BKI FUDA IAIN SMH BANTEN

Notulensi Rapat Jurusan BKI tentang Silabus

Tinggalkan komentar

Saya ingin mahasiswa jurusan BKI bisa bangga menjadi alumni BKI. Untuk itulah rapat ini diadakan. … Dengan pertemuan ini, kita bisa memperbaiki kualitas kurikulum dan pengajaran kita masing-masing.

Agenda                       : Pembahasan Silabus Jurusan BKI

Hari, tanggal              : Kamis, 29 Maret 2012

Peserta                        : Ahmad Fadhil, Kholid, Agus Sukirno, Ade Jaya Suryani, Azizah Alawiyyah, Hunainah, Hilda Rosida, Badruddin, Sholahuddin Al Ayubi.

 

Ahmad Fadhil:

Terima kasih atas kehadiran Bapak Ibu Dosen sekalian. Prioritas pembahasan pada rapat atau boleh disebut diskusi pada hari ini adalah silabus-silabus pada mata kuliah konseling dan psikologi. Tapi, undangan disebarkan untuk semua dosen, baik pengampu atau pembina, baik yang mengajar sosiologi, ulumul quran, bahasa inggris, bahasa arab, dengan satu maksud tertentu. Ini akan saya jelaskan nanti.

Bapak ibu yang saya hormati, mengapa rapat ini perlu diadakan?

Beberapa hari lalu saya mendapat rumusan bagi gagasan yang sudah lama ada di kepala saya. Tahun depan mahasiswa Jurusan BKI akan ada yang bikin skripsi. Jadi, dua tahun ke depan sudah ada alumni jurusan BKI. Nah, saya ingin jika alumni BKI itu nanti bertemu dengan orang lantas dia ditanya, “Adek lulusan mana?” Dia menjawab, “Saya lulusan BKI FUD IAIN SMH Banten.” Saya ingin dia mengatakan itu dengan rasa bangga. Dengan rasa puas. Dengan rasa ridho. Seperti bapak-bapak ibu-ibu di sini yang bangga pada alamamaternya. Pak Badrudin menyebut UIN Bandung, Pak Agus Sukirno dan Bu Hunainah menyebut UPI Bandung, Pak Agus Ali menyebut IAIN Surabaya dan UIN Jakarta, Pak Ade menyebut Universitas Leiden, … dengan bangga.

Pak Ade bisa saja mengatakan dirinya biasa-biasa saja tapi bisa kecipratan oleh besarnya Leiden. Tapi, tidak bisa diingkari bahwa kata “Leiden” punya citra yang bagus di telinga pendengarnya. Saya ingin mahasiswa jurusan BKI bisa memiliki kebanggaan seperti itu. Untuk itulah rapat ini diadakan. Selain rapat ini, tentu saja banyak langkah lain. Tapi, satu-satu. Dengan pertemuan ini, kita bisa memperbaiki kulaitas kurikulum dan pengajaran kita masing-masing. Minimal, nanti alumni Jurusan ini akan terkenang, “Oh saya punya dosen yang bagus sekali, Bu Hunainah, Bu Hilda, Pak Badrudin, Pak Ade, Pak Kholid ….”

Mengapa dosen dari selain MK Konseling dan Psikologi hadir di sini? Sebab, mahasiswa BKI belajar MK Konseling dan Psikologi sangat niscaya. Pertanyaaan mereka yang sering muncul, “Apa maksud saya diberi MK Sosiologi, Bahasa Inggris, Ulumul Quran, …?” Saya telah sebisa mungkin menjelaskan itu kalau mereka bertanya kepada saya. Misalnya, saya katakan literatur bimbingan dan koseling dalam Bahasa Inggris jauh lebih banyak daripada dalam Bahasa Indonesia. Lalu, bisa Bahasa Inggris membuat Anda dapat menerima konseli Orang Inggris, bisa berprofesi nanti di Inggris …. MK Bahasa Inggris jelas penting. Bahkan, selain di kurikulum, harus ada kegiatan lain untuk menguatkan penguasaan bahasa asing.

Dosen-dosen selain MK Konseling harus tahu apa manfaat, relasi, relevansi, urgensi MK-nya bagi kompetensi utama alumni. Karena itu, saya sudah cerewet di awal semester ini pada pengampu MK Tafsir, misalnya, Pak Badrudin. Itu karena saya ingin mahasiswa segera tahu apa kegunaan MK Tafsir al-Quran yang bisa mendukung bimbingan dan konseling. Pak Badrudin saya minta membaca buku bimbingan dan konseling sebagai syarat mengajar. Bu Hilda belum saya cereweti ya? Mungkin besok.

Itu dua hal mengapa pertemuan ini penting.

Selanjutnya, izinkan saya berpanjang lebar. Saya ingin menjelaskan kerangka kurikulum baru Jurusan BKI. Pada awalnya saya mendesain pertemuan ini berdasarkan kompetensi mahasiswa BKI. Maksudnya, dosen-dosen Konseling mendiskusikan dulu silabus masing-masing. Begitu juga dosen-dosen MK Psikologi, studi Islam, dll. Karena Jurusan kita memuat huruf “I”, Islam, MK Konseling Nabawi, Konseling Qurani, Ilmu Tasawuf, Filsafat Tasawuf, dan Terapi Sufistik berdiskusi tersendiri. Melalui MK-MK ini saya berharap kita dapat berkontribusi dalam membuat paradigma, atau minimal ciri, bagi rumpun ilmu Bimbingan dan Konseling Islam.

Ini dengan satu kesadaran bahwa MK-MK lain pun dituntut untuk mengintegrasikan Islam dengan “umum”. Maksud saya, di jurusan BKI yang ada adalah MK Teori dan Teknik BK, tidak ada MK Teori dan Teknik BKI. Tapi, MK ini pun dituntut mengintegrasikan Teori dan Teknik BK Islam selain BK “konvensional”. Di Jurusan BKI yang ada adalah MK Psikologi, Psikoterapi …, tidak ada MK Psikologi Islam, Psikoterapi Islam …. Tapi, MK ini pun dituntut mengintegrasikan temuan-temuan dalam Psikologi dan Psikoterapi Islam. Begitu seterusnya. Sosiologi juga begitu, Pak Ade.

Lalu, ada MK Metodologi Penelitian, Seminar Proposal Skripsi, Bimbingan Penulisan Skripsi, Statistik. Ini karena mahasiswa harus cepat lulus. Bahasa Indonesia di BKI pun pada Kurikulum baru ditempatkan pada semester 7 dengan tujuan ini. MK Bahasa Indonesia harus mendukung penulisan skripsi. MK ini memeriksa penulisan atau urusan Bahasa Indonesia di dalam proposal/skripsi mahasiswa. Jadi, ada manfaat praktisnya.

MK Creative Writing, Design Grafis, Terjemah Literatur BK. Untuk apa? Ini MK pilihan. Maksudnya, supaya jika alumni tidak menjadi konselor, mereka punya keterampilan wirausaha lain. Keterampilan ini masih punya kaitan profesi konselor. Jadi desainer buku, pamplet, atau apa pun yang peka konseling.

Saya mendesain dua kali rapat. Sekarang rapat kelompok dosen, nanti rapat umum. Tapi, karena peserta rapat ini ternyata tidak sebanyak yang diundang, maka kita langsung saja presentasi silabus dan dibahas secara oleh kita semua. Saya akan memberikan kesempatan dimulai dari Pengantar Bimbingan dan Konseling dulu, Pak Agus Sukirno. Lalu, Bu Hunainah. Lalu, saya lagi,  Konseling Nabawi. Lalu, Pak Kholid, Psikologi Agama. Setelah itu, Sosiologi, Pak Ade. Mrs Hilda, Bahasa Inggris. Oh, sebelum Pak Kholid Bu Azizah dulu, Studi Teks BK. Setelah Bu Hilda, Pak Badruddin, Tafsir. Mudah-mudahan waktu kita sampai jam 4, bisa mewadahi itu, silakan.

Agus Sukirno:

Saya mengajar MK Pengantar BK, MK Teori dan Teknik BK, dan MK Konseling Kemasyarakatan. Saya akan sampaikan silabus ini dulu, nanti kita evaluasi bersama.

Yang terhormat Ibu Hunainah selaku dosen pembina saya. Saya akan sampaikan beberapa silabus mata kuliah yang ditugaskan pada saya. Saya sudah membuat silabus. Pertama, saya bacakan Pengantar BK. Pertama, dasar-dasar bimbingan konseling. Kedua, pengertian bimbingan dan konseling, tujuan, fungsi dan asas-asas, prinsip. Tiga, sejarah bimbingan dan konseling di Amerika Serikat. Empat, sejarah bimbingan konseling di Indonesia. Lima, perbedaan dan persamaan bimbingan dan konseling dengan bidang layanan lain. Enam, kesalahfahaman dalam memaknai arti bimbingan dan konseling. Tujuh, ragam layanan BK dari bimbingan akademik, sosial budaya, bimbingan karir, bimbinga keluarga. Delapan, jenis-jenis layanan bimbingan dan konseling ini terdiri dari layanan dasar, layanan responsip, layanan perencanaan individual dan sistem. Di akhir perkuliahan, dibahas pengertian bimbingan dan konseling Islam di dalamnya juga ada termasuk tujuan yang jelas, prinsip, dalil, beserta bimbingan konseling dari al-Quran maupun Hadist.

Nah itu dalam untuk mata kuliah ini. Satu-satu dibahas atau saya baca keseluruhan?

Hunainah

Jika niat pertemuan ini untuk merumuskan silabus ini tidak cukup antara dosen pembina atau yang mengampu dan harus dipleno, maka kita lanjutkan. Tapi saya khawatir. Silabus ini tidak mungkin dibahas secara sekilas saja.

Tapi, sebelumnya ada beberapa hal yang akan saya sampaikan. Walaupun sudah terlanjur masuk presentasi, saya minta waktu karena hal ini cukup mendasar. Pertama tentang nama Program Studi. Saya dapat infomasi dari mahasiswa juga nama jurusan kita ini sudah sepakat “Bimbingan dan Konseling Islam”. BKI. Bukan BPI. UIN Bandung tidak menyebut BKI. Mengapa? Ini lebih penting dibahas agar persepsi kita sama. Di Jakarta juga. Di IAIB juga (Pak Rodani Kejur-nya, kata Pak Badruddin). Kemaren saya mendapat info dari mahasiswa bahwa mereka merasa beruntung bahwa jurusan ini mengambil nama BKI. Ini bukti bahwa kampus kita progresif.

Kedua, ada semacam kekhawatiran atas perebutan kapling antara penyelenggara Prodi yang sebetulnya sama tapi satu nafas, satu rumpun, hanya saja ini di bawah KEMENAG, ini di bawah KEMENDIKNAS. Sehingga di Bandung, jika mengubah nama menjadi BPI, maka ada kekhawatiran perguruan tinggi lain. Ini berkaitan dengan pendidikan profesi konselor.

Ketiga, gelar alumni. Kita menginginkan melahirkan konselor profesional. Tapi, lulusan BKI sini gelarnya S.Sos.I. Berkaitan dengan Pendidikan Profesi, untuk menjadi konselor, itu tidak hanya sampai S1 baik BKI atau BPI. Tapi, Pendidikan Profesi Konselor hanya bisa diikui oleh S1 BK, sedangkan kita ada “I”-nya. Di Indonesia ini hanya ada 3 tempat, yaitu UPI Bandung, Malang, dan Padang. Sekalipun kita sudah sepakat dengan nama jurusan “BKI”, itu masih belum bisa masuk ke Profesi Konselor.

Saya sudah melakukan negosisasi tanpa sepengetahuan Pak Fadhil dan Dekan Uswah berkaitan dengan profesi. Saya ingin memperjuangkan agar jurusan BK yang dari KEMENAG juga bisa disebut konselor. Tapi, ini mentok. Ini salah satu yang harus kita advokasi. Mereka tidak mau konselor itu berasal dari BKI atau BPI. BKI atau BPI itu, yang di bawah Kemenag itu bukan mencetak seorang konselor tapi hanya jadi pencetak penyuluh.

Ini politis, perebutan kapling. Ini PR kita. Saya sebagai orang yang aktif di organisasi profesi, dengan lepaskan background saya, saya lepaskan alamamater saya, karena saya dari IAIN saya peduli agar konseling yang di bawah KEMENAG juga harus masuk untuk mengikuti Pendidikan Profesi Konseling. Kita inikan ingin mencetak konselor yang profesional yang islami. Yang tidak hanya profesional saja, tetapi juga islami.

Keempat, orientasi utama jurusan kita. Orientasinya sebenarnya di-setting untuk konselor profesional berbasis masyarakat, bukan di pendidikan. Kenapa? Karena Konselor Pendidikan itu sebenarnya Tarbiyah. Fakultas Tarbiyah sedang mempersiapkan dan meminta saya untuk membuat proposal Prodi BK tetapi tarbiyah. Itu maksudnya jangan ada dusta di antara kita. Bukan saingan. Kita beda kapling. Konseling setting kita ini untuk memberi pelayanan kepada masyarakat. Tadi Pak Fadil sudah membuat komponen prospek alumni Jurusan. Jurusan BKI ini ada dua. Itu lebih luas. Kalau setting pendidikan sebenarnya di bawah KEMENDIKNAS. Di Raden Intan ada dua jurusan di sana. Satunya di bawah BPI. Satunya di bawah Tarbiyah.

Jadi mereka memang bisa ada dua jurusan di universitas. Kita tidak perlu khawatir karena memang beda. Kepada mahasiswa perlu kita jelaskan bahwa meskipun mereka diorientasikan di luar pendidikan, tapi sangat mudah bagi mereka untuk masuk ke dunia pendidikan karena ada materi itu.

Kelima, saya sangat menyambut baik gagasan-gasan tentang adanya MK Teks BK, Konseling Nabawi, Konseling Qurani. Mata kuliah seperti itu akan memberi kekhasan pada BKI yang memang di bawah KEMENAG dan itu berbeda dengan yang di bawah KEMENDIKNAS. Supaya mahasiswa kita Islamnya itu benar2.

Keenam, diskusi dosen itu perlu diintensifkan. Kajian-kajian al-Quran dan Hadist yang membehas tentang konseling. Tujuannya supaya memberikan warna. Selain itu, rasanya literatur yang yang berbasis islam ini memang masih sangat terbatas. Apa yang saya sampaikan ini masih butuh share dengan teman-teman. Itu saja yang saya sampaikan.

Kalau kita kembali ke silabus, apa perlu semuanya memberikan pencermatan dan masukan?

Ahmad Fadhil

Tujuan dari pertemuan ini pada awalnya memang penyelarasan Silabus dan SAP. Perlu diplenokan karena buat saya—juga sebagian dosen di sini—BK itu masih sesuatu yang baru. Jadi, kalau kita tidak berbicara di sini dan hanya mendengarkan saja, itu sudah bagus sekali. Pertemuan ini tetap akan membahas silabus dari awal: Pengantar BK, Teori dan Teknik BK, dan sebagainya.

Akan tetapi jika ada hal-hal lain yang lebih penting seperti yang tadi itu, tidak mengapa untuk kita bahas. Hanya saja, untuk membahas hal-hal yang saya Ibu sampaikan tadi, saya pikir lebih baik kita sediakan forum khusus untuk mendiskusikannya. Sekarang, masukan itu kita serap saja, tidak disikapi. Untuk diketahui saja, nanti baru ditindaklanjuti.

Jadi, begini, kalau Bapak Ibu yang lain mau mengomentari beberapa poin tadi, itu silahkan. Sebagai tambahan masukan. Terus kalau mau mengomentari apa yang sudah dipaparkan oleh Pak Agus, maka itu juga silahkan.

Agus Sukirno

Begini Pak. Saya bacakan saja silabus lain untuk sekedar informasi. Terus, untuk masukan-masukan berikutnya, itu mungkin saya dengan dosen pembimbing saja.

Ahmad Fadhil

Ok.

Agus Sukirno

Silabus Teori dan teknik BK I. Tujuan, mahasiswa diharapkan dapat mengerti peran teori-teori BK dan teknik-tekniknya. Mata kuliahnya meliputi paspek-aspek landasan-landasan dalam bimbingan dan konseling meliputi landasan historis, filosofis, sosial bidaya, religius dan psikologis. Yang kedua, strategi bimbingan dan konseling, ada konseling individual, konsultasi, bimbingan kelompok, konseling kelompok, pengajaran. Ketiga alasan munculnya banyuak teori konseling konseling behavioristik, rasional, hipnoterapi, …. Keempat penggunaan teknologi dalam bimbingan dan konseling. Keenam teknologi komputer dalam tingkat penggunaan telepon dalam layanan BK.

Teori dan teknik BK I di materi yang satu ini saya lebih cenderung menekankan teori. Belum ada materi praktek. Praktek nanti disampakan pada MK Teori dan Teknik BK II.

Kemarin sudah saya sampaikan kepada Pak Fadhil ada film yang dibuat oleh mahasiswa.

Dan terakhir, Silabus Konseling Kemasyarakatan. Terus terang untuk materi MK ini saya kesulitan. Tujuan MK ini, mahasiswa akan lebih memahami tentang kondisi masyarakat serta permasalahannya, penyakit-penyakit sosial di masyarakat, jenis-jenis lembaga agama di masyarakat meliputi          karang taruna, arisan warga, jenis2 lembaga pemerintah yang terkait dengan bimbingan konseling, seperti lapas, BKKBN, DINSOS, KUA, terakhir membahas tentang strategi layanan bimbingan dan konseling, kita fokuskan pada bimbingan kelompok, kami harapkan untuk smester ini setelah UTS nanti akan ada praktek konseling.

 

Ahmad Fadhil

Baik. Selanjutnya presentasi silabus Ibu Hunainah. Mata kuliah yang diampunya adalah Etika BK dan Konseling Sebaya.

Penulis: bkiiainbanten

Ini adalah blog tidak resmi dari Jurusan Bimbingan dan Konseling Islam Fakultas Ushuluddin Dakwah Dan Adab IAIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s