BKI FUDA IAIN SMH BANTEN

Urgensi Konseling Nabawi

Tinggalkan komentar

Oleh: Ahmad Fadhil

Kurikulum Jurusan Bimbingan dan Konseling Islam (BKI) Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN “Sultan Maulana Hasanuddin” Banten memuat mata kuliah bernama Konseling Nabawi. Mata kuliah ini—bersama dengan MK Konseling Qurani dan Terapi Sufistik—didesain untuk mewujudkan misi jurusan Bimbingan dan Konseling Islam untuk membangun paradigma baru dalam ilmu bimbingan dan konseling yang dapat disebut dengan “Bimbingan dan Konseling Islam”.

Pada saat ini, Bimbingan dan Konseling Islam adalah bidang kajian yang semakin menarik.[1] Dalam konteks ini perlu segera disebutkan bahwa Islam bukanlah satu-satunya agama yang menjadi batasan bagi istilah Bimbingan dan Konseling. Umat Kristen terlihat giat serta telah melangkah jauh dalam mengembangkan Konseling Pastoral.[2] Buktinya, Pastoral Konseling selain menjadi konsentrasi dalam tingkat Sarjana dan Pascasarjana, juga menjadi nama fakultas.[3]

Ini menjadi salah satu motif untuk mengembangkan rumpun ilmu Bimbingan dan Konseling Islam. Selain itu, anggapan bahwa rumpun ilmu Bimbingan dan Konseling muncul dan berkembang pada masa modern tidak dapat dipungkiri. Buku-buku konseling dan psikoterapi yang terbit di Barat menumpuk, menggunung, serta menimbulkan kebingungan para pembimbing, konselor, dan psikoterapis muslim. Kebingungan ini berkisar pada apa yang mereka tahu ketidaksesuaian karakter masyarakat Islam dengan teknik-teknik konseling dan psikoterapi Barat.[4]

Hal ini juga merupakan tantangan untuk pengembangan Konseling Islami, meskipun tak jarang tantangan ini berefek negatif, yaitu menimbulkan keraguan seputar bergunakah mempelajari ilmu ini dari masa yang jauh sebelum masa modern, yaitu pada masa Nabi Muhammad saw dari pengajaran dan perbuatan yang beliau berikan?

Secara teoritis, pendasaran bimbingan dan konseling pada prinsip dan ajaran Islam adalah kemestian. Hasan al-Sharqawi mengatakan bahwa pilar ilmu-ilmu kehidupan sepeti pendidikan, etika, ekonomi, psikologi, dan hukum harus diambil dari Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya. Barat mengklaim bahwa mereka adalah pemilik peradaban modern dan kontemporer. Mereka memang telah sukses dalam ilmu-ilmu aplikatif dan teknologi. Tapi, mereka tidak maju dalam ilmu-ilmu kehidupan seperti akhlak, pendidikan, psikologi, dan hukum. Mereka kehilangan arah dan menyimpang dari jalan yang lurus.[5]

Mata kuliah ini merupakan upaya mengangkat kembali wacana bimbingan dan konseling Islam dengan menggunakan perspektif “nabawi”. Teoritisasi bimbingan dan konseling nabawi dalam tulisan ini dilakukan dengan berpijak pada inventarisasi hadith-hadith dengan kata kunci nasaha dan wa‘aza. Langkah berikutnya adalah mencari penjelasan hadith-hadith itu. Terakhir, meresistematisasi data-data yang diperoleh dalam kerangka bimbingan dan konseling dengan mengambil satu tema tertentu dalam bidang ilmu bimbingan dan konseling.

Banyak sekali literatur yang dapat menjadi rujukan. Salah satunya, untuk mendapat salah satu perspektif tentang apa itu konseling nabawi, sebagai contoh, kita dapat membaca buku Tasnif Ghurar al-Hikam Wa Durar al-Kalim oleh Mustafa Dirayati dan Husayn Dirayati. Sebagaimana ditunjukkan oleh judulnya, buku ini tak lain dari klasifikasi isi sebuah buku yaitu Ghurar al-Hikam wa Durar al-Kalim. Pada bagian ketiga: al-Akhlaqi, bab ketujuh, buku ini memuat kumpulan hadith-hadith (no. 4518-4604) tentang nasihat (al-maw‘izah wa al-nasihah).[6]

 


[1] Buktinya, banyak buku telah terbit untuk membahas wacana ini, di antaranya: (1) Samsul Munir Amin, Bimbingan dan Konseling Islam, Jakarta: Amzah, cet. I, Mei 2010. (2) Yahya Jaya, Bimbingan Konseling Agama Islam, Angkasa Jaya, cet. I, 2004. (3) Erhamwilda, Konseling Islami, Yogyakarta: Graha Ilmu, cet. I, 2009. (4) Isep Zainal Arifin, Bimbingan Penyuluhan Islam: Pengembangan Dakwah Melalui Psikoterapi Islam, Jakarta: Rajawali Press, cet. I, 2009. (5) Aunur Rahim Faqih (peny), Bimbingan dan Konseling Dalam Islam, Yogyakarta: UII Press, cet. III, Juni 2004. (6) H.M. Arifin, Pokok-Pokok Pikiran Tentang Bimbingan Dan Penyuluhan Agama: Di Sekolah dan di Luar Sekolah, Jakarta: Bulan Bintang, cet. IV, 1979. (7) Abdul Choliq Dahlan, Bimbingan dan Konseling Islami; Sejarah, Konsep dan Pendekatannya, Yogyakarta: Pura Pustaka, cet: I, Sept 2009.

[2] Buku-buku itu di antaranya: (1) Gary R. Collins, Pengantar Konseling Kristen Yang Efektif, alih bahasa oleh Esther Susabda dari buku berjudul Effective Christian Counseling, Malang: Literatur SAAT, cet. IX, 2010. (2) Tulus Tu’u, Dasar-Dasar Konseling Pastoral: Panduan bagi Pelayanan Konseling Gereja, Yogyakarta: Penerbit ANDI, cet. IV, 2010.

[4] Buhuth fi al-Tawjih al-Islami li al-Irshad wa al-‘Ilaj al-Nafsi, Muhammad Mahrus al-Shanawi, Kairo: Dar Gharib li al-Tiba‘ah wa al-Nashr wa al-Tawzi‘, 2001.

[5] Hasan al-Sharqawi, Muhawarat Bayna al-‘Aql wa al-Qalb, 1986, h. 6-7

[6] Mustafa Dirayati dan Husayn Dirayati, Tasnif Ghurar al-Hikam wa Durar al-Kalim, Qum: Markaz al-Abhath wa al-Dirasat al-Islamiyyah, cet. I, 1420 H., h. 224-227.

Penulis: bkiiainbanten

Ini adalah blog tidak resmi dari Jurusan Bimbingan dan Konseling Islam Fakultas Ushuluddin Dakwah Dan Adab IAIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s