مَا خَابَ مَنِ اسْتَشَارَ

JURUSAN BKI FAKULTAS USHULUDDIN, DAKWAH, DAN ADAB IAIN "SMH" BANTEN

Usul Fiqh 03: Sejarah Ilmu Usul Fiqh

1 Komentar

Ahmad Fadhil

Kelahiran Ilmu Usul Fiqh

Abu Zahrah[1] berpendapat bahwa Ilmu Usul Fiqh lahir berbarengan dengan Ilmu Fiqh karena setiap kali ada fiqh tentu saja ada metode istinbat fiqh dan jika ada metode itu maka tentu ada Usul Fiqh. Menurutnya, metode istinbat fiqh sudah ada pada Masa Sahabat pasca wafatnya Nabi saw. Para sahabat seperti Ibnu Mas‘ud, ‘Ali bin Abu Talib, dan ‘Umar bin Khattab adalah fuqaha yang tidak akan melontarkan pendapat tanpa kendali dan aturan. Saat ‘Ali bin Abu Talib mengatakan bahwa hukuman peminum sama dengan hukuman pembuat tuduhan zina palsu, maka ‘Ali telah membuat hukuman dengan dasar al-dhara’i‘. Saat Ibnu Mas‘ud menyatakan bahwa ‘idah wanita hamil yang ditinggal mati suaminya adalah sama dengan ‘idah wanita hamil, maka putusannya ini berdasarkan kaidah naskh.

Pada Masa Tabi‘in, istinbat semakin luas karena banyaknya peristiwa baru dan karena hadirnya sejumlah Tabi‘in di mimbar fatwa seperti Sa‘id bin al-Musayyab di Madinah, ‘Alqamah dan Ibrahim al-Nakha‘i di Irak. Mereka berfatwa dengan menggunakan al-Quran, Sunnah Nabi saw, dan fatwa-fatwa sahabat, serta menggunakan metode maslahah atau qiyas jika tidak mendapatkan nas. Pada masa ini, metode Usul Fiqh semakin jelas karena setiap kali terdapat perbedaan madrasah fiqh, maka perbedaan itu menjadi penyebab semakin jelasnya metode istinbat masing-masing madrasah.

Pada Masa Imam Mazhab, metode Usul Fiqh bertambah jelas. Masing-masing imam mazhab menerangkan metode istinbatnya dengan jelas. Abu Hanifah membatasinya pada al-Kitab dan Sunnah. Fatwa sahabat hanya dia pakai jika merupakan ijma. Sedangkan jika bukan, maka dia memilih salah satunya. Dia tidak mendasarkan pandangannya pada pendapat Tabi‘in. Abu Hanifah berbeda dengan Malik yang menjadikan ‘amal ahl al-madinah sebagai argumen.[2]

Kepeloporan al-Shafi‘i dalam Ilmu Usul Fiqh

Mayoritas ulama berpandangan bahwa Ilmu Fiqh ada sebelum Ilmu Usul Fiqh seperti Ilmu Nahwu ada setelah orang berbicara dengan bahasa Arab Fusha, Ilmu ‘Arud ada setelah para penyair berpuisi, dan Ilmu Logika ada setelah orang ramai berdebat dan berpikir.[3] Lalu, karena umat Islam telah terlebih dulu mengkaji masalah praktis dan menetapkan metodenya (Usul Fiqh) sebelum mereka mengkaji masalah teologis teoritis dan mencari metodenya, maka mereka pun lebih dulu menciptakan metode penelitian dalam masalah praktis (usul al-fiqh) daripada dalam masalah teoritis (usul al-din).[4]

Kebanyakan peneliti dan ahli Ilmu Usul Fiqh mengatakan bahwa pendiri Ilmu Usul Fiqh adalah al-Shafi‘i dan buku al-Risalah karyanya adalah buku pertama dalam bidang Ilmu Usul Fiqh. Al-Razi mengatakan, “Al-Shafi‘i telah menggali Ilmu Usul Fiqh, menetapkan aturan umum bagi manusia yang jadi rujukan dalam usaha mengetahui tingkatan dalil-dalil syariat. Nisbah al-Shafi‘i dengan Ilmu Syariat sama dengan nisbah Aristoteles dengan Ilmu Rasional.”[5] Ibnu Hambal dan al-Juwayni menyatakan bahwa tidak ada seorang pun sebelum al-Shafi‘i yang mengenal dan menulis tentang Usul Fiqh. Ibnu Rushd di dalam Fasl al-Maqal pun mengatakan bahwa kajian tentang analogi fiqh dilakukan setelah abad pertama.[6]

Keyakinan bahwa al-Shafi‘i adalah pendiri Ilmu Usul Fiqh didasari oleh tiga hal. Pertama, buku tertua dalam bidang Usul Fiqh yang kita ketahui adalah karya al-Shafi‘i. Dia tidak hanya menulis al-Risalah, tapi juga Ahkam al-Qur’an, Ikhtilaf al-Hadith, Ibtal al-Istihsan, Jima‘ al-‘Ilm, dan al-Qiyas.” Kedua, bahasan al-Shafi‘i sangat holistik sehingga membuat pencarian metode pra al-Shafi‘i seolah-olah tidak diperlukan. Bab-bab dan tema-tema yang dipaparkan al-Shafi‘i adalah yang paling mendetail dan paling berharga di antara semua yang telah ditulis para ulama. Bahkan, menurut Ahmad Shakit, editor buku al-Risalah,semua tulisan setelah al-Shafi‘i adalah cabang darinya dan berhutang kepadanya, sedangkan dia telah menghimpun serta menulis ilmu tersebut tanpa contoh terdahulu. Ketiga, pemikiran al-Shafi‘i dikembangkan dan disebarluaskan secara intensif oleh murid-muridnya.[7]

Abu Zahrah mengatakan bahwa al-Shafi‘i pantas untuk menjadi orang pertama yang mengkodifikasi Ilmu Usul Fiqh. Sebab, al-Shafi‘i mahir dalam Ilmu Bahasa Arab, Ilmu Hadith, menguasai berbagai jenis fiqih pada zamannya, mengetahui perbedaan para ulama dari masa sahabat hingga masanya, sangat terobsesi untuk mengetahui sebab-sebab perbedaan pendapat dan ragam orientasi orang-orang yang berbeda pendapat.[8]

Al-Shafi‘i mengerti bahasa Yunani seperti diterangkan oleh ‘Abdullah al-Hakim dalam Manaqib al-Shafi‘i yang dikutip oleh Ibnu al-Qayyim dalam Miftah Dar al-Sa‘adah 2/232. Tapi, ini bukan bukti yang kuat tentang terpengaruhnya Usul Fiqh al-Shafi‘i oleh Logika Aristoteles. Sebab, menurut al-Nashshar, kajian dan metode dalam Usul Fiqh al-Shafi‘i tidak menunjukkan dia berhubungan dengan kajian di luar pemikiran dan bahasa Arab.[9]

Sikap al-Shafi‘i terhadap logika Aristoteles tidak hanya negatif atau sekadar tidak terpengaruh, tapi juga positif, yakni menyerang logika Aristoteles dengan sengit, bahkan mengharamkannya. Salah satu alasannya adalah logika Aristoteles berbasis bahasa Yunani yang berbeda dengan bahasa Arab dan aplikasi logika yang berbasis pada bahasa Yunani pada logika yang berbasis pada bahasa Arab akan berimplikasi banyak kontradiksi. Kritik ini memperkuat pendapat bahwa al-Shafi‘i mengerti bahasa Yunani.[10]

Ilmu Usul Fiqh Pasca al-Shafi‘i

Di dalam buku Mu‘jam Usul al-Fiqh, h. 8-13,[11] dijelaskan metode-metode para ulama dalam menulis buku Usul Fiqh. Menurut penulis buku ini, metode para ulama dalam membahas Usul Fiqh ada tiga, yaitu metode Mutakallimin, metode Ahnaf, dan metode Muta’akhkhirin.

Metode Mutakallimin (metode Shafi‘iyyah)

Di dalam metode ini, para mutakallim meneliti masalah-masalah, memeriksa perbedaan-perbedaan pendapat dengan cara logis dan teoritis semata-mata. Metode ini tidak terpengaruh dan tidak fanatik pada mazhab tertentu. Tujuan mereka adalah teoritisasi kaidah-kaidah Usul Fiqh secara ilmiah dan tidak terikat oleh apa pun selainnya.

Para pengusung mazhab ini menjadikan indikasi kata dan kaidah-kaidah Bahasa Arab sebagai sumber rujukan. Selain disebut metode al-Mutakallimin, metode ini terkadang disebut metode al-Shafi‘iyyah karena al-Shafi‘i-lah pelopornya dan diikuti oleh para ulama Hanabilah, para ulama Malikiyyah, dan ulama-ulama lain.

Karakteristik metode ini adalah kecenderungan pada inferensi rasional, tidak fanatik pada mazhab, sedikit menyebutkan hukum furu‘ fiqh, dan jika menyebutkannya hanya sebagai contoh.[12]

Buku-buku babon dalam metode ini adalah: al-Risalah oleh al-Shafi‘i (w. 204 H.), al-Mu‘tamad fi Usul al-Fiqh oleh Abu al-Hasan Muhammad bin ‘Ali al-Tayyib al-Basri al-Mu‘tazili (w. 436 H.) yang merupakan sharh buku al-‘Ahd oleh al-Qadi ‘Abd al-Jabbar al-Mu‘tazili (w. 415 H.), al-Mustasfa min ‘Ilm al-Usul oleh Abu Hamid al-Ghazali (w. 505 H.), al-Burhan fi Usul al-Fiqh oleh Abu al-Ma‘ali ‘Abd al-Malik al-Juwayni (w. 478 H.), al-Mankhul oleh Abu Hamid al-Ghazali (w. 505 H.), al-Luma‘ oleh Abu Ishaq Ibrahim bin ‘Ali bin Yusuf al-Fayruz Abadi al-Shirazi (w. 476 H.), al-Tabsirah fi Usul al-Fiqh, oleh Abu Ishaq, al-Qawati‘ oleh Ibnu al-Sam‘ani (w. 489 H.), al-‘Iddah fi Usul al-Fiqh oleh Abu Ya‘la Muhammad bin al-Husayn al-Farra’ al-Baghdadi (w. 458 H.), Rawdah al-Nazir wa Jannah al-Manazir oleh Ibnu Qudamah al-Maqdisi (w. 620 H.), Al-‘Ahd oleh ‘Abd al-Jabbar bin Ahmad al-Hamdhani al-Mu‘tazili, ‘Iddah al-‘Alim wa al-Tariq al-Salim oleh Ibnu al-Sabbag Abu Nasr ‘Abd al-Sayyid bin Muhammad al-Baghdadi (w. 477 H.).

Metode Ahnaf

Menurut para ulama Mazhab Hanafiyyah (Ahnaf), fiqh sangat terkait dengan usul fiqh. Keterikatan ini sangat jarang terurai. Karena itu, dalam membahas Usul Fiqh, mereka sangat terpengaruh oleh furu‘-furu‘ fiqh. Mereka mengarahkan perhatian pada upaya menetapkan kaidah-kaidah usul fiqh berdasarkan furu‘-furu‘ fiqh yang mereka nukil dari para pemimpin mazhab mereka sehingga kita dapat menemui banyak sekali furu‘ dan masalah fiqh di dalam buku usul fiqh mereka.

Metode ini menetapkan kaidah usul fiqh, lalu mengqiyaskan furu‘ fiqh di dalam mazhab mereka dengan kaidah tersebut. Metode ini memiliki karakter praktis, karena ia merupakan kajian praktis aplikatif terhadap furu‘-furu‘ fiqh yang dinukil dari para imam mazhab serta merupakan abstraksi terhadap aturan, kaidah, dan rambu usul fiqh yang diperhatikan oleh para imam mazhab tersebut ketika mereka melakukan deduksi. Jadi, metode ini menetapkan kaidah yang mendukung furu‘-furu‘ fiqh di dalam mazhab dan membela tata cara para imam mazhab dalam berijtihad.

Karya-karya utama dalam metode ini adalah: Usul al-Kurkhi oleh ‘Ubaydullah bin al-Husayn bin Dallal bin Dalham al-Kurkhi (w. 340 H.), Usul al-Jassas oleh Abu Bakr Ahmad bin ‘Ali al-Razi al-Jassas (w. 370 H.), Usul al-Sarkhasi oleh Abu Bakar Muhammad bin Ahmad bin Abu Sahl al-Sarkhasi (w. 483 H.), Usul al-Bazdawi (Kanz al-Wusul ila Ma‘rifah al-Usul) oleh Abu al-Hasan ‘Ali bin Muhammad bin al-Husayn bin ‘Abd al-Karim al-Bazdawi (w. 482 H), Ta’sis al-Nazr dan Taqwim al-Adillah fi Taqwim Usul al-Fiqh oleh Abu Zayd al-Dabbusi ‘Abdullah bin ‘Umar bin ‘Isa al-Hanafi (430 H.), Al-Mannar oleh ‘Abdullah bin Ahmad al-Nasafi (w. 710 H.).

Metode Muta’akhkhirin

Metode ini muncul pada awal abad ketujuh Hijriyah. Pelopornya adalah Muzaffar al-Din Ahmad bin ‘Ali al-Sa‘ati al-Hanafi yang menulis buku Badi‘ al-Nizam al-Jami‘ bayna Usul al-Bazdawi wa al-Ihkam. Metode ini menggabung dua metode terdahulu. Dengan munculnya metode yang dipakai baik oleh para ulama Mazhab Hanafiyyah maupun Shafi‘iyyah ini, juga oleh selain mereka, maka Ilmu Usul Fiqh semakin berkembang dan memperoleh kesempurnaan. Aplikasi praktis menjadi beriringan dengan metode teoritis murni.

Karya-karya utama dalam metode ini adalah: Badi‘ al-Nizam al-Jami‘ bayna Usul al-Bazdawi wa al-Ihkam oleh Muzaffar al-Din Ahmad bin ‘Ali al-Sa‘ati al-Hanafi (w. 693 H.), Jam‘ al-Jawami‘, Man‘ al-Mawani‘, dan Tawshih al-Sahih oleh Abu Nasr ‘Abd al-Wahhab bin ‘Ali bin ‘Abd al-Kafi al-Subki (w. 771 H.). Dia juga menulis buku Tabaqat al-Shafi‘iyyah al-Kubra, Miftah al-Wusul ila Bina’ al-Furu‘ ‘ala al-Usul oleh Abu ‘Abdullah Muhammad bin Ahmad al-Maliki al-Tilmisani (w. 771 H.), Tanqih al-Usul wa Sharhuh al-Tawdih oleh ‘Abdullah bin Mas‘ud bin Taj al-Shari‘ah al-Hanafi (w. 747 H.) yang di-sharh oleh Sa‘d al-Din al-Taftazani al-Shafi‘i dalam buku al-Talwih fi Hall Ghawamid al-Tawdih, al-Qawa‘id wa al-Fawa’id al-Usuliyyah oleh Ibnu al-Liham Abu al-Hasan ‘Ala al-Din (w. 803 H.), al-Tahrir fi Usul al-Fiqh oleh Ibnu al-Hammam Kamal al-Din Muhammad bin ‘Abd al-Wahid bin ‘Abd al-Hamid bin Mas‘ud al-Siwasi al-Iskandari (w. 861 H.) yang di-sharh oleh Muhammad bin Amin Amir Bad Shah al-Hanafi dalam buku Taysir al-Tahrir, Musallam al-Thubut oleh Muhibb al-Din bin ‘Abd al-Shukur (w. 1119 H.).

Ilmu Usul Fiqh di Kalangan Shi‘ah

Abu Zahrah membantah pendapat Hasan al-Sadr, salah seorang ulama Mazhab al-Imamiyyah, yang menyatakan bahwa orang pertama yang mengkodifikasi Ilmu Usul Fiqh adalah Muhammad al-Baqir bin ‘Ali Zayn al-‘Abidin dan dilanjutkan oleh putranya Abu ‘Abd Allah Ja‘far al-Sadiq.[13]

Sejarah Ilmu Usul Fiqh di kalangan Shi‘ah berkaitan dengan lahirnya Mazhab Anti Usul Fiqh, yaitu Mazhab Al-Akhabariyyun, yang dibantah oleh ulama yang bernama al-Bahbahani. Nama lengkap al-Bahbahani Muhammad Baqir al-Bahbahani (w. 1205 H.). Dia adalah pimpinan Madrasah al-Usuliyyin di Karbala yang berpolemik dengan Madrasah al-Akhbariyyun. Dengan kepiawaiannya, dia berhasil memenangkan Ilmu Usul Fiqh dan menyurutkan serta mengalahkan orientasi Akhbarisme.[14]

Al-Bahbahani dan madrasahnya disebut oleh Baqir al-Sadar sebagai penanda lahirnya periode ketiga dalam sejarah Ilmu Usul Fiqh dalam Mazhab Ahlul Bayt. Periode pertama, ‘asr tamhidi (periode pendahuluan), yaitu periode peletakkan benih asasi Ilmu Usul mulai dari masa Ibnu Abi ‘Aqil dan Ibnu al-Junayd dan berakhir dengan munculnya al-Tusi. Periode kedua adalah ‘asr al-‘ilm (periode ilmu), yaitu periode tumbuhnya dan berbuahnya benih tersebut dengan jelasnya karakteristik pemikiran Usul yang tercermin dalam kajian fiqh secara masif. Pimpinan periode ini adalah al-Tusi. Tokoh-tokoh lainnya di antaranya adalah Ibnu Idris, al-Muhaqqiq al-Hilli, al-‘Allamah al-Hilli, dan al-Shahid al-Awwal. Periode ketiga adalah ‘asr al-kamal al-‘ilmi (periode kesempurnaan ilmu), yaitu periode yang membawa Ilmu Usul Fiqh ke puncak kematangannya.

Baqir al-Sadr menyebutkan bahwa tokoh-tokoh periode ini dibagi menjadi tiga generasi. Generasi pertama adalah murid-murid al-Bahbahani, yaitu Mahdi Bahr al-‘Ulum (w. 1212 H.), Ja‘far Kashif al-Ghita’ (w. 1227 H.), Mirza Abu al-Qasim al-Qummi (w. 1227 H.), ‘Ali al-Tabataba’i (w. 1221 H.), Asad Allah al-Tusturi ( w. 1234 H.). Generasi kedua adalah murid tokoh-tokoh generasi pertama, yaitu Muhammad Taqi bin ‘Abd al-Rahim (w. 1248 H.), Muhammad Sharif bin Hasan ‘Ali (w. 1245 H.), Muhsin al-A‘raji (w. 1227 H.), Ahmad al-Naraqi (w. 1245 H.), Muhammad Hasan al-Najafi (w. 1266 H.). Generasi ketiga dipimpin oleh Murtada al-Ansari (l. 1214 H.). Sampai sekarang Ilmu Usul Fiqh yang berkembang di hawzah Shiah masih merupakan kelanjutan dari periode ketiga ini.[15]

Kamal al-Sayyid mengatakan bahwa al-Bahbahani memiliki tiga karakter utama. Pertama, gemar menuntut ilmu. Ilmu adalah obsesi dan isi hatinya satu-satunya baik sedang diam di rumah maupun dalam perjalanan. Kedua, zuhud atas dunia yang fana. Ketiga, pengagungan terhadap akal manusia dan kemampuannya menuntun manusia kepada kebahagiaan dunia dan akhirat.[16]


[1] Muhammad Abu Zahrah lahir pada tahun 1316 H., bertepatan dengan 29 Maret 1898 M. di Mahallah al-Kubra, Provinsi al-Gharbiyyah, Mesir. Setelah pensiun mengajar pada tahun 1958, pada Februari 1962, dia menjadi anggota Majma‘ al-Buhuth al-Islamiyyah di al-Azhar. Dia menulis banyak buku, di antaranya: Khatam al-Nabiyyin (2 jilid), Al-Mu‘jizah al-Kubra, Abu Hanifah Hayatuh ‘Asruh Ara’uh Fiqhuh, Malik Hayatuh ‘Asruh Ara’uh Fiqhuh, Ibnu Hanbal Hayatuh ‘Asruh Ara’uh Fiqhuh, Al-Shafi‘i Hayatuh ‘Asruh Ara’uh Fiqhuh, Al-Imam Zayd Hayatuh ‘Asruh Ara’uh Fiqhuh, Ibnu Taymiyyah Hayatuh ‘Asruh Ara’uh Fiqhuh, Ibnu Hazm Hayatuh ‘Asruh Ara’uh Fiqhuh, Al-Imam al-Sadiq Hayatuh ‘Asruh Ara’uh Fiqhuh, Al-Jarimah wa al-‘Uqubah fi al-Fiqh al-Islami (al-Jarimah), Al-Jarimah wa al-‘Uqubah fi al-Fiqh al-Islami (al-‘Uqubah), Tarikh al-Madhahib al-Islamiyyah (2 jilid), Al-Ahwal al-Shakhsiyah, Ahkam al-Tirkat wa al-Mawarith, Usul al-Fiqh, Al-Milkiyyah wa Nazariyyah al-‘Aqd, Sharh Qanun al-Wasiyyah. (Lihat, Pengantar Penerbit buku Muhammad Abu Zahrah, Usul al-Fiqh, Kairo: Dar al-Fikr al-‘Arabi, tt..)

[2] Muhammad Abu Zahrah, Usul al-Fiqh,Kairo: Dar al-Fikr al-‘Arabi, tt., h. 11-12.

[3] Muhammad Abu Zahrah, Usul al-Fiqh, h. 10.

[4] ‘Ali Sami al-Nashshar, Manahij al-Bahth ‘Inda Mufakkiri al-Islam wa Naqd al-Muslimin li Mantiq al-Aristatalisi, Kairo: Dar al-Fikr al-‘Arabi, cet. I, 1367 H./1947 M. h. 55

[5] Abu ‘A’ish ‘Abd al-Mun‘im Ibrahim, “Pengantar”, Sharh al-Waraqat fi ‘Ilm Usul al-Fiqh, Jalal al-Din Muhammad bin Ahmad al-Mahalli al-Shafi‘i, ed. Abu ‘A’ish ‘Abd al-Mun‘im Ibrahim, Riyad: Maktabah Nizar Mustafa al-Baz, cet. I, 1417 H./1996 M., h. 13.

[6] ‘Ali Sami al-Nashshar, Manahij al-Bahth,h. 56.

[7] ‘Ali Sami al-Nashshar, Manahij al-Bahth, h. 56; Abu ‘A’ish ‘Abd al-Mun‘im Ibrahim, “Pengantar”, Sharh al-Waraqat fi ‘Ilm Usul al-Fiqh, h. 13.

[8] Muhammad Abu Zahrah, Usul al-Fiqh, Kairo: Dar al-Fikr al-‘Arabi, tt., h. 11.

[9] ‘Ali Sami al-Nashshar, Manahij al-Bahth,h. 60-61.

[10] ‘Ali Sami al-Nashshar, Manahij al-Bahth,h. 62.

[11] Khalid Ramadan Hasan, Mu‘jam Usul al-Fiqh, al-Rawdah, cet. I, 1998, h. 8-13.

[12] Cari buku Manahij al-Usuliyyin fi al-Ta‘lif karya Muhammad Ahmad Ma‘bar al-Qahtani.

[13] Muhammad Abu Zahrah, Usul al-Fiqh, Kairo: Dar al-Fikr al-‘Arabi, tt., h. 12.

[14] ‘Abbas al-‘Abiri, al-Bahbahani Rajul al-‘Aql, terj. Kamal al-Sayyid, Qum: Mu’assasah Ansariyan, tt., Pengantar Penerjemah.

[15] Kamal al-Haydari, La Darar wa La Dirar min Abhath Sayyidina al-Ustadh Ayatullah al-‘Uzma al-Shahid Muhammad Baqir al-Sadr, Qum: Mu’assasah al-Imam al-Jawwad li al-Fikr wa al-Thaqafah, h. 7-8, mengutip dari Muhammad Baqir al-Sadr, Ma‘alim al-Jadidah li al-Usul, Teheran: Maktabah al-Najah, cet. II, h. 87.

[16] ‘Abbas al-‘Abiri, al-Bahbahani Rajul al-‘Aql, terj. Kamal al-Sayyid, Qum: Mu’assasah Ansariyan, tt., Pengantar Penerjemah.

One thought on “Usul Fiqh 03: Sejarah Ilmu Usul Fiqh

  1. Saya Ade Faturohman kelas KPI B semester 3.
    Pak saya mau nanya mengenai sejarah ushul fiqih.
    Menurut Bapak, sejarah usul fikih di Indonesia ini kronologinya seprti apa?
    Kemudian kalau ahli ilmu fikih sebutannya fakih atau fuqoha, apa sebutan bagi orang yang ahli dalam ilmu ushul fiqih?

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.