BKI FUDA IAIN SMH BANTEN

Usul Fiqh 02: Subjek, Faidah, dan Keutamaan Ilmu Usul Fiqh

Tinggalkan komentar

Ahmad Fadhil

 

وأَبْوَابُ أُصولِ الْفِقْهِ: أَقْسَامُ الْكَلامِ،

Bab-bab Usul Fiqh meliputi: bagian-bagian kalimat,

وَالأَمْرُ وَالنَّهْيُ،

Perintah dan larangan,

وَالعَامُّ وَالخَاصُّ،

Umum dan khusus,

وَالمُجْمَلُ وَالْمُبَينُ،

Global dan detail,

وَالنَّصُّ وَالظَّاهرُ،

Nas dan zahir,

وَالأَفْعَالُ،

Perbuatan-perbuatan,

وَالنَّاسِخُ وَالْمَنْسوخُ،

Penghapus dan yang dihapus,

وَالإجْمَاعُ،

Ijma,

وَالأَخْبَارُ،

Berita,

وَالْقِياسُ،

Qiyas,

وَالْحَظْرُ وَالإبَاحَةُ،

Pelarangan dan pembolehan,

وَتَرْتِيبُ الأدَلَّةِ،

Urutan dalil-dalil,

وَصِفَةُ الْمُفْتِي وَالْمُسْتَفْتِي،

Karakter mufti dan peminta fatwa,

وَأَحْكَامُ الْمُجْتَهِدينَ .

Aturan-aturan bagi para mujtahid.

الاجتهاد والتقليد

Ijtihad dan taklid

وَلَيْسَ لِلْعَالِمِ أَنْ يُقَلِّدَ،

Ulama tidak boleh bertaklid.

والتَّقْلِيدُ : قَبُولَ قَوْلِ القَائِلِ بِلا حُجَّةٍ،

Taklid adalah menerima perkataan seseorang tanpa meminta argumennya.

فَعَلَى هَذَا قَبُولُ قَوْلِ النَّبِيِّ لاَ يُسَمَّى تَقْلِيداً،

Jadi, menerima perkataan Nabi saw tidak disebut taklid.

وَمِنْهُمْ مَنْ قَالَ: التَقْلِيدُ قَبُولُ قَوْلِ الْقَائِلِ وَأَنْتَ لا تَدْرِي مِنْ أَيْنَ قَالَهُ،

Ada yang berpendapat, taklid adalah menerima perkataan seseorang tanpa mengetahui alasannya.

فَإِنْ قُلْنَا إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَليهِ وَسلَّم كَانَ يَقُولُ بِالْقَياسِ، فَيَجُوزُ أَنْ يُسَمَّى قَبُولُ قَوْلِهِ تَقْلِيداً .

Jika kita katakan bahwa Nabi saw berpendapat dengan menggunakan qiyas, maka menerima perkataannya dapat disebut taklid.

وَأَمَّا الاجْتِهَادُ فَهُوَ: بَذْلُ الْوُسْعِ فِي بُلُوغِ الْغَرَضِ،

Ijtihad adalah mengerahkan usaha dalam mencapai tujuan.

فَالْمُجْتَهِدُ إنْ كَانَ كَامِلَ الآلَةِ فِي الاجْتِهَادِ فَإنْ اجْتَهَدَ فِي الْفُرُوعِ فأَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ، وَإِن اجتَهَدَ فِيهَا وأَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ،

Jika mujtahid memiliki alat yang lengkap untuk berijtihad, lalu jika dia berijtihad dalam masalah furu dan ijtihadnya benar, maka dia mendapat dua pahala, dan jika dia berijtihad dalam masalah itu dan ijtihadnya salah, maka dia mendapat satu pahala.

وَمِنهُم مَنْ قَالَ: كُلُّ مُجْتَهِدٍ فِي الْفُرُوعِ مُصِيبٌ،

Ada yang berpendapat bahwa semua mujtahid dalam masalah furu‘ benar dalam ijtihadnya.

وَلا يَجُوزُ أَنْ يُقَالَ: كُل مُجْتَهِدٍ فِي الأُصُولِ الْكَلامِيَّةِ مُصِيباً، لأَنَّ ذَلِكَ يُؤَدِّي إِلَى تَصْوِيبِ أَهْلِ الضَّلالَةِ مِنَ النَّصَارَى وَالْمَجُوسِ وَالْكُفارِ، وَالْمُلْحِدِينَ،

Tapi, tidak boleh dikatakan bahwa semua mujtahid dalam masalah dasar-dasar akidah benar dalam ijtihadnya, karena hal ini berakibat membenarkan semua aliran yang sesat seperti Nasrani, Majusi, Kafir, dan Ateis.

وَدَلِيلُ مَنْ قَالَ: «لَيْسَ كُل مُجْتَهِدٍ فِي الفُرُوعِ مُصِيباً»، قَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَليهِ وَسلَّم: «مَنِ اجْتَهَدَ فَأَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ، وَمَنِ اجتَهَدَ وَأَخْطَأَ فَلَهُ أجْرٌ وَاحِدٌ»،

Dalil orang yang mengatakan, “Tidak semua mujtahid dalam masalah furu‘ benar ijtihadnya,” adalah sabda Nabi saw, “Orang yang berijtihad, lalu benar, maka baginya dua pahala, dan orang yang berijtihad, lalu salah, maka baginya satu pahala.”

وَجْهُ الدَّلِيلِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَليهِ وَسلَّم خَطَّأَ الْمُجْتَهِدَ تَارَةً وَصَوَّبَهُ أُخْرَى .

Segi argumentasi dari dalil itu adalah Nabi saw terkadang membenarkan mujtahid, dan terkadang menyalahkannya.

 

Subjek Ilmu Usul Fiqh

Umat Islam pasti memiliki semangat untuk membela agama. Jika semangat ini tidak dikendalikan dengan ilmu agama, boleh jadi justru menjerumuskan kepada hal-hal yang tidak diinginkan seperti pertumpahan darah, pelanggaran atas kehormatan dan harta orang lain. Karena itu, ilmu agama harus disebarkan dengan segala cara agar semangat itu membawa manfaat bagi umat manusia karena syariat Islam diturunkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh makhluk.

Pondasi ajaran Islam, yaitu al-Quran dan Sunnah, harus menjadi perhatian utama dan subjek pelajaran semua muslim. Tujuan asasi dari mempelajari al-Quran dan Sunnah adalah mengantarkan seluruh umat Islam memedomaninya dalam kehidupan sehari-hari. Tapi, hukum tertentu bagi perbuatan tertentu tidak selalu dapat langsung diketahui oleh orang yang mampu membaca al-Quran dan Sunnah.

Al-Juwayni mendefinisikan fiqh sebagai “Pengetahuan tentang hukum-hukum syariat yang diperoleh dengan cara ijtihad.” Berdasarkan definisi ini, pengetahuan tentang hukum yang disimpulkan dari al-Kitab dan Sunnah memiliki dua jalan. Pertama, diperoleh tanpa ijtihad, yaitu pengetahuan yang berkaitan dengan hukum yang diterangkan dengan jelas di dalam al-Kitab al-Sunnah. Kedua, diperoleh dengan ijtihad, yaitu pengetahuan tentang hukum yang tidak diterangkan dengan jelas di dalam al-Quran dan Sunnah. Pengetahuan jenis kedua saja yang dapat disebut fiqh, yang pertama tidak.[1]

Untuk pengetahuan jenis kedua inilah diperlukan Ilmu Usul Fiqh, yaitu ilmu yang memberikan kita pedoman atau cara mendeduksi hukum dari sumbernya atau ilmu yang membahas hukum syariat dari segi cara mendeduksinya dari dalil-dalilnya secara umum.[2] Usul Fiqh berbeda dengan Ilmu Usul Fiqh. Usul Fiqh adalah dalil-dalil yang menjadi sumber hukum. Ilmu Usul Fiqih adalah pengetahuan tentang kaidah-kaidah yang mengatur pengambilan hukum dari dalil-dalilnya.[3]

Muhammad Baqir al-Fadili al-Bahsudi mengutip pendapat beberapa ahli Ilmu Usul Fiqh tentang subjek ilmu ini. Menurut pengarang al-Qawanin, subjek Ilmu Usul Fiqh adalah, “Empat dalil dalam statusnya sebagai dalil.” Menurut pengarang al-Fusul, “Empat dalil dari segi dia adalah dia.” Menurut pengarang al-Kifayah, “Universal yang diaplikasikan pada subjek-subjek yang beragam.” Menurut Baqir al-Sadr, “Dalil-dalil yang berpartisipasi dalam proses deduksi.”[4]

Dari penjelasan ini, terlihat persamaan dan perbedaan antara Ilmu Fiqh dengan Ilmu Usul Fiqh. Subjek Ilmu Fiqh hukum-hukum praktis dan dalil-dalilnya yang terperinci, sedangkan subjek Ilmu Usul Fiqh adalah metode-metode deduksi atau penarikan kesimpulan. Kedua ilmu ini sama-sama mencermati dalil. Tapi, jika Ilmu Fiqh mencermati dalil untuk menelurkan hukum praktis parsial, maka Ilmu Usul Fiqh mencermatinya untuk mengetahui cara menelurkan hukum darinya, hirarki nilai argumentatifnya, dan kondisinya. Ilmu Usul Fiqh-lah yang menjelaskan nilai argumentatif al-Quran, posisinya di atas Sunnah, dalil qat‘i dan dalil zanni, metode yang dipakai saat terjadi kontradiksi zahir nas, dst.[5]

Keutamaan Ilmu Usul Fiqh

Abu al-Qasim al-Garnati di dalam Taqrib al-Wusul ila ‘Ilm al-Usul mengatakan bahwa ilmu ada tiga macam, yaitu ilmu rasional, ilmu tradisional, dan ilmu gabungan antara rasional dan tradisional. Ilmu yang paling utama adalah ilmu yang terakhir, dan Ilmu Usul Fiqh adalah salah satunya. Ilmu Usul Fiqh adalah alat utama untuk memahami al-Kitab dan Sunnah; ilmu yang mengangkat seseorang dari derajat muqallid ke derajat mujtahid; dan ilmu yang membantu orang untuk mengetahui aspek-aspek tarjih sehingga dia mengetahui pendapat yang rajih dan pendapat yang marjuh, serta membedakan antara pendapat yang sahih dengan yang tidak sahih.[6]

Al-Shawkani di dalam Irshad al-Fuhul mengatakan bahwa Ilmu Usul Fiqh adalah ilmu yang menjadi acuan dan rujukan para ulama dalam menetapkan duduk masalah dan dalil-dalilnya dalam kebanyakan hukum. Masalah-masalah dan kaidah-kaidah Ilmu Usul Fiqh sudah dijadikan aksioma oleh mayoritas peneliti dan penulis. Jika salah seorang di antara mereka berpendapat lalu berargumentasi dengan pernyataan ahli Ilmu Usul Fiqh, maka orang-orang yang berbeda pendapat pakar sekalipun akan tunduk kepadanya, karena mereka yakin bahwa kaidah-kaidah Ilmu Usul Fiqh dibangun di atas pondasi yang sangat kuat.[7]

Ilmu Usul Fiqh adalah ilmu yang paling agung karena ilmu inilah yang paling berpengaruh dalam membentuk rasionalitas fiqh, mengajarkan metode-metode yang telah dipakai para imam mujtahid dalam mendeduksi fiqh mereka, dan menerangi jalan seorang yang hendak berijtihad karena ilmu ini menjelaskan ciri-ciri syariat Islam bagi orang yang hendak mendeduksi hukum-hukum syariat bagi masalah-masalah baru yang dihadapi umat manusia. Selain itu, ilmu ini membantu pelajar Ilmu Hukum untuk mengerti hukum positif.[8]

Mutahhari mengatakan, “Ilmu Usul Fiqh adalah ilmu yang menyenangkan dan indah karena ilmu ini memuat ketelitian rasional yang memesona pikiran para pelajar. Ilmu ini sebanding dengan logika dan filsafat dalam aspek olah pikiran dan melatih pelajar untuk teliti dalam berpikir. Selain itu, para pelajar ilmu-ilmu klasik berpandangan bahwa ilmu Usul Fiqh sangat berpengaruh dalam menajamkan pikiran mereka”.[9]

 

Faidah Mempelajari Ilmu Usul Fiqh

Setiap ilmu yang dipelajari seseorang dengan kelelahan dan kesusahpayahan pasti memiliki buah dan faidah yang dapat dipetik. Jika faidah belajar Ilmu Fiqh adalah mampu membetulkan perbuatan dan perkataan sehingga sesuai dengan hukum Allah, maka apakah faidah dari belajar Ilmu Usul Fiqh?

Abu ‘Asim al-Barakati al-Misri, dengan merujuk buku al-‘Ulum al-Islamiyyah karya Ahmad al-Hajji al-Kurdi dan Ma ‘alim Usul al-Fiqh ‘Inda Ahl al-Sunnah wa al-Jama‘ah karya Muhammad bin Husayn bin Hasan al-Jizani, menyebutkan 20 faidah mempelajari Ilmu Usul Fiqh, yaitu:

  1. Menjaga syariat Islam. Ilmu Usul Fiqh menjaga dalil-dalil syariat agar tidak dilanggar manusia dan menjaga argumentasi dan sandaran hukum. Ilmu Usul Fiqh juga menjelaskan sumber-sumber primer dan sekunder dalam penetapan hukum sehingga syariat terjaga pilar-pilarnya.
  2. Menetapkan dasar-dasar penarikan kesimpulan dengan cara menjelaskan dalil-dalil yang benar dan yang palsu. Misalnya, dengan menjelaskan hadis-hadis yang tidak terbukti berasal dari Nabi saw, seperti Hadis Daif atau yang lebih lemah lagi, atau pendapat yang tidak berdalil, tidak memiliki nilai argumentatif.
  3. Memudahkan ijtihad dan menetapkan hukum yang tepat bagi setiap peristiwa baru.
  4. Mencegah penafsiran nas-nas al-Kitab dan Sunnah dengan hawa nafsu. Ilmu Usul Fiqh menetapkan dan mengatur penafsiran dengan kaidah universal, integral, disepakati, dan mencegah pelanggar batas.
  5. Melindungi umat dari perpecahan dan perselisihan yang berasal dari pemahaman yang salah atas al-Quran dan Sunnah.
  6. Menjelaskan cara-cara menyatukan dalil-dalil yang selintas nampak bertentangan dan membantah kontroversi yang dilontarkan atas kondisi tersebut.
  7. Membawa hukum-hukum al-Kitab dan Sunnah ke tataran aplikatif dan eksekutif dengan menelurkan hukum-hukum dari nas-nas yang mengandungnya.
  8. Melatih kemampuan fiqh seorang pelajar hingga dia memiliki pemahaman yang benar dan lengkap tentang hukum fiqh dan metode-metode deduksinya.
  9. Mengetahui penyebab perbedaan pendapat ulama sehingga dapat memakluminya.
  10. Mengeliminasi banyak perbedaan pendapat fiqh dan menunjukkan pendapat yang diterima dan ditolak, serta yang bernilai dan tidak bernilai.
  11. Menyerukan kepatuhan pada dalil dan meninggalkan fanatisme dan taklid buta.
  12. Menghilangkan fanatisme mazhab di kalangan fuqaha dengan menjadikan kaidah-kaidahnya sebagai kriteria dalam menilai mazhab-mazhab dan pendapat-pendapat fiqh.
  13. Menjelaskan cara berdalil yang benar karena dalil yang benar kadang-kadang digunakan sebagai dalil dengan cara yang salah.
  14. Mengenalkan dasar-dasar masing-masing mazhab fiqh.
  15. Menjelaskan aturan fatwa, syarat mufti, dan adabnya.
  16. Menetapkan aturan diskusi, yakni merujuk dalil-dalil yang sahih dan muktabar.
  17. Menjaga akidah Islam dengan melindungi dasar-dasar berargumentasi dan membantah syubhat para penyimpang.
  18. Menunjukkan kelapangan, kemudahan, dan keindahan syariat Islam.
  19. Melindungi fiqh Islam dari keterbukaan yang bodoh dan ketertutupan yang dungu.
  20. Mengaitkan Ilmu Usul dengan ilmu-ilmu lain, seperti Nahwu dan Balaghah.[10]

Tapi, sebagaimana telah dijelaskan, Ilmu Usul Fiqh adalah ilmu alat atau ilmu metode. Maksudnya, Ilmu Usul Fiqh adalah alat yang digunakan mujtahid dalam menyimpulkan hukum-hukum dari dalil-dalilnya. Dengan demikian, yang dapat mengambil manfaat dari ilmu ini adalah para mujtahid. Lalu, apa faidahnya bagi kita, pelajar ilmu secara umum yang tidak mencapai derajat mujtahid? Meskipun faidah primer ilmu ini seperti yang telah disebutkan, tapi faidah sekundernya dapat dirasakan oleh selain mujtahid, yaitu:

Pertama, dengan mengetahui kaidah-kaidah mendetail tentang cara menelurkan hukum dari dalil-dalilnya ini, kepercayaan pelajar atau umat Islam secara umum pada kedalaman dan keaslian hukum Islam dapat bertambah, sehingga mereka pun semakin membanggakan dan menerima sepenuhnya jawaban-jawaban fiqh yang diberikan oleh para mujtahid yang berkaitan dengan urusan mereka sehari-hari.[11]

Kedua, belajar Ilmu Usul Fiqh memberi banyak manfaat kepada para pelajarnya, seperti membuat mereka lebih memahami al-Quran dan Sunnah, mengetahui bahwa syariat Islam tidak saling kontradiksi, memahami pendapat para ulama, memahami pernyataan-pernyataan orang seperti di dalam wasiat, wakaf, pengadilan, dll, mengetahui hukum peristiwa atau kejadian baru dalam kehidupan sehari-hari, meraih derajat ijtihad, mengetahui bahwa ijtihad ulama tidak sembarangan dan perbedaan pendapat di antara mereka bukan tanpa dasar, mengetahui kemampuan diri mereka untuk berijtihad atau keharusan untuk bertaklid.[12]

 

Usul Fiqh di antara Ijtihad dan Taqlid

Ijtihad adalah “Mengerahkan usaha untuk memperoleh argumen bagi realitas atau atas tugas praktis yang zahir.” Dalam agama Islam, ijtihad adalah faktor utama yang membuat agama Islam mampu mengiringi tuntutan zaman dan mencakup segala aspek dalam kehidupan manusia. Ijtihad bertujuan membuat umat Islam mampu menerapkan teori Islam dalam kehidupan karena penerapan tidak mungkin terwujud selama gerakan ijtihad belum menentukan ciri-ciri teoritis dan rincian-rinciannya.[13]

Ijtihad adalah “instrumen” untuk menjelaskan kewajiban keagamaan yang berkaitan dengan individu dan aparat pemerintah (al-nizam al-hakim) untuk mewujudkan tujuan agama. Ijtihad bukan sekadar proses mengkaji kewajiban individu yang berkaitan dengan urusan ibadah dan kewajibannya terhadap Tuhan. Falsafah ijtihad adalah menetapkan arah perjalanan peristiwa sehari-hari atau semua masalah kehidupan manusia dari perspektif agama. Ijtihad pada hakikatnya adalah adalah juru bicara agama.[14]

Pengertian kata ijtihad,[15] di dalam hadis Nabi saw, dalam pengertian para fuqaha. Nabi saw tidak menyebut dirinya dan para sahabat sebagai mujtahid.[16] Berbeda dengan kata fatwa. Pada masa awal Islam, kata fatwa sudah dipakai dalam pengertiannya sekarang. Misalnya, di dalam Bihar al-Anwar 1/226:

اهرب من الفتيا هربك من الاسد ولا تجعل رقبتك للناس جسرا.

Banyak ulama meyakini bahwa Rasul saw mendorong para sahabat untuk berijtihad seperti termaktub dalam hadis Mu‘adh bin Jabal. Selain itu, mereka meyakini sebagian putusan Rasul merupakan buah ijtihad. Mereka hanya berbeda pendapat tentang apakah ijtihad rasul mungkin salah atau tidak.[17]

Ijtihad dalam pengertian Usul Fiqh adalah penggunaan ra’y pada kondisi-kondisi yang dipastikan taklif ilahi tentangnya tidak ditentukan atau ditentukan tapi samar sehingga orang merujuk pada akal dan rasanya dan menetapkan apa yang paling dengan dengan rasa, akal, kebenaran, dan keadilan, serta paling mirip dengan ajaran-ajaran Islam sebagai hukum Islam. Dengan demikian, seperti al-Quran dan Sunnah, ijtihad pun menjadi salah satu sumber penetapan hukum Islam. Ijtihad digunakan hanya jika hukum tentang sesuatu tidak terdapat di dalam al-Quran, Sunnah, atau Ijma. Jika ada, maka tidak boleh.[18]

Ada hadis yang menerangkan bahwa jika seseorang menafsirkan al-Quran dengan pikirannya, maka orang itu akan masuk neraka. Hadis ini tidak melarang orang untuk memahami al-Quran secara langsung dengan akal mereka, melainkan melarang penafsiran al-Quran dengan mengikuti selera dan hawa nafsu pribadi. Al-Quran secara tegas telah menyuruh manusia untuk mentadabburi makna ayat-ayatnya. Jadi, manusia berhak untuk langsung merenungi ayat-ayat al-Quran untuk memahami maknanya sekuat tenaga mereka. Selain itu, Rasul saw juga telah memprediksi munculnya hadis palsu, lalu untuk mengatasi hal itu, dia menyuruh manusia untuk menghadapkan hadis kepada al-Quran, dan jika bertentangan dengan al-Quran, maka hadis itu harus ditolah.[19]

Tema ijtihad akan dibahas lebih luas pada kesempatan lain.[20] Sekarang kita akan membahas pengertian taqlid sebagai lawan dari ijtihad.

Allah mencela orang yang bertaklid. Dia berfirman (al-Tawbah: 31), “Mereka menjadikan ahbar dan ruhban mereka sebagai Tuhan selain Allah”.

Berkaitan dengan ayat ini, salah seorang imam Ahlul Bayt mengatakan, “Demi Allah, para ahbar dan ruhban itu tidak menyeru orang-orang itu untuk menyembah mereka. Jika mereka menyeru orang-orang itu untuk menyembah mereka, maka orang-orang itu tidak akan mematuhi. Tapi, mereka menghalalkan bagi orang-orang itu sesuatu yang haram, dan menghalalkan bagi orang-orang itu sesuatu yang haram. Maka, tanpa sadar orang-orang itu menyembah mereka”.[21]

Dalam hadis yang lain, seorang Imam Ahlul Bayt mengatakan, “Demi Allah, mereka tidak puasa dan tidak salat untuk ahbar dan ruhban mereka, tapi para ahbar dan ruhban itu menghalalkan bagi mereka sesuatu yang haram dan mengharamkan atas mereka sesuatu yang halal, lalu mereka mengikutinya.”

Cara menjadikan ahli agama sebagai Tuhan banyak sebab dan jenisnya. Yang dijelaskan dalam hadis ini termasuk jenis shirk ta‘ah. Ini merupakan syirik meskipun bukan syirik yang berkaitan dengan wujud, sifat, atau hak ibadah kepada Tuhan.[22]

Usul Fiqh: senjata para pewaris Nabi

Ulama adalah pewaris Nabi. Pesantren dan ulama militan sepanjang sejarah adalah benteng Islam yang kokoh dalam menghadapi serangan dan penyimpangan. Mereka menjajakan kalimat halal dan haram ilahi secara murni dan konsekwen. Mereka mengerjakan tugas mahasulit, yaitu mengkaji ilmu-ilmu al-Quran, tilas dan jejak Rasul yang mulia, lalu membukukan, mensistematisasi, menginvestigasi, dan memurnikannya. Semua ini bukan pekerjaan yang mudah, apalagi tanpa sokongan dana, bahkan di tengah upaya untuk memudarkan rambu-rambu risalah Islam.

Kita memiliki khazanah Islam yang sangat kaya. Tapi, khazanah ini mayoritas masih tersegel dengan bahasa asing. Bahasa Arab dan bahasa Persia, misalnya. Di dalam khazanah ini sudah terkandung metodologi yang paling tepat untuk mengkaji ilmu-ilmu Islam. Boleh jadi kita tidak akan perlu menadahkan tangan dan melirik metodologi penelitian dari Barat jika kita memiliki kemampuan untuk membaca khazanah berbahasa Arab dan Persia itu.

Ulama adalah tempat bersandarnya orang-orang yang tertindas. Ilmu mereka adalah telaga kautsar yang menghilangkan dahaga. Jihad ilmu dan budaya yang mereka lakukan benar-benar lebih mulia daripada darah para syuhada. Tapi, ulama bukan itu saja. Mereka juga orang yang telah menanggung semua derita dan menelan kepahitan dalam membela agama dan negara. Mereka dipenjara, diasingkan, disiksa, dicela.

Para ulama Islam bukan musuh kemajuan, apalagi musuh kemanusiaan, mereka justru musuh orang yang menghalangi kemajuan dan orang menindas kemanusiaan. Karena itu, merekalah yang menjadi sasaran pertama dari serangan para perampok, para penjajah, dan penghisap darah umat manusia.

Para ulama memperoleh ilmu agama lewat kezuhudan, ketakwaan, serta perlawanan dan pengendalian terhadap hawa nafsu. Setelah mereka memperoleh level keilmuan dan kejiwaan yang tinggi, mereka tetap harus berperilaku sama dengan saat mereka menjadi pelajar. Jadi, sepanjang hayat, hidup ulama adalah hidup dalam kezuhudan, kemiskinan, dan berpaling dari dunia dengan segala gemerlapnya.[23]


[1] Al-Ansari, Sharh al-Waraqat, h. h. 10-11

[2] Muhammad Sulayman ‘Abd Allah al-Ashqar, al-Wadih fi Usul al-Fiqh li al-Mubtadi’in ma‘a As’ilah li al-Munaqashah wa Tamrinat, Kairo: Dar al-Salam, cet. II, 1425 H./2004 M., h. 10.

[3] Khalid ‘Abdullah Bahamid, Sharh al-Waraqat, Riyad: Dar al-I‘tisam li al-Nashr, cet. I, 1422 H., h. 4.

[4] Muhammad Baqir al-Fadili al-Bahsudi, al-Qawa‘id wa al-Furuq hawla Ummahat al-Mabahith al-Usuliyyah wa al-Fiqhiyyah wa al-Mantiqiyyah wa al-Falsafiyyah, Qum: Dar al-Tafsir, cet. I, 1424 H., h. 29.

[5] Muhammad Abu Zahrah, Usul al-Fiqh, Kairo: Dar al-Fikr al-‘Arabi, tt., h. 6.

[6] Jalal al-Din Muhammad bin Ahmad al-Mahalli al-Shafi‘i, Sharh al-Waraqat fi ‘Ilm Usul al-Fiqh, Riyad: Maktabah Nizar Mustafa al-Baz, cet. I, 1417 H./1996 M., h. 11.

[7] Jalal al-Din Muhammad bin Ahmad al-Mahalli al-Shafi‘i, Sharh al-Waraqat fi ‘Ilm Usul al-Fiqh, Riyad: Maktabah Nizar Mustafa al-Baz, cet. I, 1417 H./1996 M., h. 12.

[8] Muhammad Abu Zahrah, Usul al-Fiqh, Kairo: Dar al-Fikr al-‘Arabi, tt., h. 1-2.

[9] Mutahhari, al-Usul, h. 33.

[10] http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=256568, diakses pada hari Senin, 30 Juli 2012, 23:53.

[11] http://2bac.medharweb.net/modules.php?name=News&file=article&sid=207, diakses pada hari Selasa, 31 Juli 2012, 00:11.

[12] Sa‘d bin Nasir al-Shuthri, Sharh al-Waraqat fi Usul al-Fiqh, Riyad: Dar Kunuz Ishbiliyyah li al-Nashr wa al-Tawzi‘, cet. I, 1425 H./2004 M., h. 11-13.

[13] Kamal al-Haydari, Ma‘alim al-Tajdid al-Fiqhi, h. 24 dan 27.

[14] Kamal al-Haydari, Ma‘alim al-Tajdid al-Fiqhi, h. 35.

[15] Lihat bahasan tentang prinsip ijtihad dalam Islam oleh Mutahhari dalam bukunya Ru’a Jadidah fi al-Fikr al-Islami, j. 3, h. 379-422. Di sana dia membahas al-Akhbariyyun, hak akal dalam berijtihad, persimpangan jalan, dan sikap Shi‘ah.

[16] Mutahhari, Ru’a Jadidah fi al-Fikr al-Islami, j. 3, h. 381.

[17] Mutahhari, Ru’a Jadidah fi al-Fikr al-Islami, j. 3, h. 382-383

[18] Mutahhari, Ru’a Jadidah fi al-Fikr al-Islami, j. 3, h. 383.

[19] Mutahhari, al-Usul, h. 39.

[20] Baca buku al-Ijtihad fi Muqabil al-Nas karya Sharf al-Din al-Musawi.

[21] Muhammad bin ‘Abd ‘Ali Al ‘Abd al-Jabbar, Hady al-‘Uqul ila Ahadis al-Usul, 9 jilid, ed. Mustafa al-Shaykh ‘Abd al-Hamid Al Marhun, Beirut: Dar al-Mustafa li Ihya’ al-Turath, cet. I, 1425 H./ 2004 M., h. 412.

[22] Muhammad bin ‘Abd ‘Ali Al ‘Abd al-Jabbar, Hady al-‘Uqul ila Ahadis al-Usul, 9 jilid, ed. Mustafa al-Shaykh ‘Abd al-Hamid Al Marhun, Beirut: Dar al-Mustafa li Ihya’ al-Turath, cet. I, 1425 H./ 2004 M., h. 418

[23] Khomeini, Riyadah al-Fiqh al-Islami wa Mutatallabat al-‘Asr, Beirut: Dar al-Hadi, cet. I, 1412 H./1992 M.

Penulis: bkiiainbanten

Ini adalah blog tidak resmi dari Jurusan Bimbingan dan Konseling Islam Fakultas Ushuluddin Dakwah Dan Adab IAIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s