BKI FUDA IAIN SMH BANTEN

Sentuhan-Sentuhan Psikologis Dalam Tema-Tema Ulum al-Quran

Tinggalkan komentar

Oleh: Muhammad Alif dan Ahmad Fadhil

Hampir semua Tema-tema Ulumul-Qur’an sarat dengan nuasa psikologis. Ya sentuhan-sentuhan psikologis Tuhan untuk ciptaan-Nya yang paling imut (ahsanut-taqwim).

Sebut saja — misalnya —

1. Aspek psikologis di balik misteri statemen Allah tentang Dzat-Nya yang berbau antrophomorfis dalam Al-Qur’an (ayat-ayat mutasyabihat),

 

Muhammad Alif:

Dokumen ini diperuntukkan bagi mahasiswa FUD jurusan BKI semseter II yang mengambil MK Ulumul-Qur’an, untuk diedit dan ditambahkan sebagai bahan porto folio tugas MK UQ.

Hampir semua Tema-tema Ulumul-Qur’an sarat dengan nuasa psikologis. Ya sentuhan-sentuhan psikologis Tuhan untuk ciptaan-Nya yang paling imut (ahsanut-taqwim).

Sebut saja — misalnya —

1. Aspek psikologis di balik misteri statemen Allah tentang Dzat-Nya yang berbau antrophomorfis dalam Al-Qur’an (ayat-ayat mutasyabihat),

2. Hikmah graduasi penurunan Al-Qur’an,

3. Diferensiasi karakteristik ayat-ayat Makkiyah-Madaniyah,

4. Kearifan lokal dan temporal pada asbab Nuzul Al-Qur’an dan nasikh-mansukh,

5. “Cari perhatian” (CAPER) Tuhan pada fawatih suwar,

6. Cara Tuhan mendidik dengan kisah dan perumpamaan (al-qishash wal amtsal),

7. Eksplorasi intelektual atas misteri asistematika/random topik dalam Al-Qur’an (munasabat al-Qur’an)

8. De el el.

Selamat mengedit dan memperkaya dokumen ini!

 

SEKILAS TENTANG ULUM AL-QUR’AN

oleh Ahmad Fadhil

 

Apakah ‘Ulum al-Quran itu?

Muhammad Baqir al-Sadr (al-Madrasah al-Qur’aniyyah, Qum: Markaz al-Abhath wa al-Dirasat al-Takhassusiyyah li al-Shahid al-Sadr, cet. III, 1426 H., h. 211-213) mengatakan:

‘Ulum al-Quran (ilmu-ilmu al-Quran) adalah semua pengetahuan dan kajian yang berkaitan dengan al-Quran. Ilmu-ilmu berbeda satu dengan lainnya dikarenakan perbedaan aspek al-Quran yang dikajinya.

Baqir al-Sadr menjelaskan bahwa al-Quran dapat ditinjau dari berbagai sudut pandang dan masing-masing sudut pandang ini menjadi objek bagi kajian yang khusus.

Salah satu sudut pandang yang terpenting adalah al-Quran sebagai ucapan yang menunjukkan makna. Dengan karakter ini al-Quran menjadi objek bagi Ilmu Tafsir.

Ilmu Tafsir mencakup kajian terhadap al-Quran sebagai ucapan yang memiliki makna, lalu makna-maknanya dijelaskan, keterangan tentang pengertian-pengertian dan tujuan-tujuannya disampaikan secara detail.

Karena itu, Ilmu Tafsir adalah satu di antara ‘Ulum al-Quran yang paling penting dan menjadi asas bagi yang selainnya.

Al-Quran juga dapat ditinjau sebagai salah satu sumber penetapan hukum. Dengan sudut pandang ini, al-Quran menjadi objek bagi Ilmu Ayat-Ayat Hukum, yaitu sebuah ilmu yang khusus mengkaji ayat-ayat hukum di dalam al-Quran dan meneliti jenis hukum yang mungkin ditarik setelah dikomparasikan dengan semua dalil shar’i lainnya, yaitu Sunnah, Ijma, dan Akal.

Al-Quran dapat juga dipelajari sebagai indikator kenabian Nabi Muhammad saw. Dengan demikian, al-Quran menjadi objek Ilmu I‘jaz al-Quran, yaitu ilmu yang menerangkan bahwa al-Quran adalah wahyu ilahi yang dibuktikan dengan atribut dan karakteristik yang membedakannya dari ucapan manusia.

Lalu, al-Quran dapat dipelajari sebagai teks berbahasa Arab yang mengikuti aturan Bahasa Arab sehingga menjadi objek Ilmu I‘rab al-Quran dan Ilmu Balaghah al-Quran. Kedua ilmu ini menerangkan keselarasan teks al-Quran dengan kaidah-kaidah bahasa Arab dalam hal nahwu dan balaghah.

Al-Quran dapat dikaji dalam aspek keterkaitannya dengan peristiwa-peristiwa tertentu pada masa Nabi saw sehingga menjadi objek Ilmu Asbab al-Nuzul.

Al-Quran dapat dipelajari dengan memperhatikan lafalnya yang tertulis sehingga menjadi objek Ilmu Rasm al-Quran, ilmu yang mengkaji tulisan dan cara penulisan al-Quran.

Al-Quran dapat juga dipelajari sebagai ucapan yang dibaca sehingga menjadi objek Ilmu Qiraah, ilmu yang mengkaji penetapan huruf dan harakat kata-kata al-Quran dan cara membacanya.

Serta ilmu-ilmu lain yang berkaitan dengan al-Quran.

Baqir al-Sadr menegaskan, “Semua ilmu itu sama-sama mengambil al-Quran sebagai objek kajian dan berbeda hanya dalam aspek dari al-Quran yang diperhatikannya.”

 

KISI-KISI ASPEK PSIKOLOGI PADA TEMA SEJARAH PENURUNAN AL-QUR’AN DAN KODIFIKASINYA :

  1. Hikmah psikologis penurunan secara berangsur-angsur, bagi Nabi SAW, bagi umat Islam generasi awal dan bagi umat Islam generasi berikutnya
  2. Hikmah rekayasa Allah menjadikan sejarah kemanusiaan pada masa Nabi SAW, sebagai momentum untuk menurunkan ayat-ayat tertentu
  3. Analisis psikologis terhadap motiv Umar ra. menggagas pengumpulan catatan-catatan wahyu Al-Qur’an, dan motiv Utsman ra. mengkodifikasi catatan-catatan wahyu dalam satu versi mushaf serta membakar mushaf-mushaf versi sahabat lainnya

 

Respon:

 

Ahmad Fadhil:

Mengapa al-Quran turun secara bertahap?

Baqir al-Sadr ((al-Madrasah al-Qur’aniyyah, h. 222-224) menjelaskan sentuhan psikologis dari turunnya al-Quran secara bertahap (tadarruj, graduatif). Dia mengatakan:

Al-Quran turun secara bertahap selama 23 tahun, yaitu pada rentang waktu Nabi saw bersama dengan umatnya sejak beliau diutus menjadi rasul hingga wafat. Beliau diutus menjadi rasul ketika berumur 40 tahun, tinggal di Mekkah dan mendapatkan wahyu selama 13 tahun, lalu hijrah ke Madinah dan tinggal di sana selama 10 tahun. Al-Quran turun terus menerus kepada beliau sampai beliau wafat pada usia 63 tahun.

Turunnya al-Quran secara bertahap adalah keistimewaan al-Quran yang membedakannya dengan kitab-kitab suci lainnya. Turunnya al-Quran secara bertahap ini memberikan pengaruh besar dalam mewujudkan tujuan-tujuan penurunannya, menyukseskan dakwah, dan membangun umat. Selain itu, turunnya al-Quran secara bertahap juga merupakan salah satu i‘jaz al-Quran. Semua ini dapat terlihat lebih jelas dalam poin-poin berikut ini.

Pertama, Nabi saw dan dakwah Islam selama 23 tahun mengalami kondisi-kondisi yang berbeda-beda seiring dengan bencana-bencana yang menerpanya, kesulitan-kesulitan yang menghadangnya, kemenangan yang diperolehnya, dan kemajuan yang diraihnya. Kondisi-kondisi seperti ini dialami oleh semua orang dan akan mempengaruhi jiwa, kata-kata, dan perbuatan mereka. Mereka juga akan terpengaruh faktor-faktor yang mempengaruhi kondisi-kondisi tersebut. Tapi, al-Quran yang mengiringi tahun-tahun tersebut, yang berisi kondisi-kondisi yang berbeda-beda, yaitu kuat dan lemah, sulit dan mudah, kalah dan menang; al-Quran yang turun secara bertahap pada tahun-tahun tersebut selalu berada pada garis yang luhur dan tidak terpengaruh oleh jenis reaksi manusiawi apa pun yang dipengaruhi oleh kondisi-kondisi tersebut.

Ini adalah salah satu fenomena i‘jaz al-Quran yang membuktikan penurunannya dari Tuhan Yang Mahaluhur dan Maha Bijaksana. Al-Quran tidak akan mendapatkan bukti ini kalau bukan karena penurunannya secara bertahap dalam situasi dan kondisi yang berbeda-beda.

Kedua, dengan diturunkan secara bertahap, al-Quran menjadi bantuan maknawi yang kontinyu bagi Nabi saw. Allah SWT berfirman (QS. Al-Furqan: 32), “Orang-orang kafir berkata sekiranya al-Quran ini diturunkan sekaligus. Demikianlah, agar Kami teguhkan hatimu dengannya dan Kami membacakannya secara tartil.”

Jika wahyu yang baru terus ada dalam setiap peristiwa, maka itu lebih kuat pengaruhnya pada hati dan lebih membuktikan perhatian terhadap orang yang diutus. Turunnya wahyu secara bertahap berimplikasi malaikat terus datang kepadanya, memperbarui janji dengannya, menguatkan harapannya akan kemenangan, dan membuatnya dapat memandang ringan segala bencana dan kesulitan yang terus menghadang.

Karena itu, kita mendapati al-Quran berkali-kali menjadi penghibur bagi Nabi saw, meringankan kesulitan-kesulitan yang dihadapinya setiap kali beliau terlilit bencana, terkadang menyuruh beliau dengan tegas untuk bersabar seperti dalam QS al-Muzammil: 10, “Bersabarlah atas yang mereka katakan dan tinggalkanlah mereka dengan cara yang baik,” dan terkadang melarang beliau bersedih seperti dalam QS. Yunus: 75, “Janganlah perkataan mereka itu membuatmu bersedih. Sesungguhnya keagungan itu semuanya milik Allah.”

Al-Quran mengingatkan Nabi saw akan sejarah para nabi ulu al-‘azm yang terdahulu dalam firman-Nya QS. al-Ahqaf: 35, “Bersabarlah seperti sabarnya para rasul ulu al-‘azm.” Terkadang al-Quran meringankan Nabi saw dan menerangkan kepadanya bahwa orang-orang kafir tidak mendeskreditkan dirinya dan tidak menuduhnya  berdusta, melainkan mereka menentang kebenaran karena kesombongan seperti halnya semua orang yang menentang kebenaran di semua zaman seperti dalam firman-Nya QS al-An‘am: 33, “Sungguh Kami tahu bahwa orang-orang yang mengatakan itu membuatmu bersedih. Mereka tidak menganggapmu berdusta, tapi orang-orang yang zalim itu ingkar terhadap ayat-ayat Allah.”

Ketiga, al-Quran bukan buku yang ditulis untuk pengajaran dan penelitian ilmiah, melainkan untuk proses pengubahan manusia secara menyeluruh dalam akal, ruh, dan kehendaknya, serta untuk pembangunan umat dan peradaban. Usaha ini tidak mungkin terjadi sekaligus, melainkan usaha yang bertahap. Karena itu, al-Quran pun harus turun secara bertahap untuk mengatur proses pembangunan tersebut, peletakan pilarnya satu per satu, serta pencabutan akar-akar kejahiliyahan dengan ulet dan bijaksana.

Dengan dasar keuletan dan kebijaksanaan dalam proses perubahan ini, kita bisa melihat Islam bertahap dalam menyelesaikan masalah-masalah yang mengakar di dalam jiwa manusia atau masyarakat, melawannya dalam periode-periode sampai dapat mencabutnya hingga ke akar-akarnya. Pengharaman arak dan penahapan yang dilakukan al-Quran dalam menyatakan hal tersebut adalah salah satu contohnya. Jika al-Quran turun sekaligus dengan segala hukum dan masukan barunya, tentu orang-orang akan meninggalkannya dan tentu al-Quran takkan berhasil melakukan kudeta besar dalam sejarah seperti yang telah dilakukannya.

 

KISI-KISI ASPEK PSIKOLOGI PADA TEMA RASMUL-QUR’AN :

  1. Huruf Siryani tanpa harakat dan titik pada mushaf Qur’an pertama; Penambahan tanda harakat (al-syakl); Penambahan tanda titik (al-i’jam) -> Manusia memerlukan simbolisasi dan differensiasi dalam proses penyimpanan memori pengetahuan
  2. Keengganan sebagian ulama’ untuk menambahkan tanda baca pada teks asli mushaf Al-Qur-an -> Manusia cenderung mempertahankan orisinalitas dan menjauhi efek buruk dari hal-hal yang baru.
  3. Aspek tauqifiy rasm al-Qur’an -> analisis psikologis atas probabilitas Nabi SAW tidak buta aksara.

 

Respon :

 

KISI-KISI ASPEK PSIKOLOGI PADA TEMA QIRA’AT AL-QUR’AN :

  1. Dalam banyak kasus Nabi SAW mentolerir Al-Qur’an dibaca secara berbeda dari bacaan defaultnya pada orang-orang tertentu atau pada suku/kabilah tertentu.
  2. Ketenangan hati antara membaca qira’at mutawatirah [default], qira’at ahadiyah shohihah dan qiro’at syadzah.
  3. Aspek psikologis tentang sebab kenapa qira’at-qira’at yang semestinya temporal dan khusus untuk konsumsi individu tertentu, tapi dikejawantahkan oleh para Imam qurra’?

Respon :

 

KISI-KISI ASPEK PSIKOLOGI PADA TEMA MUHKAM-MUTASYABIH AL-QUR’AN :

  1. Analisis psikologis atas keinginan Allah untuk menjelaskan Dzat-Nya yang maha tak terbatas dengan media kata-kata/bahasa yang bisa dimengerti oleh manusia yang pengetahuannya juga sangat terbatas
  2. Analisis atas warning Allah kepada manusia dalam menyikapi ayat-ayat mutasyabihat
  3. Ayat muhkamat dan proses mengetahui, tinjauan kognitif manusia

 

Respon :

 

Ahmad Fadhil:

Aspek psikologis di balik misteri statemen Allah tentang Dzatnya yang berbau antrophomorfis.

Tuhan mengenalkan dirinya dengan pernyataan-pernyataan yang bisa dipahami oleh manusia. Tuhan ingin Diri-Nya dimengerti. Bukan karena Tuhan butuh dimengerti. Yang butuh pengertian tentang Tuhan adalah manusia. Tuhan bukan materi. Laysa kamithlihi shay’. Manusia–kalau salah bilang semua manusia, maka saya katakan kebanyakan manusia–susah mengerti sesuatu yang bukan materi. Manusia mengenali sesuatu dengan mengenali bandingannya, tandingannya. Tuhan pun pakai pernyataan antrophomorfis.

Konselor diharapkan oleh konseli untuk dan dipercaya dapat memberi pencerahan, nasihat, arahan, bimbingan. Konselor harus bicara dan menyampaikan pencerahan, nasihat, arahan, dan bimbingan itu dengan bahasa yang dipahami oleh konseli. Kallimu al-nas ‘ala qadri ‘uqulihim. Berbicaralah dengan orang lain dengan menggunakan kata-kata, ungkapan, susunan kalimat, dan gaya bahasa yang dipahami akal mereka. Konselor harus mampu merasakan bahwa suatu masalah tertentu sedang dihadapi oleh konselinya dan solusinya haruslah solusi tertentu yang bisa dipahami oleh konseli.

Mustafa al-Siba’i di dalam buku Hakadha ‘Allamatni al-Hayah h. 15 mengatakan, “… Yang penting bagiku adalah tampil di hadapan pembacaku sebagai seorang saudara yang memberikan bimbingan dan nasihat dengan mengatakan hal-hal yang mereka pahami dan tidak menyusahkan mereka untuk merenungi apa yang mereka baca.” Sebagai konselor, penting bagi Anda untuk tampil di hadapan klien Anda sebagai orang yang memberikan pencerahan dengan kata-kata yang mereka pahami. Janganlah Anda menambah kesulitan konselee dengan kesulitan baru: mencerna kata-kata Anda.

Penulis: bkiiainbanten

Ini adalah blog tidak resmi dari Jurusan Bimbingan dan Konseling Islam Fakultas Ushuluddin Dakwah Dan Adab IAIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s