BKI FUDA IAIN SMH BANTEN

Integrasi Islam Dengan Sains Dalam Kurikulum Jurusan Bimbingan dan Konseling Islam

Tinggalkan komentar

Oleh: Ahmad Fadhil

 

The best way to escape from a problem is to solve it.

(Brendan Francis)[1]

 

Pendahuluan

Konseling adalah penemuan abad 20 yang hebat. Kita hidup di dunia yang rumit dan sibuk. Di dunia ini, orang sering mendapatkan pengalaman yang sulit diatasi. Sebagian tetap melanjutkan hidup, sebagian berhenti oleh peristiwa atau situasi yang tidak dapat diselesaikan. Pada saat seperti itu, sebagian menemukan jalan keluar dengan berbicara dengan keluarga, teman, tetangga, ahli agama, atau dokter keluarga. Tapi kadang-kadang nasihat orang-orang tersebut tidak mencukupi. Banyak orang terlalu malu atau segan untuk memberitahu apa sesungguhnya yang mengganggunya. Atau dia tidak memiliki orang yang tepat untuk diajak bicara.[2]

Pada kondisi ini, menggunakan jasa konseling adalah pilihan yang sangat berguna. Menggunakan jasa konseling, menurut John Mecleod, tersedia cukup cepat dan dengan biaya yang sedikit atau tanpa biaya sama sekali. Konselor tidak mendiagnosa atau menilai kliennya (konseli). Dia hanya mendengarkan dan bekerja bersama klien untuk menemukan cara terbaik untuk memahami dan memecahkan masalah. Untuk kebanyakan orang, antara satu sampai enam pertemuan dengan seorang konselor sudah cukup untuk membuat perubahan yang berarti atas masalah yang mengganggu mereka. Saat-saat bersama mereka sangat berharga.[3]

Kini bimbingan dan konseling telah berkembang hingga memiliki dasar, teori, metode, pendekatan, dan bidangnya tersendiri. Buah perkembangan ini, yaitu pelayanan bimbingan dan konseling, harus dapat diakses oleh seluruh individu agar mereka dapat mewujudkan kebahagiaannya di segala bidang, baik pendidikan, kepribadian, maupun profesi. Setiap orang harus merasa siap dan butuh kepada bimbingan dan konseling.[4] Pada saat ini institusi pendidikan adalah pengguna terbesar pelayanan konseling di seluruh dunia karena pendidikan modern memfokuskan perhatian pada kondisi kekinian siswa dengan mempertimbangkan masa lalunya dalam rangka merencanakan masa depannya yang menempatkan bimbingan dan konseling sebagai bagiannya yang sangat krusial.[5]

Patut disayangkan bahwa pelaksanaan pengasuhan di sekolah berupa bimbingan dan konseling di Banten belum sesuai dengan harapan. Banyak sekolah yang tidak memiliki guru bimbingan dan konseling yang kompeten, padahal problem kesulitan belajar dan “kenakalan” siswa dapat diatasi dengan pendekatan bimbingan dan konseling dengan langkah-langkah yang terprogram.[6]

Profil alumni Jurusan Bimbingan dan Konseling Islam sebagai “Akademisi yang berkompetensi menjadi konselor profesional dengan bekal penguasaan teori dan pendekatan modern disertai dengan penghayatan bahwa Islam adalah solusi lengkap bagi kesuksesan manusia sebagai individu maupun anggota masyarakat” tak pelak lagi memiliki prospek karir alumni BKI sangat cerah. Mereka dapat berkarir sebagai guru BP/BK, konselor mahasiswa,[7] konselor pada instansi pemerintah[8] dan swasta, konselor mandiri, trainer, motivator,[9] dll. Karena itu, jurusan di perguruan tinggi yang “memproduk” akademisi seperti ini adalah jurusan yang sangat prospektif baik dalam skala lokal, nasional, maupun internasional.

Di Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN “SMH” Banten telah berdiri Jurusan Bimbingan dan Konseling Islam.[10] Wajar sekali jika terungkap pertanyaan apakah kurikulum Jurusan kompatibel dengan visi misi itu?

 

Makna Bimbingan dan Konseling

Counsel artinya nasihat. “To take councel” berarti berembuk, membicarakan, meminta nasihat. Councel juga berarti menganjurkan, menasihatkan. “He counseled caution in the matter” berarti dia menganjurkan supaya berhati-hati dalam hal itu. Sedangkan counseling berarti pemberian nasihat, perembukan, penyuluhan dan counsellor berarti penasihat.[11] Kata ini sepadan dengan kata nasihah dan mishwarah dalam bahasa Arab.[12] Beberapa buku menggunakan kata al-irshad sebagai padanan dari konseling.[13]

Di dalam hadith diterangkan bahwa al-din al-nasihah, agama adalah nasihat. Karena itu, aktivitas bimbingan dan konseling dilakukan oleh para juru dakwah sebagai bagian integral dari sikap relijius. Ini menunjukkan bahwa aktivitas bimbingan (guidance, al-tawjih) dan penyuluhan (counseling, al-irshad, al-istishar) sudah ada sejak dulu, hanya saja tanpa membawa sifat ilmiah.[14] Di dalam al-Quran dijelaskan bahwa  salah satu fungsi utama kenabian adalah al-balagh al-mubin, memberikan bimbingan yang sangat jelas. Karena itu, aktivitas bimbingan dan konseling dilakukan sebagai pekerjaan yang sakral dan profetis.[15]

Al-Farkh dan al-Tayyim mendefinisikan konseling sebagai proses menolong seseorang untuk memahami masa kininya dan menyiapkan dirinya untuk masa depan dengan tujuan menempatkannya di posisi yang tepat baginya dan masyarakat dan membantunya mewujudkan keharmonisan personal, edukasional, profesional, dan sosial sehingga mewujudkan kesehatan mental dan kebahagiaan bersama dirinya dan orang lain di lingkungan sekitarnya.[16]

Sebagai bagian dari pelayanan kesehatan mental, bimbingan dan konseling terkait erat dengan ilmu psikologi. Psikologi secara umum mempelajari perilaku yang normal dan menyimpang. Ini merupakan materi terpenting bagi konselor sebagai kompetensi profesionalnya. Psikoterapi dibutuhkan oleh konselor untuk mengenali orang yang sehat dan sakit secara psikologis serta mengetahui jenis-jenis goncangan kejiwaan. Selain itu, konselor juga harus memahami psikologi sosial, industri, perkembangan, patogenis/abnormal, dan pendidikan.[17]

 

Makna Islam di dalam “Jurusan Bimbingan dan Konseling Islam”

Kurikulum Jurusan mengintegrasikan nilai Islam yang terkandung dalam al-Quran dan Hadith yang terekam di dalam khazanah keilmuan Islam dengan temuan-temuan sains modern baik dalam bidang psikologi, sosiologi, manajemen, pendidikan, dan kepemimpinan pada umumnya, maupun dalam bidang bimbingan dan konseling pada khususnya.

Mata kuliah tidak memisahkan antara modern dan Islam sehingga tidak ada mata kuliah psikologi modern yang dihadapkan dengan psikologi Islam, sosiologi modern dengan sosiologi Islam, filsafat modern dengan filsafat Islam. Setiap mata kuliah mengintegrasikan kemodernan dan keislaman. Di dalam psikologi umum dikaji psikologi modern dan Islam. Di dalam sosiologi umum dikaji sosiologi modern dan Islam. Dan di dalam filsafat umum dikaji filsafat modern dan Islam.

Mengapa perlu melirik produk Barat? Manusia yang terlahir di mana saja dan kapan saja memiliki fitrah yang sama.[18] Pada saat ini fitrah manusia di Barat telah melahirkan buah peradaban yang kaya dan beragam nilainya. Mereka berhasil memenej diri sehingga kesuksesan tak jarang mereka raih meskipun tidak ada tuntutan wahyu di hadapan mereka. Mereka menggali semua potensi yang diberikan Allah sehingga mereka sukses mewujudkan tujuan-tujuan duniawi mereka.[19]

Sementara itu, kondisi dekadensi pemikiran di negeri-negeri Islam sangat mengenaskan.[20] Di hadapan kita ada wahyu, tapi kita tidak menjadikannya penuntun. Selain membelakangi wahyu, kita juga menelantarkan potensi dan kemampuan kita, sehingga berlaku pada diri kita firman Allah, “Sesungguhnya Allah tidak mengubah nasib suatu kaum sampai mereka mengubah diri mereka sendiri.”[21]

Karena itu, kita tidak dapat mengingkari usaha luar biasa dan prestasi besar Barat dalam bidang psikologi, sosiologi, manajemen, kepemimpinan, dan lain-lain. Jika kita menggali khazanah Islam yang sangat perlu ditata kembali, maka kita dapati seolah-olah pencapaian Barat dan pesan-pesan dari khazanah kita tersebut berasal dari sumber yang sama. Lebih dari itu, banyak buah pemikiran Barat yang dapat memperoleh penyempurnaan dari khazanah Islam dengan dilakukannya kajian integratif antara keduanya.[22]

Malik B. Badri di dalam bukunya The Dilemma of Muslim Psychologysts, seperti dikutip Bastaman, melihat berlangsungnya penjiplakan besar-besaran tanpa batas oleh para psikolog muslim terhadap teori dan aplikasi psikologi Barat yang hampir semuanya tidak sesuai dengan ideologi dan lingkungan sosial-budaya Muslim. Behaviorisme misalnya,[23] yang menganggap manusia sebagai makhluk hedonis dan bersikap mementingkan ke-kini-an-dan-ke-di-sini-an (here and now). Begitu juga konsep Id-Ego-Superego dan Oedipus Complex dari Psikoanalisis yang lebih sebagai mitos daripada hasil penelitian ilmiah. Begitu juga konsep Freud mengenai fenomena keagamaan sebagai ilusi, neurosis, dan obsesi masal yang menghambat perkembangan kecerdasan, dan relasi dengan Tuhan yang tidak lain sublimasi hubungan antara anak dengan ayahnya. Begitu juga dalam Psikologi Pendidikan, Psikometri, Psikologi Anak, dan Psikoterapi.

Meskipun demikian, menurut Badri, masyarakat muslim tidak mungkin mengisolasi diri dari pengaruh budaya Barat. Ada hal-hal positif dari psikologi Barat yang bermanfaat bagi kemajuan. Karena itu, para cendekiawan muslim justru perlu memahami teori-teori (psikologi) Barat, tapi secara kritis dengan mengupasnya dari sudut pandang ilmiah dan Islami. Dia menyatakan bahwa metodologi ilmiah, sistem, metode observasi, eksperimen, dan teknik pengukuran (intelegensi, sikap, gangguan perilaku) sebagai produk ilmiah Barat perlu dikuasai. Bahkan, beberapa teori psikologi Barat perlu dihargai, seperti Psikologi Analitik CG Jung yang memandang positif fungsi agama, psikologi Humanistik yang menghargai keunikan pribadi, tanggung jawab, dan kemampuan mengaktualisasi diri; Logoterapi Viktor E Frankl bahkan dianggap Badri sebagai pendekatan psikologi yang banyak kesesuaiannya dengan prinsip-prinsip al-Quran tentang manusia.[24]

Menurut Bastaman, dilema psikolog muslim yang diungkap Badri ini tidak termasuk dalam Avoidance-Avoidance Conflict (harus memilih satu di antara dua pilihan yang bobotnya setara dan sama-sama tidak kita inginkan), tapi termasuk dalam Double Approach-Avoidance Conflict (harus memilih satu di antara dua pilihan yang masing-masing memiliki sekaligus hal-hal yang kita inginkan dan hal-hal yang tidak kita inginkan). Maksudnya, psikologi sudah mantap sebagai sains, tapi teori-teorinya banyak yang tidak benar menurut tolak ukur Islam, sedangkan al-Quran (dan al-Hadith)[25] isinya mahabenar tetapi kebanyakan belum terumus sesuai syarat keilmuan.[26]

Tentang integrasi Islam dan sains modern dalam psikologi Mustafa Mahmud menulis buku yang berjudul ‘Ilm Nafs Qur’ani Jadid.[27] Di cover belakang buku ini disebutkan bahwa buku ini menunjukkan kepada apotik yang menyediakan semua penyakit jiwa dan menyembuhkan semua penyakit akal dan hati. Apotik tersebut ada di dalam al-Quran. Mahmud mampu, di dalam karyanya ini, mengungkap bagi kita ilmu jiwa yang komprehensif dan integral yang ada di dalam al-Quran, yang merupakan lawan dari psikologi yang disusun oleh orang Yahudi seperti Freud dan Adler yang berbasi pada sampah, penyimpangan, kecacatan, kompleks, dan syahwat.

Mahmud menjelaskan basis psikologi qurani, yaitu kepercayaan kepada Allah Yang Maha Esa. Mahmud menjelaskan makna psikologis dari kepercayaan kepada Allah. Mempercayai bahwa Allah itu ada berarti percaya bahwa keadilan, kasih sayang, dan ampunan itu ada. Berarti hati akan tenang, jiwa akan tenteram, keresahan akan hilang, dan hak pasti akan diterima oleh pemiliknya. Berarti  air mata takkan menetes percuma, kesabaran takkan berlalu tanpa hasil, kebaikan tidak akan tidak ada ganjarannya, kejahatan takkan luput dari hukuman, dan kejahatan takkan hilang tanpa pembalasan.

Mempercayai bahwa Allah itu ada berarti percaya bahwa kemurahanlah yang mengendalikan alam semesta dan bukannya kebakhilan. Sang Mahamulia tidak akan mengambil apa yang telah Dia berikan. Jika Allah telah memberikan kita kehidupan, maka dia tidak akan mengambilnya dengan kematian. Kematian bukanlah diambilkembalinya kehidupan. Kematian adalah peralihan ke kehidupan lain.

Mempercayai bahwa Allah itu ada berarti percaya bahwa tidak ada kesia-siaan di alam semesta. Ada hikmah dalam segala sesuatu. Ada hikmah setelah segala sesuatu. Ada hikmah di dalam penciptaan segala sesuatu. Di dalam kedukaan ada hikmah. Di dalam sakit ada hikmah. Di dalam siksa ada hikmah. Di dalam penderitaan ada hikmah. Di dalam kejelekan ada hikmah. Di dalam kegagalan ada hikmah. Di dalam ketidakmampuan ada hikmah. Di dalam kemampuan ada hikmah.

Bukankah Tuhan telah berfirman kepada kita, “Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.” Kesempitan melilit dan di sela-selanya terdapat kelenggangan. Adakah berita gembira yang lebih melegakan daripada berita gembira ini? Karena Tuhan itu Maha Esa, maka tidak ada Tuhan lain di alam semesta.[28]

Selanjutnya Mahmud menjelaskan struktur psikis seorang mukmin. Orang-orang yang beriman adalah orang-orang yang lembut, penyabar, tawadu, toleran, dan pemalu. Allah berfirman di dalam QS. Al-Furqan: 63, “Mereka berjalan di muka bumi dengan hina. Jika orang-orang bodoh menyapa mereka, mereka berkata, ‘Salam.’”

Mereka dapat dikenali dengan ciri mampu berdiam diri dalam waktu yang lama, merenung secara berkesinambungan, merendahkan suara, serta menghindari pertengkaran, keributan, dan saling mencaci-maki.

Ciri mereka lainnya adalah ulet (al-ta’anni), profesional (al-itqan), dan perpeksionis (al-ihsan) dalam mengerjakan tugas. Mereka juga santun dan akrab (damathah, nice, friendly), berperangai lembut, jujur, loyal, dan moderat dalam menyikapi segala sesuatu.

Sifat-sifat ini, simpul Mahmud, terhimpun dalam satu kata: tenang. Seorang mukmin adalah orang yang tenang. Tenang adalah sifat yang menunjukkan seseorang mampu menguasai, mengendalikan, dan mengatur kerajaan batinnya; menunjukkan keharmonisan elemen-elemen jiwa dan ketundukannya kepada pemiliknya.

Di Indonesia, tutur Djamaluddin Ancok, anggota Konsorsium Psikologi Indonesia, Hanna Djumhana Bastaman adalah pemikir paling aktif dalam bidang Psikologi Islami. Bastaman menulis buku berjudul Integrasi Psikologi Dengan Islam: Menuju Psikologi Islami.[29] Di dalam buku ini Bastaman mencoba membandingkan asas-asas psikologi dengan asas-asas Islam mengenai manusia untuk melihat kesamaan, kesejalanan, saling menunjang dan melengkapi, atau bahkan saling menyangkal di antara keduanya berpijak pada gagasan mengintegrasikan psikologi dengan Islam dengan tujuan menjajagi kemungkinan mengembangkan corak psikologi yang dilandasi oleh konsep manusia menurut ajaran Islam.[30]

Menurut Ancok, pokok pemikiran Psikologi Islami Bastaman adalah upaya memberi wawasan Islam pada konsep-konsep psikologi modern. Pendekatan baru dalam khazanah ilmu pengetahuan tidak dimlai dari nol, melainkan dari penemuan terakhir. Karena itu, psikologi Islam harus memanfaatkan hasil-hasil pemikiran ilmuwan psikologi. Teori-teori psikologi diakui kebenarannya dengan catatan kekurangan di sana sini, lalu memperbaikinya dengan konsep-konsep Islam.

Misalnya, Bastaman mengakui konsep antroposentris yang dibanyak dipakai oleh Psikologi Himanistik, yaitu aliran yang mencoba melihat keunggulan potensial manusia dan berupaya mengaktualisasikannya. Tapi, menurut Bastaman, pandangan yang terlalu positif dari aliran ini terhadap manusia, sehingga menganggap manusia sebagai penentu kehidupannya sendiri, dapat menyesatkan, yaitu menjadikan manusia berperan sebagai Tuhan bagi dirinya sendiri. Karena itu, Bastaman mengusulkan istilah baru, yaitu antropo-religiosus-sentris.

Contoh lain, saat membahas struktur kepribadian manusia versi Psikologi Islami, Bastaman mengintegrasikan tiga pandangan aliran psikologi modern, yaitu Psikoanalisis (alam sadar, alam prasadar, dan alam tak sadar), aliran Perilaku (dimensi kognisi, dimensi afeksi, dimenasi konasi, dan dimensi psikomotor), dan Psikologi Humanistik (dimensi somatis, dimensi psikis, dan dimensi noetik), lalu menempatkan ruh sebagai dimensi yang menaungi dimensi-dimensi tersebut.[31]

Di dalam buku ini Bastaman menjelaskan gambaran awal tentang hal-hal pokok dalam wacana psikologi Islami; mengekplorasi salah satu ide pokok yang berkaitan dengan “upaya menghubungkan kembali sains dengan agama” dengan melakukan upaya similarisasi, pararelisasi, komplementasi, komparasi, induktifikasi, dan verifikasi; memperkenalkan konsep manusia versi ilmuwan muslim dan ilmuwan-ilmuwan modern, karena konsep manusia adalah konsep dasar dalam psikologi, tak terkecuali Psikologi Islami; menawarkan konsep praktis yang menjawab bagaimana pribadi yang lebih sehat dalam perspektif Islam lewat pembahasan tentang kesehatan mental, dzikrullah, tinjauan psikologis, dsb; juga pendekatan praktis yang diarahkan kepada masyarakat umum dengan memperkenalkan isu-isu tentang krisis hidup modern, perkawinan awet, dan teknik bimbingan dan penyuluhan masyarakat; lalu terakhir mengungkapkan respon terhadap wacana Psikologi Islam.[32]

Aplikasi Psikologi Islami menurut Bastaman harus tetap terbuka untuk segala macam problema kemanusiaan dari siapa pun yang memerlukan bantuan psikologi tanpa membeda-bedakan agama dan bangsa. Pembatasan aplikasi Psikologi Islami untuk masalah tertentu saja hanyalah menjurus kepada penyempitan wawasan dan eksklusifisme. Dan pasti selain merupakan langkah surut dan mengabaikan keuniversalan Islam, juga menghapuskan tujuan untuk menghadirkan corak psikologi alternatif progresif brewawasan Islam yang jangkauannya diharapkan lebih luas daripada psikologi kontemporer-sekuler.[33]

Psikologi Islami atau Qurani juga sudah digagas oleh ‘Izzat ‘Abd al-‘Azim al-Tawil di dalam bukunya Ma‘alim ‘Ilm al-Nafs al-Mu‘asir. Di dalam buku ini al-Tawil membuat sebuah bab berjudul Ta’sil ‘Ilm al-Nafs fi al-Qur’an al-Karim (Establishing the Origin of Psychology in al-Qur’an al-Karim), yang berisi pembahasan tentang konsep al-nafs dan al-ruh di dalam al-Quran, beberapa pendapat tetnang ruh dan jiwa, jenis-jenis al-nufus di dalam al-Quran, jiwa-jiwa yang sakit menurut al-Quran, kesehatan jiwa menurut al-Quran dan sain, pendidikan sosial bagi anak muslim, pendidikan sosial dan psikologi perkembangan pribadi, pendidikan sosial dan adaptasi sosial.[34]

Al-Tawil menerangkan bahwa kata nafs dan derivasinya diulang dalam bentuk yang berbeda-beda. Kata nafs (nafsun, nafsin, al-nafsa) 61 kali, nafsan 14 kali, nafsuka (termasuk nafsaka, nafsika) 10 kali, nafsuhu (termasuk nafsahu, nafsihi) 40 kali, nafsaha dan nafsiha 2 kali, nafsi 13 kali, al-nufus sekali, nufusikum sekali, al-anfusu (termasuk al-anfusa, al-anfusi) 6 kali, anfusukum (termasuk anfusakum, anfusikum) 49 kali, anfusana dan anfusina 3 kali, anfusuhum (termasuk anfusahum dan anfusihim) 91 kali, dan anfusihinna 4 kali. Total kata nafs dan derivasinya disebut al-Quran 295 kali.[35]

Di dalam tema ini, kajian yang lebih lengkap dilakukan oleh Samih ‘Atif al-Zayn di dalam bukunya ‘Ilm al-Nafs: Ma‘rifah al-Nafs al-Insaniyyah fi al-Kitab wa al-Sunnah.[36]

Kembali kepada pendapat Bastaman, dia mengatakan bahwa enam pola pemikiran dalam Islamisasi sains (termasuk psikologi), yaitu similarisasi, paralelisasi, komplementasi, komparasi, induktifikasi, verifikasi, masih menyisakan jurang antara agama dengan sains. Jurang ini dapat ditutupi dengan kajian yang menghubungkan agama dan sains yang lebih bercorak falsafi/metafisis serta didukung oleh sikap Islami dari para cendekiawan muslim sendiri.[37]

Operasionalisasi pola pemikiran terakhir ini adalah sebagai berikut:

  1. Ayat-ayat al-Quran (dan hadith) mengenai suatu masalah tertentu (alam, manusia, sosial, budaya, dsb) dikumpulkan dan diintegrasikan sedemikian rupa sehingga didapatkan wawasan tentang masalah tersebut.
  2. Wawasan itu disarikan menjadi filsafat Islami tentang masalah tersebut.
  3. Filsafat dan sains tertentu (filsafat alam, filsafat anthropologi, filsafat sosial, filsafat budaya, dst) yang beranekaragam itu dihubungkan dengan filsafat Islami tentang bidang yang sama.
  4. Relasi yang ditemukan pada langkah ketiga mungkin sesuai, sejalan, sinkron; tak sesuai, tak sejalan, tak sinkron; bahkan bertentangan. Jika bertentangan, maka agama ditempatkan di atas sains dan ditetapkan kebenaran al-Quran itu paripurna sedangkan sains tidak.[38]

Masih banyak model lain dalam Islamisasi sains dalam bidang psikologi (termasuk konseling di dalamnya) yang telah ditawarkan para pemikir muslim Indonesia maupun bukan Indonesia, seperti Zakiah Daradjat, Akram Rida, Shaikh al-Ghazali. Jika penelusuran ini dilanjutkan ke masa klasik, maka materi yang dimiliki oleh Jurusan Bimbingan dan Konseling Islam dalam wacana integrasi sains dan ilmu dalam bidang konseling sangat banyak. Dengan dilakukannya kajian ini, maka makna Islam yang melekat di dalam nama jurusan ini, yaitu Bimbingan dan Konseling Islam akan semakin jelas.

 

Redesain Kurikulum

Kurikulum BKI sudah dua kali bermetamorfosa. Pertama, dalam proposal pendirian Jurusan BKI yang diajukan oleh IAIN SMH ke Kementerian Agama. Kedua, hasil work shop desain kurikulum Jurusan BKI. Berikut ini adalah kurikulum dalam metamorfosanya yang kedua. Jurusan BKI mengambil ambang maksimal dari jumlah SKS yang harus diambil oleh mahasiswa S1, yakni 160 SKS yang dibagi menjadi 69 mata kuliah termasuk skripsi dan kukerta. Dibandingkan dengan kurikulum di lembaga lain, kurikulum ini “gemuk”.

Jika diklasifikasi berdasarkan rumpun ilmu, mata kuliah di Jurusan Bimbingan dan Konseling Islam akan terlihat sebagai berikut:

  1. Mata kuliah Islamic Studies.

No

Nama MK

Jml SKS

SMT

Komp

Lama

Baru

L

B

L

B

L

B

1

QQWT

QQWT

2

2

 

 

 

 

2

Akidah

Kalam Qadim

2

2

 

 

 

 

3

Akhlak

Ilmu Akhlak

2

2

 

 

 

 

4

Ilmu Kalam

Kalam Jadid

2

2

 

 

 

 

5

SPI

SPI

2

2

 

 

 

 

6

U Qur’an

U Qur’an

2

2

 

 

 

 

7

U Hadith

U Hadith

2

2

 

 

 

 

8

Fiqih

Fiqih Mua, JS

2

2

 

 

 

 

9

Ilmu Tasawuf

Ilmu Tasawuf

2

2

 

 

 

 

10

Tafsir

Tafsir I

2

2

 

 

 

 

11

Hadith

Hadith I

2

2

 

 

 

 

12

Usul Fiqih

Usul Fiqih

2

2

 

 

 

 

13

Prak Ibadah

Prak Ibadah

2

2

 

 

 

 

14

Fiqh K Mslim

Fiqh K Mslm

2

2

 

 

 

 

15

Tafsir Psi

Tafsir II

2

2

 

 

 

 

16

Hadith Psi

Hadith II

2

2

 

 

 

 

JUMLAH

32

32

 

 

 

 

 

  1. Mata kuliah bahasa.

No

Nama MK

Jml SKS

SMT

Kompetensi

Lama

Baru

 

 

 

 

 

 

1

B Indonesia

B Indonesia

2

2

 

 

 

 

2

B Arab I

B Arab I

2

2

 

 

 

 

3

B Arab II

B Arab II

2

2

 

 

 

 

4

B Arab III

B Arab III

2

2

 

 

 

 

5

B Inggris I

B Inggris I

2

2

 

 

 

 

6

B Inggris II

B Inggris II

2

2

 

 

 

 

7

B Inggrs III

B Inggrs III

2

2

 

 

 

 

JUMLAH

14

14

 

 

 

 

 

  1. Filsafat

No

Nama MK

Jml SKS

SMT

Kompetensi

 

 

 

 

 

 

 

 

1

Fil Umum

Fil Umum

2

2

 

 

 

 

2

Filsafat Ilmu

Fil Ilmu

2

2

 

 

 

 

3

Ilmu Logika

Lgka I

2

2

 

 

 

 

4

Fil Islam

Fils Islam

2

2

 

 

 

 

5

Fil Dakwah

Logika II

2

2

 

 

 

 

6

Pmkrn Mdrn Islm

Psi Islam Klasik

2

2

 

 

 

 

JUMLAH

12

12

 

 

 

 

 

  1. Sosiologi dan Budaya

No

Nama MK

Jml SKS

SMT

Kompetensi

 

 

 

 

 

 

 

 

1

IAD/ISD/IBD

IAD/ISD/IBD

2

2

 

 

 

 

2

Patologi Sosial

Sosiologi I

2

2

 

 

 

 

3

AntropBudaya

Sosiologi II

2

2

 

 

 

 

 

 

Kriminologi

 

2

 

 

 

 

JUMLAH

6

8

 

 

 

 

 

  1. Komunikasi dan Dakwah.

No

Nama MK

Jml SKS

SMT

Kom

Lama

Baru

 

 

 

 

 

 

1

Dsr2 Il Kmnksi

Dsr2 Il Kmnksi

3

2

 

 

 

 

2

Sjrah Dakwah

2

 

 

 

 

3

Dsr2 Il Dkwah

Dsr2 Il Dkwah

3

2

 

 

 

 

4

Sjrh D&B Btn

Sjrh D&B Btn

2

2

 

 

 

 

5

Kom Intr & K

Kom Intr & K

3

2

 

 

 

 

6

Et Dkw Mjdlh

3

 

 

 

 

7

Perbdgn Dkwh

2

 

 

 

 

JUMLAH

18

8

 

 

 

 

 

  1. Psikologi

No

Nama MK

Jml SKS

SMT

Kompetensi

Lama

Baru

 

 

 

 

 

 

1

Pngntr Psi

Pngntr Psi

2

2

 

 

 

 

2

Psi Kmunikasi

Psi Kmunikasi

2

2

 

 

 

 

3

Psi Prkmbngan

Psi Prkmbngan

2

2

 

 

 

 

4

Psi Agama

Psi Agama

2

2

 

 

 

 

5

Psi Dakwah

Psi Industri

2

2

 

 

 

 

6

Psi Kpribadian

Psi Kpribadian

2

2

 

 

 

 

7

Peng Pskterapi

Peng Pskterapi

2

2

 

 

 

 

8

Psktrapi Islam

Psi Kognitif

3

2

 

 

 

 

9

Psikologi BK

Psi BK

2

2

 

 

 

 

10

Psi Abnormal

Psi Patogenis

2

2

 

 

 

 

JUMLAH

21

20

 

 

 

 

 

VII. Bimbingan dan Konseling

No

Nama MK

Jml SKS

SMT

Komp

Lama

Baru

 

 

 

 

 

 

1

Dasar2 BKI

Pengantar BK

2

3

 

 

 

 

2

Tek&Teo BKI

Pnysnn&Eva BK

3

3

 

 

 

 

3

Tknk&Teo BK

Teori&Teknik BK

3

2

 

 

 

 

4

Media BK

Media BK

3

2

 

 

 

 

5

Dsr2 Rhni Islm

Azaz&Etika BK

3

2

 

 

 

 

6

Mnjemen BKI

Manajemen BK

2

2

 

 

 

 

7

Kes Mental

Terapi Sufistik

3

2

 

 

 

 

8

Kmunikasi BK

Kons Keluarga

2

 

 

 

 

9

 

Kons ABK

2

 

 

 

 

10

 

Kons kONS H  ikrikagS JURUSAN BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM FAK. USHULUDDIN DAN DAKWAH DI IAIN SMH BANTEN

2

 

 

 

 

JUMLAH

19

22

 

 

 

 

 

  1. Metodologi

No

Nama MK

Jml SKS

SMT

Kom

Lama

Baru

 

 

 

 

 

 

1

MSI

MSI

3

3

 

 

 

 

2

Met Penelitian

Met Penelitian

3

3

 

 

 

 

3

Met Pen BKI

Sem Prop Skrip

3

3

 

 

 

 

4

Met Pen Dakwah

3

 

 

 

 

JUMLAH

12

9

 

 

 

 

 

  1. Kepribadian dan Kekaryaan

No

Nama MK

Jml SKS

SMT

Komp

Lama

Baru

 

 

 

 

 

 

1

P’sila &Kwrgaan

P’sila &Kewrgngrn

3

3

 

 

 

 

2

Manajemen

Manajemen

2

2

 

 

 

 

3

Komputer

Komputer

2

2

 

 

 

 

4

Jurnalistik

Jurnalstk RTV

2

2

 

 

 

 

5

Bim Pnlsn Skrpsi

Tknk Pnlsn Skrpsi

2

2

 

 

 

 

6

Prak Profesi

Prak Profesi

2

2

 

 

 

 

7

Kukerta

Kukerta

4

4

 

 

 

 

8

Skripsi

Skripsi

6

6

 

 

 

 

9

 

Entrepeneurship

 

3

 

 

 

 

10

 

Menulis

 

2

 

 

 

 

11

 

Retorika

 

2

 

 

 

 

12

 

 

 

 

 

 

 

 

JUMLAH

23

23

 

 

 

 

 

Penutup

Formulasi redesain ini akan direformulasi setelah diskusi ini. Formulasi itu akan dikaji lagi dalam acara yang akan diselenggarakan oleh Pusat Kajian di Fakultas Ushuluddin dan Dakwah. Desain kurikulum Jurusan Bimbingan dan Konseling dalam wujud yang normatif dan diimplementasikan dalam kegiatan pembelajaran di Jurusan mudah-mudahan sudah mewujud dalam workshop kurikulum Fakultas Ushuluddin dan Dakwah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

Al-Baqi, Muhammad Fu’ad ‘Abd, al-Mu‘jam al-Mufahras li Alfaz al-Qur’an, Beirut: Dar al-Fikr, 1408 H./1987 M..

Al-Farkh Kamilah, dan ‘Abd al-Jabir Tayyim, Mabadi’ al-Tawjih wa al-Irshad al-Nafsi, Amman: Dar Safa li al-Nashr wa al-Tawzi‘, cet. I, 1999 M./1420 H.

Al-Tawil, ‘Izzat ‘Abd al-‘Azim, Ma‘alim ‘Ilm al-Nafs al-Mu‘asir, Iskandariyah: Dar al-Ma‘rifah al-Jami‘iyyah, cet. III, 1999.

Al-Zayn, Samih ‘Atif, ‘Ilm al-Nafs: Ma‘rifah al-Nafs al-Insaniyyah fi al-Qur’an wa al-Sunnah, 2 jilid, Beirut dan Kairo: Dar al-Kitab al-Lubnani dan Dar al-Kitab al-Misri, cet. I, 1991.

Bastaman, Hanna Djumhana, Integrasi Psikologi Dengan Islam: Menuju Psikologi Islami, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, cet. I, Oktober 1995.

Ba‘labaki, Munir, Al-Mawrid: A Modern English-Arabic Dictionary, Beirut: Dar al-‘Ilm li al-Malayin, cet. XXXIX, 2005.

Brown, Steven D.,  dan Robert W. Lent, Handbook of Counseling Psychology, New Jersey: John Wiley & Sons, Cet. I, 2008.

Chan, Fong, Norman L. Berven, Kenneth R. Thomas (ed.), Counceling Theories and Techniques for Rehabilitation Health Professionals, New York: Springer Publishing Company, Cet. I, 2004.

Chandler, Steve, dan Scott Richardson, 100 Ways to Motivate Others: How the Great Leaders Can Produce Insane Result Without Driving People Crazy, New Jersey: Career Press, Cet. I, 2008.

Cox, W. Miles, dan Eric Klinger (ed.), Handbook of Motivational Counceling: Concepts, Approaches, and Assessment, New Jersey: John Wiley & Sons, cet. I, 2004.

Dai, David Yun, dan Robert J. Sternberg (ed.), Motivation, Emotion, and Cognition: Integrative Perspective on Intellectual Functioning and Development, New Jersey: Lawrennce Eri.baum Associates, Cet. I, 2004.

Echols, John M., dan Hassan Shadily, Kamus Inggris Indonesia, Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, cet. XXV, Agustus 2000.

Entan, Aan, “Meredam Sifat Anarkis Melalui Bimbingan Konseling,” Radar Banten, Jumat 5 Nov 2010, http://www.radarbanten.com/mod.php?mod=publisher&op=printarticle&artid=59940, diakses pada hari Sabtu, 09 April 2011.

Larson, Jonathon E. (ed.), Educational Psychology: Cognition and Learning, Individual Differences and Motivation, New York: Nova Science Publisher, Cet. I, 2009.

Mahmud, Mustafa, ‘Ilm Nafs Qur’ani Jadid, Kairo: Dar Akhbar al-Yawm Qita‘ al-Thaqafah, Kitab al-Yawm edisi Agustus 1998.

Maulana, Ihsan, 63 Persen Remaja Berhubungan Seks Di Luar Nikah, http://ihsanmaulana.wordpress.com/2010/04/21/63-persen-remaja-berhubungan-seks-di-luar-nikah/, diakses pada hari Sabtu, 09 April 2011.

Mecleod, John, An Introduction to Counselling, Berkshire: Open University Press, cet. III, 2004.

Osman, Amr A., Problem Solving and Decision Making, http://www.4shared.com/document/AWtpACvf/Problem_Solving__Decision_Maki.htm, diunduh pada hari Minggu, 10 April 2011.

Rida, Akram, Idarah al-Dhat: Dalil al-Shabab ila al-Najah, Port Sa‘id: Dar al-Tawzi‘ wa al-Nashr al-Islamiyyah, cet. I, Januari 2000.

Shah, James Y., dan Wendi L. Gardner, Handbook of Motivation Science, New York dan London: The Guilford Press, cet. I, 2008.

SK Direktur Jenderal Pendidikan Islam Nomor: Dj.I/306/2008 ditetapkan di Jakarta tanggal 4 September 2011.

 


[1] Problem Solving and Decision Making, Amr A. Osman, http://www.4shared.com/document/AWtpACvf/Problem_Solving__Decision_Maki.htm, diunduh pada hari Minggu, 10 April 2011.

[2] An Introduction to Counselling, John Mecleod, Berkshire: Open University Press, cet. III, 2004, h. 1.

[3] An Introduction to Counselling, John Mecleod, h. 2.

[4] Mabadi’ al-Tawjih wa al-Irshad al-Nafsi, Kamilah al-Farkh dan ‘Abd al-Jabir Tayyim, Amman: Dar Safa li al-Nashr wa al-Tawzi‘, cet. I, 1999 M./1420 H.h. 10.

[5] Mabadi’ al-Tawjih wa al-Irshad al-Nafsi, h. 9.

[6] “Meredam Sifat Anarkis Melalui Bimbingan Konseling,” Radar Banten, Jumat 05 Nov 2010, Aan Entan,  http://www.radarbanten.com/mod.php?mod=publisher&op=printarticle&artid=59940, diakses pada hari Sabtu, 09 April 2011.

[8] 63 Persen Remaja Berhubungan Seks Di Luar Nikah, Ihsan Maulana, http://ihsanmaulana.wordpress.com/2010/04/21/63-persen-remaja-berhubungan-seks-di-luar-nikah/, diakses pada hari Sabtu, 09 April 2011.

Di dalam tulisan ini disebutkan bahwa keberadaan Pusat Informasi dan Konseling Kesehatan Reproduksi Remaja (PIK KRR) sangat berarti untuk menjawab masalah kesehatan reproduksi remaja juga sebagai sarana remaja untuk berkonsultasi mengembangkan kemampuan positifnya, dan berdasarkan laporan dari BKKBN Provinsi Banten, jumlah PIK KRR di seluruh Banten sudah ada sebanyak 25 titik.

[9] Lihat buku-buku tentang motivasi, di antaranya:

  1. Handbook of Motivation Science, James Y. Shah dan Wendi L. Gardner, New York dan London: The Guilford Press, cet. I, 2008.
  2. 100 Ways to Motivate Others: How the Great Leaders Can Produce Insane Result Without Driving People Crazy, Steve Chandler dan Scott Richardson, New Jersey: Career Press, Cet. I, 2008.
  3. Motivation, Emotion, and Cognition: Integrative Perspective on Intellectual Functioning and Development, David Yun Dai dan Robert J. Sternberg (ed.), New Jersey: Lawrennce Eri.baum Associates, Cet. I, 2004.
  4. Educational Psychology: Cognition and Learning, Individual Differences and Motivation, Jonathon E. Larson (ed.), New York: Nova Science Publisher, Cet. I, 2009.
  5. Handbook of Motivational Counceling: Concepts, Approaches, and Assessment, W. Miles Cox dan Eric Klinger (ed.), New Jersey: John Wiley & Sons, cet. I, 2004.

[10] SK Direktur Jenderal Pendidikan Islam Nomor: Dj.I/306/2008 ditetapkan di Jakarta tanggal 4 September 2011.

[11] Kamus Inggris Indonesia, John M. Echols dan Hassan Shadily, Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, cet. XXV, Agustus 2000, h. 150.

[12] Di dalam kamus al-Mawrid diterangkan: Counsel. Nasihah, mishwarah, khittah (‘amal aw suluk), tashawur, tadawul, qasd, ra’y aw qasd shakhsi aw sirri, muhamin, mustashar qanuni, yansahu, yushiru bi, yastashiru, yubqi khitatahu fi tayy al-kitman. Counselor or counsellor berarti al-nasih, al-mustashar, al-muhami, al-mustashar al-qanuni. Al-Mawrid: A Modern English-Arabic Dictionary, Munir Ba‘labaki, Beirut: Dar al-‘Ilm li al-Malayin, cet. XXXIX, 2005, h. 222.

[13] Mabadi’ al-Tawjih wa al-Irshad al-Nafsi, Kamilah al-Farkh dan ‘Abd al-Jabir Tayyim, Amman: Dar Safa li al-Nashr wa al-Tawzi‘, cet. I, 1999 M./1420 H.

[14] Untuk mengetahui dasar-dasar teori dan teknik konseling, baca misalnya:

  1. Counceling Theories and Techniques for Rehabilitation Health Professionals, Fong Chan, Norman L. Berven, Kenneth R. Thomas (ed.), New York: Springer Publishing Company, Cet. I, 2004. Di dalam buku ini dijelaskan teori-teori konseling seperti psichodynamic, humanistic, cognitive and behavioral; teknik-teknik konseling meliputi dasar-dasar keterampilan konseling, prosedur kelompok, konseling keluarga, konseling karir; pertimbangan khusus dalam konseling seperti konseling untuk ABK dan konseling rehabilitasi multikultural; serta isu-isu profesional.
  2. Handbook of Counseling Psychology, Steven D. Brown dan Robert W. Lent, New Jersey: John Wiley & Sons, Cet. I, 2008.

[15] Kata yang diderivasi dari wajjaha disebut 2 kali, yaitu QS 6:79 dan16:86. Kata yang diderivasi dari rashada disebut sebanyak 19 kali, yaitu QS 2:186, 2:256, 7:146, 72:2, 4:6, 18:66, 21:51, 18:10, 18:24, 72:10, 72:14, 72:21, 40:29, 40:38, 49:7, 11:78, 11:87, 11:97, 18:17.

Lihat: al-Mu‘jam al-Mufahras li Alfaz al-Qur’an, Muhammad Fu’ad ‘Abd al-Baqi, Beirut: Dar al-Fikr, 1408 H./1987 M., h. 134-135, 743, dan 320-321.

[16] Mabadi’ al-Tawjih wa al-Irshad al-Nafsi, Kamilah al-Farkh dan ‘Abd al-Jabir Tayyim, Amman: Dar Safa li al-Nashr wa al-Tawzi‘, cet. I, 1999 M./1420 H., h. 13.

[17] Mabadi’ al-Tawjih wa al-Irshad al-Nafsi, h. 14-15.

[18] Hadith Nabi, “Semua anak terlahir dalam keadaan fitrah.”

[19] Idarah al-Dhat: Dalil al-Shabab ila al-Najah, Akram Rida, Port Sa‘id: Dar al-Tawzi‘ wa al-Nashr al-Islamiyyah, cet. I, Januari 2000, h. 18.

[20] Jaddid Hayatak, Muhammad al-Ghazali, ….

[21] QS. Al-Ra‘d: 11.

[22] Idarah al-Dhat, h. 18.

[23] Perbandingan tentang prinsip-prinsip Behaviorisme dengan Islam dilakukan oleh Mahmud al-Bustani di dalam bukunya al-Islam wa ‘Ilm al-Nafs, Beirut: Majma‘ al-Buhuth al-Islamiyyah, cet. I, 1413 H./1992 M.

[24] Integrasi Psikologi Dengan Islam: Menuju Psikologi Islami, Hanna Djumhana Bastaman, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, cet. I, Oktober 1995, h.24-26.

[25] Al-Quran dan hadith adalah dua sumber yang berpengaruh terhadap beberapa pandangan Ibnu Sina, khususnya dalam tema pencerapan inderawi, perolehan pengetahuan, mimpi, dan visi. Al-Qur’an wa ‘Ilm al-Nafs, Muhammad ‘Uthman Najati, Kairo: Dar al-Shuruq, cet. VII, 1421 H./2001 M., h. 7.

[26] Integrasi Psikologi Dengan Islam: Menuju Psikologi Islami,, h. 26-27.

[27] ‘Ilm Nafs Qur’ani Jadid, Mustafa Mahmud, Kairo: Dar Akhbar al-Yawm Qita‘ al-Thaqafah, Kitab al-Yawm edisi Agustus 1998.

[28] ‘Ilm Nafs Qur’ani Jadid, Mustafa Mahmud, Kairo: Dar Akhbar al-Yawm Qita‘ al-Thaqafah, Kitab al-Yawm edisi Agustus 1998, h. 7-8.

[29] Integrasi Psikologi Dengan Islam: Menuju Psikologi Islami, h. ix.

[30] Integrasi Psikologi Dengan Islam: Menuju Psikologi Islami, h. vii.

[31] Djamalauddin Ancok, Kata Pengantar, dalam Integrasi Psikologi Dengan Islam: Menuju Psikologi Islami, h. x-xi.

[32] Lihat “Pengantar Editor” dalam Integrasi Psikologi Dengan Islam: Menuju Psikologi Islami, h. xiii-xiv.

[33] Integrasi Psikologi Dengan Islam: Menuju Psikologi Islami, h. 12.

[34] Ma‘alim ‘Ilm al-Nafs al-Mu‘asir, ‘Izzat ‘Abd al-‘Azim al-Tawil, Iskandariyah: Dar al-Ma‘rifah al-Jami‘iyyah, cet. III, 1999, h. 402-453.

[35] Ma‘alim ‘Ilm al-Nafs al-Mu‘asir, h. 403. Lihat juga al-Mu‘jam al-Mufahras li Alfaz al-Qur’an, Muhammad Fu’ad ‘Abd al-Baqi, Beirut: Dar al-Fikr, 1407 H./1987 M., h. 710-714.

[36] ‘Ilm al-Nafs: Ma‘rifah al-Nafs al-Insaniyyah fi al-Qur’an wa al-Sunnah, 2 jilid, Samih ‘Atif al-Zayn, Beirut dan Kairo: Dar al-Kitab al-Lubnani dan Dar al-Kitab al-Misri, cet. I, 1991.

[37] Integrasi Psikologi Dengan Islam: Menuju Psikologi Islami, h.32-33.

[38] Integrasi Psikologi Dengan Islam: Menuju Psikologi Islami, h.34.

Penulis: bkiiainbanten

Ini adalah blog tidak resmi dari Jurusan Bimbingan dan Konseling Islam Fakultas Ushuluddin Dakwah Dan Adab IAIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s