BKI FUDA IAIN SMH BANTEN

Usul Fiqh 04: Hubungan Ilmu Usul Fiqh Dengan Ilmu-Ilmu Lain

Tinggalkan komentar

Ahmad Fadhil

Ilmu-Ilmu Islam

Apa yang dimaksud dengan ilmu-ilmu Islam?

Murtada Mutahhari membahas kata “ilmu-ilmu Islami” dan membuat definisi yang jelas baginya untuk menjelaskan apa yang kita maksud jika kita menyebut kata ilmu-ilmu Islami dan apa esensi universalitas-universalitas yang hendak kita ketahui pada pelajaran-pelajaran ini. Dia mengatakan bahwa ilmu-ilmu Islami yang menjadi subjek pembahasan kita dapat didefinisikan dari berbagai aspek, dan seiring perbedaan definisi itu, maka subjek-subjeknya juga berbeda-beda.

  1. Ilmu yang subjek atau temanya seputar pokok (usul) dan cabang (furu‘) ajaran Islam, atau ilmu yang dengannya dapat ditetapkan usul dan furu‘ ajaran Islam yaitu al-Quran dan Sunnah, seperti Ilmu Qiraah, Ilmu Tafsir, Ilmu Hadith, Ilmu Kalam Tradisional,[1] Ilmu Fiqh, Ilmu Akhlak Tradisional.[2]
  2. Ilmu-ilmu tersebut ditambah dengan ilmu-ilmu pengantarnya, seperti Sastra Arab, yaitu Sarf, Nahwu, Linguistis, Ma‘ani, Bayan, Badi‘, dll; juga Kalam Rasional, Akhlak Rasional, Hikmah Ilahiyyah, Logika, Usul Fiqh, Rijal, dan Dirayah.
  3. Ilmu yang dari aspek tertentu merupakan bagian dari kewajiban Islami, yaitu ilmu yang wajib dikuasai oleh Kaum Muslimin sebagai sebuah kewajiban kifayah yang tercakup dalam hadith Nabi yang terkenal, “Menuntut ilmu itu fardu bagi setiap muslim.”

(Pertama), ilmu yang subjek dan temanya termasuk usul atau furu‘ ajaran Islam; atau ilmu yang menjadi sandaran dalam menetapkan usul dan furu‘ ajaran Islam, adalah ilmu yang wajib dipelajari. Sebab, memahami usul ajaran agama adalah wajib ‘ayni atas semua muslim, dan memahami furu‘ ajaran agama adalah wajib kifa’i, sebagaimana mempelajari al-Quran dan Sunnah juga merupakan kewajiban, karena tanpa keduanya maka pengetahuan tentang usul dan furu‘ ajaran Islam tidak mungkin diperoleh.

Jadi, (yang kedua), mempelajari ilmu-ilmu pengantar untuk menguasai ilmu-ilmu tersebut juga merupakan kewajiban dari segi “pengantar bagi sesuatu yang wajib adalah wajib”. Artinya, harus selalu ada orang-orang yang menguasai ilmu-ilmu tersebut minimal dalam kadar yang mencukupi. Bahkan, harus selalu ada orang-orang yang mampu berperan dalam melakukan inovasi dalam ilmu-ilmu dasar dan pengantar tersebut, serta berusaha memperkaya dan mengembangkannya secara kontinyu.

Para ulama Islam sepanjang 14 abad telah berusaha meluaskan wilayah ilmu-ilmu tersebut. Dalam bidang ini, mereka telah meraih keberhasilan yang nyata. Kita secara bertahap akan mengkaji pertumbuhan, perkembangan, perubahan, dan penyempurnaan ilmu-ilmu tersebut.

(Ketiga), ilmu yang wajib dipelajari oleh kaum Muslimin tidak terbatas pada ilmu-ilmu yang sudah disebutkan. Sebab, jika terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan primer masyarakat Islam tergantung kepada penguasaan, spesialisasi, dan ijtihad pada suatu ilmu, maka ilmu itu wajib dikuasai oleh umat Islam.

Untuk menjelaskan bahwa Islam adalah agama yang holistik dan komprehensif, agama yang tidak hanya memuat serangkaian nasihat moral dan individual, agama yang berfungsi melindungi masyarakat, maka kami katakan bahwa Islam mewajibkan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh masyarakat sebagai wajib kifayah. Misalnya, jika masyarakat membutuhkan dokter, maka kedokteran menjadi wajib kifayah. Artinya, penyediaan dokter dalam jumlah yang mencukupi adalah kewajiban atas masyarakat. Jika dokter dalam jumlah yang mencukupi tidak tersedia, maka masyarakat harus menyiapkan kondisi hingga tersedianya dokter-dokter dan terpenuhinya kebutuhan tersebut. Karena kedokteran tergantung pada dikuasainya ilmu kedokteran, maka menguasai ilmu ini tentu saja menjadi salah satu wajib kifayah. Demikian juga dalam pendidikan, politik, perdagangan, dan bidang-bidang ilmu serta bidang-bidang keterampilan lainnya.

Jika pada pos-pos tertentu terlindunginya eksistensi masyarakat Islam tergantung kepada penguasaan ilmu dan keterampilan pada level yang sangat tinggi, maka ilmu dan keterampilan itu wajib dikuasai pada level tersebut. Dari contoh ini kita dapat memahami bahwa Islam menganggap semua ilmu yang penting bagi masyarakat Islam sebagai kewajiban, sehingga ilmu-ilmu Islam, berdasarkan definisi ketiga ini, mencakup banyak ilmu fisika dan matematika “yang dibutuhkan oleh masyarakat Islam”.

  1. Ilmu-ilmu yang memperoleh kesempurnaan di peradaban ilmiah Islam. Ilmu-ilmu ini lebih banyak (lebih umum) daripada ilmu-ilmu yang dianggap wajib dan primer oleh Islam, serta lebih banyak daripada ilmu-ilmu yang dianggap Islam sebagai ilmu yang terlarang, karena dengan cara bagaimana pun ilmu-ilmu ini berkembang di masyarakat Islam. Misalnya, ilmu astrologi (‘ilm al-tanjim al-ahkami) yang berbeda dengan ilmu astronomi (‘ilm al-tanjim al-riyadi). Kita mengetahui bahwa ilmu astronomi itu termasuk dari ilmu-ilmu Islam yang boleh dipelajari jika ilmu ini berkaitan dengan rumus-rumus matematika yang mengkaji kondisi-kondisi alam semesta, menjelaskan rangkaian prediksi yang berbasis prinsip-prinsip matematika, seperti memprediksi gerhana matahari dan gerhana bulan. Sedangkan jika berkaitan dengan sesuatu di luar batas rumus-rumus matematika, yaitu jika berkaitan dengan penjelasan rangkaian hubungan yang samar antara kondisi-kondisi perbintangan (samawiyyah) dengan kejadian-kejadian sehari-hari, yang berujung pada ramalan-ramalan tentang peristiwa-peristiwa sehari-hari, maka ilmu ini diharamkan oleh Islam. Meskipun demikian, kedua jenis ilmu perbintangan ini ada di tengah peradaban dan kebudayaan Islam.

Dari keempat definisi itu, Mutahhari mengambil definisi ketiga sebagai pengertian ilmu-ilmu Islam, yaitu ilmu-ilmu yang dianggap Islam sebagai fardu, memiliki sejarah yang mendalam di dalam peradaban dan budaya Islam, serta menempati posisi terhormat di kalangan umat Islam karena menjadi instrumen untuk memenuhi kebutuhan atau untuk melaksanakan suatu kewajiban tertentu.[3]

Mutahhari mengatakan bahwa peradaban Islam adalah peradaban yang khas di antara peradaban-peradaban lain di dunia. Peradaban yang khas artinya peradaban yang memiliki orisinalitas dan karakteristik tersendiri, sedangkan peradaban yang tidak khas artinya peradaban yang sekadar mengikuti peradaban lain. Kriteria untuk menentukan sebuah khas atau tidak sebuah peradaban adalah ada atau tidak adanya motif, tujuan, gerak, dan cara pertumbuhan tersendiri, serta ciri-ciri utama yang menonjol.[4]

Tapi, menyatakan suatu peradaban memiliki orisinalitas tidak berarti bahwa peradaban itu tidak mengambil manfaat dari  peradaban-peradaban lain karena hal itu mustahil. Tidak ada satu pun peradaban di dunia yang tidak mengambil manfaat dari peradaban lain. Cara mengambil manfaatlah yang menentukan orisinal/tidaknya suatu peradaban. Yang tidak orisinal adalah yang hanya mengambil atau mengimpor peradaban lain tanpa mengolahnya sedikit pun. Sedangkan yang orisinal adalah yang mencerna peradaban lain seperti yang dilakukan organ makhluk hidup yang menyerap suatu benda lalu mengolahnya menjadi benda lain. Peradaban Islam termasuk jenis peradaban dalam pengertian yang kedua.[5]

Usul Fiqh adalah ilmu alat seperti Ilmu Bahasa dan Ilmu Logika

Umat Islam telah mengkaji masalah-masalah praktis dan menetapkan metodenya (Usul Fiqh) sebelum mereka mengkaji masalah-masalah teologis teoritis dan mencari metodenya. Para ulama Usul Fiqh lebih dulu menciptakan metode penelitian daripada para ulama Usul al-Din dan metode itu menjadi rujukan utama sampai pada abad 5 H., al-Ghazali menyerukan untuk memadukan logika Aristoteles dengan ilmu-ilmu Islam dan menjadikannya satu-satunya metode kajian ilmiah.[6]

Karakter metodologis Ilmu Usul Fiqh sangat kentara sehingga dalam kaitannya dengan ilmu fiqih dia berperan seperti Ilmu Logika bagi filsafat atau Ilmu Nahwu dalam kaitannya dengan berbicara dan menulis dengan Bahasa Arab.[7] Mengapa? Al-Zarkashi dalam Bahr al-Muhit yang dikutip oleh al-Nashshar, menegaskan bahwa Usul Fiqh adalah majmu‘ turuq al-fiqh min haythu annaha ‘ala sabil al-ijmal wa kayfiyyah al-istidlal biha wa hal al-mustadall biha. Ringkasnya, Usul Fiqh adalah metode penelitian seorang faqih. Dengan kata lain, Usul Fiqh adalah qanun ‘asim li dhihn al-faqih min al-khata’ fi al-istidlal ‘ala al-ahkam.[8]

Ilmu Usul Fiqh adalah salah satu ilmu rasional (al-‘ulum al-‘aqliyyah). Al-‘Ulwani mengatakan bahwa Mustafa ‘Abd al-Raziq menegaskan urgensi ilmu ini dan menyatakan bahwa peneliti sejarah Filsafat Islam harus mempelajari al-ijtihad bi al-ra’y karena hal ini merupakan kajian rasional pertama yang terbukti dilakukan kaum muslimin hingga memunculkan mazhab-mazhab fiqh dan melahirkan Ilmu Usul Fiqh.

‘Abd al-Raziq bukan orang pertama yang menyatakan hal ini. Ibnu Khaldun, Tashi Kubra Zadah, dan al-Shatibi telah menyatakan hal tersebut. Buku-buku babon Usul Fiqh pun kebanyakan ditulis oleh para teolog, seperti al-Burhan oleh al-Haramayn [ulama mazhab al-Shafi‘i, w. 487 H.], al-Mustasfa oleh al-Ghazali, al-‘Ahd oleh ‘Abd al-Jabbar, dan al-Mu‘tamad oleh Abu al-Husayn al-Basri [ulama mazhab Mu‘tazilah, w. 413 H.]. Tapi, ‘Abd al-Raziq berjasa mengingatkan dan mengekspos rasionalitas ilmu ini secara metodologis disertai dengan argumentasi rasional dan historis.[9]

Tentang tema ini baca lagi buku al-Qiyam al-Daruriyyah wa Maqasid al-Tashri‘ al-Islami karya Fahmi Muhammad ‘Ulwan (Kairo al-Hay’ah al-Misriyyah al-‘Ammah li al-Kitab, 1989) bab III tentang “Usul Fiqh, ilmu-ilmu filosofis, dan tasawuf.”


[1] Nanti akan dijelaskan bahwa Ilmu Kalam ada dua macam: rasional dan tradisional.

[2] Nanti akan dijelaskan bahwa Ilmu Akhlak juga ada dua macam: rasional dan tradisional.

[3] Murtada Mutahhari, al-Usul, terj. Hasan ‘Ali al-Hashimi, Beirut: Dar al-Wala’, cet. I, 2009 M./1430 H., h. 8.

[4] Murtada Mutahhari, al-Usul, h. 8-9.

[5] Murtada Mutahhari, al-Usul, h. 9.

[6] ‘Ali Sami al-Nashshar, Manahij al-Bahth ‘Inda Mufakkiri al-Islam wa Naqd al-Muslimin li Mantiq al-Aristatalisi, Kairo: Dar al-Fikr al-‘Arabi, cet. I, 1367 H./1947 M. h. 53-55.

[7] Fahmi Muhammad ‘Ulwan, al-Qiyam al-Daruriyyah wa Maqasid al-Tashri‘ al-Islami, Kairo al-Hay’ah al-Misriyyah al-‘Ammah li al-Kitab, 1989, h. 8; Muhammad Abu Zahrah, Usul al-Fiqh, Kairo: Dar al-Fikr al-‘Arabi, tt., h. 5-6.

[8] ‘Ali Sami al-Nashshar, Manahij al-Bahth ‘Inda Mufakkiri al-Islam wa Naqd al-Muslimin li Mantiq al-Aristatalisi, Kairo: Dar al-Fikr al-‘Arabi, cet. I, 1367 H./1947 M., h. 55.

[9] Fahmi Muhammad ‘Ulwan, al-Qiyam al-Daruriyyah wa Maqasid al-Tashri‘ al-Islami, h. 7.

Penulis: bkiiainbanten

Ini adalah blog tidak resmi dari Jurusan Bimbingan dan Konseling Islam Fakultas Ushuluddin Dakwah Dan Adab IAIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s