BKI FUDA IAIN SMH BANTEN

Konseling Adalah Tugas Profetis

Tinggalkan komentar

Oleh: Ahmad Fadhil

Muhammad saw adalah konselor. Dia menangani semua kegelisahan dan kesedihan hati manusia. Dan tidak ada kegelisahan dan kegundahan hati yang lebih buruk daripada kebingungan, kecemasan, dan ketakutan. Dengan al-Quran, dia memberikan kecerahan bagi jiwa manusia dengan membebaskannya dari semua kegelisahan dan kegundahan itu, sehingga jiwa menjadi tenang dan tenteram.[1]

Muhammad saw adalah pembawa maw‘izah min rabbikum wa shifa’ li ma fi al-sudur wa huda wa rahmah li al-mu’minin—nasihat dari Tuhan kalian, obat hati, petunjuk, dan kasih sayang bagi orang-orang yang beriman.[2] Ajaran yang dibawanya adalah wejangan yang merupakan nasihat yang menyembuhkan (المَوْعِظَةُ نَصِيْحَةٌ شَافِيَةٌ), penghidup hati (الْمَوَاعِظُ حَيَاةُ الْقُلُوْبِ), penggosok jiwa dan pembersih hati (الْمَوَاعِظُ صِقَالُ النُّفُوْسِ وَجَلاَءُ الْقُلُوْبِ), (فِي الْمَوَاعِظِ جَلاَءُ الصُّدُوْرِ).

Tujuan risalahnya adalah membebaskan jiwa manusia dari kotoran jahiliyyah, membuka cakrawala jiwa agar bisa berhubungan dengan “langit” dan dapat merasakan makna-makna cinta, kebaikan, dan keindahan, serta terbebas dari polusi yang mencemarinya atau memasung gerakannya di dunia.[3]

Penyebutan Muhammad sebagai konselor bukan bidah. Di dalam Nahj al-Balaghah khutbah ke-34 yang dikenal dengan sebutan Khutbah al-Malahim, ‘Ali bin Abu Talib mendeskripsikan Nabi Muhammad saw sebagai “dokter”.  ‘Ali bin Abu Talib berkata:

وَصَفَ أَمِيْرُ الْمُؤْمِنِيْنَ النَّبِيَّ الْأَكْرَمَ فَقَالَ : طَبِيْبٌ دَوَّارٌ بِطِبِّهِ، قَدْ أَحْكَمَ مَرَاهِمَهُ وَأَحْمَى مَوَاسِمَهُ، يضَعُ ذَلِكَ حَيْثُ الْحَاجَةِ إِلَيْهِ، مِنْ قُلُوْبٍ عُمْيِ، وَآذَانٍ صَمِّ، وَأَلْسِنَةٍ بُكْمٍ، مُتَتَبِّعٌ بِدَوَائِهِ مَوَاضِعَ الْغَفْلَةِ وَمَوَاطِنَ الْحِيْرَةِ.

Amir al-Mukminin (‘Ali bin Abu Talib) mendeskripsikan Nabi saw, “Dia adalah dokter yang berkeliling membawa pengobatannya. Dia telah menyiapkan salepnya dengan sangat baik dan memanaskan penilaiannya. Dia meletakkannya di tempat yang membutuhkan, yaitu hati yang buta, telinga yang tuli, dan lidah yang gagu. Dia memasukkan obatnya ke tempat-tempat kelalaian dan kebingungan.”[4]

Rasulullah adalah manusia paling tinggi tata kramanya dan paling halus budi pekertinya terhadap orang lain. Ketinggian tata krama dan kehalusan budi pekerti ini beliau lakukan terhadap semua orang, bahkan Kaum Musyrik Quraisy. Ketinggian tata krama dan kehalusan budi pekerti beliau adalah sifat yang diketahui secara umum. Dalam berdialog, ketika beliau berbicara dalam urusan dakwah, ketinggian adab beliau tergambar dengan jelas.


[1] Muhammad Jawwadi Amuli, al-Ma‘ad wa al-Qiyamah fi al-Qur’an, Beirut: Dar al-Safwah, cet. I, 1414 H./1994 M., h. 7.

[2] QS. Yunus: 57.

[3] Khadijah al-Nabrawi, Mushkilat Nafsiyyah li al-Insan: Bahth Muntaqa min Kulliyyat Rasa’il al-Nur li al-Imam al-Jalil Sa ‘id al-Nursi, Kairo: Shirkah Suzler li al-Nashr, cet. I, 1999, h. 2.

[4] http://www.balaghah.net/nahj-htm/ara/id/sharh/KH0140.HTM, 13 Maret 2012, 11:52. Lihat juga Muhammad Husayn Murtada, al-‘Ilm al-Nafi‘ Li al-Fata al-Yafi‘, Beirut: Dar Jawwad al-A’immah, cet. I, 1429 H./2008 M., h. 160-161.

Penulis: bkiiainbanten

Ini adalah blog tidak resmi dari Jurusan Bimbingan dan Konseling Islam Fakultas Ushuluddin Dakwah Dan Adab IAIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s