BKI FUDA IAIN SMH BANTEN

Hypatia: Dari Mediterania Ke Selat Sunda (Pengantar Nonton Film “Agora”)

Tinggalkan komentar

Ahmad Fadhil

Tiga puluh lima tahun. Hanya 35 tahun umur Hypatia, seorang ahli matematika, logika, dan astronomi; pembela filsafat dan pertanyaan kritis, penentang iman yang buta.[1] Meski singkat umurnya, Hypatia menginspirasi orang-orang hingga belasan abad setelah kematiannya. Para penulis abad 21 masih menulis buku tentang dirinya hingga muncul buku seperti Remembering Hypatia: A Novel of Ancient Egypt, Flow Down Like Silver: Hypatia of Alexandria, The Plot to Save Socrates. Sebuah jurnal kaum feminis juga mengambil namanya, yaitu Hypatia: A Journal of Feminist Philosophy.[2]

Hypatia binti Theon Alexandricus adalah tokoh utama film “Adora”. Ada yang mengatakan tema film ini adalah kekejaman para pengikut suatu agama yang berkuasa yang memaksa semua orang untuk ikut agamanya atau mati dan membuat mereka tega menelanjangi seorang wanita di depan patung Tuhannya.[3] Hidup Hypatia berakhir tragis. Dia menolak pindah agama. Dia ditangkap, disoraki, ditelanjangi. Dia mati dilempari batu.[4]

Apa yang menarik untuk didiskusikan dari film ini? Saya memulai dengan mendiskusikan gambar pertama yang kita lihat pada film tersebut, yaitu perpustakaan dan wanita. Setelah itu, saya akan mengulas gambaran yang tidak menyenangkan di sepanjang film, yaitu konflik dan simbol agama. Lalu, saya akan mengulas peradaban dan filsafat. Terakhir, saya akan menulis beberapa rekomendasi untuk Komunitas FUDIT, penyelenggara bedah film “Adora” hari ini.

Iskandariyyah, Perpustakaan, dan Wanita Filsuf

Setting film Agora adalah kota Iskandariyyah pada abad 4 M, sebuah kota yang membentang di Laut Mediterania, pintu masuk ke Mesir dari Utara. Kota ini menjadi ibukota Mesir pada masa pemerintahan Iskandar mulai abad 3 SM sampai ditaklukkan oleh bangsa Arab Muslim pada abad 7 Masehi. Kota ini berperan penting sebagai penghubung antara Mesir dengan Peradaban Hellenistik.[5]

Adegan pertama menampilkan aktivitas belajar di Perpustakaan Iskandariyyah, Bibliothica Alexandrina. Film ini menggambarkan salah satu “Perpustakaan Hellenis yang paling terkenal”[6] tersebut bukan sebagai tempat penyimpanan dan tempat orang membaca buku. Sejak dulu sampai sekarang, perpustakaan ini bukan sekadar perpustakaan, tapi The place of the cure of the soul.[7] Kata Perpustakaan Iskandariyyah merujuk kepada dua perpustakaan, yaitu Perpustakaan Utama atau Museum/Mouseion yang berarti akademi dan musium, dan Perpustakaan Cabang atau Sirapium.[8]

Demeterius of Phalerum, murid Aristoteles, disebut sebagai penggagas pendirian Museum dalam upaya menjadikan Iskandariyyah sebagai tandingan bagi Lyceum di Athena Yunani dalam pengembangan ilmu, sastra, dan filsafat. Museum pada awalnya adalah kuil penyembahan sembilan dewi seni (Muses), tapi kenyataannya Museum ini adalah pusat kajian yang lebih mengutamakan penelitian daripada pengajaran. Di dalam Museum ini terdapat perpustakaan yang lebih terkenal daripada Museum itu sendiri. Strabo, ahli geografi dan sejarahwan Yunani, seperti dikutip al-Dabi’an mengatakan, Museum adalah bagian dari istana yang mencakup taman, aula dengan kursi-kursi, gedung besar berisi aula untuk pertemuan para ilmuwan dan anggota Museum.”[9]

Beragam ilmu dikembangkan ilmuwan di Perpustakaan Iskandariyyah kuno.[10] Misalnya, matematika, geografi, sejarah, ilmu perpustakaan, astronomi, dan linguistik. Carl Sagan, astronom Amerika, seperti dikutip oleh Sadiq mengatakan, “Iskandariyyah, selama enam abad sejak abad 3 SM adalah tempat umat manusia memancarkan petualangan-petualangan yang menuntun kita di masa kini ke pelosok-pelosok alam semesta.”[11]

Hypatia adalah “wanita” di antara para ilmuwan seperti Euclid, Herophilus, Aristarchus, Erasistratus, Archimedes, Eratosthaenes, Apollonius, Hipparchus, Dionysius, Heron, Claudius Ptolemeus, Galen, Pappus, dan Hypatia.[12] Di zaman wanita menjadi warga kelas dua, Hypatia mencapai derajat tinggi berkat ilmu.[13] Buku Nisa’ Falasifah menyebutkan beberapa “wanita” lain yang derajatnya ditinggikan oleh ilmu, di antaranya Theano I, Arignote, Myia, Aesara, Phyntis of Sparta, Perictione, Theano II, Spazia, Parklis, Diotima, dll.[14]

Kisah hidup Hypatia diceritakan di dalam novel Azazil karya Yusuf Zaydan.[15]

Iskandariyyah, Konflik, dan Simbol Agama

Yusuf Zaydan penulis novel Azazil juga menulis buku berjudul al-Lahut al-‘Arabi wa Usul al-‘Unf al-Dini (Teologi Arab dan Akar Fundamentalisme Agama).[16]

Iskandariyyah, Peradaban, dan Filsafat

Buku-buku tentang Madrasah Falsafiyyah Iskandariyyah:

  1. Mustafa al-Nashshar, Madrasah al-Iskandariyyah al-Falsafiyyah Bayna al-Turath al-Sharqi wa al-Falsafah al-Yunaniyyah, Kairo: Dar al-Ma‘arif, cet. I, 1995.
  2. Harbi ‘Abbas Atitu, Malamih al-Fikr al-Falsafi wa al-Dini fi Madrasah al-Iskandariyyah al-Qadimah, Beirut: Dar al-‘Ulum al-‘Arabiyyah, cet. I, 1413 H./1992 M.
  3. Muhammad Mahmud ‘Abd al-Hamid Abu Qahf, Madrasah al-Iskandariyyah al-Falsafiyyah al-Tarikh al-Hadari Wa al-Hiwar al-Thaqafi Bayna al-Falsafah Wa al-Din, al-Iskandariyyah: Dar al-Wafa’, cet. I, 2004.
  4. Nabil Najib Salamah (ed.), Dawr Maktabah al-Iskandariyyah Fi Da‘m Thaqafah al-Hiwar Wa al-Tasamuh, Kairo: Dar al-Thaqafah, cet. I, 2002.
  5. Najib Baladi, Tamhid Li Tarikh Madrasah al-Iskandariyyah Wa Falsafatuha, Kairo: Dar al-Ma‘arif, 1962.

Kata Iskandariyyah mengingatkan saya pada Ibnu ‘Ata’ Allah al-Sakandari, penulis buku tasawuf al-Hikam yang sangat terkenal.

Rekomendasi untuk Komunitas FUDIT

  1. 1.      Sosialisasi internet sebagai sumber literatur

Saya sangat berterima kasih kepada Komunitas FUDIT yang telah meminta saya untuk membedah film Adora. Sebab, berkat permintaan ini, dalam dua hari dua malam saya terhubung dengan 29 buku. Tidak semua literatur itu lantas berkaitan dengan tema diskusi kita hari ini. Tidak mengapa. Saya yakini bahwa keterhubungan dengan buku-buku tersebut sama sekali tidak berbahaya bagi saya.

  1. 2.      Urgensi portal dakwah Islam di internet

Saat berselancar di internet untuk mendapatkan bahan-bahan diskusi kita hari ini, saya sampai ke http://gema.sabda.org/. GEMA adalah situs penyedia bahan-bahan Kristen seputar pelayanan musik dan audio. Situs ini menyediakan lebih dari 1000 lirik rohani Kristen, artikel seputar pelayanan musik gereja, tokoh musik Kristen, sejarah lagu Kristen, teknologi seputar musik dan uudio, juga berita-berita terbaru tentang musik dan audio. Jika orang ingin download Audio Alkitab, Audio Konseling Kristen, Audio Khotbah Kristen, Audio Kepemimpinan Kristen, Radio Kristen di berbagai kota di Indonesia, review situs-situs Kristen, dan informasi link situs-situs lain yang berkaitan dengan pelayanan musik gereja, situs ini menyediakannya.[17]

Itulah GEMA, Gudang Elektronik Musik dan Audio. Lantas, apa itu Komunitas FUDIT?

Sobirin KPI IV:

Hypatia, saat perpustakaannya diserang, yang dia usahakan selamatkan adalah buku, bukan harta dan bukannya seperti kita yang mungkin akan membopong tv.

Hamidi TH IV:

Sayang sekali filsuf/ilmuwan mati karena konflik agama. Tapi, Hypatia nampaknya di film itu lebih percaya kepada filsafat daripada agama?

Ade Jaya Suryani:

  1. Saya senang Anda bikin kegiatan karena saya prihatin dengan kondisi kampus kita yang “sepi”. Undang saya sebagai pembedah film selanjutnya.
  2. Kita perlu melihat apa yang orang lain kerjakan (dalam menganalisa film) sebelum nanti kita bisa menganalisa film dengan baik.
  3. Kita harus lebih pandai dari Hypatia. Buku Hypatia hanya lembaran-lembaran kertas. Kita punya jauh lebih banyak dari internet. Kita sekarang tidak punya alasan untuk tidak menjadi seperti Hypatia yang dalam usia 30 tahun telah menjadi filsuf.

Basyar (KPI)

  1. Hypatia dan ayat Quran yarfaillah … Film ini tentang orang pada 3 atau 4 Masehi, orang Jahiliyah. Bagaimana ini?
  2. Agama mendasari banyak konflik. Mengapa?

Sarwani (Rumah Dunia)

  1. Film Barat penuh kejutan. Kejutan pertama di Agora adalah pornografi. Ini ga perlu ditiru. Tapi film Indonesia yang ga ada kejutannya jadi ga menarik.

Ummu Salamah (KPI)

Hypatia melindungi muridnya yang Kristen. Persaudaraan. Itu pesan Hypatia yang sangat menarik.


[2] http://en.wikipedia.org/wiki/Hypatia, Selasa, 27 Maret 2012.

[4] http://gema.sabda.org/agora, Selasa, 27 Maret 2012

[5] Lihat: Ahmad ‘Izzat ‘Abd al-Karim dkk, Mujtama al-Iskandariyyah ‘Abr al-‘Usur, , h. 4. Untuk mengetahui sejarah komunitas Iskandariyyah sepanjang sejarah lihat Ahmad ‘Izzat ‘Abd al-Karim dkk, Mujtama al-Iskandariyyah ‘Abr al-‘Usur, prosiding seminar Fakultas Sastra Universitas Iskandariyyah pada bulan April 1973. Dan untuk mengetahui sejarah Iskandariyyah sejak masa Iskandar al-Kabir hingga penaklukan bangsa Arab Muslim lihat HI Bell, Misr Min al-Iskandar al-Akbar Hatta al-Fath al-‘Arabi Dirasah Fi Intishar al-Hadarah al-Hiliniyyah Wa Idmihlaliha, terj. ‘Abd al-Latif Ahmad ‘Ali dari Egypt From Alexander The Great To The Arab Conquest: A Study in the Diffusion and Decay of Hellenism, Beirut: Dar al-Nahdah al-‘Arabiyyah, 1973.

Kota Iskandariyyah dibangun kembali oleh Iskandar al-Maqaduni (l. sekitar 20 Juli 356 SM, w. 13 Juni 323 SM) murid dari Aristoteles. Menurut Zuhayrati informasi Plutarch bahwa Iskandar al-Kabir adalah berlebih-lebihan. Dengan jumlah tersebut, yang dimaksud Plutarch mungkin mencakup benteng-benteng atau kota-kota yang dibangun penguasa setelah Iskandar al-Kabir, karena jumlah yang disepakati para ulama kini tidak lebih dari 40 kota. Kota-kota lain yang dibangun olehnya adalah Rakutis di Afrika, Sur, Gaza, Iskandariyyah Aria yang kini terkenal dengan nama Hirat di Afghanistan, Iskandariyyah Arkuziya atau Kandahar di Afghanistas, Iskandariyyah Quswa atau Khuqand di dekat Samarqand Turkistan, Iskandariyyah Indus atau Karachi. Metudius Zuhayrati, al-Iskandar al-Kabir, h. 89-90.

Untuk mengetahui sejarah Iskandar lihat Tirans Ratijan, al-Iskandar al-Maqaduni, terj. Muhammad Kamil Kamali, Beirut: Dar al-Andalus, cet. II, 1982 M./1402 H., h. 5, 12, dan 129; Foks Webern, al-Iskandar al-Akbar, Kairo: Dar wa Matabi‘ al-Mustaqbal, tt.; dan Metudius Zuhayrati, al-Iskandar al-Kabir Futuhatuh wa Riyadah al-Fikr al-Yunani fi al-Sharq, Damaskus: Dar Tallas li al-Dirasah wa al-Tarjamah wa al-Nashr, cet. I, 1999.

[6] Sa‘d bin ‘Abd Allah al-Dabi‘an, Maktabata al-Iskandariyyah wa Burjamum Ashhar Maktabat al-Huqbah al-Hilinistiyyah, Riyad: Dar al-Murikh li al-Nashr, 1420 H./2000 M..

[8] Sa‘d bin ‘Abd Allah al-Dabi‘an, Maktabata al-Iskandariyyah wa Burjamum, h. 15.

[9] Sa‘d bin ‘Abd Allah al-Dabi‘an, Maktabata al-Iskandariyyah wa Burjamum. h. 20-21.

[10] Versi modern perpustakaan ini dapat dilihat di http://www.bibalex.org/Home/Default_ar.aspx.

[11] Samir Hanna Sadiq, Nash’ah al-‘Ilm Fi Makbabah al-Iskandariyyah al-Qadimah, h. 9.

[12] Samir Hanna Sadiq, al-‘Ilm fi Maktabar al-Iskandariyyah, Kairo: al-Hay’ah al-Misriyyah al-‘Ammah li al-Kitab, 1998; Samir Hanna Sadiq, Nash’ah al-‘Ilm Fi Makbabah al-Iskandariyyah al-Qadimah, Kairo: Dar al-‘Ayn li al-Nashr, cet. I, 2003.

[14] Imam ‘Abd al-Fattah Imam, Nisa’ Falasifah, Kairo: Maktabah Madbuli, 1996. Untuk mengetahui penulis-penulis wanita pada sejarah Islam lihat: Muhammad Khayr Ramadan Yusuf, al-Mu’allifat Min al-Nisa Wa Mu’allafatuhunna Fi al-Tarikh al-Islami, Beirut: Dar Ibnu Hazm, cet. II, 1421 H./2000 M.

[15] Yusuf Zaydan, Azazil, Kairo: Dar al-Shuruq, cet. I, 2008.

[16] Yusuf Zaydan adalah penulis yang sangat produktif. Buku-buku karyanya antara lain al-Fikr al-Sufi bayna ‘Abd al-Karim al-Jili wa Kubbar al-Sufiyyah, al-Tariq al-Sufi wa Furu‘ al-Qadiriyyah bi Misr, Turathuna al-Nadirat al-‘Ayniyyah ‘Abd al-Karim al-Jili ma‘a Sharh al-Nablisi, ‘Abd al-Karim al-Jili Faylasuf al-Sufiyyah, Fihrist al-Makhtutat Maktabah Rifa‘ah Rafi‘ al-Tahtawi, Sharh Mushkilat al-Futuhat al-Makkiyyah, Shu‘ara’ al-Sufiyyah al-Majhulin, ‘Abd al-Qadir al-Jilani Baz Allah al-Ashhab, Fawa‘ih al-Jamal wa Fawatih al-Jalal (bersama Najm al-Din al-Kubra), dan Qadaya al-‘Ulum al-Insaniyyah Ishkaliyyah al-Manhaj (bersama Ahmad Anwar Abu al-Nur). Semua buku ini pada hari Selasa, 27 Maret 2012, tersedia on line di http://www.al-mostafa.com/.

[17] http://gema.sabda.org/tentang_kami, Selasa, 27 Maret 2012.

Pengelola situs ini mengatakan bahwa latar belakang GEMA: maraknya perkembangan pelayanan di bidang musik dan pemanfaatan media audio Kristen dewasa ini adalah satu hal yang menggembirakan bagi dunia pelayanan Kristen. Namun demikian, banyaknya situs serta sumber internet tentang musik dan audio Kristen tersebut seringkali masih belum diketahui oleh mereka. Oleh karena itulah, situs GEMA hadir untuk menjadi Gudang Elektronik Musik dan Audio yang diharapkan dapat membantu masyarakat Kristen dalam menemukan akses ke situs-situs tentang musik Kristen dan yang menyediakan sumber audio kekristenan, baik di dalam maupun luar negeri.

Misi GEMA: sebagai situs portal ke sumber-sumber kekristenan yang memanfaatkan media audio dan yang menyediakan bahan-bahan tentang musik Kristen; turut membantu perkembangan pelayanan di bidang musik dan pelayanan lain yang memanfaatkan media audio. Visi GEMA: memperkenalkan dan memperkaya referensi sumber audio dan musik Kristen.

Penulis: bkiiainbanten

Ini adalah blog tidak resmi dari Jurusan Bimbingan dan Konseling Islam Fakultas Ushuluddin Dakwah Dan Adab IAIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s