مَا خَابَ مَنِ اسْتَشَارَ

JURUSAN BKI FAKULTAS USHULUDDIN, DAKWAH, DAN ADAB IAIN "SMH" BANTEN


Tinggalkan komentar

Diskusi Rumpun Ilmu BKI: Konseling Spiritual dan Sastra Sufisme

 
 
Notulensi Diskusi Rumpun Ilmu BKI
Hari/tanggal                : Jumat, 27 September 2013
Jam                              : 13.30-16.00
Tempat                        : Laboratorium Komputer FUDA IAIN SMH Banten
Narasumber                 :
1.Agus Sukirno, M.Pd. (Tema: Konseling Spiritual: Kajian Tentang Menggapai Pencerahan Hati Melalui Salat)
2.Sulaiman Djaya (Tema: Sastra Sufisme, Sebuah Sumbangan Konseling Ruhani.
Moderator/Notulen     : Ahmad Fadhil, Lc., M.Hum.
 
Sesi Pertama
Mumu Zainal Muttaqin:
Untuk Pak Agus Sukirno: Mengapa salat tidak mampu menjawab masalah zaman? Mengapa salat tetap melangit, tidak membumi?
Untuk Kang Sulaiman Djaya: Mengapa sastra juga melangit?

Tiyas Yasinta:
Untuk Pak Agus Sukirno: Spiritualitas manusia memiliki beberapa latarbelakang, di antaranya adalah pendidikan orang tua. Bagaimana orang tua bisa mendidik anaknya agar punya spiritualitas tinggi? Apa ada treatment khusus? Bagaimana manifestasi sosial dari khusyuk selama banyak muslim yang rumahnya bagus tapi kepedulian sosialnya rendah?
Untuk Pak Sulaiman Djaya: Bagaimana dapat motivasi untuk menulis sementara orang tua tidak mendukung untuk menjadi sastrawan?

Baca lebih lanjut


Tinggalkan komentar

Sastra Sufisme, Sebuah Sumbangan Konseling Ruhani

Sastra Sufisme, Sebuah Sumbangan Konseling Ruhani

Oleh Sulaiman Djaya (Pekerja Budaya)

 

“Mungkinkah orang tidur membangunkan orang yang tidur?” (Sa’adi, Gulistan).

 

“Barangsiapa mengikuti jalan pencarian kebenaran, ia akan kehilangan mahkota kebanggaan sekaligus kehilangan kepala rasionalitas” (Nizami, Treasury of Mysteries).

 

Dalam khazanah peradaban dan intelektual Islam, sufisme dapat diumpamakan sebuah kotak berisi emas yang tak terkena karat. Karya-karya sastra dan intelektual kaum sufi merupakan perbendaharaan wawasan keagamaan Islam dan humanisme universal tanpa dibatasi oleh perbedaan etnis, agama, kebangsaan, dan entitas politik pada saat bersamaan. Ia merupakan taman ruhani yang senantiasa menghadirkan bunga-bunga indah dan segar bagi kita yang mengunjunginya. Karya-karya sastra mereka menyediakan katarsis (penyembuhan dan refleksi) bagi kita yang membacanya, jika saya meminjam istilahnya Aristoteles, tentang salah-satu fungsi seni dan sastra yang dapat menjadi cerminan tentang diri kita sendiri sekaligus menjadi semacam “penyembuhan” bagi hati, jiwa, dan kesadaran kita sebagai pembaca, semisal dapat merasakan rasa senang, terhibur, dan hilangnya rasa derita yang tengah kita tanggung ketika membaca karya-karya sastra atau menikmati pentas seni. Maka, sastra dan seni, ternyata, memiliki dampak sangat positif bagi sisi ruhani kita, selain menghadirkan keindahan.

Secara pedagogik, banyak kandungan-kandungan reflektif tentang pengajaran akhlaq dalam sastra kaum sufi, utamanya tercermin dalam puisi-puisi mereka. Bahkan dengan cukup bagus, Muhammad Ja’far Mahjub mengatakan bahwa aspek pengajaran akhlaq ini merupakan salah-satu ruh sastra sufisme (Lihat Muhammad Ja’far Mahjub, Futuwwah dan Sufisme Persia Awal, Pustaka Sufi 2003, hal. 1-4). Seringkali ajaran dan nilai-nilai akhlaq ini disampaikan dan dinarasikan lewat fabel seperti yang dilakukan Fariduddin Attar dengan karya mashurnya Mantiq at Thayr (Lihat Fariduddin Attar, Musyawarah Burung, Tarawang Press 2003) dan Firdausi dengan Shahnameh-nya itu. Sementara itu, James Winston Morris, menyatakan bahwa salah-satu aspek khazanah para penulis dan pemikir klasik Islam tak ubahnya para pembangun dan penyingkap kesadaran ruhani kita sebagai manusia yang berada dalam dunia dan kosmik, di mana manusia merupakan bagian tak terpisahkan dengan kosmik dan dunia tersebut (Lihat James Winston Morris, Sufi-sufi Merajut Peradaban, Forum Sebangsa, Jakarta 2002).

 

Sufisme Sebagai Taman Ruhani

Sastra, utamanya puisi, tak semata cerminan kapasitas rasio, namun merupakan cerminan utuh dari keseluruhan ruhani dan intelegensia manusia. Ia berkenaan dengan “dzauq” (perasaan bathin) dan eksistensi ruhani. Di sini, sebagaimana dikemukakan Annemarie Schimmel ketika ia menerangkan tentang posisi penyair sufi An Nuri, khazanah intelektual dan kesusastraan kaum sufi lahir dari jantung kalbu (heart of the heart), yang memiliki empat tingkat pemahaman. Pertama, shadrun (dada) dihubungkan dengan Islam (QS 95:22). Kedua, qalbun dihubungkan dengan iman (QS 40:7). Ketiga, fu’adun (kalbu bathiniah) adalah kursi ma’rifah dan pengetahuan intuitif (QS 50:11). Dan Keempat, lubb (inti hati yang paling dalam) dihubungkan dengan tawhid (QS 3:190) (Lihat Annemarie Schimmel, Abu Husayn al Nuri, Pustaka Sufi 2002, hal. 10). Meski Annemarie Schimmel dalam kasus tersebut hanya berbicara tentang Abu al Husain an Nuri, namun puisi para penyair sufi yang lahir dari “taman ruhani” mereka tercermin juga dalam puisi-puisinya Attar, Rumi, Hafiz, dan yang lainnya.

Sementara itu, secara umum, puisi lahir dari keintiman seseorang dengan dunia dan keseharian. Di ini, puisi yang berhasil adalah puisi yang sanggup menciptakan realitas dalam puisi sekaligus memantulkan refleksi ruhani kepada para pembacanya, yang dengan itu pula pencitraan dan kiasan menjalankan fungsinya, bahkan pada tingkat lebih jauh, pencitraan dan kiasan tersebut sanggup menciptakan fantasi dan transendensi demi menggambarkan sebuah dunia-realitas yang unik dan memang hanya milik puisi itu sendiri. Martin Heidegger melalui puisinya yang berjudul Poetry, Language and Thought itu mengatakan bahwa puisi bisa dipahami sebagai puncak pemikiran, akan tetapi pemikiran yang dimaksudkan Heidegger itu tak semata hanya kemampuan dan kapasitas salah-satu fakultas tubuh kita yang kita sebut rasio, pemikiran yang dimaksudkannya adalah keterlibatan dan keintiman seluruh pancaindera kita termasuk hati, dengan aspek perasaan dan sisi ruhaniah kita sebagai manusia (Lihat Bambang Riyanto, Care: The Ontological Foundation of Dasein dalam Majalah Filsafat Diryarkara Tahun XXV, No.2, hal. 5-19).

Heidegger memang berbicara tentang ketersituasian manusia dalam dunia, apa yang ia sendiri menyebutnya sebagai Being in the World alias “berada dalam dunia”, yang juga mengingatkan kita pada eksistensialisme-nya Soren Kierkegaard, mirip seperti ketika jatuh cinta yang dalam bahasa Ingris ditulis dan diucapkan menjadi “Fall In Love” alias “Jatuh dalam Cinta” atau “berada dalam cinta”. Keintiman ruhaniah serupa akan kita jumpai dalam puisi-puisi para penyair sufi ketika mengunggkapkan aspek mahabbah dan kedekatan mereka kepada Sang Khalik, yang acapkali mereka kiaskan dengan kata dan perbendaharaan “anggur” dan “kedai” saat hendak menggambarkan rasa cinta dan rindu mereka yang sunyi sekaligus bergejolak, yang “memabukkan”. Dalam hal ini, puisi-puisi mereka merupakan media dan instrument sebagai “pengobat” atau “penyembuh” kerinduan bathin mereka.

 

Susastra Sebagi Katarsis

Sebuah karya sastra, utamanya puisi, menjadi dekat kepada kita ketika puisi yang kita baca menjadi “cermin reflektif” hidup kita sendiri sebagai pembacanya. Hal ini berlaku, sebagai contohnya, ketika manusia-manusia modern menemukan “refleksi diri” dan “pemenuhan dahaga kekeringan spiritual” mereka dengan membaca puisi-puisinya Jalaluddin Rumi. Seperti kita tahu, dengan kekuatan lintas-batasnya yang melampaui sekat-sekat etnik, kebangsaan, bahkan agama, puisi-puisi Jalaluddin Rumi begitu menjadi “inspirasi”, “katarsis”, dan “pemenuhan dahaga spiritual” manusia-manusia modern di lintas benua dan bangsa di saat mereka merasa jenuh, bosan, terjebak “kehampaan”, dan “disibukkan rutinitas keseharian” mereka. Puisi-puisi Jalaluddin Rumi bahkan menjadi “inspirasi”, “refleksi”, dan “katarsis” bagi mereka yang tengah jatuh cinta atau pun putus-asa.

Pertanyaannya: mengapa puisi-puisi sufistik Jalaluddin Rumi bisa sedemikian berpengaruh seperti itu? Tak lain karena puisi-puisinya menjadi semacam “penawar” dan “pengobat” kerentanan “eksistensi ruhani” manusia yang memang bersifat universal tanpa pandang bulu. Hal serupa juga berlaku bagi puisi-puisi Hafiz dan Attar, untuk menyebut dua contoh penyair sufi lainnya. Marilah kita simak salah-satu puisi Jalaluddin Rumi yang berjudul Yang Seribu dari Jiwaku:

 

Wahai Tuhan Pemilik Keindahan, Pemilik Anugerah masukilah jiwaku

sebagaimana kau masuki kebun yang penuh bunga

 

Hanya sebab kerling-Mu batu berubah jadi manikam

Satu isyarat dari-Mu telah cukup untuk

mencapai setiap tujuan

 

Datang, datanglah. Engkaulah kehidupan dan pembebasan manusia

Datang, datanglah. Engkaulah mata dan cahaya Yusuf

Eluslah kepalaku. Sebab sentuhanmu mencahayai kegelapan tubuhku

 

Datang, datanglah. Engkau menganugerahkan keindahan dan rahmat

Datang, datanglah. Engkau penyembuh seribu jenis penyakit

Datang, datanglah. Meski belum pernah kau tinggalkan aku

tetaplah kemari dan dengarkanlah puisiku

sebab Engkaulah yang seribu jumlahnya dari jiwaku

 

Pergilah dan bawa serta kerinduan masa lalu

Engkaulah Kekasihku

 

Jika Raja tidak bersemayam di singgasana dunia ini

Yang ada hanya kegelapan dan kegamangan

 

Engkau bergembira dan hidup dengan napas-Nya

Engkau bergerak karena kekuatan yang mengalir dari cinta-Nya

Sekarang saatnya, seperti seniman, Engkau mencipta

Sekarang saatnya, seperti pelayan, engkau menyapu

 

Setiap yang Kau sentuh akan menuju

dan terbang bersama sayap-sayap bidadari

Namun, ingatlah, sayap-sayap itu tak cukup kuat

membawamu terbang menuju Tuhan

Sama seperti seekor kuda bagal yang dikendarai Nabi

Hanya cinta yang akan membawamu kembali menuju Tuhan.

 

(Penerjemah: Asih Ratnawati, Terompah Jogjakarta 2000).

 

Jika kita baca dan kita simak secara seksama, puisi Jalaluddin Rumi tersebut merupakan gambaran yang kuat tentang keintiman seorang penyair sufi dengan Tuhan-nya yang pada saat bersamaan menggambarkan Tuhan yang diakrabinya diintimi dalam keindahan, yang dengan itu seorang penyair sufi mengungkapkan rasa sunyi dan rindu dalam “taman ruhaninya” yang begitu dalam, berusaha menjadikan “yang dicintainya” sebagai satu-satunya yang dapat memberinya “kecukupan”, “kepuasan”, dan “keindahan” itu sendiri. Di sisi lain, puisi tersebut ketika dibaca oleh kita akan memancarkan keindahan “ruhani” dan “pancaran religius” yang dapat menginspirasi kita atau bahkan menguatkan religiusitas kita.

Menurut Reynold A. Nicholson (Lihat Reynold A. Nicholson, Gagasan Personalitas dalam Sufisme, Pustaka Sufi 2002, hal.75-107), contohnya, salah-satu kekuatan seduktif puisi-puisi Jalaluddin Rumi adalah karena “makna dan pancaran bathin-”nya yang dalam diungkapkan dengan bahasa dan tuturan yang akrab di telinga dan pemahaman para pembacanya. Kiasan-kiasannya digali dari persoalan-persoalan keseharian manusia yang universal.

Sebagaimana Fariduddin Attar, yang adalah gurunya Jalaluddin Rumi, pesan-pesan sastrawi seputar akhlaq dan aspek religius serta pencarian spiritual juga dikemukakan dan dinarasikan melalui bentuk naratif fabel, prosa, dan anekdot (Lihat Jalaluddin Rumi, Yang Mengenal Dirinya Yang Mengenal Tuhannya, Pustaka Hidayah 2001, hal. 14-5). Upaya menggunakan fabel, prosa, dan anekdot itu pun tak lan dimaksudkan agar pesan dan makna religius dan spiritual, kandungan “taman ruhani” karya-karya sastra dan pengajarannya dapat ditangkap dan dipahami oleh pembaca, tanpa harus kehilangan kedalaman makna dan keindahan sastrawi itu sendiri. Simaklah puisinya yang berjudul Yang Tercinta:

 

Ada sebuah tempat di mana kata-kata

menjadi sunyi

di mana bisikan-bisikan hati muncul dan

tak tertabiri

 

Ada sebuah tempat di mana suara

menyanyikan keindahanmu

sebuah tempat di mana setiap nafas

memahat dirimu

di jiwaku

 

(Penerjemah: Asih Ratnawati, Terompah Jogjakarta 2000).

 

Hafiz, Rindu, Tuhan

Hafiz dari Syiraz yang bernama lengkap Syamsuddin Muhammad, mulai diapresiasi di dunia intelektual dan kebudayaan Barat sejak karya-karya puisinya memukau para peneliti dan pujangga dari Jerman dan Perancis, terutama berkat Goethe yang adalah pujangga raksasa Jerman itu. Daya tarik puisi-puisi Hafiz tak lain karena suara dan tema yang diangkatnya melampaui batas-batas keagamaan, etnik, dan kebangsaan, yang salah-satunya ajaran toleransi (tasamuh) dan welas asih. Sebenarnya tak hanya di Barat saja, di Timur sendiri banyak ulasan tentang keunikan dan keistimewaan Hafiz. Dalam salah-satu ulasannya tentang Hafiz, misalnya Ibrahim Amin al-Shawaribi menulis: “Pada masa kecil dan remaja, Hafiz tak bisa menulis puisi. Dia gubah puisi, orang-orang tak terpesona. Dia suka gadis desa tetangganya, gadis itu malah menolak dirinya. Lalu, dia iktikaf di sebuah makam, berkhalwat dan berdoa selama 40 hari, sampai dia mimpi bertemu Ali bin Abi Thalib Karramallahu Wajhah yang memberinya santapan dari surga. Hafiz menceritakan hal ini dalam ghazalnya, “Malam kemarin, pada waktu sahur, mereka menyelamatkanku dari duka dan nestapa” (Diwan Hafiz al-Shirazi, Muhammad bin Baha’ al-Din Muhammad (Hafiz al-Shirazi), terjemah ke dalam Bahasa Arab oleh Ibrahim Amin al-Shawaribi, Teheran: Mehrandish li al-Nashr, cet. I, 1999, h. 10).

Dikisahkan ada fakta menarik saat Hafiz wafat, di mana di saat wafatnya sekelompok ulama menolak pengurusan jenazahnya dengan dalih keber-agama-annya meragukan dan keyakinannya mencurigakan. Sekelompok ulama lain tidak menyetujui tuduhan itu. Lalu, mereka mencari keputusan dengan mengundi melalui syair-syair Hafiz yang tertulis dalam beberapa lembaran kertas. Kertas yang keluar dalam undian itu adalah bait terakhir Ghazal 48 yang berbunyi, “Jangan ragu-ragu mengantar Hafiz ke pusaranya. Dia memang tenggelam dalam dosa. Tapi dia akan pergi ke surga.”(Diwan Hafiz al-Shirazi, Muhammad bin Baha’ al-Din Muhammad (Hafiz al-Shirazi), terjemah ke dalam Bahasa Arab oleh Ibrahim Amin al-Shawaribi, Teheran: Mehrandish li al-Nashr, cet. I, 1999, h. 10).

Secara umum, puisi-puisi Hafiz merupakan kekayaan hidup yang ditimba dari ikhtiar pembacaan, renungan, dan pengalaman seorang penyair dalam menjalani kefanaannya. Puisi-puisi Hafiz sarat dengan seduksi-nada, memainkan dan mengeksplorasi kesederhanaan tuturan tanpa kehilangan daya-pikat simbolik. Kalau pun ada muatan pedagogik di dalamnya, tetap diungkapkannya dengan lembut dan jernih. Kesederhanaan gaya penuturan-puitis Hafiz tersebut justru adalah kekuatannya untuk memudahkan penyampaian dan ikhtiar berbagi dengan pembaca sejauh menyangkut pengalaman puitik seorang mistikus atau pun penyair. Tak jauh berbeda dengan Jalaluddin Rumi, dunia taman ruhanai Hafiz adalah dunia kerinduan kepada Tuhan, meski di saat yang sama, puisi-puisinya merupakan sebentuk keterlibatan dengan hidup itu sendiri. Di saat yang lain, puisi Hafiz berbicara tentang kerentanan subjek melalui tuturan simbolik. Daya-pikat simbolik tersebut tentu saja terasah dari keintiman yang kuat pada hidup, juga karena kerinduan spiritual kepada Tuhan  (Lihat Daniel Ladinsky, Aku Mendengar Tuhan Tertawa, Risalah Gusti 2005).

Ketika kita membaca puisi-puisi Hafiz, ketiak akan tahu bahwa Tuhan-nya Hafiz adalah Tuhan yang pengasih dan penyayang. Tuhan yang menjadi kekasih seorang hamba yang dirundung cinta; Tuhan yang mendatangkan rindu: “manakala kebahagiaan mendengar namamu, ia tengah berlarian ke jalan-jalan, mencoba untuk menemukanmu”. Dan kebahagiaan seorang yang dirundung cinta adalah tak lain kedatangan kekasihnya: “dan beberapa kali dalam minggu lalu, Tuhan sendiri bahkan telah sampai di pintuku”. Dan buah rindu atau perjumpaan tak lain adalah sebuah lagu: “mungkin hendaknya kita menggubah puisi ini ke dalam lagu”. Begitulah puisinya yang berjudul Beberapa Kali Dalam Minggu Lalu.

Menurut Hafiz, Tuhan yang tertawa ini adalah Tuhan yang terjaga untuk menemani kekasihnya: “Apa itu ketawa? Apa itu tawa? Ia adalah Tuhan yang tengah terjaga!”. Dengan ini pula Hafiz menyindir dengan halus dan lembut mereka-mereka yang cemberut dan tak mau tersenyum: “Oh makhluk yang mengagumkan, oleh kejadian aneh apa engkau begitu sering tidak tersenyum?”. Akhirnya, Tuhan yang tersenyum dan tertawa adalah Tuhan yang ramah dan pemaaf. Ia mungkin bisa memaafkan kelalaian kekasih-Nya.

 

Susastra, Religiusitas, Katarsis

Contoh-contoh puisi Jalaluddin Rumi dan Hafiz itu memancarkan dimensi ruhani yang lembut dan dalam. Ketika kita membacanya, dimensi religiusitas kita pun kemudian mendapatkan penyegaran dan pencerahan. Di sinilah letak “katarsis” dan daya “inspiratif” puisi-puisi mereka bagi dan kepada kita yang membacanya. Tentu, selain memberikan pencerahan dan penyegaran religiusitas kita, puisi-puisi mereka juga sanggup membuka pintu-pintu baru bagi wawasan kita kepada hidup, mengajak kita dengan santun dan lembut, tidak menggurui dan cenderung menghadirkan diri sebagai penggugah sisi ruhaniah dan pikiran kita dalam memandang diri kita dan hidup itu sendiri. Kosmologi puisi-puisi mereka memang dibangun dari pengalaman bathin yang sifatnya, keintiman religius, dan sekaligus sikap afirmatif pada keseharian.

Puisi-puisi sufisme, dengan caranya yang mengajak kita “melihat” dan “merenung” ke dalam diri kita dan mengkomparasikanya dengan “kosmik” di sekitar kita, membuat kita mendapatkan cermin dan perbandingan untuk melihat dan memandang diri kita ketika kita membacanya. Selain itu, puisi-puisi sufisme pun menularkan kearifan dan wawasan akhlaq dengan caranya “menyapa” kita, sesekali menegur dengan lembut dan menyentil dengan tetap didasarkan pada welas-asih dan ujaran-ujaran yang sifatnya komparatif, perumpamaan, dan contoh-contoh yang bijaksana dan tidak terkesan verbal dan menggurui, hingga ketika kita membacanya, kita ikut merefleksikannya bersama-sama puisi-puisi yang kita baca.


Tinggalkan komentar

Konseling Spiritual: Kajian Tentang Menggapai Pencerahan Hati Melalui Shalat

KONSELING SPIRITUAL

(Kajian Tentang  Menggapai Pencerahan Hati Melalui Shalat)

Oleh : Agus Sukirno[1]

 

Abstract

Shalat is a vertical ritual worship, which is an obligatory to do for all Muslims. Shalat has to be performed by all Muslims in any conditions, as long as they are able to do it. Rasulullah SAW has provided guidance in order to facilitate the implementation of shalat in emergencies, such as when suffered of the illness, on the travel, in the war situations, and so on.

Shalat taught by Prophet Muhammad SAW was a complement of Shalat that taught by other Prophets previously (Ibrahim AS, Ismail AS, Yusuf AS, etc).

Shalat is the second pillar of Islam. People who do Shalat essentially are doing spiritual counseling process to Allah SWT. Reading and Shalat movement have many virtues (beneficial value) not only physical health, but also, happiness, peace and serenity. Shalat also boosts immunity in human being.

 

Key Words : Counselling, Spiritual, Shalat

 

Abstrak

Shalat merupakan ibadah ritual-vertikal, yang hukumnya wajib ‘ain bagi umat Islam. Dalam kondisi apapun, shalat wajib dikerjakan selama dia mampu melaksanakannya. Rasulullah Saw, telah memberikan tuntunan/pedoman pelaksanaan shalat dalam kondisi darurat, seperti; sakit, musafir, dalam situasi perang, dsb.

 Shalat yang diajarkan oleh Rasulullah Muhammad merupakan penyempurna dari ibadah shalat yang diajarkan para Rasul sebelumnya (Ibrahim, As, Ismail, As, Yusuf, As, dsb).

Ibadah shalat adalah rukun Islam yang kedua. Orang yang mengerjakan  shalat pada hakikatnya dirinya sedang melakukan proses konseling spiritual kepada Allah Swt. Bacaan dan gerakan shalat ternyata memiliki banyak keutamaan (nilai  manfaat), tidak hanya kesehatan jasmani (fisik) melainkan juga kebahagiaan, ketentraman, dan ketenangan rohani (psikis). Shalat juga meningkatkan kekebalan tubuh (imun) pada diri manusia.

Kata kunci : Konseling, Spiritual, Shalat.

 

  1. A.  Pendahuluan

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi seolah-olah menjadikan dunia semakin sempit. Fasilitas teknologi yang semakin canggih dan modern membuat dunia kehilangan batas ruang dan waktu (borderlessworld). Komunikasi antar negara dapat dilaksanakan di saat yang sama, tanpa harus menuju ke negara yang dituju. Dengan biaya sangat murah, berita penting (yang membahagiakan maupun yang menyedihkan) dapat disampaikan langsung kepada beberapa orang yang dituju melalui sms, face book, twitter, email, blackberry, dsb.

Fenomena tersebut mempengaruhi ke pola pikir dan pola hidup umat manusia. Faham hedonisme[2] telah menjadi virus ganas yang menghinggapi sebagian masyarakat Indonesia (baca : umat Islam). Kesenangan terhadap materi-bendawi menjadi skala prioritas utama, segala cara pun dilakukan untuk memenuhi hasrat nafsu duniawinya. Djamaludin Ancok dalam buku pengantar Psikologi Shalat (2007), sebagaimana mengutip Francis Fukuyama Filosofer dari Universitas James Mason,  Amerika Serikat menulis buku yang berjudul The End of History and the Lost Man (1992), menggambarkan bahwa sejarah telah berakhir. Hal ini disebabkan manusia telah menjadi penganut satu system kapitalis-liberalis yang semakin tidak menghargai nilai kemanusiaan dan kehidupan hanyalah sebuah kompetisi antar manusia yang semakin tidak mempedulikan suatu kerjasama antar manusia.[3] Aliran ini menjadikan materi-bendawi sebagai sesuatu yang di idolakan, dengan menafikkan rasa kepedulian terhadap sesama, teman bukan lagi menjadi sahabat dekat, melainkan sebagai kompetitor yang harus dijauhi dan di lawan. Kegersangan batiniah terasa sekali bagi mereka yang menganut faham materialistik ini.  Djamaludin Ancok mengutip Paul Wachtel dalam bukunya The Poverty of the Affluence (1989), mengisahkan betapa penderitaan psikologis orang Amerika yang kaya harta tetapi miskin mental spiritual.[4]

Manusia secara hakiki adalah mahluk beragama (homo religious), yaitu mahluk yang mempunyai fitrah untuk memahami dan menerima nilai-nilai kebenaran yang bersumber dari agama, serta sekaligus menjadikan kebenaran agama itu sebagai rujukan sikap dan perilkunya.[5] Secara fitrah dalam diri manusia memiliki potensi untuk berbuat kebaikan dan kejahatan (jiwa malaikat dan jiwa syaitaniyah). Qalbu adalah penggerak untuk melakukan kedua potensi tersebut. Apabila potensi kebaikan yang lebih dominan, maka kebahagiaan hidup dunia dan akhirat akan di nikmati oleh pelakunya, sebaliknya bila potensi kejahatan yang lebih dominan, maka kesengsaraan hidup dunia dan akhiratpun akan akan dirasakan oleh pelakunya.

Agama memiliki peranan sangat penting dalam mengelola hati manusia. Ketenangan, kedamaian, kebahagiaan akan dirasakan oleh inidividu-individu yang dekat dengan agama. Zakiah Daradjat (1982 : 58), mengemukakan bahwa “apabila manusia ingin terhindar dari kegelisahan, kecemasan, dan ketegangan jiwa serta ingin hidup tenang, tenteram, bahagia dan dapat membahagiakan orang lain, maka hendaklah manusia percaya kepada Tuhan dan hidup mengamalkan ajaran agama. Agama bukanlah dogma, tetapi agama adalah kebutuhan jiwa yang perlu dipenuhi.”[6]. Sementara Larson berpendapat bahwa: “…in navigating the complexities of human health and relationship, religious commitment is a force to consider.” (untuk mengemudikan atau mengendalikan kompleksitas hubungan dan kesehatan manusia, maka komitmen terhadap agama merupakan suatu kekuatan yang patut diperhatikan). (Utsman Najati, 1985; Iqbal Setyarso dan M. Solihat, 1996)[7].

Manusia adalah mahluk terbaik dan terindah ciptaan Allah Swt. Firman Allah Swt:

ü“Ï%©!$# z`|¡ômr& ¨@ä. >äóÓx« ¼çms)n=yz ( r&y‰t/ur t,ù=yz Ç`»|¡SM}$# `ÏB &ûüÏÛ ÇÐÈ

“Yang memperindah segala sesuatu yang Dia ciptakan dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah.”[8]

Menurut Quraish Shihab, ada beberapa kata yang menunjukkan makna manusia dalam al-Qur’an, diantaranya kata basyar dan kata insan. Kata basyar mempunyai arti penampakan sesuatu yang baik dan indah. Dalam pengertian yang sama, basyarah berarti kulit. Manusia dinamakan basyar dikarenakan kulitnya yang tampak jelas, dan berbeda dengan kulit binatang. Sedangkan kata insan berakar dari kata uns yang dapat diartikan jinak, harmonis, dan tampak. Jika ditinjau dari al-Qur’an, akan lebih tepat dimaknai lupa (nasiya). Kata insan digunakan dalam al-Qur’an guna menunjukkan kepada manusia dengan seluruh totalitasnya, jiwa dan raganya berbeda satu sama lain.

Al-Qur’an al Karim (The Holy Qur’an) menjelaskan tentang sifat-sifat manusia, diantaranya sifat-sifat orang yang jauh dari hidayah Allah Swt.[9] Sifat-sifat manusia tercela[10], sifat-sifat lemah dan buruk yaitu sifat manusia  yang lemah[11], manusia cenderung melampaui batas[12], manusia mudah berputus asa, tidak berterima kasih dan sombong[13], manusia sangat zalim dan mengingkari ni’mat Allah[14], manusia bersifat tergesa-gesa[15], manusia sangat kikir dan suka berkeluh kesah[16], manusia mahluk yang paling banyak membantah[17], sebagian manusia tergolong orang yang lalai[18]. Sifat-sifat manusia dalam Al-Qur’an lebih lanjut dapat dibaca dalam buku Konseling Islam[19]. Sifat-sifat yang terdapat dalam diri manusia, merupakan perpaduan dari sifat-sifat dalam diri malaikat (taat terhadap perintah Allah Swt), sifat-sifat syaitaniyah (sombong, iri hati, dengki, ujub, dsb), maupun sifat-sifat binatang (rakus, buas, saling memangsa, yang kuat membinasakan yang lemah, dsb).

 

  1. B.   Urgensi Shalat

Manusia adalah mahluk spiritual[20], karena itu tentu saja tidak bisa melepaskan diri dari kebermaknaan spiritual.[21] Clinebell (Hawari, 1996), menegaskan bahwa setiap manusia memiliki kebutuhan dasar spiritual yang harus dipenuhinya. Kebutuhan dasar spiritual (spiritual needs) ini jika terpenuhi akan memunculkan perasaan aman, damai, dan tenteram, serta membebaskan manusia dari perasaan cemas, hampa, dan takut.[22]

ö@è% ¨bÎ) ’ÎAŸx|¹ ’Å5Ý¡èSur y“$u‹øtxCur †ÎA$yJtBur ¬! Éb>u‘ tûüÏHs>»yèø9$# ÇÊÏËÈ   Ÿw y7ƒÎŽŸ° ¼çms9 ( y7Ï9ºx‹Î/ur ßNöÏBé& O$tRr&ur ãA¨rr& tûüÏHÍ>ó¡çRùQ$# ÇÊÏÌÈ

“Katakanlah: “Sesungguhnya shalat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya, untuk itulah aku diperintah, dan aku adalah orang yang kali pertama berserah diri kepada Allah.”[23]

M. Quraish Shihab[24], menjelaskan bahwa Nabi saw. Diperintahkan untuk menyebut empat hal yang berkaitan dengan wujud dan aktivitas beliau, yaitu shalat dan ibadah, serta hidup dan mati. Dua yang pertama termasuk dalam aktivitas yang berada dalam pilihan manusia. Kalau dia mau, dia dapat beribadah. Kalau enggan, dia dapat meninggalkannya. Ini berbeda dengan hidup dan mati, keduanya di tangan Allah swt. Manusia tidak memiliki pilihan dalam kedua hal ini. Ayat tersebut menggambarkan dengan jelas, bahwa semua aktivitas yang dilakukan oleh manusia, muaranya untuk beribadah kepada Allah swt.

Ibnul Qayyim cukup jeli dan sangat tepat ketika menyifati ibadah shalat dengan sebuah ungkapan :

Shalat mencegah perbuatan dosa, mengobati penyakit hati, menghilangkan penyakit jasmani, cahaya penerang hati, membuat wajah berseri-seri, menyehatkan badan dan jiwa, mendatangkan rejeki, mencegah kezaliman, serta menolong orang yang terzalimi. Selain itu juga memadamkan virus-virus syahwat, menjaga nikmat,  menolak bala, pengantar rahmat, menghilangkan kesusahan, menjaga kesehatan, menghibur jiwa, pemusnah rasa malas, menambah kekuatan, melapangkan dada, penyemangat jiwa, membawa berkah, menjauhkan diri dari syetan, serta mendekatkan diri kepada Ar-Rahman, Allah Sang Pengasih.[25]

Shalat menurut asal maknanya artinya doa atau permohonan. Secara definisi shalat adalah ibadah yang tersusun dari beberapa perkataan, dan perbuatan yang dimulai dengan takbir dan disudahi dengan salam, dan memenuhi beberapa syarat yang ditentukan.[26] Shalat terkadang juga diartikan dengan al-munaji[27]. Gerakan shalat yang di awali dengan takbiratul ihram dan di akhiri dengan ucapan salam merupakan rangkaian gerakan yang di ajarkan oleh Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad Saw.

Shalat lima waktu pertama kali diperintahkan oleh Allah Swt, kepada Nabi Muhammad saat ira’ mi’raj. Peristiwa ini terjadi beberapa tahun sebelum Nabi Saw. Hijrah ke Madinah. Jauh sebelumnya, pada masa awal kenabian, Nabi Muhammad Saw.  biasa menjalankan ibadah shalat, meski hanya dua kali sehari, yaitu pagi dan petang. Nabi Saw, biasa menjalankan shalat di luar kota Mekah yang menghadap kiblat yaitu ka’bah. Biasanya, Nabi Saw. shalat bersama Khadijah dan anak angkatnya Zaid bin Haritsah. Beberapa waktu kemudian Ali bin Abi Thalib menyusul mereka.[28] Di awal turunnya perintah shalat lima waktu, Rasulullah melaksanakannya hanya dengan beberapa keluarga terdekatnya.

Ibadah shalat hukumnya wajib (fardhu ‘ain).[29]

#sŒÎ*sù ÞOçFøŠŸÒs% no4qn=¢Á9$# (#rãà2øŒ$$sù ©!$# $VJ»uŠÏ% #YŠqãèè%ur 4’n?tãur öNà6Î/qãZã_ 4 #sŒÎ*sù öNçGYtRù’yJôÛ$# (#qßJŠÏ%r’sù no4qn=¢Á9$# 4 ¨bÎ) no4qn=¢Á9$# ôMtR%x. ’n?t㠚úüÏZÏB÷sßJø9$# $Y7»tFÏ. $Y?qè%öq¨B ÇÊÉÌÈ

“Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. kemudian apabila kamu telah merasa aman, Maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.”[30]

Shalat merupakan salah satu bagian dari lima Rukun Islam. Rasulullah bersabda :

Islam dibangun di atas lima fondasi, bersaksi bahwa tiada Rabb selain Allah dan Muhammad sebagai utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan ibadah haji, serta berpuasa pada bulan Ramadhan.”[31]

Shalat merupakan ibadah ritual-vertikal, artinya shalat sebagai media komunikasi langsung dari seorang hamba kepada Sang Khalik. Dalam ibadah shalat inilah adanya pengakuan yang tulus, betapa kecil dan tiada berdayanya manusia di hadapan Allah Swt. Orang yang  shalat adalah orang yang sedang berbincang-bincang dengan Tuhannya. Dirinya akan disibukkan dengan gumam doa dan dzikir. Ia tidak sedang bersama manusia dan manusia juga tidak sedang bersamanya. Tatkala selesai dari shalatnya, baru ia kembali  hidup  bersama manusia. Maka ia mengucapkan assalamu’alaikum.[32] seolah-olah tidak ada penyekat antara dirinya dengan Allah, mereka menikmati ritual shalat.  Dalam shalat pun mereka akan mengadukan segala permasalahan yang sedang dihadapi, mereka pasrahkan segala permasalahan tersebut kepada Dzat yang dapat menyelesaikan masalah, dalam shalat pun mereka tiada berhenti mengucapkan rasa syukur kepada Allah Swt (syukur lahir maupun syukur batin).

Shalat dibaratkan sebagai air hujan, karena terjadi melalui proses pencahayaan. Melalui pencahayaan sinar matahari yang menyerap air di lautan dan dimana saja, maka terjadilah hujan yang merupakan rahmat-Nya. Maka shalat adalah upaya manusia untuk mencahayai dirinya sendiri, atau tepatnya mendapatkan cahaya Allah. Orang yang melakukan shalat, belajar mencahayai dirinya sendiri, sehingga berpeluang untuk memercikkan cahaya ke lingkungannya. Metode shalat itu sedemikian rupa kondusif terhadap terciptanya sumber cahaya di dalam diri manusia.[33]

Shalat merupakan ungkapan ketulusan cinta yang mendalam seorang hamba kepada Sang Pencipta (Allah Swt). Cinta adalah bentuk manifestasi bagi penciptaan alam semesta dan segenap mahluk-Nya.[34] Cinta berarti memberi, bukan menerima. Cinta adalah perasaan untuk selalu memberi dan melimpahkan segala cinta kasih yang dimiliki dalam perbuatan.[35]

Intisari dari cinta adalah keikhlasan. Cinta tanpa pamrih, murni, menghilangkan sifat egois, individualistis. Cinta akan melahirkan sifat lapang dada , menerima semua  ketentuan Allah Swt. tanpa mengharapkan imbalan. Dalam Hadits Qudsi, disebutkan bahwa Nabi Saw. Bersabda :

“Setelah Allah menciptakan seluruh mahluk, Dia menulis dalam kitab-Nya, Dia menuliskan (ketetapan) atas diri-NYa dan Kitab itu diletakkan di sisi-Nya da atas ‘Arsy (yaitu): “Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan kemarahan-Ku.” (HR. Bukhari).

Cinta yang tulus ikhlas akan melahirkan kebahagiaan, ketentraman, dan ketenangan lahir dan batin. Cinta melahirkan semangat untuk terus memberi dan memberi.

ô`tB Ÿ@ÏJtã $[sÎ=»|¹ ¾ÏmÅ¡øÿuZÎ=sù ( ô`tBur uä!$y™r& $pköŽn=yèsù ( §NèO 4’n<Î) óOä3În/u‘ šcqãèy_öè? ÇÊÎÈ

“Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, maka itu adalah untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, maka itu akan menimpa dirinya sendiri, kemudian kepada Tuhanmulah kamu dikembalikan.”[36]

Cinta hamba kepada Allah Swt. Adalah keterikatan hati kepada Allah saat mengingat-Nya, langgengnya keasyikan dan kenikmatan saat bermunajat kepada-Nya, terasanya kelezatan saat mengabdi kepada-Nya, dan kerinduan yang sangat kepada Allah saja, tidak kepada yang lain.[37] Rasa cintanya kepada Allah Swt. Mengalahkan rasa cintanya dengan yang lain. Firman Allah Swt :

“Dan apabila hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, (katakanlah) bahwa sesungguhnya aku dekat. Aku pasti mengabulkan permohonan orang yang berdoa kepadaku. Maka, hendaklah mereka memenuhi (segala perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka berada dalam kebenaran.”[38]

Shalat merupakan alat penyangga kekokohan iman seseorang. Dalam bahasa bangunan, shalat adalah pondasi dasar yang menentukan kokoh tidaknya bangunan tersebut. Apabila pondasi cukup kuat, maka dapat menyangga dengan baik bangunan di atasnya, sebaliknya bila pondasinya rapuh, maka tidak akan mampu menyangga dengan baik bangunan di atasnya. Sabda Rasulullah :

Pokok segala urusan adalah Islam, sedangkan tiangnya adalah shalat, dan puncaknya berjuang di jalan Allah SWT, Shalat itu tiang agama. Barang siapa mendirikan shalat, ia telah menegakkan agama dan barang siapa meninggalkan salat, ia akan meruntuhkan agama.”

Shalat merupakan program pagi dan malam. Di waktu pagi kewajiban pertama yang dilakukan manusia adalah shalat. Dan di waktu malam, kewajiban terakhir yang dikerjakan adalah shalat. Jadi, permulaan dan akhir setiap hari adalah mengingat Allah dan untuk Allah.[39] Ketika manusia akan tidur, sebelumnya sudah mengerjakan shalat Isya’ dan disaat terbangun dari tidurnya (pagi hari), dia mengerjakan shalat shubuh.

Dalam shalat, ruh dan jiwa manusia bersih dari segala “debu”, seperti debu kesombongan, siang dan malam, berpuluh kali manusia meletakkan anggota tubuhnya yang paling terhormat (kening) di atas tanah. Dan sujud di atas tanah lebih mulia ketimbang sujud di atas batu. Sebab, sujud di atas tanah lebih menampakkan kehinaan manusia di hadapan Allah.[40] Ibadah shalat merupakan ritual ibadah yang sakral dan agung. Ketika shalat sedang dikerjakan masing-masing  individu sibuk dengan “kekasihnya”, yaitu Allah Swt. Setiap bacaan dan gerakan shalat dapat menimbulkan kerinduan yang mendalam bagi yang mengerjakannya. Sejak ia lahir ke dunia, orang tuanya langsung mengenalkan si jabang bayi akan keagungan Allah Swt, dengan lafadz azan dan iqamah, di akhir kehidupannya di dunia, ia pun dilepas dengan shalat(baca: shalat jenazah).

Shalat adalah gerakan yang muncul dari kesadaran dan makrifah, yaitu ma’rifatullah (pengenalan akan Allah) yang mendorong hambanya mendirikan shalat semata-mata menjalankan perintah-Nya, demi Dia, dan menghibur diri dengan-Nya. Oleh karena itu, Al-Qur’an melarang mengerjakan shalat dalam keadaan mabuk dan malas melakukannya, agar manusia sadar akan apa yang diucapkannya dalam shalat dan mengerjakannya dengan penuh konsentrasi dan kesadaran. Firman Allah Swt.

$pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãYtB#uä Ÿw (#qç/tø)s? no4qn=¢Á9$# óOçFRr&ur 3“t»s3ߙ 4Ó®Lym (#qßJn=÷ès? $tB tbqä9qà)s? Ÿ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam kedaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan.”[41]

Yusuf  Al-Qardhawi[42] menjelaskan, demikianlah kedudukan shalat dalam Islam. Karena kedudukannya tersebut, shalat menjadi ibadah pertama yang diwajibkan atas kaum muslimin. Telah diwajibkan di Mekkah lebih kurang tiga tahun sebelum hijrah. Cara mewajibkannya menjadi petunjuk tersendiri atas perhatian Allah terhadap ibadah shalat, mengingat seluruh ibadah diwajibkan di bumi. Sedangkan shalat satu-satunya yang diwajibkan di langit, pada malam isra’ mi’raj.

Seluruh umat Islam di dunia ketika melaksanakan shalat menghadap ke kiblat. Sesuai dengan tuntunan Rasulullah, di arah tersebut terdapat Ka’bah[43] baitullah (rumah Allah). Rumah suci yang dimuliakan. Ka’bah merupakan titik pertemuan umat Islam dari dunia belahan timur sampai ke barat.[44]

Terkait dengan waktu pelaksanaan shalat, Rasulullah SAW bersabda :

                “Saya telah dijadikan imam oleh Jibril di Baitullah dua kali, maka ia shalat bersama saya; shalat lohor ketika tergelincir matahari, shalat asar ketika bayang-bayang sesuatu menyamainya, shalat maghrib ketika terbenam matahari, shalat isya ketika terbenam syafaq, dan shalat shubuh ketika fajar bercahaya. Maka besoknya shalat pulalah ia bersama saya; shalat lohor ketika bayang-bayang sesuai menyamainya, shalat asar ketika bayang-bayang sesuatu dua kali panjangnya, shalat maghrib ketika orang berbuka puasa, shalat isya ketika sepertiga malam, dan shalat shubuh ketika menguning cahaya pagi. Lalu Jibril berkata, “inilah waktu shalat nabi-nabi sebelum engkau, dan waktu shalat ialah antara dua waktu ini.”[45]

            Ketika Nabi Adam AS[46] dan Siti Hawa di turunkan ke dunia di waktu malam. Setelah terbit matahari, Nabi Adam AS sujud syukur dua kali sujud. Ia adalah orang pertama yang sujud di muka bumi. Sujud yang pertama ia lakukan karena telah hilang rasa takutnya disebabkan gelapnya malam, sujud yang kedua dilakukan karena rasa syukur telah datangnya waktu siang (bumi menjadi terang).

Shalat zuhur empat rakaat ada hubungannya dengan peristiwa kurban pada masa Nabi Ibrahim AS. Sujud pertama menyatakan rasa syukur ke hadirat Allah SWT, karena ia dan puteranya tetap tabah menjalankan perintah yang sangat berat dari Allah SWT. Sujud kedua sebagai ungkapan rasa syukur ke hadirat Allah SWT karena beliau tidak terpedaya dengan godaan syetan. Sujud ketiga sebagai rasa syukur bahwa anaknya Ismail anak yang sholeh, taat menjalankan perintah Allah SWT dan tidak mengalami luka sedikitpun.

Shalat asar berkaitan dengan sejarah Nabi Yunus AS. Sujud pertama, sebagai ungkapan rasa syukur ke hadirat Allah SWT atas karunia-NYa, ia terlepas dari kegelapan pikiran sehingga ia ditelan ikan besar. Sujud kedua, sebagai ungkapan rasa syukur Nabi Yunus terlepas dari bahaya maut terkubur di dalam perut ikan besar. Sujud ketiga, sebagai ungkapan rasa syukur Nabi Yunus AS sudah keluar dari laut yang dalam. Sujud keempat, ungkapan rasa syukur ke hadirat Allah SWT atas karunia yang menggerakkan seekor kambing betina member minum air susunya setiap hari, sehingga kekuatan tubuhnya pulih kembali.

Shalat maghrib berkaitan dengan peristiwa Nabi Isa AS. Sujud pertama, sebagai ungkapan rasa syukur ke hadirat Allah SWT yang telah menyelamatkan ibunya dari tuduhan yang tidak benar. Sujud kedua, sebagai ungkapan rasa syukur  kepada ibunya yang telah menyelamatkan dari penganiayaan orang Yahudi. Sujud ketiga, ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT, yang telah mnyelamatkan dirinya dari penghianatan muridnya yang akan menangkapnya untuk diserahkan kepada Raja Herodes dan akan dijatuhkan hukuman mati di palang kayu salib.

Shalat isya’ berkaitan dengan riwayat Nabi Musa AS, Sujud pertama sebagai ungkapan rasa syukur karena Allah SWT, telah menyelamatkan beliau dari kejaran Raja Fir’aun. Sujud kedua, sebagai ungkapan rasa syukur karena Allah telah menolong beliau selama masa perantauan di Madyan sampai beliau beristri puteri Nabi Syu’aib AS. Sujud ketiga, sebagai ungkapan rasa syukur karena Allah SWT, telah memilih beliau sebagai nabi untuk menyelamatkan Bani Israel dari tindasan Raja Fir’aun. Sujud keempat, sebagai ungkapan rasa syukur karena Allah SWT, telah menerima permohonan beliau, kakaknya Harun diangkat pula sebagai nabi.[47]

Perintah mengerjakan shalat diwajibkan pula kepada Rasul-Rasul sebelum Rasul Muhammad SAW. Shalat merupakan ibadah vertikal dari seorang hamba(mahluk) kepada Sang Khalik (Allah swt). Ibadah shalat merupakan bukti ketaatan manusia untuk menjalankan perintah Allah swt. Ibadah shalat hukumnya wajib (fardhu ‘ain) yang harus dikerjakan oleh hamba yang beriman kepada Allah swt. Dalam keadaan bagaimanapun, sesibuk apapun aktivitas seorang hamba ibadah shalat tetap dikerjakan.

 

Nabi Ibrahim AS[48]

Éb>u‘ ÓÍ_ù=yèô_$# zOŠÉ)ãB Ío4qn=¢Á9$# `ÏBur ÓÉL­ƒÍh‘èŒ 4 $oY­/u‘ ö@¬6s)s?ur Ïä!$tãߊ ÇÍÉÈ

Ya Rabbku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat. Ya Rabb kami perkenankanlah doaku.”[49]

 

Nabi Ismail AS[50]

öä.øŒ$#ur ’Îû É=»tGÅ3ø9$# Ÿ@ŠÏè»oÿôœÎ) 4 ¼çm¯RÎ) tb%x. s-ϊ$|¹ ωôãuqø9$# tb%x.ur Zwqߙu‘ $|‹Î;¯R ÇÎÍÈ   tb%x.ur ããBù’tƒ ¼ã&s#÷dr& Ío4qn=¢Á9$$Î/ Ío4qx.¨“9$#ur tb%x.ur y‰ZÏã ¾ÏmÎn/u‘ $wŠÅÊötB ÇÎÎÈ

                “Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al-Qur’an. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan ia adalah seorang rasul dan nabi. Dan ia menyuruh ahlinya untuk shalat dan menunaikan zakat, dan ia adalah seorang yang diridhai di sisi Rabbnya.”[51]

 

Nabi Musa AS[52]

!$£Jn=sù $yg8s?r& y“ÏŠqçR #Óy›qßJ»tƒ ÇÊÊÈ   þ’ÎoTÎ) O$tRr& y7•/u‘ ôìn=÷z$$sù y7ø‹n=÷ètR ( y7¨RÎ) ϊ#uqø9$$Î/ Ĩ£‰s)ßJø9$# “YqèÛ ÇÊËÈ   $tRr&ur y7è?÷ŽtI÷z$# ôìÏJtGó™$$sù $yJÏ9 #ÓyrqムÇÊÌÈ   ûÓÍ_¯RÎ) $tRr& ª!$# Iw tm»s9Î) HwÎ) O$tRr& ’ÎTô‰ç6ôã$$sù ÉOÏ%r&ur no4qn=¢Á9$# ü“̍ò2Ï%Î! ÇÊÍÈ

                “Maka ketika ia datang ke tempat api itu, ia dipanggil, “Hai Musa, sesungguhnya Aku inilah Rabbmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu, sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci, Thuwa.  Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu). Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Rabb (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Kua.”[53]

           

Nabi Yunus AS

!$uZø‹ym÷rr&ur 4’n<Î) 4Óy›qãB Ïm‹Åzr&ur br& #uä§qt7s? $yJä3ÏBöqs)Ï9 uŽóÇÏJÎ/ $Y?qã‹ç/ (#qè=yèô_$#ur öNà6s?qã‹ç/ \’s#ö6Ï% (#qßJŠÏ%r&ur no4qn=¢Á9$# 3 ΎÅe³o0ur šúüÏZÏB÷sßJø9$# ÇÑÐÈ

                “Ambillah olehmu berdua beberapa buah rumah di Mesir untuk tempat tinggal bagi kaummu dan jadikanlah olehmu rumah-rumah itu tempat shalat dan dirikanlah olehmu sembahyang.”[54]

 

            Wasiat Lukman[55]

¢Óo_ç6»tƒ ÉOÏ%r& no4qn=¢Á9$# öãBù&ur Å$rã÷èyJø9$$Î/ tm÷R$#ur Ç`tã ̍s3ZßJø9$# ÷ŽÉ9ô¹$#ur 4’n?tã !$tB y7t/$|¹r& ( ¨bÎ) y7Ï9ºsŒ ô`ÏB ÇP÷“tã ͑qãBW{$# ÇÊÐÈ

                “Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang munkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).”[56]\\

 

Nabi Isa AS[57]

            ÓÍ_n=yèy_ur %º.u‘$t7ãB tûøïr& $tB àMZà2 ÓÍ_»|¹÷rr&ur Ío4qn=¢Á9$$Î/ Ío4qŸ2¨“9$#ur $tB àMøBߊ $|‹ym ÇÌÊÈ

                “Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup.”[58]

 

            Nabi Muhammad SAW[59]

ã@ø?$# !$tB zÓÇrré& y7ø‹s9Î) šÆÏB É=»tGÅ3ø9$# ÉOÏ%r&ur no4qn=¢Á9$# ( žcÎ) no4qn=¢Á9$# 4‘sS÷Zs? ÇÆtã Ïä!$t±ósxÿø9$# ̍s3ZßJø9$#ur 3 ãø.Ï%s!ur «!$# çŽt9ò2r& 3 ª!$#ur ÞOn=÷ètƒ $tB tbqãèoYóÁs? ÇÍÎÈ

                “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al-Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”[60]

            Shalat yang diajarkan Rasulullah saw, tidak sekedar meliputi bacaan dan gerakan shalat yang dimulai dari gerakan takbir dan diakhiri dengan ucapan salam, melainkan makna shalat yang sebenarnya adalah shalat yang dapat mengejawantahkan  nilai-nilai shalat dalam aktivitas sehari-hari. Nilai shalat dapat menghadirkan perasaan takut kepada Allah Swt, nilai shalat dapat menumbuhkan perasaan cintanya yang mendalam atas segala anugerah dan kenikmatan yang dilimpahkan Allah Swt. Kepada setiap mahluk ciptaan-Nya. Nilai shalat dapat menumbuh kembangkan semangat menggapai cita-cita, dan sebagainya.

Shalat lima waktu mempunyai makna seperti sabda Rasulullah Saw: “Bagaimana menurut kalian jika sungai mengalir di depan pintu rumah salah seorang diantara kalian, dia mandi di situ lima kali setiap hari, masihkah ada kotoran yang tertinggal di badannya?” Mereka berkata, “Tidak.” Beliau bersabda, “Begitulah perumpamaan shalat lima waktu yang dengannya Allah menghapus kesalahan.”

Semua nabi dan rasul mendapatkan perintah dari Allah SWT, agar ia dan umatnya senantiasa beribadah kepada Allah SWT. Namun demikian pada kenyataannya dalam berdakwah para pengikut nabi dan rasul lebih sedikit. Sedangkan mereka yang tetap ingkar akan keesaan Allah SWT jumlahnya lebih besar.

Ibadah shalat laksana puncak piramida diantara ibadah-ibadah yang lain. Disebut demikian karena perintah shalat langsung diperintahkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW. Di saat beliau sedang melakukan Isra’ Mi’raj.[61]

 

  1. C.  Khusyu’ Ritual dan Khusyu’ Sosial

Perintah shalat lima waktu diterima saat Nabi sedang melakukan isra’ mi’rij, tatkala di Sidratu al-Muntaha, dengan perantaraan malaikat Jibril mendapat “oleh-oleh” berupa shalat. Tata cara shalat diajarkan oleh malaikat Jibril.[62]

Shalat yang khusyu’[63] adalah sebagai media untuk meneladani akhlak Rasulullah secara utuh.[64] Shalat adalah alur komunikasi transendental antara manusia dengan Allah Swt. Beruntunglah bagi orang-orang yang shalatnya khusyu’.[65]

Shalat khusyu’ adalah shalat yang mengorientasikan seluruh aktivitasnya hanya untuk beribadah kepada Allah Swt.[66] Rasa cintanya kepada Allah Swt, tidak tergoyahkan perasaan cinta-cinta yang lain. Di riwayatkan bahwa setiap kali Nabi Ibrahim As. Mendirikan shalat, detak jantungnya terdengar hingga jarak dua mil.[67]

Khusyu’ bukan hanya dalam arti ritual, tapi juga harus hadir khusyu’ sosial, berupa komitmen yang kokoh untuk selalu mewujudkan semesta yang berkeadaban.[68] Implementasi shalat dapat mendorong manusia untuk berbuat amar ma’ruf nahi munkar.[69]

Rasulullah Saw, telah memberikan teladan kepada umatnya tentang fadhilah shalat khusyu’, sentuhan cinta, empati dan simpatik dipersembahkannya kepada seluruh umatnya. Di saat ajal menjelang, Rasulullah pun mengucapkan “ummati….ummati…” Bahkan cinta beliau untuk binatang dan alam sebagaimana tergambar dari kebijakannya yang membuat kawasan hima (cagar alam) di Madinah dan tanah haram di seputar Mekah dimana di tanah siapapun tidak diperkenankan membunuh binatang  bahkan mencabut rumput.[70] Sikap Rasulullah tersebut mencerminkan, bahwa nilai kekhusyu’an shalat tidak sekedar dalam khusyu’ secara ritual, melainkan terpancarkan pula dalam kekhusyu’an sosial.

Agar shalat yang dikerjakan bisa khusyu’, perlu adanya kesatuan antara gerakan shalat, bacaan shalat, hati, pikiran berintegrasi menjadi satu kesatuan yang utuh, hanya Allah Swt, yang ada dalam relung hatinya.[71]

Beberapa upaya menggapai kekhusyu’an dalam shalat adalah: (1) Menyadari bahwa ketika shalat, seorang hamba sedang berhadapan dengan Allah; (2) Menganggap bahwa shalat yang dilakukan adalah shalat yang terakhir kalinya, dan sebentar lagi akan bertemu Allah dan Dia meminta pertanggungjawaban semua amal ibadah hambanya; (3) Memahami arti bacaan yang dibaca; (4) Berusaha mengembalikan bacaan ketika konsentarsinya terganggu.

Cara tersebut perlu dilakukan berulang-ulang, karena untuk menghadirkan shalat khusyu’ tidak semudah membalikkan telapak tangan. Terkadang bahkan sering ketika sedang shalat teringat sesuatu yang membuyarkan konsentrasinya, maka ia harus  berupaya untuk fokus kembali pada shalatnya, dan hal tersebut perlu dilatih dan dibiasakan dalam shalat.

 

  1. D.       Keagungan Nilai Shalat
  2. Shalat merupakan jalan kemenangan dan keberuntungan, serta penghapus dosa dan kesalahan.

ô‰s% yxn=øùr& tbqãZÏB÷sßJø9$# ÇÊÈ   tûïÏ%©!$# öNèd ’Îû öNÍkÍEŸx|¹ tbqãèϱ»yz ÇËÈ

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya.[72]

Sabda Rasulullah SAW :

Shalat lima waktu dan Jum’at kepada Jum’at berikutnya merupakan penghapus (dosa-dosa) di antaranya, selagi tidak dilakukan dosa-dosa besar.”[73]

Khusyu’ berarti jiwa raga tunduk dan penuh taat dalam mengerjakan shalat di hadapan Allah SWT. Raga tenang dan merunduk karena merasa rendah di hadapan Allah. Semua ini bisa dilakukan bila yang bersangkutan merasa di bawah pengawasan-Nya.[74] Lebih lanjut Moh. Sholeh mengutip pendapat Thalib yang membagi khusyuk dalam shalat menjadi dua bagian, yaitu : (1) Khusyuk lahiriah, yakni melakukan gerak-gerik salat dan ucapannya sesuai dengan tuntunan dan ajaran Rasulullah SAW; (2) Khusyuk batiniah, yakni melakukan salat dengan hati penuh rasa harap, cemas, takut, merasa diawasi, dan suasana mendukung terciptanya pelaksanaan lahir batindalam melakukan salat khusyuk.[75]

Al-Ghazali menyimpulkan pendapat yang berkembang ketika mencoba menjelaskan hakikat khusyuk, antara lain mencakup: (1) Kehadiran hati; (2) Mengerti apa yang dibaca dan diperbuat; (3) Mengagungkan Allah SWT; (4) Merasa gentar terhadap Allah SWT; (5) Merasa penuh kepada Allah SWT; (6) Merasa malu terhadap-Nya.[76]

  1. Dari sudut kepribadian shalat dapat mendekatkan diri kepada Allah.

$tBur àMø)n=yz £`Ågø:$# }§RM}$#ur žwÎ) Èbr߉ç7÷èu‹Ï9 ÇÎÏÈ

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”[77]

  1. Shalat dapat mencegah dari perbuatan keji dan munkar

ã@ø?$# !$tB zÓÇrré& y7ø‹s9Î) šÆÏB É=»tGÅ3ø9$# ÉOÏ%r&ur no4qn=¢Á9$# ( žcÎ) no4qn=¢Á9$# 4‘sS÷Zs? ÇÆtã Ïä!$t±ósxÿø9$# ̍s3ZßJø9$#ur 3 ãø.Ï%s!ur «!$# çŽt9ò2r& 3 ª!$#ur ÞOn=÷ètƒ $tB tbqãèoYóÁs? ÇÍÎÈ

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur’an). Dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.[78]

  1. Shalat menjadi penolong bagi hambanya yang sedang mengalami musibah.

(#qãZŠÏètFó™$#ur Ύö9¢Á9$$Î/ Ío4qn=¢Á9$#ur 4 $pk¨XÎ)ur îouŽÎ7s3s9 žwÎ) ’n?tã tûüÏèϱ»sƒø:$# ÇÍÎÈ

Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.”[79]

$uK¯RÎ) ãNä3–ŠÏ9ur ª!$# ¼ã&è!qߙu‘ur tûïÏ%©!$#ur (#qãZtB#uä tûïÏ%©!$# tbqßJ‹É)ムno4qn=¢Á9$# tbqè?÷sãƒur no4qx.¨“9$# öNèdur tbqãèÏ.ºu‘ ÇÎÎÈ

Sesungguhnya penolongmu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, seraya tunduk (kepada Allah).[80]

  1. Shalat dapat menumbuhkan ketenteraman jiwa dan ketenangan batin, serta menghindarkan dari kelalaian yang dapat memalingkan manusia dari rislah Allah yang agung dan kekal dalam kehidupan.
  2. Shalat juga merupakan madrasah akhlak yang mengajarkan sopan santun dan disiplin dalam menekuni kejujuran dan amanah.

“…Dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar…”[81]

  1. Shalat dapat meningkatkan kesehatan psikologi seseorang.

Di dalam sebuah hasil riset yang diterbitkan oleh majalah Ath-Thibb an-Nafsi wa Al-Jasadi, para pakar menyimpulkan bahwa ada korelasi antara shalat dan keadaan psikologi seseorang. Kesimpulan yang ditarik dari penelitian tersebut bahwa komitmen  seseorang terhadap ibadah-ibadah keagamaan merupakan metode yang efektif untuk mengurangi depresi dan kegundahan para penderita penyakit kanker paru-paru dan sanak keluarga serta karib kerabat mereka.

Dr. Rose Hilferding, seorang psikolog di Rumah Sakit Boston, Amerika Serikat berkata, “Terapi yang paling manjur untuk mengatasi depresi dan kegelishan adalah si pasien mengadukan segala kepenatannya kepada orang yang paling ia percaya.”[82]

  1. Shalat dapat meningkatkan derajat seseorang

Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakkal. (Yaitu) orang-orang yang melaksanakan shalat dan yang menginfakkan sebagaian dan rezeki yang kami berikan kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka akan memperoleh derajat (tinggi) di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia.”[83]

  1. Shalat menumbuhkan semangat keikhlasan[84].

Ikhlas adalah mengharapkan keridhaan Allah melalui amal perbuatan dan pemurniannya dari pretense-pretensi pribadi serta motif-motif duniawi. Makna ikhlas adalah berusaha semaksimal mungkin agar segala aktivitas yang dilakukan benar-benar murni karena Allah Swt. Bukan karena faktor lain.

  1. Diturunkannya berbagai kebaikan dari langit

Semua diperuntukkan bagi orang yang sedang melakukan shalat. Kebaikan-kebaikan tersebut akan terus menggerimis sampai shalatnya usai. Apakah kebaikan-kebaikan itu? Bagi sebagian orang, usia yang dihabiskannya akan menjadi berkah apabila dibarengi dengan niat yang baik, mendapatkan sahabat yang baik, guru yang baik, murid yang baik, dan anak yang shalih.[85]

Ibnul Jauziyah ketika memaparkan faedah shalat mengatakan, “Sedangkan shalat akan membuka hati, melapangkannya, memberikannya kegembiraan dan juga kemanisan iman. Shalat mempunyai peran yang besar dan posisi yang penting, diantaranya menyambungkan hati dan ruh kepada Allah dengan mendekatkan diri kepada-Nya dan berzikir untuk-Nya, juga kegembiraan ketika bermunajat kepada-Nya dan berdiri di hadapan-Nya dengan menggunakan semua anggota tubuh untuk beribadah kepada-Nya. Shalat pun memberikan kesempatan bagi setiap anggota tubuh untuk menghadap penciptanya dengan membebaskan fungsi umumnya demi kepentingan mahluk dan segala prakarsa yang dibuatnya. Shalat pun akan menumbuhkan kekuatan hati kepada Tuhan dan memberikan kesempatan hati untuk rehat dari segala urusan musuhnya, urusan makanan dan banyak hal lainnya.[86]

 

  1. E.   Keajaiban Gerakan-Gerakan Shalat

tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä ’ûÈõuKôÜs?ur Oßgç/qè=è% ̍ø.ɋÎ/ «!$# 3 Ÿwr& ̍ò2ɋÎ/ «!$# ’ûÈõyJôÜs? Ü>qè=à)ø9$# ÇËÑÈ

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah.Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.[87]

Setiap gerakan shalat memiliki banyak manfaat bagi manusia, baik dari kesehatan tubuh maupun nilai filosofis dalam shalat itu sendiri. Posisi tubuh atau postur dalam shalat beserta manfaatnya dapat dijelaskan sebagai berikut[88] :

  1. Takbiratul Ihram

Gerakan ini melancarkan aliran darah dan menguatkan otot lengan. Kedua tangan disedekapkan di depan perut atau dada bagian bawah akan menghindarkan dari gangguan persendian, khususnya pada tubuh bagian atas. Posisi ini juga menguatkan kepribadian sehingga menimbulkan kebaikan hati dan keselarasan batin.

Ibadah shalat diawali dengan kalimat takbir (Allahu Akbar), kalimat tersebut bukti adanya pengakuan dari seorang hamba, bahwa Allah Awt, adalah Tuhan Yang Maha Agung. Tuhan tempat setiap hamba bersandar, memohon, dan berlindung. Tuhan yang menghidupkan dan mematikan semua mahluk ciptaan-Nya.

  1. Ruku’

Gerakan ini meliputi tulang belakang selurus mungkin sehingga bila diletakkan segelas air di atas punggung tidak tumpah. Posisi kepala lurus dengan tulang belakang. Postur ini akan menjaga kesempurnaan posisi dan fungsi tulang belakang (corpus vertebrae) sebagai penyangga tubuh dan pusat saraf. Tangan yang bertumpu di lutut berfungsi mengendurkan otot-otot bahu hingga ke bawah. Selain itu, ruku’ adalah latihan kemih untuk mencegah gangguan prostat.

Ruku’ dan sujud menunjukkan kepatuhan hamba kepada Tuhannya. Seorang hamba dengan sepenuh hati rela meletakkan muka/wajah ke lantai sebagai symbol tempat yang rendah.[89]

  1. I’tidal

Pada posisi ini, badan kembali berdiri tegak, sehingga darah segar bergerak naik kembali ke keadaan semula. Begitu juga tubuh akan santai kembali dan melepaskan ketegangan. Gerak berdiri untuk sujud dapat melatih pencernaan. Organ pencernaan perut mengalami pemijatan dan pelonggaran secara bergantian sehingga menjadi lebih lancar. Gerakan sujud dapat pula menghindarkan dari penyakit stroke.

  1. Sujud

Posisi kepala dan kedua tangan, lutut, ujung kaki, dan dahi pada lantai. Pada posisi ini,lakukan sujud dengan thuma’ninah, jangan tergesa-gesa agar darah mencukupi kapasitasnya di otak. Gerakan ini menghindarkan gangguan wasir. Khusus untuk wanita, baik ruku’ maupun sujud, memiliki manfaat luar biasa bagi kesuburan dan kesehatan organ kewanitaan. Otot-otot akan menjadi lebih besar dan kuat, terutama otot dada sebagai otot sela iga dalam.

Dengan meletakkan diri dalam posisi yang sedemikian rendah, diharapkan akan tertanam sebuah keinsafan, dengan siapa seorang hamba berhadapan, menanamkan sebuah pengakuan bahwa suatu saat akan kembali kepada asal.[90]

  1. Duduk

Posisi duduk, baik iftirasy (tahiyat awal) maupun tawarruk (tahiyat akhir) akan menghindarkan nyeri pada pangkal paha yang sering menyebabkan penderitanya tidak mampu berjalan. Duduk tawarruk sangat baik bagi pria sebab tumit menelan aliaran kandung kemih (urethra) dan kelenjar kelamin pria (prostate). Jika dilakukan dengan benar, akan mencegah impotensi. Seluruh otot tungkai turut meregang dan kemudian relaks kembali. Gerak dan tekanan harmonis inilah yang menjaga kelenturan dan kekuatan organ-organ gerak.

Bacaan tasyahud awal dan akhir setidaknya mengandung empat pesan: (a) Mengagungkan kepada Allah; (2) Persembahan shalawat, keselamatan dan keberkahan kepada Nabi Muhammad Saw; (3) Persembahan salam kesejahteraan kepada orang-orang saleh; (4) Membaca dua kalimat syahadat atau kesaksian. Kesaksian pertama, percaya sepenuhnya bahwa Tuhan semesta alam adalah Allah Swt, kesaksian kedua, pengakuan kehambaan dan kerasulan Muhammad.[91]

  1. Salam

Ketika mengakhiri shalat, kepala diputar ke kanan dan ke kiri sehingga otot di sekitar leher dan kepala melancarkan aliran darah di kepala. Gerakan ini mencegah sakit kepala dan menjaga kekencangan kulit wajah.

Ucapan salam dalam mengakhiri salat bermakna  sesungguhnya seorang hamba tengah merasukkan satu keyakinan bahwa mencintai sesama mahluk merupakan manifestasi  cinta kepada Allah.[92] Cinta kepada sesame mahluk adalah bagian dari beribadah kepada Allah.

Semoga kita menjadi pengikut Rasulullah Saw, tidak hanya sekedar mengerjakan ritual shalat, melainkan termasuk golongan yang dapat mengejawantahkan nilai-nilai shalat dalam aktivitas sehari-hari. Amin.

 

 

Daftar Referensi

Abd Al-‘aziz Al-Darini, Ibadah Dalam Islam. Jakarta: Akbar, 2005

__________________, Terapi Menyucikan Hati : Kunci-Kunci Mendekatkan Diri Kepada Ilahi, cet. 1, Bandung: Mizania, 2008

Abuya Sabila Haq, Kecil-Kecil Pintar Shalat, Jogjakarta: Diva Press, cet. 1, 2009, hlm. 65-66

Ahan S.A. Pesona Manusia Faatihah, Jogjakarta: Garailmu, 2009

Ayatullah Jawad Amuli, Asrar al-Ibadah, Penerjemah; Jawad Muammar, Rahasia-Rahasia Ibadah, Cet. 1, Bogor: Cahaya, 2001

Asep Muhyiddin dan Asep Salahuddin, Salat Bukan Sekadar Ritual, Cet. 1, Bandung: Rosdakarya, 2006

Erhamwilda, Konseling Islam. Yogyakarta: Graha Ilmu, 2009

H. Sulaiman Rasjid,  Fiqh Islam, Bandung: Sinar Baru Algesindo.

Hasan bin Ahamad Hammam et.al. Terapi Dengan Ibadah (Istighfar, Sedekah, Doa, Al-Qur’an, Shalat, Puasa), Solo: Aqwam. 2010

Humaidi Tatapangarsa, Akhlaq yang Mulia, Surabaya: Bina Ilmu, 1980

M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur’an. Jakarta: Lentera Hati, 2011

Moh. Sholeh, Terapi Salat Tahajud; Menyembuhkan Berbagai Penyakit, Jakarta Selatan: Hikmah, 2009

Muhammad Ahmad Jadi Amuli, Kumpulan Kisah dalam Al-Qur’an.Jakarta: Qorina, 2008

Muhammad Husain Haikal, Sejarah Hidup Muhammad, Jakarta: Litera AntarNusa, 2007

Muhsin Qiraati, Tafsir-e Namoz, Penerjemah; Najib Husain al-Idrus, Tafsir Shalat, Cet. 1, Jakarta: Cahaya, 2007.

Musfir bin Said Az-Zahrani, Konseling Terapi, Jakarta: Gema Insani, 2005,   hlm.485-486

Muhammad Rajab dan Ibrahim Yusuf  Nashir, ‘Ibrun min Qishash Al-Qur’an Al-Karim, penerjemah: Abdullah, Kisah-Kisah Mengagumkan dalam Al-Qur’an, Jakarta: Senayan Publishing, cet. 1, 2008, hlm. 241-242.

Sabil el-Ma’rufie, Energi Shalat Bangkitkan Potensi Suksesmu Melalui Shalat Lima Waktu, Bandung: Mizania, 2009

Sentot Haryanto, Psikologi Shalat, Yogyakarta: Mustaka Pelajar, 2007

Triantoro Safaria dan Nofrans Eka Saputra, Manajemen Emosi; Sebuah Panduan Cerdas Bagaimana Mengelola Emosi Positif dalam Hidup Anda, Cet. 1, Jakarta: Bumi Aksara, 2009.

Yusuf Al-Qardhawi,  Niat dan Ikhlas dalam Naungan Cahaya al-Qur’an dan as-Sunnah. Surabaya: Risalah Gusti, 2005

 

Internet

Id.wikipedia.org/wiki/hedonism.

http://agama.kompasiana.com/2010/05/24/asal-usul-sholat/

Koran

Republika, kolom Hikmah, 25 Februari 2007.

Republika, kolom Hikmah, Minggu, 23 September 2001

 

 

 


[1] Penulis adalah Dosen Bimbingan dan Konseling Islam (BKI) Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Sekretaris Asosiasi Bimbingan dan Konseling Islam (ABKIN) Propinsi Banten, Ketua Laboratorium Bimbingan dan Konseling Islam.

[2] Hedonisme berasal dari bahasa Yunani, hedonismos dari akar kata hedone artinya kesenangan. Paha mini berusaha menjelaskan adalah baik apa yang memuaskan keinginan manusia dan apa yang meningkatkan kuantitas kesenangan itu sendiri. Hedonisme adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa orang akan menjadi bahagia dengan mencari kebahgiaan sebanyak mungkin dan sedapat mungkin menghindari perasaan-perasaan yang menyakitkan. Hedonisme merupakan ajaran/pandangan bahwa kesenangan/kenikmatan merupakan tujuan hidup dan tindakan manusia.

[3] Sentot Haryanto, Psikologi Shalat Kajian Aspek-Aspek Psikologis Ibadah Shalat, Yogyakarta: Mitra Pustaka, cet. V, 2007, hlm. Xv-xvi

[4] Ibid. hlm. xvii

[5] Syamsu Yusuf dan A. Juntika Nurihsan, Landasan Bimbingan dan Konseling. Bandung: Rosda, cet. 3, 2008, hlm. 135

[6] Ibid. hlm.145

[7] Ibid. hlm. 145

[8] Qs. As-Sajdah, 32 : 7

[9] Qs. An-Nahl 104-109

[10] Qs Ar-Ruum, 30 : 33-36

[11] Qs. An-Nisa, 4 : 28

[12] Qs. Yunus, 10 : 12

[13] Qs. Huud, 11 : 9

[14] Qs. Ibrahim, 14 : 34

[15] Qs. Al-Isra’, 17 : 11

[16] Qs. Al-Isra’, 17 : 100

[17] Qs. Al-Kahfi, 18 : 54

[18] Qs. Al ‘Ashr, 103 : 2-3

[19] Erhamwilda,  Konseling Islam. Yogyakarta: Graha Ilmu, 2009

[20] Spiritualitas adalah hubungannya dengan Yang Maha Kuasa dan Maha Pencipta, tergantung dengan kepercayaan yang dianut oleh individu. Menurut Burkhardt (1993) spiritualitas meliputi aspek-aspek: (1) Berhubungan dengan sesuatu yang tidak diketahui atau ketidakpastian dalam kehidupan; (2) Menemukan arti dan tujuan hidup; (3) Menyadari kemampuan untuk menggunakan sumber dan kekuatan dalam diri sendiri; (4) Mempunyai perasaan keterikatan dengan diri sendiri dan dengan Yang Maha Tinggi. Baca: http://nezfine.wordpress.com/2010/05/05/pengertian spiritual/

[21] Triantoro Safaria dan Nofrans Eka Saputra, Manajemen Emosi; Sebuah Panduan Cerdas Bagaimana Mengelola Emosi Positif dalam Hidup Anda, Jakarta: Bumi Aksara, cet. 1, 2009, hlm. 226

[22] Ibid. hlm. 226

[23] Qs. Al-An’am, 6 : 162-163

[24] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur’an. Jakarta: Lentera Hati, cet. IV, 2011, hlm. 765

[25] Hasan bin Ahamad Hammam et.al., At-Tadawi bil Istighfar, bis Shadaqati, bid Du’ai, bil Qur’ani, bis Shalati, bis Shaumi, Penerjemah: Tim Aqwam, Terapi Dengan Ibadah (Istighfar, Sedekah, Doa, Al-Qur’an, Shalat, Puasa), Solo: Aqwam, 2010, hlm. 274

[26] H. Sulaiman Rasjid, Fiqh Islam, Bandung: Sinar Baru Algesindo, cet. 33,2000, hlm. 53

[27] Al-munaji artinya dialog interaktif antara hamba dengan Tuhannya (Allah Swt)

[28] Abuya Sabila Haq, Kecil-Kecil Pintar Shalat, Jogjakarta: Diva Press,cet. 1, 2009, hlm. 65-66.

[29] Perbedaan antara kaum muslimin dengan kaum kafirin adalah shalat. Sebagian ulama berpendapat bahwa orang yang meninggalkan shalat termasuk ke dalam dolongan orang kafir dan keluar dari agama Islam, sebagian yang lain berpendapat bahwa mereka yang meninggalkan shalat telah melakukan kemaksiatan dan kefasikan, serta dikhawatirkan hilangnya keimanan dalam dirinya. Sabda Rasulullah: “Penghalang antara seseorang dengan kesyirikan dan kekafiran adalah meninggalkan shalat.” (HR Ahmad dan Muslim).

“Pembeda antara kita dengan mereka adalah shalat. Barangsiapa yang meninggalkannya maka dia telah kafir.” (HR Tirmidzi).

“Barangsiapa yang memeliharanya (shalat), maka baginya cahaya, petunjuk dan keselamatan pada hari kiamat. Barangsiapa yang tidak memeliharanya, maka tidak ada baginya cahaya, petunjuk dan keselamatan, dan pada hari kiamat dia bersama Qarun, Fir’auan, Haman dan Ubay bin Khalaf.” (HR  Ahmad dan Ibnu Hibban). Lihat Yusuf Al-Qardhawi. Ibid. hlm.286.

[30] Qs. An-Nisa’, 4 : 103

[31] Hadits Riwayat Bukhari

[32] Ayatullah Jawad Amuli, Arar al-Ibadah, Penerjemah; Jawad Muammar, “Rahasia-Rahasia Ibadah”, Bogor, Cahaya, 2000,  Cet. 1, h. 25

[33] Emha Ainun Najib, Hikmah, Republika, Minggu, 23 September 2001.

[34] Ahan S.A., Pesona Manusia Faatihah Bagaimana Memasuki Pintu Kesuksesan dan Kebahagiaan Hidup Melalui Kejaiban Ayat-Ayat Surat al_fatihah. Jogjakarta: Garailmu, cet. 1, 2009, hlm. 69

[35] Ibid. hlm. 70

[36] Qs. Al-Jaatsiyah, 45 : 15

[37] Abd Al-‘Aziz Al-Darini, Thaharah Al-Qulub wa Al-Khudu’ li ‘Allam Al-Ghuyub, Penerjemah: Ida Nursida dan Tiar Anwar Bachtiar, Terapi Menyucikan Hati : Kunci-Kunci Mendekatkan Diri Kepada Ilahi, cet. 1, Bandung: Mizania, 2008. P. 535-536

[38] Qs. Al-Baqarah, 2 : 186

[39] Muhsin Qiraati, Tafsir-e Namoz, Penerjemah; Najib Husain al-Idrus, Tafsir Shalat, Jakarta: Cahaya, 2007, cet. 1, hlm. 53

[40] Ibid, hlm. 77

[41] Qs. Al-Nisa, : 43

[42] Yusuf Al-Qardhawi, Al-‘Ibadat al-Islam, penerjemah: Abdurrahim Ahmad dan Muhammad Muhtadi,  Ibadah Dalam Islam. Jakarta: Akbar, 2005, cet. 1, hlm. 287

Ia lahir di Shafth Turaab, Mesir, 09 September 1926. Sejak kecil, Qardhawi sudah dikenal sebagai anak yang pandai dan kritis. Pada usia 10 tahun, ia sudah hafal Al-Qur’an. Ia menyelesaikan pendidikannya di Ma’had Thanta dan Ma’had Tsanawi. Setelah itu, Qardhawi terus melanjutkan ke Universitas Al-azhar, Fakultas Ushuluddin, lulus tahun 1952.

[43] Firman Allah: “Allah telah menjadikan ka’bah, rumah suci itu sebagai pusat (peribadatan dan urusan dunia) bagi manusia, dan (demikian pula)  bulan Haram, hadya, qalaid. (Allah menjadikan yang) demikian itu agar kamu tahu bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang di langit dan apa yang di bumi, dan bahwa sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Qs. Al-Maidah, 5 : 97).

Selain sebutan ka’bah, Al-Qur’an menyebutnya dalam berbagai nama, diantaranya:a)  Al-Bait (rumah), Qs. Ali-Imran, 3 : 96, 97, Al-Anfal : 35, Al-Hajj : 26, Quraisy : 3; b)Baitullah (Rumah Allah) terdapat dalam Qs. Al-Baqarah, 2 : 125, Ibrahim : 37, Al-Hajj : 26; c) Al-Bait Al-Haram (Rumah Suci), Qs. Al-Ma’idah, 5 : 97. Menurut Ibnu Jauzi, dinamakan dengan “Haram” karena adanya larangan berburu dan mencabut pepohonan di dalamnya, sehingga kesuciannya terjaga. Dan kesuciannya itu meliputi seluruh tanah suci.; d) Al-Bait Al-‘Atiq (Rumah Pusaka), Qs. Al-Hajj, 22 : 29, Dinamakan demikian karena merupakan rumah pertama di muka bumi yang dibangun untuk menyembah Allah, dank arena Allah telah menyelamatkannya dari bencana banjir. Bisa juga dimaknai sebagi rumah yang bebas, karena tidak pernah ada orang yang mengaku memilikinya, kecuali Allah semata. Sehingga, barang siapa berniat menghancurkannya, maka Dia sendirilah yang akan membinasakannya. Selain itu”Al-‘Atiq” juga mengandung makna bahwa di dalamnya Allah membebaskan (yu’tiq) orang-orang dari azab-Nya; e) Qiblat, “Sesungguhnya Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan Kamu ke kiblat yang kamu sukai…” (Qs. Al-Baqarah, 2 : 144). Muhammad Ilyas Abdul Ghani, Tarikh Makah Al-Muakarromah, Penerjemah: Anang Rikza Mesyhady, Sejarah Mekah Dulu dan Kini, Pakistan, cet. 3, 2004, hlm. 49-51

[44] Muhammad Abduh Hamid Asy-Syarqawi dan Muhammad Raja’I Ath-Thahlawi, Al-Kakbah Al-Musyaraffah wa Al-Hajar Al-Aswad (Ru’yah ‘Ilmiyyah), penerjemah; Luqman Junaidi dan Khalifurrahman Fath, Ka’bah Rahasia Kiblat Dunia, Bandung: Hikmah, cet. 1, 2009, h. 17

[45] Hadits Riwayat Abu Daud dan lain-lainnya.

[46] Nama Adam As. Disebut dalam Al-Qur’an 25 kali, 16 kali berdiri sendiri, dan 9 kali dirangkai dengan bani dzurriyah dan ibnay (bani Adam, Dzuriyah Adam dan Ibnay Adam), tersebar dalam Surat Al-Baqarah, Ali-Imran, Al-Ma’idah, Al-A’raf, Al-Isra’, Al-Kahfi, Maryam, Thaha, Yasin. Lihat dalam, Yunahar Ilyas (2006). Kisah Para Rasul. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah.

[48] Nama Ibrahim As. Disebut dalam Al-Aur’an sebanyak 69 kali, tersebar dalam 25 surat, 17 surat-surat Makkiyah dan 8 surat-surat Madaniyah. Terbanyak disebut dalam Surat Al-Baqarah (15 kali), kedua dalam surat Ali ‘Imran (7 kali), ketiga dalam surat An-Nisa, Al-An’am, Hud, dan Al-Anbiya’ (masing-masing 4 kali), selebihnya antara tiga, dua, dan satu kali. Satu surat dinamai dengan Ibrahim sendiri, yaitu surat ke-14. Lebih lanjut baca di Yunahar Ilyas. Ibid. hlm. 83. Nabi Ibrahim As. Mendapat julukan sebagai khalilullah (kekasih Allah), dan sering pula disebut sebagai “Bapak Tauhid”. Keberanian Nabi Ibrahim As. “menitipkan” istrinya Siti Hajar, dan putranya Ismail, di lembah yang tiada pepohonan dan air itu, merupakan bukti Nabi Ibrahim As.memiliki keyakinan sangat kuat bahwa Allah yang Maha Perkasa, akan menjaga istri dan anaknya (Hikmah Republika,Kamis, 23 Februari 2002). Peristiwa tersebut diabadikan dalam Al-Qur’an, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Tuhan Kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan. Mudah-mudahan mereka bersyukur.” (Qs. Ibrahim, 14 : 37).

Ibrahim lahir di kota Babilon. Ia dilahirkan di lingkungan para penyembah berhala dan penyembah manusia (yang disembah adalah raja Namrud). Menurut para sejarawan Babilon adalah termasuk salah satu dari keajaiban dunia. Ibrahim “Bapak Tauhid” dilahirkan pada masa pemerintahan Namrud putra Kan’an. Seperti nabi-nabi yang lain, dalam melaksanakan tugas risalah suci, Nabi Ibrahim as. Tantangan dan ancaman datang dari keluarga dan umum. Dari kalangan keluarga, Nabi Ibrahim harus menghadapi kerabatnya yang bernama Azar (pembuat patung dan pengikut setia Namrud), dari kalangan umum, Nabi Ibrahim menghadapi Raja Namrud dan para pengikut setianya yang sangat gencar melawan dakwah beliau.

[49] Qs. Ibrahim : 40

[50] Ismail merupakan sosok anak shaleh, taat pada agama dan orang tua. Bukti ketaatannya adalah pada waktu ayahandanya yang sekaligus sebagai utusan Allah Swt. mendapatkan perintah untuk menyembalih dirinya. Ismail yang masih kecil mulai beranjak dewasa, sangat disayangi kedua orang tuanya. Dengan penuh keyakinan, dia mempersilakan ayahnya untuk menyembelih dirinya, karena menjalankan perintah Allah Swt. Peristiwa tersebut diabadikan dalam Al-Qur’an, “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “ Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (Qs. Ash Shaffat, 37 : 102)

[51] Qs. Maryam : 54-55

[52]Nabi Musa As. Hidup pada masa Raja Fir’aun, raja yang memproklamirkan dirinya sebagai tuhan. Untuk mengokohkan kekuasaannya, dia memakskan seluruh rakyat agar mengikuti segala yang diperintahkan. Bagi rakyatnya yang menentang akan dihukum. Akibat kesombongan Fir’aun dan pengikutnya, Allah Swt. Mengazabnya dengan ditenggelamkan di Laut Merah. Kebengisan Fir’aun diabadikan dalam Al-Qur’an: “Sesungguhnya Fir’aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah-belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir’aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Qs. Al Qashash, 28 : 4).

Konon Fir’aun selama setahun memerintahkan membunuh semua anak lelaki yang lahir pada tahun itu dan membiarkan hidup yang lahir pada tahun berikutnya, demikian silih berganti. Nabi Harun as. Lahir pada tahun penyelamatan anak lelaki, sedang Nabi Musa as. Lahir pada tahun pembunuhan anak lelaki. (M. Quraish Shihab. Ibid. hlm. 327).

[53] Qs. Thaha : 11-14

[54] Qs. Yunus, 10 : 87

[55] Menurut as-Suhaili yang dikutip Ibnu Katsir, nama lengkap Luqman adalah Luqman bin ‘Anqa bin Sadun.Sedangkan putranya bernama Tsaran, Luqman sangat mencintai buah hatinya tersebut, sehingga ia mengajarkan segala pengetahuan yang ia kuasai pada Tsaran. Jati diri Luqman hingga kini masih terus diperdebatkan. Menurut Ikrimah dan as-Sya’bi, dia adalah seorang Nabi. Sedangkan menurut MUjahid yang diikuti mayoritas ulama, dia hanyalah hamba yang shaleh. Lebih lanjut baca, Muhammad Rajab dan Ibrahim Yusuf Nashir, ‘Ibrun min Qishash Al-Qur’an Al-Karim, penerjemah: Abdullah, Kisah-Kisah Mengagumkan dalam Al-Qur’an, Jakarta: Senayan Publishing, cet. 1, 2008, hlm. 241-242.

Luqman bukan nabi, bukan pularasul, tetapi seorang ahli hikmat dan ahli didik yang bijaksana, sehingga ia mendapat gelar “Al-Hakim”. Luqman Hakin artinya Luqman yang bijaksana. Kitab Tafsir Jalalain menerangkan, bahwa Luqman adalah seorang alim bijaksana, hidup sejaman dengan Nabi Daud As. Dan banyak meninggalakan nasehat-nasehat atau fatwa-fatwa. Para ahli tafsir menerangkan pula, bahwa luqman adalah seorang filosof yang berasal dari negeri Ethiopia. Dan sebagian orang ada yang menghubungkan  Luqman ini dengan seorang ahli hikmat Yunani yang bernama Aesop, berhubung adanya persamaan-persamaan antara hikmat Luqman dengan hikmat Aesop. Baca : Humaidi Tatapangarsa, Akhlaq yang Mulia, Surabaya: Bina Ilmu, 1980, hlm. 100

[56] Qs. Lukman, 31: 17

[57] Nabi Isa As dilahirkan di Betlehem, dari rahim wanita shalehah bernama Maryam bin Imran. Mendekati kelahirannya Maryam mengasingkan diri dari kampungnya. Di bawah pohon kurma, Maryam melahirkan Isa tanpa pertolongan siapapun. Pada usia 30 tahun, Isa diangkat sebagai Rasul. Diantara mukjizat Nabi Isa As adalah dengan pertolongan Allah Swt. Dapat menciptakan burung dari tanah, dapat menyembuhkan orang buta sejak lahir, dapat mengetahui keadaan seseorang (apa yang di makan, apa yang di minum, apa yang dilakukannya di rumah, apa yang yang disembunyikannya, dapat menghidupkan orang telah mati dengan ijin Allah Swt., dapat menyembuhkan penyakit, dapat menurunkan makanan dari langit.

[58] Qs. Maryam : 31

[59] Ibunya bernama Aminah, ayahnya bernama Abdullah. Berasal dari keturunan keluarga mulia. Kakek beliau bernama Abdul Muthalib tokoh Quraisy yang sangat disegani. Sejak kecil sudah menunjukkan kemuliaan akhlaknya. Tidak pernah berbohong, tidak ingkar janji, bertanggungjawab terhadap tugas. Sejak kecil Muhammad sudah digembleng dan dipersiapkan menjadi Rasul terakhir, penutup dari rasul-rasul sebelumnya. Karena kemuliaan akhlak Muhammad tersebut penduduk mekah dan sekitarnya memberi sebutan Al-Amin artinya orang yang dapat dipercaya.

Keluhuran Akhlak Rasulullah tersebut diabadikan dalam Al-Qur’an, “Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan keimanan dan keselamatan bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (Qs. At-Taubah, 9 : 128)

Perawakan dan sifat-sifat Muhammad: paras mukanya manis dan indah, perawakannya sedang, tidak terlampau tinggi, juga tidak pendek, dengan bentuk kepala yang besar, berambut hitam pekat dan beromabk. Dahinya lebar dan rata di atas sepasang alis yang lengkung lebat dan bertaut, sepasang matanya lebar dan hitam. Di tepi-tepi putih matanya agak kemerahan, tampak lebih menarik dan berwibawa. Pandangan matanya tajam, dengan bulu mata yang hitam. Hidungnya serasi dan halus, dengan barisan gigi yang bercelah-celah. Cambangnya lebat sekali, berleher jenjang dan indah. Dadanya lebar dengan kedua bahu yang bidang. Warna kulit terang dan jernih dengan kedua telapak tangan dan kakinya yang tebal. Bila berjalan badannya agak condong ke depan, melangkah cepat-cepat dan pasti. Air mukanya membayangkan renungan dan penuh pikiran, pandangan matanya menunjukkan kewibawaannya, membuat orang patuh kepadanya. Lebih jelas baca Muhammad Husain Haekal. Ibid. hlm. 68-69.

Mencintai Rasulullah dapat dilakukan dengan cara: (1) Meneladani sikap dan perilakunya serta taat kepada perintahnya. “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Qs. Al-Ahzab, 33 : 21). (2) Selalu merindukan dan mengingatnya. “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (Qs. Al-Ahzab, 33 : 56).

[60] Qs. Al-Ankabut, 29 : 45

[61] Isra’ Mi’raj terjadi pada tahun 621 M. Isra’ artinya perjalanan Rasulullah pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidl Aqsha di Palestina. Ada riwayat lain yang menjelsakan bahwa ketika Isra’ Rasulullah sedang berada di rumah saudara sepupunya, Hindun Putri Abu Thalib yang mendapat nama panggilan Um Hani. Lebih lanjut dapat dibaca dalam, Muhammad Husain Haikal (2007), Sejarah Hidup Muhammad, Jakarta: Litera AntarNusa

[62] “Yang diajarkan kepadanya oleh (JIbril) yang sangat kuat. Yang mempunyai keteguhan; maka (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli (rupa yang bagus dan perkasa). Sedang dia berada di ufuk yang sangat tinggi. Kemudian dia mendekat (pada Muhammad), lalu bertambah dekat. Sehingga jaraknya (sekitar) dua busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu disampaikannya wahyu kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah diwahyukan Allah. Hatinya tidak mendustakan apa yang telah di lihatnya. Maka apakah kamu (Musyrikin Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang dilihatnya itu? Dan sungguh, dia (Muhammad) telah melihatnya (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain. (Yaitu) di sidratulmuntaha. Di dekatnya ada surge tempat tinggal. (Muhammad melihat Jibril) ketika sidratulmuntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak menyimpang dari yang dilihatnya itu dan tidak  (pula) melampauinya. Sungguh, dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kebesaran) Tuhannya yang paling besar.” (Qs. An-Najm, 53 : 5-18).

[63] Kata khusyu’ berasal dari khasya’ yakhsyu’ khusyu’an yang artinya memusatkan segala ruh hati dan pikiran seseorang mushali kepada semua gerakan dan bacaan dalam shalat. Sehingga pikiran dan hatinya hanya terfokus (terkonsentrasi) di dalam shalat semata. Firman Allah: “Sesungguhnya bahagia orang-orang yang beriman, yang orang-orang yang di dalam shalat mereka khusyuk.” (Qs. Al-Mukminun, 23 : 1-2).

Iman Syafi’I menjelaskan dalam kitab Al-Um, “Orang yang sedang shalat hendaklah ia seperti seorang prajurit yang berhadapan dengan seorang raja gagah dan kuat. Serius, tegak, konsentrasi dan focus terhadap perkataan rajanya.”

Kiat-kiat agar khusyuk dalam shalat, (1) mengingat kematian ketika shalat.  Sabda Rasulullah Saw. “Ingatlah kalian terhadap mati ketika dalam shalat. Sesungguhnya seseorang yang ingat mati dalam shalat, ia akan memperbaiki shalatnya. Jika tidak mengingat mati diri kalian, niscaya urusan duniawi akan mengganggu konsentrasi shalat kalian.” (HR ad-Dailami). (2) Tenang dan seakan-akan melihat Allah Swt. Sabda Rasulullah, “Shalatlah kalian semua dengan tenang seakan-akan kalian melihat Allah di depan kalian. Walaupun kalian tidak melihat-Nya sesungguhnya Allah melihat kalian semua.” (HR Abu Muhammad Al-Ibrahimi). Baca Republika kolom Hikmah, Kamis, 25 Februari 2007.

Menurut Imam Al-Ghazali, khusyuk itu tercapai jika sewaktu mengerjakan shalat terpenuhi hal-hal berikut ini: 1) kehadiran hati; 2)mengerti arti yang dibaca dan yang diperbuat; 3) mengagungkan Allah Swt; 4) merasa gentar terhadap Allah Swt; 5)penuh rasa harap kepada Allah Swt; 6) merasa malu terhadap-Nya. Sumber: http://pustaka.abatasa.co.id/pustaka/detail/fiqih/sholat/86/makna-khusyuk.html

[64]“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.” (Qs. Al-Ahzab, 33 : 21

[65] “Berbahagialah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya.” (Qs. Al-Mukminun, 1-2).

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya yang demikian itu berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.” (Qs. Al-Baqarah, 2 : 45)

[66] Asep Muhyidin dan Asep Salahuddin, Salat Bukan Sekadar Ritual, Bandung: Rosdakarya, Cet. 1, 2006, hlm. 18

“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah, dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).” (Qs. Al-Bayyinah, 98 : 5)

[67] Ahmad Abdurraziq al-Bakri, Mukhtashar Ihya’ Ulumuddin, Penerjemah: Fudhailurrahman, Ringkasan Ihya’ ‘Ulumuddin Imam Ghazali, Bekasi: Sahara, cet. VI, 2000, hlm. 87

[68] Ibid. hlm. 19

[69] “… dan dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah dari (mengerjakan) yang keji dan munkar.Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-iabadah lain…” (Qs. Al-Ankabut : 45)

[70] Ibid, hlm. 20

[71] “Katakanlah sesungguhnya aku diperintahkan menyembah Allah, dengan tulus dan ikhlas beragama karenanya semata-mata.” (Qs. Az-Zumar, 39 : 11)

Katakanlah, sesungguhnya aku takut akan siksaan hari yang besar jika aku durhaka kepada Tuhanku. Katakanlah aku menyembah Allah dengan tulus ikhlas menjalankan agamaku kepada-Nya semata-mata.” (Qs. Az-Zumar, 39 : 13-14)

[72] Qs. Al-Mukminun : 1-2

[73] Hadits Riwayat Muslim

[74] Moh. Sholeh, Terapi Salat Tahajud; Menyembuhkan Berbagai Penyakit, Jakarta Selatan: Hikmah, 2009

[75] Ibid. hlm. 94

[76] Ibid. hlm. 94

[77] Qs. Adz-Dzariyat : 56

[78] Qs. Al-Ankabut : 45

[79] Qs. Al – Baqarah : 45

[80]  Qs. Al-Maidah : 55

[81]  Qs. Al-Ankabut : 45

[82] Hasan bin Ahmad Hammam et.al. op.cit. hlm. 311

[83]  Qs. Al-Anfal : 2-4

[84] Yusuf Al-Qardhawi, Niat dan Ikhlas dalam Naungan Cahaya al-Qur’an dan as-Sunnah. Surabaya: Risalah Gusti, 2005

[85] Ayatullah Jawad Amuli. Op. cit. h. 26

[86] Musfir bin Said Az-Zahrani, Konseling Terapi, Jakarta: Gema Insani, 2005,  hlm.485-486

[87]  Qs. Al-Ra’d : 28

[88] Sabil el-Ma’rufie (2009), Energi Shalat Bangkitkan Potensi Suksesmu Melalui Shalat Lima Waktu, Bandung: MIzania. Hlm. 101-104. Untuk lebih lengkapnya silakan baca Imam Musbikin, Rahasia Shalat Bagi Penyembuhan Fisik dan Psikis; Mohammad Sholeh, Terapi Shalat Tahajud; Menyembuhkan Berbagai Penyakit, Jakarta: Hikmah, 2008; Sentot Haryanto, Psikologi Shalat, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003.

[89] Asep Muhyidin dan Asep Salahuddin, op.cit, hlm. 55

“Dan janganlah kamu memalingkan muka dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (Qs. Luqman, 31 : 18)

[90] Ibid, hlm. 59

[91] Ibid, hlm. 65-68

[92] Ibid, hlm. 70


Tinggalkan komentar

Praktikum Profesi Jurusan BKI 2013

297696_4481072153266_1256174700_n
Pendahuluan
Salah satu misi Jurusan Bimbingan dan Konseling Islam Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten adalah, “Mencetak sarjana strata satu yang kompeten untuk menjadi konselor profesional melalui proses pembelajaran yang kualitasnya terjamin.”Profesi konselor mencakup bidang layanan yang luas, yaitu pendidikan, rehabilitasi, perkawinan dan keluarga, traumatik, kesehatan mental, dan penyuluh agama. Untuk memenuhi kebutuhan ini, kurikulum Jurusan dirancang agar alumni Jurusan memiliki kompetensi utama berupa penguasaan terhadap teori, teknik, manajemen, dan etika bimbingan dan konseling dalam berbagai bidang pelayanan tersebut baik dalam perspektif modern maupun Islami.Penguasaan teoritis tidak sempurna tanpa didukung kompetensi praktis. Karena itu, Jurusan BKI merancang Praktikum Profesi Lapangan. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diarahkan untuk mengobservasi lembaga yang memberikan layanan konseling, serta mendapat pengalaman praktis menjadi konselor dengan cara mengobservasi dan menjalani peran konselor profesional di lembaga-lembaga itu yang kelak diharapkan dapat menyerap alumni Jurusan.Kegiatan Praktikum Profesi Lapangan termasuk di dalam kurikulum Jurusan Bimbingan dan Konseling Islam, sebanding dengan MK dengan bobot 3 SKS, dan diberikan kepada para mahasiswa yang telah menempuh studi selama 6 semester.

Tempat

Berdasarkan prospek serapan alumni, maka lembaga yang dapat dijadikan sasaran Praktikum Profesi adalah lembaga yang melaksanakan fungsi konseling seperti Lembaga Pendidikan (SD/MI, SMP/MTS, SMA/MA, dan Pesantren), LAPAS, Dinas Sosial, Pengadilan Agama, Kantor Urusan Agama, BP4, BKKBN, Rumah Sakit, Panti Asuhan, dan LSM.

Untuk tahun akademik 2013/2014, pelaksanaan praktikum profesi Jurusan Bimbingan dan Konseling Islam dipusatkan di Rumah Sakit Sari Asih Serang.

Waktu

Kegiatan ini dilaksanakan mulai tanggal 12 September 2013 sampai dengan 28 Oktober 2013.

Orientasi Praktikum Profesi dilaksanakan pada hari Kamis, 12 September 2013.

Pelepasan peserta Praktikum Profesi pada hari Senin, 16 September 2013.

Pelaksanaan Praktikum Profesi di lokasi Praktikum 16 September s/d 12 Oktober 2013.

Lama waktu pertemuan di lokasi Praktikum Profesi sebanding dengan jam pertemuan di kelas. Untuk satu kali pertemuan di kelas, Praktikum Profesi yang berbobot 3 SKS membutuhkan waktu 150 menit. Di lokasi Praktikum Profesi, satu kali pertemuan itu dapat terwujud dalam beberapa kali pertemuan karena menyesuaikan dengan karakter dan jadwal program bimbingan dan konseling yang dilaksanakan pada masing-masing lembaga.

Penyusunan Laporan Akhir pada 12 Oktober s/d 19 Oktober 2013.

Presentasi Laporan Akhir pada 28 Oktober 2013.

Pelaksana dan Peserta

Unsur-unsur yang terlibat dalam pelaksanaan kegiatan ini adalah panitia, mahasiswa, dosen pembimbing, dan pamong (praktisi di institusi lokasi Praktikum Profesi).

Panitia adalah dosen dan pegawai pada Jurusan BKI dan Fakultas Ushuluddin dan Dakwah.

Mahasiswa adalah lima belas (15) orang mahasiswa Jurusan Bimbingan dan Konseling Islam semester 7 dengan daftar sebagai berikut:

Kelompok

Lokasi

No

Nama mahasiswa

Pembimbing

Satu

RS. Sari Asih

 Serang

1

Rifatul Mahmudah

Dr. Hunainah, MM

2

Rizqon Nujuluddin

3

Puji Rosa Nurjanah

4

Anah Rofanah

5

Mufliha

Dua

RS. Sari Asih Serang

1

Gita Putri Devi

Agus Sukirno, M.Pd.

2

Siti Linda Ratnasari

3

Firman Hakiki

4

Aan Sunaefi

5

Nurahlamiah

Tiga

RS. Sari Asih Serang

1

Kholipah

Dr. Masruchin Muhsin, Lc., M.Ag.

2

Yeni Rahmawari

3

Nurul Fatmah

4

Siti Nurpaujiah

5

Tiyas Yasinta

Dalam melakukan kegiatan praktikum mahasiswa dibimbing oleh Dosen Pembimbing dan Pamong yang ditunjuk oleh Dekan Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN “SMH” Banten.

Dosen Pembimbing adalah dosen FUD yang ditugaskan oleh Dekan.

Pamong adalah pegawai/profesional yang bekerja di lembaga yang menjadi lokasi Praktikum Profesi ditetapkan oleh lembaga tersebut dan ditugaskan oleh Dekan FUD.

Pembimbing dan Pamong berkewajiban memberikan arahan dan pengawasan. Bimbingan dan pengawasan dimaksudkan agar kegiatan mereka terarah dan intensif serta mampu mengembangkan potensi yang dimilikinya.

Evaluasi dilakukan oleh Dosen Pembimbing dan Pamong terhadap mahasiswa bimbingannya selama mengikuti kegiatan Praktikum Profesi, mulai dari praktikum di lapangan sampai dengan pembuatan laporan.

Deskripsi Kegiatan

Langkah-langkah pelaksanaan kegiatan Praktikum Profesi Lapangan Jurusan Bimbingan dan Konseling Islam adalah sebagai berikut:

A. Persiapan

  1. Mendata ulang dan mengelompokkan mahasiswa peserta praktikum.
  2. Berkonsultasi dan mengurus perizinan kepada lembaga tujuan Praktikum.
  3. Menyiapkan buku pedoman Praktikum.
  4. Mempersiapkan orientasi Praktikum Profesi.

 

B. Orientasi

Pada kegiatan orientasi mahasiswa diberikan bekal berupa materi-materi yang terkait dengan:

  1. Urgensi dan substansi Praktikum Profesi (2 JPL).
  2. Pedoman, aturan, dan tatacara bimbingan rohani di RS Sari Asih Serang (3 JPL).
  3. Penyusunan program praktikum profesi dan teknik penyusunan laporan akhir Praktikum Profesi (3 JPL).

Kegiatan ini dilaksanakan sebanyak 8 JPL.

C. Praktek Lapangan

Setelah mahasiswa dilepas oleh Fakultas dan datang ke tempat praktikum, mahasiswa/praktikan segera mendiskusikan rancangan program praktikum profesi yang telah mereka susun dan mengkoordinasikannya kepada dosen pembimbing, pamong, pimpinan lembaga tempat praktikum, dan para narasumber.

Selanjutnya, mereka segera melaksanakan aktivitas praktikum yang meliputi kegiatan observasi dan wawancara, serta kegiatan praktikum bimbingan rohani.

Observasi dan wawancara

Di dalam observasi dan wawancara, mahasiswa mengumpulkan data tentang:

  1. Letak, sejarah, visi misi, kebijakan lembaga, sarana dan prasarana bagi layanan konseling di lembaga yang menjadi lokasi Praktikum.

Pada pertemuan ini mahasiswa melakukan pertemuan awal “secara resmi” dengan pimpinan dan pamong di lembaga yang didatangi. Pada pertemuan ini mahasiswa melakukan wawancara dan mengumpulkan data tentang sejarah pendirian lembaga, status hukum lembaga (milik pemerintah, milik yayasan, milik perorangan), visi, misi, dan tujuan lembaga-lembaga tersebut, persepsi kepala lembaga tentang urgensi program bimbingan dan konseling di lembaganya, sarana prasarana (fasilitas), iklim atau suasana kerja di lembaga-lembaga tersebut, tata tertib.

Selain itu, mahasiswa juga dan mengobservasi letak geografis lembaga serta membuat peta dan denah lokasi.

  1. Pola dan prosedur rekrutmen konselor, kualifikasi konselor, dan program konseling di lembaga yang menjadi lokasi Praktikum.

Mahasiswa mengumpulkan data mendalam tentang  sistem rekrutmen pegawai (termasuk konselor di lembaga tersebut), kualifikasi pendidikan dan jumlah konselor, administrasi bimbingan dan konseling di lembaga tersebut (tempat, waktu, tujuan, jenis kegiatan, dan keuangan), dll.

Selain itu, para mahasiswa juga berkenalan dan menggali data pribadi para konselor.

  1. Karakteristik penerima layanan konseling, latar belakang, dan jenis permasalahan yang biasa dihadapi oleh para klien atau penerima layanan konseling.

Mahasiswa mengumpulkan data tentang program bimbingan dan konseling lembaga-lembaga tersebut yang meliputi aspek kebijakan kepala lembaga, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi program bimbingan dan konseling lembaga-lembaga tersebut; respon penerima layanan bimbingan dan konseling, masalah-masalah atau faktor penghambat pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling; fasilitas dan anggaran biaya bimbingan dan konseling lembaga-lembaga tersebut; dan kelengkapan administrasi bimbingan dan konseling.

Praktikum Bimbingan Rohani

Selanjutnya, mahasiswa melakukan kegiatan 750 menit praktek bimbingan rohani Islam di Rumah Sakit (setara dengan 5 pertemuan dengan bobot 3 SKS) dengan dibimbing oleh pamong di lembaga tempat praktikum. Sebelum melaksanakan praktik konseling, setiap mahasiswa secara individual mempersiapkan diri dengan menyusun rancangan program konseling yang akan dia laksanakan.

Pada kegiatan-kegiatan ini, mula-mula mahasiswa mengamati tatacara para profesional di Rumah Sakit dalam melaksanakan bimbingan rohani sampai dapat melaksanakan bimbingan secara mandiri, serta mengumpulkan data tentang karakteristik perkembangan pengguna jasa bimbingan dan konseling, latar belakang sosial ekonomi pengguna jasa bimbingan dan konseling di lembaga tersebut, dan permasalahan yang dialaminya, serta langkah-langkah yang mereka lakukan.

Penyusunan Laporan Akhir

Setiap  melakukan kegiatan di lokasi praktikum, masing-masing praktikan membuat field note. Lalu, field note ini dikumpulkan dan disusun sebagai laporan kegiatan yang memuat laporan laporan kelompok dan kegiatan individual dalam sebuah makalah laporan akhir untuk dipresentasikan di hadapan mahasiswa, dosen pembimbing, pamong, dan panitia.

Presentasi Laporan Akhir

Selanjutnya mahasiswa menyelesaikan Laporan Akhir Kegiatan Praktikum Profesi yang memuat profile masing-masing lembaga serta deskripsi dan evaluasi program bimbingan dan konseling yang mereka lakukan dalam satu makalah kelompok. Laporan ini dipresentasikan di hadapan dosen pembimbing, pamong, pengelola Jurusan dan Fakultas, serta mahasiswa dari kelompok Praktikum lain.

Jadwal terlampir.

 

Penutup

Kami sangat mendorong masukan dan saran dari berbagai pihak untuk penyempurnaan Pedoman ini sehingga dapat menjadi panduan yang lebih sempurna di masa mendatang.



Jadwal Orientasi dan Pelaksanaan Praktikum Profesi

No Hari, Tgl Jam Kegiatan Tempat Pelaksana

1

Kamis, 12 September 2013, Jam 08.00-15.15

08.00-09.30

Orientasi: urgensi dan substansi Praktikum Profesi. Ruang Kelas BKI Narasumber: Dr. Sholahuddin Al Ayubi, M.Ag. (Wadek II FUDA)Moderator: Azizah Alawiyah, B.Ed., MA.

2

09.45-12.00

Orientasi: Pedoman, Aturan, Etika, dan Tatacara Bimbingan Rohani di RS Sari Asih Serang. Ruang Kelas BKI Narasumber: dr. Budi Setiawan Jamhur, MARS (Direktur RS Sari Asih Serang)Moderator: Hilda Rosida, S.S., M.Pd.

3

13.00-15.15

Orientasi: Penyusunan program praktikum profesi dan teknik membuat laporan kegiatan. Ruang Kelas BKI Narasumber: Ahmad Fadhil, Lc., M.Hum.(Ketua Jurusan BKI)Moderator: AM Fahrurrozi, MA.

4

Senin, 16 September 2013

Pelepasan Peserta Praktikum Profesi Tahun Akademik 2013/2014 Fakultas UDA Dekan dan Wadek I, II, III

5

16 September s/d 12 Oktober 2013

Jadwal dibuat oleh masing-masing kelompok

berkoordinasi dengan pembimbing dan pamong

150 menit Observasi dan wawancara: letak, sejarah, visi misi, kebijakan lembaga, sarana dan prasarana. Lokasi praktikum. Kelompok Praktikum, pembimbing, pamong.

6

150 menit Observasi dan wawancara: rekrutmen dan kualifikasi konselor, program konseling. Lokasi praktikum. Praktikan, dosen pembimbing, pamong.

7

150 menit Observasi dan wawancara: karakteristik konseli, latar belakang, dan jenis masalah. Lokasi praktikum. Praktikan, dosen pembimbing, pamong.

8

150 menit Praktek konseling. Lokasi praktikum. Praktikan, dosen pembimbing, pamong.

9

150 menit Praktek konseling. Lokasi praktikum. Praktikan, dosen pembimbing, pamong.

10

150 menit Praktek konseling. Lokasi praktikum. Praktikan, dosen pembimbing, pamong.

11

150 menit Praktek konseling. Lokasi praktikum. Praktikan, dosen pembimbing, pamong

12

150 menit Praktek konseling. Fleksibel Praktikan, dosen pembimbing, pamong

13

Sampai dengan Jumat,

22 Nopember 2013

150 menit Penyelesaian laporan akhir. Ruang Kelas BKI. Praktikan, dosen pembimbing, pamong.

14

Jumat,

29 Nopember 2013

Presentasi laporan akhir. Ruang Kelas BKI. Panitia, praktikan, dosen pembimbing, pamong Kelompok, pembimbing, pamong, civitas akademik FUDA, stakeholders.


 



Tinggalkan komentar

Kalender Akademik 2013/2014

  1. Perkuliahan                                                        : 9 September 2013 s/d 3 Januari 2014
  2. Ujian Tengah Semester                                 : 28 Oktober s/d 13 November 2013
  3. Ujian Akhir Semester                                     : 15 s/d 30 Januari 2014
  4. Akhir sidang munaqasyah Smt Ganjil       : 15 Nopember 2013
  5. Pendaftaran wisuda Smt Ganjil                  : 8-22 Nopember 2013
  6. Wisuda Smt Ganjil                                           : 28 Nopember 2013
  7. Pendaftaran Kukerta                                      : 3-14 Maret 2014
  8. Pelaksanaan Kukerta                                      : 14 April s/d 26 Mei 2014
  9. Akhir sidang munaqasyah Smt Genap     : 23 Mei 2014
  10. Pendaftaran wisuda Smt Genap                : 13 Mei s/d 6 Juni 2014
  11. Wisuda Smt Genap                                         : 12 Juni 2014


Tinggalkan komentar

Minat Besar untuk Masuk ke Jurusan BKI

Hari ini, Jumat, 23 Agustus 2013, yang dijadwalkan sebagai hari terakhir registrasi Mahasiswa Baru (S1) IAIN “SMH” Banten,, sudah 106 orang mahasiswa baru telah mendaftar ulang ke Jurusan Bimbingan dan Konseling Islam (BKI). Dengan demikian, Jurusan BKI pada Tahun Akademik 2013 ini berhasil memenuhi target penerimaan mahasiswa baru, yaitu 105 orang.

Baca lebih lanjut

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.