العبد. Kedua hadith ini menunjukkan prinsip tawadu.

Mandub adalah pilihan demi kepentingan pelakunya.

Perbuatan-perbuatan sunnah adalah rahmat Allah bagi manusia yang dapat membawa mereka ke derajat kemuliaan yang tinggi. Rasul saw bersabda dalam hadith Qudsi, لا يزال عبدي يتقرب إلي بالنوافل حتى أحبه. Ia juga dapat menjadi pengganti dan penambal kekurangan yang terjadi dalam pelaksanaan perbuatan fardu, seperti dalam sabda Nabi saw, إن أول ما يحاسب الناس به يوم القيامة من أعمالهم الصلاة ، قال : يقول ربنا جل وعز لملائكته وهو أعلم : انظروا في صلاة عبدي أتمها أم نقصها ، فإن كانت تامة كتبت له تامة وإن كان انتقص منها شيئا قال انظروا هل لعبدي من تطوع ؟ فإن كان له تطوع قال أتموا لعبدي فريضته من تطوعه ثم تؤخذ الأعمال على ذاكم.

Masalah

Ulama mazhab Hanafiyyah dan Malikiyyah berpendapat bahwa orang yang sudah memulai perbuatan sunnah, maka perbuatan itu menjadi wajib atasnya begitu dia mulai. Dia tidak boleh membatalkan atau meninggalkannya. Jika dia meninggalkannya, menurut Hanafiyyah dia wajib mengqada,; dan menurut Malikiyyah dia wajib mengqada jika meninggalkannya tanpa uzur. Dalilnya adalah firman Allah (Muhammad 33), يا أيها الذين أمنوا أطيعوا الله وأطيعوا الرسول ولا تبطلوا أعمالكم.

Menurut pendapat al-Shafi‘i, Ahmad, dan Sufyan al-Thawri, perbuatan sunnah tetap sunnah ketika dan setelah dikerjakan. Orang tidak perlu mengqadha jika membatalkan atau meninggalkannya. Jika dia meninggalkannya, dia boleh memilih antara mengqada atau tidak. Ayat tersebut tidak berkaitan dengan perbuatan sunnah, melainkan tentang pembatalan kebaikan dengan melakukan keburukan atau riya.

  1. Haram

Definisinya: sesuatu yang dituntut oleh Allah untuk tidak dikerjakan dengan tuntutan yang kuat, yang jika tidak dikerjakan dalam konteks kepatuhan, maka yang meninggalkannya diberi pahala, dan jika dikerjakan karena kesengajaan, maka pelakunya mendapat siksa.

Nama lainnya adalah al-mahzur (yang dilarang).

Rumusannya:

  1. Ada kata pengharaman yang jelas. Misalnya, firman Allah (al-Baqarah: 275), وأحل الله البيع وحرم الربا.
  2. Penegasian kehalalan. Misalnya, firman Allah (al-Baqarah: 230), فإن طلقها فلا تحل له من بعد حتى تنكح زوجا غيره.
  3. Rumusan larangan.
    1. Lafal larangan. Misalnya, firman Allah (al-Nahl: 90), وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي.
    2. Lafal perintah untuk berhenti. Misalnya, firman Allah (al-Nisa: 171), ولا تقولوا ثلاثة انتهوا خيرا لكم.
    3. Fi‘l mudari‘ yang diawali dengan la al-nahiyah. Misalnya, firman Allah (al-Isra’: 32), ولا تقربوا الزنا.
    4. Rumusan la yanbaghi (tidak sepantasnya). Misalnya, sabda Nabi saw tentang sutra (Muttafaq ‘alayh), لا ينبغي هذا للمتقين.
    5. Rumusan perintah untuk meninggalkan tidak dengan rumusan larangan yang tegas. Misalnya, firman Allah (al-Ma’idah: 90), إنما الخمر والميسر والأنصاب والأزلام رجس من عمل الشيطان فاجتنبوه.
  4. Yang pelakunya diancam dengan hukuman duniawi atau ukhrawi.
    1. Hukuman hadd. Misalnya, firman Allah (al-Ma’idah: 38), والسارق والسلرقة فاقطعوا أيديهما.
    2. Ancaman siksa. Misalnya, firman Allah (al-Baqarah: 278-279), يا أيها الذين أمنوا اتقوا الله وذروا ما بقي من الربا إن كنتم مؤمنين . فإن لم تفعلوا فأذنوا بحرب من الله ورسوله. Juga firman Allah (al-Nisa: 10), إن الذين يأكلون أموال اليتامى ظلما إنما يأكلون فى بطونهم نارا وسيصلون سعيرا.
    3. Perbuatan yang berimplikasi kutukan.
    4. Menggambarkan sebuah perbuatan sebagai dosa.
    5. Menggambarkan sebuah perbuatan sebagai pelanggaran.
    6. Menyerupakan sebuah perbuatan sebagai perbuatan binatang, setan, orang kafir, orang yang merugi, atau yang seperti itu.
    7. Menyebut sebuah perbuatan dengan perbuatan lain yang sudah jelas keharamannya.

Jenis-jenisnya

Syariat Islam mengharamkan sesuatu dikarenakan sesuatu itu benar-benar—atau kemungkinan besar—merusak. Kerusakan (mafsadah) pada sesuatu yang diharamkan bisa ada pada sesuatu yang diharamkan itu atau sesuatu yang diharamkan itu menjadi penyebab bagi kerusakan. Karena itu, keharaman ada dua macam:

  1. Haram karena dirinya sendiri. Misalnya, syirik, zina, pencurian, dan memakan babi. Semua ini diharamkan karena dirinya sendiri. Kerusakannya jelas. Jika dikerjakan, pelakunya mendapat dosa dan siksa, dan tidak dapat menjadi penyebab legal untuk tetapnya hukum tertentu. Zina tidak menetapkan nasab. Pencurian tidak menetapkan kepemilikan atas barang curian.
  2. Haram karena selainnya. Pada dasarnya ia mubah atau dibolehkan karena tidak mengandung kerusakan, tapi pada kondisi tertentu dia kemungkinan besar menyebabkan kerusakan. Maka, pada kondisi itu, dia haram. Misalnya, jual beli. Perbuatan ini dibolehkan. Tapi, dia haram ketika azan Salat Jumat sudah berkumandang, karena dapat menyebabkan tertinggal Salat Jumat. Contoh lain, meminang wanita. Perbuatan ini juga dibolehkan. Tapi, haram jika seseorang tahu bahwa wanita itu telah dipinang orang lain.

Makruh (Sabtu, 04 Agustus 2012)

Hari ini aku ingin membaca buku berjudul Usul al-Fiqh al-Ladhi La Yasa‘ al-Faqih Jahluh, ‘Iyad bin Nami al-Salami, tidak tercatat penerbit dan tahun terbitnya.

Yang pertama kubaca adalah penjelasannya tentang pengertian makruh.

Dia menjelaskan sebagai berikut:

Makruh secara etimologis berarti al-mubghad, yaitu sesuatu yang dibenci.

Menurut shara‘, makruh berarti al-muharram, yaitu sesuatu yang diharamkan. Sebab, di dalam al-Quran Surah al-Isra ayat 38 Allah menyebutkan beberapa perbuatan yang diharamkan, lalu berfirman, “Kullu dhalika kana sayyi’uhu ‘inda rabbika makruha.” Artinya, “Kejelekan-kejelekan dari semua perbuatan itu makruh (dibenci) oleh Allah.”

Selain itu, Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah …., dan membenci adu domba, banyak bertanya, dan menghambur-hamburkan harta” (Hadith al-Mughirah bin Shu‘bah, diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim). Perbuatan-perbuatan yang disebutkan dalam hadith tersebut—yang diterangkan sebagai perbuatan yang dibenci Allah—adalah perbuatan-perbuatan yang haram dilakukan.

Sedangkan di dalam terminologi mayoritas ahli Usul Fiqh dan fuqaha, makruh berarti, “Sesuatu yang dilarang oleh syariat dengan pelarangan yang tidak tegas (ghayr jazim).” Atau, “Sesuatu yang jika tidak dilakukan seseorang, maka orang itu diberi pahala; sedangkan jika dilakukan, maka pelakunya tidak diberi sanksi.” Contoh, berjalan dengan menggunakan sepatu sebelah saja, tidak sepasang; memberi atau menerima sesuatu dengan tangan kiri.

Para ulama mazhab Hanafiyyah memerinci makruh menjadi dua macam.

Pertama, makruh tahrim, yaitu sesuatu yang dilarang syariat dengan larangan yang pasti, tapi dengan dalil yang bersifat zanni (dalil yang tidak pasti kemunculannya dari Allah atau Rasul-Nya). Contoh, memakan daging binatang yang bertaring atau burung yang bercakar tajam.

Kedua, makruh tanzih, yaitu sesuatu yang dilarang syariat dengan larangan yang tidak pasti. Ini sama dengan pengertian makruh menurut mayoritas ulama.

Sesuatu termasuk berhukum makruh tanzih dapat diketahui dengan beberapa hal. Di antaranya:

  1. Ada larangan atasnya tapi ada juga qarinah yang menunjukkan orang yang mengerjakannya tidak disanksi. Contoh, berjalan dengan memakai sepatu sebelah. Larangan ini hanya bersifat pendidikan tata krama, yakni agar orang menjaga muruahnya.
  2. Jika perbuatan itu dilakukan, maka pelakunya terhalang dari fadilah. Contoh, makan bawang putih atau bawang merah. Orang yang baru saja memakannya dilarang masuk masjid.

(Usul al-Fiqh al-Ladhi La Yasa‘ al-Faqih Jahluh, ‘Iyad bin Nami al-Salami, h. 51-52).

Penulis: bkiiainbanten

Ini adalah blog tidak resmi dari Jurusan Bimbingan dan Konseling Islam Fakultas Ushuluddin Dakwah Dan Adab IAIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten.

One thought on “Usul Fiqh 05: Pengertian dan Klasifikasi Hukum Islam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s