BKI FUDA IAIN SMH BANTEN

Usul Fiqh 01: Pengertian Usul Fiqh dan Urgensi Fiqh

Tinggalkan komentar

Ahmad Fadhil

الوَرَقَاتُ فِي أُصُولِ الْفِقْهِ لِلْإِمَامِ الْجُوَيْنِي

Kitab al-Waraqat fi ‘Usul al-Fiqh

Karya Imam al-Juwayni

بِسمِ اللَّه الرَّحمَنِ الرَّحِيم

Bismillahirrahmanirrahim

أَما بَعْدُ فَهَذِهِ وَرَقَاتٌ تَشْتَمِلُ عَلَى مَعْرِفَةِ فُصُولٍ مِنْ أُصُولِ الْفِقْهِ،

Amma bakdu. Ini adalah kitab al-Waraqat yang memuat pengetahuan tentang beberapa bagian dalam Usul Fiqh.

وَذَلِكَ مُؤَلَّفٌ مِنْ جُزْءَيْنِ مُفْرَدَيْنِ،

Kata itu tersusun dari dua bagian.

فالأَصْلُ: ما يُبْنَى عَلَيْهِ غَيْرُهُ،

Pertama, al-asl (pondasi). Yaitu, sesuatu yang menjadi dasar bagi yang selainnya.

وَالْفَرْعُ: مَا يُبْنَى عَلَى غَيْرِهِ،

(Lawan dari) al-far‘ (cabang), yaitu sesuatu yang dibangun di atas yang lain.

وَالْفِقْهُ: مَعْرِفَةُ الأحكَامِ الشّرْعِيَّةِ الَّتِي طَرِيقُهَا الاجْتِهَادُ

Kedua, al-fiqh, yaitu pengetahuan tentang hukum-hukum syariat yang diperoleh melalui ijtihad.

وَأُصُولُ الْفِقْهِ: طُرُقُهُ عَلَى سَبِيلِ الإِجْمَالِ، وَكَيْفِيَّةُ الاستِدْلالِ بِهَا .

Usul Fiqh adalah metode-metode fiqh dalam bentuk yang global dan tata cara menarik kesimpulan dengannya.

Definisi Usul

Kata أُصُول adalah bentuk jama dari kata أَصْل. Secara etimologis asl berarti “dasar bagi yang lain”. Sebagai istilah, kata asl menjadi sebutan bagi beberapa hal, di antaranya:

Pertama, دَلِيل. Jika seseorang mengatakan, “أَصْلُ هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ الْكِتَابُ وَالسُّنَّةُ (Dasar dalam masalah ini adalah al-Kitab dan Sunnah),” maka yang dia maksud adalah, “Dalil masalah ini adalah al-Kitab dan Sunnah.”

Kedua, القَاعِدَة. Jika seseorang mengatakan, “الأَصْلُ أَنَّ الْفَاعِلَ مَرْفُوْع (Menurut dasarnya, fa‘il itu harus dibaca marfu‘),” maka maksudnya adalah “Menurut kaidahnya, fa‘il itu marfu‘.”[1]

Definisi Fiqh

Fiqh secara etimologis berarti فَهْم (paham).[2] Penggunaan kata fiqh di dalam al-Quran[3] menunjukkan bahwa fiqh tidak berarti sekadar fahm, melainkan الإِدْرَاكُ الْعَمِيْق فِي أَمْرٍ مِنَ الْأُمُوْر(pengetahuan yang mendalam tentang suatu perkara), تَعَمُّق (pendalaman), atau الفَهْم الدَّقيق (pemahaman yang mendalam).[4]

Misalnya, dalam firman Allah (al-Tawbah: 122):

فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوْا فِي الدِّيْنِ وَلِيُنْذِرُوْا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوْا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُوْنَ

Kata fiqh pada zaman Rasul saw juga bermakna pemahaman yang mendalam tentang kaidah, aturan, dan tujuan agama Islam.

Misalnya, sabda Rasul saw:

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْن (متفق عليه),

“Jika Allah menghendaki kebaikan bagi seseorang, maka Dia membuat orang itu memiliki pemahaman agama yang mendalam.” [5]

Dari pengertian tersebut dapat kita katakan bahwa jika pengetahuan manusia tentang sesuatu ada dua macam, yaitu pengetahuan yang dangkal dan yang mendalam, maka kata fiqh menunjuk pada pengetahuan yang mendalam. Ketika Islam menyuruh umatnya untuk tafaqquh fi al-din, ini berarti umat Islam harus memahami Islam berdasarkan pemahaman yang komprehensif, yang mencakup berbagai bidang mulai dari pokok akidah, filsafat (ru‘yah kawniyyah), etika, pendidikan, ibadah, hukum sosial, hingga tata krama individual dan sosial.

Seiring perkembangan ilmu di dunia Islam, mulai abad ke-2 H., kata fiqh digunakan dalam pengertian khusus, yaitu berkaitan dengan hukum atau deduksi hukum saja.[6]

Kata ini pun memiliki pengertian teknis ilmiah, yaitu:

العِلْمُ بِالْأَحْكَامِ الشَّرْعِيَّةِ الْعَمَلِيَّةِ الْمُكْتَسَبَةِ مِنْ أَدِلَّتِهَا التَّفْصِيْلِيَّةِ

(Ilmu tentang hukum syariat praktis yang diperoleh dari dalil yang terperinci).[7]

“Hukum” secara etimologis berarti penetapan sesuatu atas sesuatu. Dalam definisi ini, yang dimaksud dengan “hukum” adalah “ketetapan yang berasal dari Allah untuk mengatur hidup manusia”.[8] Adanya kata “syariat” selain menegaskan hal tersebut, juga untuk menunjukkan bahwa kajian tentang “hukum-hukum akal” tidak termasuk dalam bahasan fiqh.[9]

Fiqh membahas hukum “praktis”. Maksudnya, membahas hukum yang berkaitan dengan “perbuatan” manusia atau pedoman dari Pembuat Syariat Islam atas manusia untuk mengatur kehidupan sosial, relasi antar manusia, serta hak dan kewajiban di antara mereka, juga perintah dan pedoman tentang kewajiban manusia kepada Tuhan dan cara beribadah kepada-Nya. Jadi, hukum syariat yang berkaitan dengan “akidah” dan “tata krama” tidak termasuk dalam pembahasan fiqh.[10]

Jadi, secara garis besar, fiqh Islam mencakup dua bidang. Pertama, relasi muslim dengan Tuhan (hukum ibadah). Kedua, relasi muslim dengan masyarakat Islam secara khusus maupun masyarakat manusia secara umum (nizam qanuni, legal system).

Secara lebih mendetail, hukum fiqh dapat dibagi menjadi 6 bagian:

  1. Hukum tentang ibadah kepada Allah, seperti salat dan puasa. Ini disebut ibadah.
  2. Hukum tentang keluarga, seperti nikah, cerai, keturunan, nafkah, wasiat, dan warisan. Ini disebut ahwal shakhsiyyah.
  3. Hukum tentang aktivitas antar manusia, keuangan, transaksi, dan urusan di pengadilan. Ini disebut mu‘amalah. Bagian ketiga dan kedua dalam istilah hukum modern disebut qanun madani.
  4. Kaidah yang berkaitan dengan kekuasaan pemerintah atas rakyat serta hak dan kewajiban mereka. Ini disebut ahkam shar‘iyyah atau siyasah shar‘iyyah. Dalam istilah hukum bagian ini disebut qanun idari dan qanun dusturi.
  5. Hukum dan kaidah yang berkaitan dengan hukuman bagi penjahat dan penetapan ketertiban di masyarakat. Ini disebut ‘uqubat.
  6. Kaidah yang mengatur relasi negara Islam dengan negara lain termasuk aturan damai dan perang atau huquq dawliyyah.[11]

Hukum Islam bersumber dari “dalil”. Dalil berarti “penunjuk” atau “sesuatu yang darinya hukum disimpulkan.”[12] Dalil itu dapat menjadi penunjuk bagi hukum syariat praktis dengan cara direnungi dengan benar. Kata “terperinci” dalam definisi tersebut artinya “parsial” atau “furu‘”.

“Dalil yang terperinci” adalah dalil yang berkaitan dengan masalah tertentu, seperti firman Allah (al-Isra’: 32): وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا (Dan janganlah kalian mendekati zina), yang secara khusus berkaitan dengan keharaman zina. Ayat ini adalah dalil terperinci yang berkaitan dengan masalah tertentu, yaitu zina. Ayat tersebut berbeda dengan firman Allah (al-Isra’: 34): وَلاَ تَقْرَبُوا مَالَ الْيَتِيْمِ (dan janganlah kalian mendekati harta anak yatim), karena ayat ini adalah dalil terperinci bagi masalah terperinci yang lain, yaitu haramnya memakan harta anak yatim.[13]

Definisi Usul Fiqh

Usul Fiqh adalah ilmu yang membahas kaidah mendeduksi hukum syariat Islam dari dalil-dalilnya.[14] Ilmu Usul Fiqh adalah sekumpulan kaidah umum yang digunakan dalam mendeduksi hukum-hukum furu syariat dari dalil-dalil terperincinya.[15] Usul Fiqh adalah kaidah-kaidah dan dalil-dalil umum yang mengantarkan kepada fiqh.[16]

Kaidah-kaidah tersebut misalnya:

  1. Perintah berimplikasi kewajiban (al-amr yaqtadi al-wujub).
  2. Larangan berimplikasi keharaman (al-nahy yaqtadi al-tahrim).
  3. Sunnah berupa perbuatan Nabi saw adalah argumen atas manusia (al-sunnah al-fi‘liyyah hujjah ‘ala al-‘ibad).
  4. Kesepakatan berdasarkan pendapat ulama yang tidak diucapkan tidak dapat dijadikan argumen (al-ijma‘ al-sukuti la yuhtajj bihi).
  5. Perintah untuk mengerjakan sesuatu pada waktunya bukanlah perintah untuk mengerjakan sesuatu itu di luar waktunya (al-amr bi al-ada’ laysa amran bi al-qada’).[17]

Tujuan ilmu Usul Fiqh

  1. Menjelaskan karakter umum hukum syariat.
  2. Menjelaskan cara mendeduksi hukum dari dalilnya.
  3. Menjelaskan orang yang dapat mendeduksi hukum dan kompetensi yang harus dimiliki.
  4. Menjelaskan apa yang harus dilakukan oleh mujtahid jika menghadapi dalil-dalil yang bertentangan.[18]

Perbedaan antara Kaidah Usul dengan Kaidah Fiqh

Kaidah usul adalah pedoman atau alat untuk menyimpulkan hukum fiqh.

Kaidah fiqh adalah pernyataan umum yang memuat banyak hukum fiqh parsial.

Kaidah fiqh sama dengan nas yang memuat banyak makna. Misalnya, kaidah fiqh yang berbunyi, الأُمُورٌ بِمَقَاصِدِهَا, sama dengan sabda Rasulullah saw, إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّات.

Contoh lain, kaidah fiqh yang berbunyi, الْمَشَقَّةُ تَجْلِبُ التَّيْسِيْر, sama dengan firman Allah SWT (al-Baqarah: 286), لَا يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا.

Jadi, kaidah fiqh adalah pernyataan umum yang memuat bagian-bagian yang khusus, atau sesuatu yang disimpulkan dari ayat atau hadith yang umum seperti dalam dua contoh tersebut.

Pada contoh pertama, kita melihat bahwa pernyataan “Semua perbuatan itu dinilai berdasarkan tujuannya,” mencakup banyak masalah furu, baik dalam bidang ibadah, muamalah, serta kejahatan dan hukuman. Salat, zakat, jualbeli, menikah, bercerai, dan perbuatan lain, semuanya dinilai berdasarkan niat dan kehendak. Dengan kata lain, semuanya tercakup di dalam pernyataan tersebut.

Karena pernyataan tersebut mencakup banyak hal, maka dia disebut “kaidah”; dan karena yang tercakup di dalamnya adalah masalah hukum praktis, maka disebut dia “fiqh”. Kaidah fiqh berbeda dengan kaidah usul yang tidak memuat furu praktis, melainkan memuat alat untuk mengetahui furu praktis dari dalil syariat. Dengan belajar Ilmu Usul Fiqh, kita akan tahu apa yang dimaksud dengan alat tersebut.[19]

Untuk mendapat gambaran yang lebih jelas tentang Ilmu Usul Fiqh, kita perlu membahas urgensi atau nilai penting dari Ilmu Fiqh.

Urgensi Ilmu Fiqh

Ilmu Fiqh adalah ilmu yang sangat penting karena ia adalah “poros” semua ilmu lain. Semua ilmu mengarahkan temuannya ke muara yang bernama Ilmu Fiqh. Ilmu ini juga sangat penting karena dengan ilmu inilah manusia mengetahui hal-hal yang haram dan halal, hal-hal yang disukai dan dibenci Allah.

Ilmu Fiqh dapat diilustrasikan dengan mata air kehidupan yang menghilangkan dahaga jiwa manusia. Berkat ilmu ini kita mengetahui tata cara hidup yang membawa kepada kesejahteraan, mengetahui apa yang harus kita tinggalkan untuk menghindari bahaya, bencana, dan kesedihan. Berkat ilmu ini juga kita mengetahui cara menggunakan nikmat Allah di dunia dan meraih nikmat yang lebih sempurna di akhirat.[20]

Ilmu Fiqh adalah salah satu ilmu Islam yang paling luas, paling bercabang, dan paling tua sejarahnya. Islam telah melahirkan fuqaha yang tak terhitung jumlahnya. Banyak di antara mereka termasuk jenius dunia. Buku fiqh tak terhitung banyaknya dan banyak sekali yang sangat penting nilainya. Seorang faqih dapat membahas masalah apa saja yang mencakup semua aspek kehidupan manusia. Apa pun yang dibahas pada zaman sekarang dalam tema hukum, sudah dibahas, bahkan lebih mendalam, di dalam bab-bab fiqh.[21]

Hukum yang dibangun di atas fiqh memiliki karakter relijius karena hukum fiqh adalah hukum Tuhan. Fiqh Islam berbeda dengan hukum konvensional atau hukum buatan manusia yang sumbernya tidak memiliki karakter relijius. Di dalam hukum konvensional, tidak ada istilah halal dan haram. Hukum konvensional tidak berkaitan dengan akidah, tidak menyentuh batin dan hati nurani, dan hanya memperhatikan aspek material atau apa yang bisa dan tidak bisa dibuktikan di depan hakim.

Dalam fiqh Islam, jika orang yang berhutang sudah membayar, tapi tidak ada catatan dan saksi, lalu orang yang berpiutang mengingkari dan menuntut pembayaran lagi, maka hakim akan memutuskan orang yang berhutang harus membayar lagi. Tapi, dalam pandangan fiqh Islam, putusan ini tidak membuat harta yang diambil oleh orang yang berpiutang itu menjadi halal. Dia akan tetap dihukum pada Hari Akhirat oleh Allah. Jadi, di dalam fiqh Islam, ada pengawas batin bagi seorang muslim berupa akidah, dan iman yang mencegahnya memanipulasi hukum. Pengawasan moral ini tidak terdapat di dalam hukum konvensional.[22]

Fiqh adalah wujud nyata pengaruh Islam pada perbuatan manusia atau masyarakat. Maju mundurnya Islam dapat diukur dengan pasang surutnya aplikasi fiqh dalam kehidupan pribadi atau masyarakat. Mundurnya umat Islam pada saat ini sama dengan surutnya fiqh dari panggung kehidupan. Karena itu, kebangkitan umat Islam dan tantangan kebudayaan kontemporer menuntut para ulama untuk merumuskan formula tentang orisinalitas dan keterbukaan Islam.

Pada 7 abad yang lalu para leluhur kita hidup dalam kondisi budaya yang sama “edannya” dengan zaman kita. Pada saat itu, mereka hidup dalam tekanan serangan Pasukan Salib dan Pasukan Mongol. Leluhur kita melakukan kesalahan dalam menentukan pilihan budaya. Mereka memilih untuk menutup diri, melawan segala bentuk inovasi, dan membekukan gerak budaya dalam rangka menjaga identitas.

Sekarang, kita pun sedang didorong oleh Barat untuk memilih antara melupakan orisinalitas peradaban kita atau menutup diri dari peradaban Barat untuk menjaga keunikan atau kekhasan kepribadian kita. Pilihan pertama berarti menyerah pada budaya Barat. Pilihan kedua adalah seperti yang telah dilakukan oleh sejumlah orang yang berlebih-lebihan dalam menghormati hingga level mengkultuskan salaf.

Kedua alternatif itu harus kita tolak dan kita harus mengambil jalan tengah. Yaitu, kita harus semakin teguh memegang nilai-nilai orisinal sambil mengembangkan hal-hal yang berkaitan dengan perubahan budaya. Pilihan ini sulit karena akan menyinggung tema-tema yang dianggap sebagian orang sebagai kesakralan. Pilihan ini juga rumit karena menuntut pemahaman yang menggabungkan antara falsafah budaya modern dengan risalah ilahiyah serta khazanah umat Islam.[23]

Manusia hidup di alam semesta dan berhubungan dengan segala yang ada di dalamnya. Ada berbagai bentuk hubungan antara dirinya dengan isi alam semesta. Ada hubungan keluarga, masyarakat, atau negara. Berbagai jenis hubungan itu menuntut adanya pengaturan, pedoman, petunjuk, atau pengarahan terhadap perbuatan manusia agar setiap hubungan tersebut menghasilkan kebaikan dan kebahagiaan baik bagi individu, keluarga, masyarakat, atau negara. Pedoman, petunjuk, dan pengarahan bagi perbuatan manusia itulah yang disebut dengan hukum.[24]

Kita dapat melihat banyak contoh keharmonisan alam semesta pada satu makhluk tertentu atau antar sesama makhluk, juga contoh keharmonisan antara manusia dengan lingkungan di sekitarnya. Keharmonisan ini terjadi pada saat manusia mengikuti aturan. Tapi, di samping itu, kita dapat melihat juga contoh-contoh kekacauan di alam semesta yang disebabkan pelanggaran manusia terhadap aturan yang telah ditetapkan. Tidak salah jika dikatakan bahwa manusia adalah makhluk yang secara alamiah mesti mengikuti aturan demi menjaga keharmonisan.

Islam telah menetapkan hukum bagi semua aspek kehidupan manusia. Di samping hukum ibadah, Islam punya Hukum Pidana (jinayah) yang meliputi aturan tentang sanksi dan hukuman, macam-macam kejahatan seperti membunuh, berzina, menuduh orang lain berzina, mencuri, merampok, dll. Islam juga punya Hukum Privat (al-ahwal al-shakhsiyyah) yang meliputi aturan tentang anak-anak mulai dari mengandung, kelahiran, nasab, pengasuhan, nafkah, pendidikan, anak yatim, perkawinan, pertunangan, poligami, perceraian, warisan, dll. Lalu, Islam memiliki Hukum Ekonomi (mu‘amalah) yang meliputi aturan tentang jual beli, riba, sewa, hutang, wasiat, sita, dll.[25]

Untuk dapat mengetahui dan menerapkan hukum-hukum tersebut, tentu saja terlebih dulu kita harus mempelajarinya. Apakah mempelajarinya mudah atau tidak?[26]

Berdasarkan definisi-definisi yang sudah dikemukakan, Ilmu Fiqh adalah ilmu tentang hukum furu syariat yang berkaitan dengan perbuatan manusia baik dalam ibadah, muamalah, hubungan keluarga, kejahatan, hubungan sesama muslim, hubungan muslim dengan non muslim, damai dan perang, dll; apakah perbuatan itu wajib, haram, mandub, makruh, atau mubah; apakah perbuatan sah, rusak, dll, berdasarkan dalil tafsili yang ada di dalam al-Quran, Sunnah, dan dalil lainnya yang dijadikan rujukan.[27]

Al-Quran menetapkan bahwa “fatwa” dan “ijtihad” dari seorang faqih adalah kelanjutan dari penyampaian risalah Nabi saw dan kebalikan dari dusta atas Allah sebagaimana diterangkan dalam firman-Nya:

قُلْ آللهُ أَذِنَ لَكُمْ أَمْ عَلَى اللهِ تَفْتَرُوْنَ.[28]

Sejak awal sejarah Islam, di tengah umat Islam, memang sudah muncul kata lain yang pengertiannya mirip dengan kata fiqh, yaitu kata ijtihad. Kata ini akan kita bahas di dalam pelajaran lain. Sekarang, cukup dikatakan bahwa ketiga kata ini adalah sinonim.[29] Seorang faqih adalah seorang mujtahid dan seorang yang mampu memberikan fatwa setelah memenuhi syaratnya. Sedangkan selain faqih disebut muqallid (orangyang bertaklid).[30]

Untuk bisa mencapai derajat faqih, mujtahid, atau mufti, seseorang harus menguasai banyak ilmu, di antaranya:

  1. Sastra Arab, yaitu Nahwu, Saraf, Lughah, dan Balaghah. Sebab, bahasa al-Quran dan hadith adalah Bahasa Arab. Faqih tidak mungkin memahami al-Quran dan hadith tanpa memahami Bahasa Arab.
  2. Tafsir. Faqih harus merujuk kepada al-Quran, maka dia harus menguasai Ilmu Tafsir walaupun secara global.
  3. Logika. Karena semua ilmu yang berkaitan dengan pembuktian dan argumentasi butuh Ilmu Logika, maka faqih harus menguasai Ilmu Logika.
  4. Ilmu Hadith (Ilmu Dirayah Hadith, af). Faqih wajib mengetahui jenis-jenis hadith dan mengkajinya secara intensif.
  5. Ilmu Rijal, yaitu pengetahuan tentang kondisi para perawi hadith. Hadith-hadith yang termaktub di dalam kitab-kitab hadith tidak bisa diterima begitu saja, tapi harus diperiksa kondisi para perawinya. Ilmu Rijal adalah ilmu yang mengajarkan cara memeriksanya.
  6. Ilmu Usul Fiqh. Ini adalah ilmu terpenting bagi faqih, ilmu yang sangat menarik dan indah buah karya umat Islam.[31]

Menjadi ahli fiqh itu sulit. Tapi, setelah penjelasan tersebut, maka penting bagi kita untuk menetapkan bahwa kita suka mempelajarinya. Kita harus bersyukur kepada Allah bahwa Dia sudah memasukkan kita ke dalam golongan orang yang berkesempatan bahkan diharuskan mempelajari hukum-Nya. Sebab, sekadar masuk ke dalam golongan pelajar pun sudah merupakan nikmat yang sangat besar. Ada hadith yang menerangkan bahwa di hadapan ilmu manusia terbagi menjadi lima golongan, yaitu pengajar, ilmuwan, pelajar, pencinta ilmu, dan kelompok kelima yang akan hancur karena tidak termasuk salah satu dari keempat kelompok tersebut. Jadi, meskipun susah, meskipun ada banyak hambatan untuk mempelajari hukum-hukum ini, kita harus menghadapinya.


[1] ‘Abdullah bin Yusuf al-Juday‘, Taysir ‘Ilm Usul al-Fiqh, Beirut: Mu’assasah al-Rayyan, cet. I, 1418 H./1997 M., h. 11.

[2] ‘Abdullah bin Yusuf al-Juday‘, Taysir ‘Ilm Usul al-Fiqh, h. 11.

[3] Kata فقه disebut di dalam al-Quran sebanyak tujuh kali, yaitu di dalam QS. al-An‘am: 25, al-Isra’: 46, al-Kahf: 57, al-Tawbah: 122, al-Kahf: 93, Taha: 28, dan al-Munafiqun: 7. Muhammad Fu’ad ‘Abd al-Baqi, Mu‘jam Mufahras li Alfaz al-Qur’an, entri فقه.

[4] Mustafa Ahmad al-Zarqa, al-Fiqh al-Islami wa Madarisuh, Damaskus: Dar al-Qalam dan Beirut: Dar al-Shamiyyah, cet. I, 1416 H./1995 M., h. 9; Murtada Muttahhari, Madkhal ila al-‘Ulum al-Islamiyyah: Fiqh, terj. Hasan ‘Ali al-Hashimi, Beirut: Dar al-Wala’, cet. II, 1432 H./2011 M., h. 11-12.

[5] Mustafa Ahmad al-Zarqa, al-Fiqh al-Islami wa Madarisuh, h. 9-10.

[6] Murtada Mutahhari, Madkhal ila al-‘Ulum al-Islamiyyah: al-Usul, terj. Hasan ‘Ali al-Hashimi, Beirut: Dar al-Wala’, cet. I, 2009 M./1430 H., h. 11-13

[7] ‘Abdullah bin Yusuf al-Juday‘, Taysir ‘Ilm Usul al-Fiqh, h. 11.

[8] ‘Abd al-Hadi al-Fadli, Mabadi’ Usul al-Fiqh, h. 9.

[9] Di dalam buku al-Tashri‘ al-Islami Manahijuh wa Maqasiduh karya Muhammad Taqi al-Mudarrisi yang disebut-sebut sebagai Neo-Usul Fiqh, bab pertamanya justru bertema “Akal Dan Shariat”. Bab ini memuat empat subbab: (1) Pengertian akal, (2) Akal mengenalkan kepada syariat, (3) Syariat menyempurnakan akal, (4) Putusan-putusan rasional (al-ahkam al-‘aqliyyah).

[10] Mustafa Ahmad al-Zarqa, al-Fiqh al-Islami wa Madarisuh, h. 10; ‘Abdullah bin Yusuf al-Juday‘, Taysir ‘Ilm Usul al-Fiqh, h. 12.

[11] Mustafa Ahmad al-Zarqa, al-Fiqh al-Islami wa Madarisuh, h. 10-12. Al-Zarqa memasukkan hukum yang berkaitan dengan akhlak dan tata krama, disebut adab, ke dalam bagian fiqh.

[12] ‘Abd al-Hadi al-Fadli, Mabadi’ Usul al-Fiqh, h. 17.

[13] ‘Abdullah bin Yusuf al-Juday‘, Taysir ‘Ilm Usul al-Fiqh, h. 12-13.

[14] ‘Abd al-Hadi al-Fadli, Mabadi’ Usul al-Fiqh, h. 7.

[15] Muhammad Sulayman ‘Abd Allah al-Ashqar, al-Wadih fi Usul al-Fiqh li al-Mubtadi’in ma‘a As’ilah li al-Munaqashah wa Tamrinat, Kairo: Dar al-Salam, cet. II, 1425 H./2004 M., h. 7.

[16] ‘Abdullah bin Yusuf al-Juday‘, Taysir ‘Ilm Usul al-Fiqh, h. 13.

[17] Muhammad Sulayman al-Ashqar, al-Wadih, h. 7-8.

[18] Muhammad Sulayman al-Ashqar, al-Wadih, h. 9.

[19] ‘Abdullah bin Yusuf al-Juday‘, Taysir ‘Ilm Usul al-Fiqh, h.13-14.

[20] Muhammad ‘Ali al-Shahristani, Madkhal ila ‘Ilm al-Fiqh, Beirut: Dar al-Nasr, cet. I, 1416 H./1996 M., h. 5-6.

[21] Murtada Muttahhari, Fiqh, h. 11.

[22] Mustafa Ahmad al-Zarqa, al-Fiqh al-Islami wa Madarisuh, h. 13-15.

[23] Muhammad Taqi al-Mudarrisi, al-Tashri‘ al-Islami Manahijuh wa Maqasiduh, jilid 2, Teheran: Intisharat al-Mudarrisi, cet. I, 1411 H, h. 5-6.

[24] ‘Abd al-Hadi al-Fadli, Mabadi’ Usul al-Fiqh, h. 9-10.

[25] Lihat software Al Quran & Terjemahnya Versi 1.1, Rajab 1424 H./September 2003.

[26] Tentang kesulitan mempelajari Usul Fiqh, baca al-Qiyam al-Daruriyyah wa Maqasid al-Tashri‘ al-Islami, Fahmi Muhammad ‘Ulwan, Kairo: al-Hay’ah al-Misriyyah al-‘Ammah li al-Kitab, 1989, h. 14-17.

[27] Muhammad Sulayman ‘Abd Allah al-Ashqar, al-Wadih fi Usul al-Fiqh li al-Mubtadi’in ma‘a As’ilah li al-Munaqashah wa Tamrinat, Kairo: Dar al-Salam, cet. II, 1425 H./2004 M., h. 8-9.

[28] ‘Ali Khazim, Madkhal ila ‘Ilm al-Fiqh ‘inda al-Muslimin al-Shi‘ah, Beirut: Dar al-Ghurbah, cet. I, 1413 H./1993 M., h. 15.

[29] Murtada Mutahhari, al-Usul, h. 15.

[30] Muhammad Sulayman ‘Abd Allah al-Ashqar, al-Wadih, h. 9.

[31] Murtada Mutahhari, al-Usul, h. 13-14.

Penulis: bkiiainbanten

Ini adalah blog tidak resmi dari Jurusan Bimbingan dan Konseling Islam Fakultas Ushuluddin Dakwah Dan Adab IAIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s